Joran Pancing Lidi Nau

Inilah alat mengail (memancing) ikan penduduk di dusun Air Langkap, Kaur Tengah, kabupaten Kaur, Propinsi Bengkulu. Jorannya terbuat dari lidi Nau (lidi dari pohon aren). Lidi sepanjang lebih kurang 1,5 meter ini disambung dengan buluh (bambu) sebesar ibu jari orang dewasa. Panjang buluh disesuaikan dengan kebutuhan panjang joran untuk mengail. Seperti joran pancing umumnya, tentu ada tali atum (tali pancing) dan mata kail (mata pancing/hook) untuk mengait ikan yang memakan umpannya. Ujung tali atum yang memiliki mata kail di salah satu ujung lainnya diikatkan pada ujung lidi nau.

Buluh yang digunakan untuk mengail ini adalah buluh Temiang atau buluh Kapal. Buluh ini dianggap paling pas untuk disambung dengan lidi Nau.

Lidi Nau yang dipilih mengail adalah lidi yang sudah tua, dari daun Nau (yang mirip dengan daun kelapa) yang sudah tua sehingga merupakan lidi yang kuat. Lidi yang dipilih lalu diletakkan di atas Lantai. Lantai dalam bahasa Air Langkap adalah tempat meletakkan bumbu-bumbu masak, panci dan lainnya di atas tungku perapian memasak. Dengan demikian, lidi yang disimpan di atasnya mengalami pengasapan setiap hari. Proses ini dinilai membuat lidi nau menjadi lebih kuat namun tetap lentur.

Meski menggunakan lidi nau, joran pancing ini bisa dipakai untuk menangkap ikan dengan berat hingga 2 kilogram. Joran ini pun bisa dipakai untuk mengail di sungai, pinggir laut/pantai, air payau, kolam atau sawah.

Umpan yang dipakai untuk mengail adalah umang-umang. Hewan sejenis siput ini hidup di pinggir laut atau pasir pantai. Ukuran umang-umang ini kecil hingga sekitar kelingking orang dewasa. Umang-umang ini biasa dipakai untuk memancing di pantai Air Langkap.

Ada satu cerita menarik mengenai cara memancing orang Air Langkap ini. Pada tahun 2003 lalu, dalam rangka ulang tahun Tentara Nasional Indonesia (TNI), Koramil Kaur Selatan menyelenggarakan lomba memancing. Peserta memancing jumlahnya puluhan dan berasal dari seluruh propinsi Bengkulu. Pemenang lomba memancing adalah ia yang paling banyak mendapatkan ikan. Setelah lomba selesai, ikan tersebut ditimbang oleh panitia.

Lomba memancing berlangsung di dermaga Linau Kaur Selatan, sebuah pelabuhan alam dengan banyak karang di pantai-pantai dekat pelabuhan itu. Waktu memancing ditentukan lamanya dan dalam rentang waktu itu semua peserta harus berlomba mendapatkan ikan sebanyak-banyaknya supaya bisa menjadi pemenang.

Tamsir (38 tahun) berasal dari dusun Air Langkap berhasil mengumpulkan ikan terbanyak diantara peserta yang lainnya. Dengan joran khas Air Langkap dan umpan umang-umang ia memenangkan lomba memancing tersebut.

Menurut cerita Tamsir, ada peserta lainnya yang ia tegur saat lomba berlangsung. Peserta tersebut membawa ikan di dalam kantong plastik hitam. Ikan laut dari membeli di pasar itu hendak ia serahkan ke panitia untuk ditimbang sebagai hasil tangkapan mata kailnya. Tamsir sudah mengingatkan kalau panitia tidak sebodoh yang ia bayangkan. Panitia memeriksa ikan-ikan hasil tangkapan. Mungkin karena hasil perlombaan jauh lebih segar hingga berbeda dengan ikan dari pasar, panitia akhirnya mengetahui ada peserta yang berbuat curang. Ikan yang bukan hasil tangkapan perlombaan itu diserahkan panitia kepada peserta yang curang tesebut. "Ikan ini kau bawa ke ibumu untuk dimasak!" kata panitia.

Sebagai pemenang, Tamsir mendapatkan piala dan sejumlah hadiah lainnya. Alat mengailnya yang terbuat dari buluh Temiang/Kapal yang disambung dengan lidi Nau diminta panitia sebagai kenang-kenangan penyelenggara lomba. Alat memancing itu menyedot perhatian banyak orang karena tidak lumrah dan unik.

Orang Air Langkap sudah sejak lama menggunakannya. Dengan joran pancing lidi Nau Tamsir berhasil mengalahkan peserta lainnya yang menggunakan joran pancing yang bagus-bagus, mahal dan katanya alat pancing yang lebih modern.

Read More......

Resolusi untuk Perubahan

Saya membaca majalah Respect edisi 02 (Des 09 - Jan 10), yang saya dapatkan dari seorang teman di kantor. Majalah berukuran separoh kertas cetak ini menawarkan diri sebagai Panduan Gaya Hidup Ramah Sosial dan Lingkungan.

Sebagai edisi di awal tahun 2010, majalah respect memberikan suplemen kalender menarik berukuran kertas cetak dilipat-lipat hingga muat di kantong baju. Tak hanya warna-warnanya yang seru, kalender ini juga disisipi 12 resolusi ide untuk perubahan di 2010. Meski tawarannya di tahun 2010, namun sebagai sebuah gerakan perubahan tentunya ia harus kita lakukan terus menerus. Tak ada perubahan yang tak bisa terjadi kalau kita gigih melakukannya sehari-hari tanpa henti. Berikut ini resolusi yang dimaksud:

Makan produk organik
Lebih sehat, lebih ramah lingkungan dan sosial, dan lebih renyah. Respect food bisa dipesan melalui no 021-78831383

Konsumsi buah lokal
Jamblang, sawo, delima atau kecapi? Ini buah-buahan lokal yang yummy, fresh, dan eksotis lho. Coba deh...

Pake batik saat hang out
Batik Indonesia sudah diresmikan menjadi warisan budaya dunia oleh UNESCO.

Belanja di pasar tradisional
Jarang berbelanja di pasar tradisional? Sekali sekali belanja di sini yuk. Dengan berbelanja di pasar, kita sudah turut mendukung pedagang lokal.

Minum kopi lokal
Nikmat & aroma kopi Indonesia sudah mendunia. Sebut saja kopi Gayo, Toraja, Robusta, Arabika, dan Sumba. Minum kopi yuk, di gerai lokal lebih asyik lagi.

Say NO to styrofoam!
Styrofoam tidak dapat terurai. Proses pembuatannya pun tidak ramah lingkungan. Menyebabkan kanker pula...

Mendukung kampanye Desa Sejahtera di facebook dan twitter
Suka facebook-an dan twitter-an? Jadilah fans desa sejahter di facebook dan twitter. Mau tahu lebih banyak? Silahkan akses desasejahtera.org

Daur ulang kertas
Sisa kertas yang asih bisa ditulis bisa menjadi scrapbook. Lalu kita jual menjadi produk kerajinan. Kalau kreatif, makin banyak yang mau beli.

Membeli pruduk pakaian lokal
FYI, produk fesyen banyak yang bua di Indonesia dan banyak yang diekspor dan jadi banah dsar brand terkenal. Artinya kualitas kita juga internasional...


Makan beras hitam atau merah
Indonesia memiliki sekitar 8.000 jenis padi, kini hanya 10-15% yang masih ada. Saat kita makan beras hitam dan merah, spesies padi lokal yang terancam punah akan ditanam lagi.

Sweat shop? no more...
Gaya tapi bikin orang menderita? Ah gak cool banget ya... Sweat shop! Perusahaan yang membayar buruhnya dengan sangat murah. Contohnya banyak di produk pakaian dan sepatu.

Menjelajahi Indonesia
Kita bisa menemukan banyak tempat-tempat keren yang justru lebih banyak diketahui orang bule...

Read More......

Edward Burnett Tylor, memahami kebudayaan sebagai keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat. Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi menilai kebudayaan merupakan sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.[1]

Kamus Sosiologi Modern mendifinisikan kebudayaan sebagai:

The total, generally organized way of life, including values, norms, institutions, and artifacts, that is passed on from generation to generation by learning alone.[2]


Menurut Herskovits, kebudayaan terbentuk dalam waktu yang panjang sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic. Andreas Eppink menilai kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial, norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, termasuk segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.[3]

Dari berbagai definisi para ilmuan di atas, terlihat bahwa sebuah kebudayaan memakan waktu yang cukup panjang untuk menjadi sebuah nilai, norma sosial, dan pengetahuan yang diyakini dan menjadi rujukan bersama berupa sebuah sistem sosial. Perwujudan kebudayan itu sendiri berupa benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.[4]

Dalam masyarakat, nilai-nilai sosial dari sebuah budaya juga mengatur hubungan sosial dan keluarga antara laki-laki dan perempuan dalam berbagai bidang kehidupan. Pada umumnya hubungan antara laki-laki dan perempuan pada masyarakat di Indonesia masih menempatkan perempuan sebagai subordinat laki-laki, yang berarti nilainya lebih rendah. Nilai-nilai yang berkembang di dalam masyarakat ini pada akhirnya ikut mendukung, bahkan penyebab terjadinya diskriminasi dan kekerasan terhadap perempuan. Berikut ini beberapa contoh kekerasan terhadap perempuan yang berhubungan erat dengan nilai-nilai budaya suatu masyarakat.

Di Bali, anak perempuan yang sudah kawin dan keluar dari lingkungan keluarganya, maka ia tidak berhak mewaris karena ia sepenuhnya telah menjadi tanggung jawab keluarga pihak suami selama perkawinannya langgeng.[5]

Di masyarakat Nusa Tenggara Timur, untuk menikahi seorang perempuan, calon mempelai laki-laki harus memberikan mas kawin yang dalam bahasa setempat disebut "belis". Belis ini berupa uang, emas batangan atau perhiasan, sejumlah ternak dan atau barang-barang berharga lainya.[6] Semakin besar nilai belis menunjukkan semakin tinggi tingkat sosial-ekonomi keluarga si laki-laki. Pihak laki-laki harus bisa menaksir tingkat sosial-ekonomi keluarga calon istrinya, sehingga keluarganya dapat memperkirakan seberapa besar nilai belis yang harus mereka sediakan, atau memahami nilai belis yang diminta oleh keluarga perempuan.

Menurut informasi dari Yn, seorang aktivis perempuan yang berasal dari Manggarai, Flores Barat, NTT, Belis dikumpulkan secara gotong-royong oleh perempuan-perempuan saudara ayah dari calom mempelai laki-laki. Dari pihak calon mempelai perempuan, penerima belis sendiri adalah paman dan orang tuanya. Bahkan, seringkali pamannya memperoleh bagian yang jauh lebih besar daripada kedua orang tuanya.

Dalam perkembangannya, belis yang semula merupakan mas kawin, menjadi semacam alat tukar untuk membeli si perempuan. Ketika si perempuan telah resmi masuk menjadi bagian dari keluarga laki-laki, tak sedikit perempuan diperlakukan seperti 'budak' oleh anggota keluarga laki-laki. Kesannya, si perempuan sudah dibeli sehingga ia bisa diperlakukan seenaknya, seperti budak yang mengerjakan apapun di rumah tangga keluarga suaminya. Bahkan ketika keluarga suami menganggapnya tidak bisa menjadi istri yang baik dan mendapatkan kekerasan, keluarga si perempuan tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantunya. Sebabnya? Karena keluarga si perempaun telah mendapatkan belis sebagai alat tukar dan menyerahkan sepenuhnya anak perempuan mereka.

Di Aceh Kawin Cina Buta adalah contoh lain dari praktik kekerasan terhadap perempuan yang berbasis pada budaya. Kawin Cina Buta adalah perpaduan pemaksaan cerai dan pemaksaan perkawinan. Ikatan perkawinan harus putus ketika telah jatuh talak 3 oleh pihak suami kepada istrinya. Dengan demikian, untuk rujuk kembali, maka keduanya harus menikah dengan pihak lain yang kemudian harus dipastikan kalau mereka dengan pasangannya masing-masing telah malakukan hubungan seksual dengan tidak boleh menggunakan alat kontrasepsi kondom. Pernikahan dengan pasangan masing-masing untuk kembali ke pasangan sebelumnya itulah yang disebut sebagai kawin cina buta. Menurut sejumlah ulama setempat, pernikahan ini merupakan hal wajib dilalui bagi pasangan yang beragama Islam yang akan rujuk kembali.

Pada praktiknya, untuk bisa malakukan praktik kawin cina buta, si perempuan harus membayar sejumlah uang kepada calon suaminya. Terpaksa menjadi istri bagi seorang laki-laki pasangan kawin cina buta bukanlah hal yang membahagiakan. Bahkan ketika harus melakukan hubungan seksual dengan orang yang tidak ia cintai pun merupakan hal menyakitkan. Jika telah kawin dengan pasangan kawin cina buta, belum tentu si suami barunya ini mau menceraikannya sehingga ia tak bisa segera kembali ke suami sebelumnya. Juga, suami sebelumnya belum tentu mau menerimanya kembali setelah ia menjalani kawin cina buta, apalagi kalau ia akhirnya mengandung benih anak dari hasil berhubungan dengan suami kawin Cina Buta itu. Perlu dicatat, setelah bercerai dengan suami kawin cina buta, si perempuan harus menunggu masa iddah sepanjang 3 bulan 10 hari sebelum ia bisa menikah lagi dengan suami sebelumnya. [7]

Adat masyarakat Bali, seperti pengaturan hak waris di atas berdasarkan pada nilai-nilai agama Hindu yang mereka anut di sana. Demikian pula dengan Kawin Cina Buta, yang berangkat dari satu pemahaman mengenai nilai-nilai yang dianut dalam ajaran Islam. Seringkali, pemahaman akan satu ajaran agama itu menjadi sumber persoalan. Pemahaman akan ayat-ayat suci atau ajaran yang bias gender, lebih mengemuka untuk mempertahankan posisi yang lebih memuliakan laki-laki daripada perempuan. Pemahaman-pemahaman demikian lalu menjadi sumber pengaturan dalam adat istiadat yang membentuk satu kebudayaan masyarakat setempat.

Pemahaman-pemahaman akan relasi laki-laki dan perempuan yang patriarkhal telah ikut menyebabkan posisi perempuan dalam struktur masyarakat dan keluarga menjadi subordinat. Pada akhirnya, hak-hak perempuan dalam keluarga dan juga sosial menjadi terpinggirkan kalau tidak malah tak terpenuhi. Prioritas ada pada laki-laki: laki-laki sebagai pemimpin, sebagai orang yang mengenyam pendidikan tinggi, hak reproduksi lebih diperhatikan, sebagai pengambil keputusan publik maupun keluarga, bahkan sebagai pihak yang harus mendapatkan pelayanan dari pasangannya.

Cerita-cerita di atas merupakan beberapa fakta mengenai kekerasan yang dialami perempuan di berbagai daerah karena budaya masyarakat setempat. Saat ini saya bersama dengan teman-teman di lembaga tempat kami bekerja sedang mencoba untuk mengidentifikasi sekaligus memetakan berbagai bentuk kekerasan terhadap perempuan yang terjadi karena faktor budaya: adat istiadat masyarakat setempat. Dengan adanya peta kekerasan berbasis budaya ini, harapannya advokasi untuk menghapuskan segala bentuk kekerasan dan diskriminasi terhadap perempuan dapat dilakukan dengan lebih baik dan tentunya dengan pendekatan budaya setempat. Upaya ini akan dimulai dengan melakukan diskusi, atau lebih tepatnya konsultasi, dengan teman-teman serta mereka yang menggeluti isu kebudayaan lokal dan memiliki pengetahuan berkaitan dengan peran dan posisi perempuan di masyarakatnya.

Proses identifikasi ini akan melibatkan kawan-kawan internal, lembaga mitra yang bergerak dalam women's rights issues, akademisi, peneliti, dan mereka yang dapat memberikan kontribusi pengetahuan dan pengalaman mereka dalam bergelut pada isu budaya dan kekerasan terhadap perempuan. Hasil dari kegiatan ini akan menjadi acuan untuk proses selanjutnya, yakni melaksanakan program Pemetaan Kekerasan terhadap Perempuan Berbasis Budaya di Indonesia.


Catatan akhir:


[1] http://id.wikipedia.org/wiki/Budaya, diakses pada 17 Maret 2010
[2] http://courses.ed.asu.edu/margolis/spf301/definitions_of_culture.html, diakses pada tangal 17 Maret 2010
[3] Ibid.
[4] Ibid.
[5] Ni Ketut Sri Utari, SH.MH, Mengikis Ketidakadilan Gender dalam Adat Bali. Makalah disampaikan pada Temu Ilmiah II Asosiasi Pengajar dan Peminat Hukum Berspektif Gender se Indonesia (APPHGI). Tgl 18-20 September 2006, di Surabaya
[6] lihat misalnya tulisan Gesit Ariyanto, BUDAYA ROTE: “Tu’u” Belis di Nusa Lontar di KOMPAS, 18 November 2008.
[7] Laporan Khusus untuk Aceh Pelapor Khusus Komnas Perempuan, Sebagai Korban juga Survivor: Pengalaman dan Suara Perempuan Pengungsi Aceh tentang Kekerasan dan Diskriminasi (Komnas Perempuan, April 2006), hal. 54 - 55

Read More......

Serbet Cinta untuk PRT

Mereka berbaris, terbagi dalam 4 kelompok dengan namanya masing-masing: Ember, pel, setrika dan panci. Mengenakan serbet yang diikatkan di kepala, dengan semangat yang tinggi mereka menjahit serbet-serbet yang berjumlah 900 lembar menjadi sebuah serbet raksasa. Di atas serbet raksasa itu tertulis tuntutan PRT seluruh Indonesia: Wujudkan Undang-Undang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga.

Kegiatan menjahit serbet raksasa ini merupakan salah satu isi acara peringatan Hari Pekerja Rumah Tangga (PRT) Nasional yang berlangsung pada Ahad lalu, 14 Februari 2010. Tak kurang dari 300 orang hadir pada acara yang berlangsung di Monumen Proklamator Kemerdekaan, Jakarta Pusat. Mereka mewakili kalangan masyarakat, serikat buruh, majikan, pegawai pemerintah, anggota DPR, aktivis, dan semua pihak yang mendukung perlindungan bagi PRT dari segala tindak kekerasan dan eksploitasi.

Mr Peter van ROOIJ dari ILO Jakarta, Syafrudin dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Sri Nurherwati dari Komnas Perempuan dan Sri Rahayu dari Komisi IX DPR-RI tampak turut menghadiri perayaan Hari PRT Nasional tahun ini.

Hari PRT Nasional lahir untuk mengingat Sunarsih, seorang PRT yang yang tewas karena disiksa majikannya di Surabaya antara tanggal 12 - 15 Februari 2001. Peristiwa ini menegaskan betapa pentingnya perlindungan bagi PRT serta adanya pengakuan bagi mereka sebagai pekerja. Tanggal 15 Februari akhirnya disepakati oleh Jaringan Nasional Advokasi Pekerja Rumah Tangga (Jala PRT) sebagai hari PRT.

Jala PRT adalah jaringan organisasi - organisasi yang gigih memperjuangkan hadirnya kebijakan perlindungan bagi PRT serta membangun kesadaran masyarakat bahwa mereka adalah juga pekerja yang harus mendapatkan hak-hak sebagaimana mestinya. Sekarang jaringan ini memiliki anggota tak kurang dari 36 organisasi se-Indonesia.

Menurut lembar informasi yang dibagikan oleh Jala PRT, tak kurang dari 4 juta orang PRT yang ada di Indonesia. Jumlah ini merupakan bagian dari sekitar 100-an juta orang yang memilih profesi sebagai PRT di seluruh dunia. PRT memiliki hubungan kerja dengan majikannya sehingga mereka layak untuk diakui profesinya:

  1. Ada pekerjaan yang lakukan oleh PRT
  2. Ada pihak yang mempekerjakan, yaitu majikan
  3. Ada pihak yang mengerjakan pekerjaan yang diberikan padanya, yakni PRT itu sendiri
  4. Ada upah yang diberikan sebagai imbalan atas pekerjaan yang dilakukan

Kehadiran PRT di dalam rumah majikan telah membuat pekerjaan-pekerjaan domestik seperti memasak, membersihkan rumah, memasak, menyetrika, merawat anak dan anggota keluarga yang lanjut usia terselesaikan, hingga memungkinkan para majikan dapat menjalankan aktivitas di luar rumahnya dengan baik. Karena itulah kehadiran PRT menjadi sebuah kebutuhan banyak keluarga.

PRT juga membutuhkan satu perlindungan dari segala bentuk eksploitasi, pelecehan dan kekerasan, serta kebebasan untuk beraktualisasi seperti bersosialisasi dengan sesama termasuk untuk berserikat dan berkumpul sebagaimana pekerja-pekerja di sektor formal. Sebagai pekerja, PRT berhak atas hak mereka sebagai pekerja seperti upah yang layak, libur mingguan, jaminan sosial dan kesehatan, bantuan hukum, dan segala bentuk perlakuan manusiawi lainnya dari keluarga majikan serta masyarakat sekitar.

Pada perayaan Hari PRT Ahad lalu, beberapa orang perwakilan PRT menyampaikan pernyataannya di hadapan semua yang hadir:
  1. Mendesak Pemerintah, khususnya Dewan Perwakilan Rakyat RI, Presiden, Menteri Tenaga Kerja & Transmigrasi untuk segera mewujudkan Undang-Undang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (PRT) di tahun 2010 ini (Presiden, Menteri Tenaga Kerja & Transmigrasi harus penuh bertanggung jawab dan bekerjasama dengan DPR - RI yang telah berinisiatif membahas dan mewujudkan UU Perlindungan PRT di tahun 2010)
  2. Wujudkan hari Pekerja Rumah Tangga (PRT) 15 Februari sebagai Hari PRT & Hari Libur Nasional Pekerja Rumah Tangga.
Pernyataan tersebut merupakan bagian dari tuntutan terhadap komitmen Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat untuk melindungi warga negaranya yang bekerja sebagai PRT dan juga ajakan kepada masyarakat mewujudkan pengakuan, penghargaan dan perlindungan terhadap mereka.

Pada acara itu pula, Komisioner Komnas Perempuan Sri Nurherwati melihat fakta bahwa UU 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (PKDRT) dan UU No. 21 tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (PTPPO) pun belum mampu membuka dan menjangkau pencegahan, perlindungan dan penanganan yang komprehensif terhadap persoalan PRT dari kekerasan dan eksploitasi. Selain itu, ia juga melihat sisi pemenuhan hak ekonomi, sosial dan budaya ekosobnya sebagaimana telah dijamin dalam Kovenan Internasional tentang Hak-Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya yang telah diratifikasi melalui UU No. 11 Tahun 2005. Dalam hal ini, seperti disampaikan Nur, Komnas Perempuan merekomendasikan :
  1. Percepatan dalam hal pembahasan dan pengesahan RUU Perlindungan PRT yang mengakui dan menjamin hak-hak ekonomi, sosial dan budaya PRT, khususnya dalam hal menjalankan pekerjaan yang layak.
  2. RUU Perlindungan PRT yang disahkan wajib memuat standar perlindungan, bebas dari kekerasan dan eksploitasi, khususnya bagi PRT perempuan dan anak.

Serbet raksasa yang dijahit bersama oleh semua elemen masyarakat itu merupakan "Serbet Cinta" untuk PRT. Selamat Hari PRT!

Read More......

Bekenalan dengan Pilot

Sepanjang perjalanan dari bandara Soekarno-Hatta hingga ke Bengkulu, anak pertamaku ini tidak bisa berhenti bicara. Banyak tanya dan banyak komentar. Hal semacam ini sering membuatku kelabakan kalau tak siap untuk meladeni semua muntahan pertanyaan dan komentarnya tentang apapun. Ibarat senapan serbu tentara a la film Rambo di tahun 80-an: tak henti-henti. Ia ingin tahu, di tengah hujan lebat kenapa pesawat yang meluncur cepat untuk take off seperti mengeluarkan asap yang begitu banyak di belakangnya. Atau, kenapa kami harus naik bis menuju pesawat yang sedang parkir agak jauh dari tempat boarding? Dan seterusnya, dan seterusnya.

Zahid memang aktif nogoceh sejak ia mulai bisa bicara pada usia setahun. Aku ingat, pada saat baru pindah kontrakan yang kami tempati sekarang, tetangga se-RT banyak yang memperhatikan kami berdialog. Mungkin aneh bagi mereka ada anak setahunan sudah banyak berdialog seperti orang dewasa. Pernah saat baru beberapa hari menempati rumah tinggal ini, seorang tetangga memperhatikan dari loteng rumahnya. Kami yang sedang jalan-jalan pagi tak menyadari kalau ada yang memperhatikan.

Di pesawat sepanjang penerbangan menuju Bengkulu, pertanyaan-pertanyaan dan komentar Zahid menarik perhatian pramugari. Aku sendiri harus menjelaskan banyak hal untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ia ajukan. Sebenarnya, Zahid sudah dua kali pulang ke Bengkulu. Pertama saat ia masih berusia setahun pada Agustus 2006. Kedua, saat lebaran tahun 2007 ketika usianya menginjak dua tahun. Ia tidur saat di pesawat hingga ia pun belum pernah mengamati awan, langit dan segala hal di pesawat saat sedang terbang. Mudik kali ini membuatnya memiliki kesempatan untuk mengetahui banyak hal saat berada di langit.

Saat landing di bandara Fatmawati Bengkulu, aku sengaja mengajak Zahid beranjak dari tempat duduk kami supaya bisa menjelaskan tentang tempat pilot bekerja serta menyapa pramugari yang bertugas di pewasat. Mendekati pintu keluar di bagian depan, kusampaikan ke salah satu pramugari kalau Zahid ingin tahu tempat pilot 'menyetir' pesawat. Tak dinyana, pramugari justru langsung menghubungi pilot dan mengenalkan Zahid padanya. Zahid masuk ke kokpit di mana pilot berada. Pilotnya yang bernama Kapten Agus justru senang berkenalan dengan Zahid.

"Mau foto gak?" tanya pilot itu sambil membuat gerakan seperti sedang memotret ke arahku. Dengan nada sedikit menyesal kusampaikan kalau sedang tak membawa kamera.

"Sayang banget, belum tentu loh pilotnya mau berbaik hati begini...." kata pramugarinya.

Yup, aku memahami bagaimana pilot tentunya akan menghindari hal semacam perkenalan dengan anak kecil yang banyak ingin tahu macam Zahid ini. Tentunya langka pilot yang mau meluangkan waktu kerjanya. Kesempatan langka yang diperoleh Zahid ini sangat mungkin karena si pramugari mengamati Zahid yang terus bicara sejak awal naik pesawat. Karena keingintahuan Zahid untuk tahu kokpit yang jadi tempat pilot bekerja, maka pramugari langsung mengenalkannya kepada pilotnya.

Aku memahami cerita pramugari itu kalau jarang sekali pilot mau berkenalan, berdialog, dan mau berfoto dengan anak kecil seperti Zahid. Tapi, apa boleh buat, perkenalan Zahid dan pilot Mandala Air itu tak dapat diabadikan dengan foto. Demi kepraktisan barang bawaan, kamera digital tak kubawa.

"Ada kamera Bucik Neng, jadi kamera kita tak pelu dibawa" kata istriku saat menyiapkan segala sesuatu sebelum berangkat menuju bandara.

Setibanya di rumah Nenek dan Datuk, aku ceritakan pada Bucik Neng tentang pengalaman Zahid tadi. Juga menelpon ibunya di rumah di Bogor. Semuanya merasa 'eman' kenapa perkenalan Zahid dengan pilot serta kesempatan masuk ke kokpit tidak difoto. Ya... jadi pelajaran saja, lain kali mesti bawa kamera untuk mengabadikan pengalaman anak.

Sangat mungkin, pengalaman masa kecil memiliki arti yang luar biasa bagi anak kita pada masa mereka telah dewasa. Tak terkecuali pengalaman Zahid saat ikut aku pulang ke Bengkulu pada 24 - 26 Januari 2010 lalu.

Read More......

AutoCorrect Sesuai Kebutuhan

Menggunakan teknologi sebagai alat bantu memang harus sesuai dengan kebutuhan. Jika tidak, maka sia-sia saja. Bahkan mungkin bisa merugikan. Teknologi komputer, misalnya.

Inilah pengalaman saya di awal pekan ini. Saya mengisi formulir pengajuan beasiswa. Tanpa saya sadari, AutoCorrect pada pengolah kata OpenOffice.org (OOo) secara otomatis mengubah semua kata "my" yang saya ketik menjadi Malaysia, dan baru menyadarinya setelah menyelesaikan beberapa lembar tambahan formulir yang saya ketik. Bayangkan, ada kalimat yang seharusnya saya tulis "my experiences...." secara otomatis berubah menjadi "Malaysia experiences...." yang jelas-jelas memiliki makna yang berbeda.

Fasilitas AutoCorrect yang ada pada program pengolah kata OOo ataupun Ms Word memang sangat membantu untuk mempercepat pengetikan. Tidak perlu mengetik terlalu panjang namun cukup singkatannya saja, seperti contoh berikut:

yg = yang
dg = dengan
id = Indonesia
shg = sehingga
yk = Yogyakarta
jtk = Jakarta
dst = dan seterusnya

Dengan cara menyetel singkatan itu, maka waktu untuk mengetik bisa dihemat sekian detik untuk setiap kata dan sekian menit bahkan jam untuk sebuah pekerjaan yang lebih banyak. Bagi Anda yang belum tahu, beginilah cara menyetel AutoCorrect itu (Untuk pengguna OOo Writer) :

1. Buka menu "Format" yang ada pada sisi kiri atas layar
2. Pilih "AutoCorrect"
3. Lalu pilih "AutoCorrect Option..."
4. Ada dua kolom isian, yakni "Replace" dan "With" yang harus diisi sesuai dengan kebutuhan kita

Masukkan kata atau singkatan yang memudahkan Anda mengetik pada kolom "Replace" dan kata yang menjadi kepanjangan singkatan atau kata yang diinginkan berubah otomatis pada kolom "With". (lihat gambar)

Sebenarnya, fasilitas AutoCorrect ini berguna untuk mengubah atau memperbaiki secara otomatis kata-kata yang kemungkinan sering mengalami salah ketik. Dengan logika yang sama ia dapat pula untuk menyingkat kata saat mengentik dan kemudian akan berubah menjadi kepanjangan kata yang sesuai dengan keinginan si pengetik.

Untuk mengatasi kasus yang menimpa saya di atas, kita dapat membuang kata dalam daftar AutoCorrect, sehingga yang ada hanyalah kata-kata yang berubah otomatis sesuai dengan kebutuhan saja.

Langkah-langkah untuk menyetel AutoCorrect pada Ms Word lebih kurang sama. Jika Anda belum tahu atau belum pernah menggunakan, serta tertarik untuk menggunakan, tak ada ada salahnya untuk mencoba. Selamat bekerja...!

Read More......

Pembatasan Akses Internet

Sudah hampir setengah tahun ini lembaga tempat saya bekerja membatasi akses ke situs-situs pertemanan dan blogging seperti twitter, multiply, friendster, facebook. Tak hanya itu, aplikasi instant messanger pun seperti Skype, Digsby, YM, dan Pidgin dibuat tak berfungsi.

Saya mendapati beberapa kesulitan atas kebijakan yang diambil kantor tempat saya bekerja ini, berupa akses imel menggunakan mail client (saya biasa menggunakan Mozilla Thunderbird). Sudah sebulan terakhir saya ikut mempersiapkan satu kegiatan besar yang akan berlangsung pada 29 - 30 Nopember 2009 ini. Semua imel hanya bisa diakses melalui webmail. Kami kebetulan menggunakan google application yang disediakan raksasa online saat ini, google.com. Bayangkan ada sekitar 50 imel yang masuk setiap hari ke akun saya, termasuk imel-imel untuk kepentingan kegiatan yang akan kami selenggarakan. Imel-imel yang sifatnya group, sudah dibatasi hanya beberapa mailing list yang berhubungan dengan pekerjaan dari tak kurang 40 mailing list yang saya ikuti. Untuk mengaksesnya harus mengunjungi situs penyedia layanan secara langsung seperti yahoogroups.com dan googlegroups.com dan mbacanya dari sana.

Mereka yang sudah terbiasa memanfaatkan mail client seperti halnya Thunderbird dan Ms Outlook tentunya sangat faham aplikasi ini akan sangat memudahkan dalam mengatur imelnya dengan menggunakan filter yang tersedia. Sebut saja misalnya mailing list Pembaca Kompas, Ebook Maniak, atau the Jakarta Process yang saya ikuti. Tak perlu lagi mencari imel tertentu di tengah belantara imel yang masuk ke akun kita seperti yang saya alami.

Beberapa jam lalu saya baru menyadari situs penyimpanan file (semacam file server) googledocs dan box.net tak dapat saya gunakan untuk mengunggah (upload) file. Padahal, saya merasakan manfaat menyimpan file di sana untuk bisa diakses dari mana saja asal terhubung ke internet. Beda dengan file server di kantor yang hanya bisa diakses dari jaringan LAN saja. Artinya, kalau saya tak membawa file di dalam media penyimpanan (External HDD dan flashDisk) atau tak ada di dalam akun imel, maka ketika membutuhkannya saya pun harus mendatangi komputer di kantor untuk mengaksesnya.

Masalah mail client yang tak bisa berfungsi telah saya sampaikan pada admin jaringan sekaligus penanggung jawab IT. Sayangnya, ia pun tak begitu memahami persoalan ini. Katanya, persoalan blokir memblokir jaringan ini dibantu oleh pihak ketiga (out sourcing). Sekarang, hingga seminggu setelah pengaduan tak ada penyelesaian masalah ini.

Membatasi akses internet karyawan memang ada bagusnya. Pemimpin Redaksi PortalHR.com menuliskannya dengan baik di sini. Pembatasan akses internet yang bertujuan untuk meningkatkan produktifitas (atau kinerja?) karyawan harusnya dilakukan dengan cara yang tepat. Misalnya mengidentifikasi aplikasi dan situs apa saja yang perlu dibatasi atau diblokir. Sehingga, bukan yang bermanfaat untuk memudahkan pekerjaan justru yang dibatasi.

Catatan:

  1. Gambar ilustrasi saya dapatkan dari sini.
  2. Meski pernah belajar, saya tak begitu memahami secara baik teknologi jaringan, sehingga tulisan di atas mencoba menghindari istilah-istilah teknis dalam ilmu jaringan (computer network).

Read More......

12 Tahun Pasca Putih Abu-abu

Kemacetan jalan-jalan di Jakarta, pekerjaan yang menumpuk, suasana relasi yang cenderung saling tidak peduli pada orang di kanan-kiri, rasanya merupakan salah satu kepenatan sendiri untuk aku. Tinggal di Bogor dan bekerja di Jakarta bukan hal yang mudah. Ditambah lagi secara ekonomi masih terhitung pas-pasan dan terus bepikir bagaimana caranya untuk hidup tenang dan bahagia dalam kondisi apa pun. Kalau perlu menertawakan diri sendiri menjadi satu cara menuju ke sana.

Hari-hari belakangan ini aku merasa bahagia. Di tengah-tengah kepenatan menghadapi situasi tersebut, ternyata berkumpul dengan teman-teman lama merupakan satu jeda untuk refreshing. Bulan Ramadhan lalu, aku mengikuti reuni sekaligus berbuka puasa bersama dengan teman-teman semasa SMA. Lalu hari Ahad lalu, 11 Oktober, teman-teman seangkatan dari JIP Fisipol UGM mengajak berkumpul bagi semua alumni 1997 di Jakarta. Tadi malam ngobrol dengan Wahid Arsyad, teman dekat masa-masa kuliah yang kebetulan sedang berada di Jakarta serta tak sempat ikut reunian di blok M dengan teman-teman kuliah pada Ahad lalu. Sebelumnya, 8 Oktober, aku bertemu dengan Ochy teman masa kecil di Bengkulu. Insya Allah akhir pekan ini aku pun akan bertemu Rendi, sama seperti Ochy, teman dekat masa-masa sekolah di SDN 66 desa Tanjung Jaya, Bengkulu.

Reuni dengan teman-teman SMA menarik perhatian aku. Undangan dikirim oleh Fitri Herlita, teman waktu di kelas 2C, lewat pesan di facebook. Meminjam istilah anak-anak sekarang, judulnya menggigit banget: 12 Tahun Pasca Abu-abu. Belasan yang hadir, baik mereka yang pernah sekelas (dalam arti dalam satu ruang kelas), maupun tidak. Bahkan lucunya, Henny Perwitasari yang tidak pernah sekelas denganku tidak tahu nama sehingga harus bertanya pada teman lainnya. Demikian pun dengan aku sendiri, hanya ingat wajahnya namun tak tahu siapa namanya. Di SMAN 4 (sekarang SMUN 5) Bengkulu, ada 6 ruang kelas secara paralel, untuk semua level kelas 1 hingga kelas 2. Selanjutnya, di kelas 3 kami dibagi menjadi 2 jurusan, jurusan IPS terdapat 3 kelas dan demikian pula untuk jurusan IPA. Tak seperti sebelumnya, jurusan Budaya atau Bahasa ditiadakan pada periode kami. Reunian ini mempertemukan kami setelah 12 tahun terpisah karena melanjutkan pendidikan di berbagai kota dan seterusnya memasuki dunia kerja di Jakarta dan sekitarnya. Buka puasa bersama berlangsung di restoran Tawan, Pacific Place jalan Sudirman pada 3 September lalu.


Ahad lalu, 11 Oktober adalah pertemuan dengan teman-teman kuliah. Tidak tahu pasti ada berapa alumni seangkatan yang ada di Jakarta. Yang jelas, juga melalui facebook Makhrus telah menghubungi beberapa teman sepekan sebelumnya untuk melakukan pertemuan ini. Yang hadir hanya 6 orang. Ada Desianto yang masih betah jadi PNS di Gedung DPR/MPR Senayan, juga Pramaarta yang tempat kerjanya sama dengan Desianto namun berstatus staf ahli, Sari yang bekerja di Bank DKI, Ayu yang bekerja di BNI, Harunti di Depdagri, Makhrus yang bekerja di perusahaan IT dan aku sendiri yang menjadi "pekerja sosial". Bertemu teman-teman Yogya memberikan kesan sendiri. Entahlah, aku merasa sepertinya kami bertemu dengan penuh bahagia, bercerita tentang masa-masa kuliah, tentang Yogya, tentang teman-teman yang tak dapat ikut serta, serta hal-hal lainnya. Berbeda dengan reunian lain yang pernah aku ikuti, suasana bertemu dengan teman-teman kali ini terasa sederhana tapi menyenangkan. Barangkali karena kami produk Yogya :))

Wahid Arsyad adalah salah satu teman dekatku semasa di Yogya. Saat ini ia tinggal di Lampung sebagai PNS guru di sekolah Depag, serta juga nyambi memelihara Muhammadiyah di sana dengan menjadi kepala sekolah, ketua Pemuda Muhammadiyah, dan beberapa hari terakhir ini berada di Jakarta untuk mengikuti pembekalan sebelum melakukan survey sebuah proyek lembaga internasional yang banyak memberikan hutang untuk Indonesia. Arsyad dikenal sebagai mahasiswa Musholla (katanya Sari loh...) sama seperti Saleh yang sekarang kembali ke kampung halamannya di Surakarta. Ia menempuah pendidikan di fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga selain di Fisipol UGM. Itu pula yang menyebabkan ia dapat menjadi pegawai di Departemen Agama. Tadi malam kami bercerita tentang banyak hal hingga larut malam di hotel Sahid Jaya Jakarta. Sama seperti dulu, ia masih tetap kritis namun mengakui kalau kekurangan banyak informasi setelah berpindah ke daerah. Tapi aku masih suka berdiskusi dengan teman satu ini.

Ochy adalah salah satu temanku masa-masa di SD. Saat ini bekerja untuk sebuah perusahaan pertambangan di Bengkulu. Kami bercerita tentang kawan-kawan lama serta tentang diri kami masing-masing. Miris juga mendengar kisah teman-teman kecil dulu yang ternyata menghadapi kesulitan ekonomi sehingga pendidikan tinggi mereka harus putus di tengah jalan karena memilih bekerja sebab tak ada biaya. Ada juga cerita tentang cita-cita ingin melanjutkan studi di luar Bengkulu namun terpaksa menerima kehendak orang tua untuk memilih pendidikan keguruan dan di UNIB supaya kelak menjadi PNS sebagaimana kehendak kebanyakan orang tua di Bengkulu. Entahlah, aku pikir tak hanya di daerah kelahiran aku itu, banyak orang menjadikan PNS sebagai cita-cita final dan rela mengeluarkan uang puluhan juta rupiah untuk status PNS.

Ochy, menurut cerita Yeni Yunidarti yang kutelepon sehari setelah mendapatkan nomor kontaknya, berpenampilan sedikit tomboy. Cerita itu sedikit berbeda jika kubandingkan dengan foto-foto Ochy yang banyak terdapat di facebook. Saat kami bertemu ia memang terlihat penuh keberanian serta percaya diri tinggi. Ochy bekerja untuk sebuah perusahaan asing yang cukup menjamin kebutuhan hidupnya sehari-hari. Karena kepercayaan dan kedekatan dengan Bos (yang juga perempuan sukses seperti terkesan dari cerita yang kutangkap), Ochy memiliki kebebasan untuk bertamasya ke seluruh Indonesia jika sudah penat dengan pekerjaan. Dari Ochy pula aku memahami Bengkulu saat ini dari konstelasi politik elit-elit di daerah.

Insya Allah akhir pekan ini aku akan bertemu Rendi. Sesuai dengan janji aku pada Ochy, aku ingin mengajak Rendi untuk merencanakan berkumpul dengan teman-teman kami dulu. Mungkin akhir tahun ini, atau bisa jadi lebaran idul fitri tahun depan. aku dan rendi cukup dekat dan berpisah kira-kira 5 tahun lalu. Rendi menamatkan kuliah di jurusan Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Kakak dan saudara-saudara sepupunya menempuh pendidikan di UGM. Mereka menyewa sebuah rumah di sebelah utara kampus biru itu. Rumah itu pula yang setelah gempa hebat di Bengkulu tahun 2000 menjadi sekretariat Forum Silaturrahmi Mahasiswa Muslim Bengkulu di Yogyakarta. Aku sering main ke sekretariat itu. Aku dan Rendi sudah berjanji bertemu akhir pekan ini.

Bertemu dengan teman lama, bercerita tentang masa-masa lampau serta berbagi kabar masing-masing pada saat ini merupakan satu cara untuk melepaskan beban. Mengenang masa lalu betul-betul menyenangkan. Untuk aku, ini merupakan cara mengisi jeda untuk melanjutkan perjalanan ke masa depan. Mungkin itu pula yang menyebabkan orang rela mengeluarkan uang jutaan rupiah hanya untuk bersama-sama mengikut konser kelompok musik yang tenar di masa mereka muda. Atau, yang sekarang lagi tren ada komunitas 80-an, yang membuat blog untuk berbagi cerita, serta mengikuti secara rutin acara di salah satu televisi swasta bertajuk "Zona 80". Sebenarnya, sekitar 6 tahun lalu aku pun senang mendengarkan acara the seventies hits yang diasuh oleh Helmi Yahya di sebuah jaringan stasiun radio ibukota setiap pekannya. Meski masuk dalam kategori generasi 90-an, lagu-lagu itu cukup akrab menemaniku belajar saat itu.

Bagi beberapa orang, reuni bisa jadi merupakan saat dimana orang yang "sukses" ingin menunjukkan kesuksesannya pada teman-teman lama. Ini yang sempat diungkap seorang seniorku yang menjadi Anggota DPR-RI mewakili propinsi DI Yogyakarta beberapa tahun silam, ketika aku mengabari ada reunian alumni organisasi tempat kami pernah memupuk aktivisme mahasiswa. Ia ogah untuk ikutan karena ia anggap sebagai sesuatu yang sia-sia dan hanya memunculkan rasa sombong. Buat aku sendiri, perjumpaan dengan teman-teman lama ibarat berkaca diri sudah berbuat apa saja dalam hidup ini sejak perpisahan dengan mereka. Juga, upaya mengobati rasa kangen yang bisa menjadi sumber energi baru.

Membangun dan memelihara relasi bisa jadi memang merupakan langkah seorang politisi untuk membangun dan memelihara kekuatan dukungan. Buatku, cukuplah ini sebagai upaya mengeratkan tali silaturrahmi. Dan, sungguh ini bukanlah sesuatu yang "sia-sia"....

Read More......