Kemacetan jalan-jalan di Jakarta, pekerjaan yang menumpuk, suasana relasi yang cenderung saling tidak peduli pada orang di kanan-kiri, rasanya merupakan salah satu kepenatan sendiri untuk aku. Tinggal di Bogor dan bekerja di Jakarta bukan hal yang mudah. Ditambah lagi secara ekonomi masih terhitung pas-pasan dan terus bepikir bagaimana caranya untuk hidup tenang dan bahagia dalam kondisi apa pun. Kalau perlu menertawakan diri sendiri menjadi satu cara menuju ke sana.
Hari-hari belakangan ini aku merasa bahagia. Di tengah-tengah kepenatan menghadapi situasi tersebut, ternyata berkumpul dengan teman-teman lama merupakan satu jeda untuk refreshing. Bulan Ramadhan lalu, aku mengikuti reuni sekaligus berbuka puasa bersama dengan teman-teman semasa SMA. Lalu hari Ahad lalu, 11 Oktober, teman-teman seangkatan dari JIP Fisipol UGM mengajak berkumpul bagi semua alumni 1997 di Jakarta. Tadi malam ngobrol dengan Wahid Arsyad, teman dekat masa-masa kuliah yang kebetulan sedang berada di Jakarta serta tak sempat ikut reunian di blok M dengan teman-teman kuliah pada Ahad lalu. Sebelumnya, 8 Oktober, aku bertemu dengan Ochy teman masa kecil di Bengkulu. Insya Allah akhir pekan ini aku pun akan bertemu Rendi, sama seperti Ochy, teman dekat masa-masa sekolah di SDN 66 desa Tanjung Jaya, Bengkulu.
Reuni dengan teman-teman SMA menarik perhatian aku. Undangan dikirim oleh Fitri Herlita, teman waktu di kelas 2C, lewat pesan di facebook. Meminjam istilah anak-anak sekarang, judulnya menggigit banget: 12 Tahun Pasca Abu-abu. Belasan yang hadir, baik mereka yang pernah sekelas (dalam arti dalam satu ruang kelas), maupun tidak. Bahkan lucunya, Henny Perwitasari yang tidak pernah sekelas denganku tidak tahu nama sehingga harus bertanya pada teman lainnya. Demikian pun dengan aku sendiri, hanya ingat wajahnya namun tak tahu siapa namanya. Di SMAN 4 (sekarang SMUN 5) Bengkulu, ada 6 ruang kelas secara paralel, untuk semua level kelas 1 hingga kelas 2. Selanjutnya, di kelas 3 kami dibagi menjadi 2 jurusan, jurusan IPS terdapat 3 kelas dan demikian pula untuk jurusan IPA. Tak seperti sebelumnya, jurusan Budaya atau Bahasa ditiadakan pada periode kami. Reunian ini mempertemukan kami setelah 12 tahun terpisah karena melanjutkan pendidikan di berbagai kota dan seterusnya memasuki dunia kerja di Jakarta dan sekitarnya. Buka puasa bersama berlangsung di restoran Tawan, Pacific Place jalan Sudirman pada 3 September lalu.
Ahad lalu, 11 Oktober adalah pertemuan dengan teman-teman kuliah. Tidak tahu pasti ada berapa alumni seangkatan yang ada di Jakarta. Yang jelas, juga melalui facebook Makhrus telah menghubungi beberapa teman sepekan sebelumnya untuk melakukan pertemuan ini. Yang hadir hanya 6 orang. Ada Desianto yang masih betah jadi PNS di Gedung DPR/MPR Senayan, juga Pramaarta yang tempat kerjanya sama dengan Desianto namun berstatus staf ahli, Sari yang bekerja di Bank DKI, Ayu yang bekerja di BNI, Harunti di Depdagri, Makhrus yang bekerja di perusahaan IT dan aku sendiri yang menjadi "pekerja sosial". Bertemu teman-teman Yogya memberikan kesan sendiri. Entahlah, aku merasa sepertinya kami bertemu dengan penuh bahagia, bercerita tentang masa-masa kuliah, tentang Yogya, tentang teman-teman yang tak dapat ikut serta, serta hal-hal lainnya. Berbeda dengan reunian lain yang pernah aku ikuti, suasana bertemu dengan teman-teman kali ini terasa sederhana tapi menyenangkan. Barangkali karena kami produk Yogya :))Wahid Arsyad adalah salah satu teman dekatku semasa di Yogya. Saat ini ia tinggal di Lampung sebagai PNS guru di sekolah Depag, serta juga nyambi memelihara Muhammadiyah di sana dengan menjadi kepala sekolah, ketua Pemuda Muhammadiyah, dan beberapa hari terakhir ini berada di Jakarta untuk mengikuti pembekalan sebelum melakukan survey sebuah proyek lembaga internasional yang banyak memberikan hutang untuk Indonesia. Arsyad dikenal sebagai mahasiswa Musholla (katanya Sari loh...) sama seperti Saleh yang sekarang kembali ke kampung halamannya di Surakarta. Ia menempuah pendidikan di fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga selain di Fisipol UGM. Itu pula yang menyebabkan ia dapat menjadi pegawai di Departemen Agama. Tadi malam kami bercerita tentang banyak hal hingga larut malam di hotel Sahid Jaya Jakarta. Sama seperti dulu, ia masih tetap kritis namun mengakui kalau kekurangan banyak informasi setelah berpindah ke daerah. Tapi aku masih suka berdiskusi dengan teman satu ini.
Ochy adalah salah satu temanku masa-masa di SD. Saat ini bekerja untuk sebuah perusahaan pertambangan di Bengkulu. Kami bercerita tentang kawan-kawan lama serta tentang diri kami masing-masing. Miris juga mendengar kisah teman-teman kecil dulu yang ternyata menghadapi kesulitan ekonomi sehingga pendidikan tinggi mereka harus putus di tengah jalan karena memilih bekerja sebab tak ada biaya. Ada juga cerita tentang cita-cita ingin melanjutkan studi di luar Bengkulu namun terpaksa menerima kehendak orang tua untuk memilih pendidikan keguruan dan di UNIB supaya kelak menjadi PNS sebagaimana kehendak kebanyakan orang tua di Bengkulu. Entahlah, aku pikir tak hanya di daerah kelahiran aku itu, banyak orang menjadikan PNS sebagai cita-cita final dan rela mengeluarkan uang puluhan juta rupiah untuk status PNS.
Ochy, menurut cerita Yeni Yunidarti yang kutelepon sehari setelah mendapatkan nomor kontaknya, berpenampilan sedikit tomboy. Cerita itu sedikit berbeda jika kubandingkan dengan foto-foto Ochy yang banyak terdapat di facebook. Saat kami bertemu ia memang terlihat penuh keberanian serta percaya diri tinggi. Ochy bekerja untuk sebuah perusahaan asing yang cukup menjamin kebutuhan hidupnya sehari-hari. Karena kepercayaan dan kedekatan dengan Bos (yang juga perempuan sukses seperti terkesan dari cerita yang kutangkap), Ochy memiliki kebebasan untuk bertamasya ke seluruh Indonesia jika sudah penat dengan pekerjaan. Dari Ochy pula aku memahami Bengkulu saat ini dari konstelasi politik elit-elit di daerah.
Insya Allah akhir pekan ini aku akan bertemu Rendi. Sesuai dengan janji aku pada Ochy, aku ingin mengajak Rendi untuk merencanakan berkumpul dengan teman-teman kami dulu. Mungkin akhir tahun ini, atau bisa jadi lebaran idul fitri tahun depan. aku dan rendi cukup dekat dan berpisah kira-kira 5 tahun lalu. Rendi menamatkan kuliah di jurusan Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Kakak dan saudara-saudara sepupunya menempuh pendidikan di UGM. Mereka menyewa sebuah rumah di sebelah utara kampus biru itu. Rumah itu pula yang setelah gempa hebat di Bengkulu tahun 2000 menjadi sekretariat Forum Silaturrahmi Mahasiswa Muslim Bengkulu di Yogyakarta. Aku sering main ke sekretariat itu. Aku dan Rendi sudah berjanji bertemu akhir pekan ini.
Bertemu dengan teman lama, bercerita tentang masa-masa lampau serta berbagi kabar masing-masing pada saat ini merupakan satu cara untuk melepaskan beban. Mengenang masa lalu betul-betul menyenangkan. Untuk aku, ini merupakan cara mengisi jeda untuk melanjutkan perjalanan ke masa depan. Mungkin itu pula yang menyebabkan orang rela mengeluarkan uang jutaan rupiah hanya untuk bersama-sama mengikut konser kelompok musik yang tenar di masa mereka muda. Atau, yang sekarang lagi tren ada komunitas 80-an, yang membuat blog untuk berbagi cerita, serta mengikuti secara rutin acara di salah satu televisi swasta bertajuk "Zona 80". Sebenarnya, sekitar 6 tahun lalu aku pun senang mendengarkan acara the seventies hits yang diasuh oleh Helmi Yahya di sebuah jaringan stasiun radio ibukota setiap pekannya. Meski masuk dalam kategori generasi 90-an, lagu-lagu itu cukup akrab menemaniku belajar saat itu.
Bagi beberapa orang, reuni bisa jadi merupakan saat dimana orang yang "sukses" ingin menunjukkan kesuksesannya pada teman-teman lama. Ini yang sempat diungkap seorang seniorku yang menjadi Anggota DPR-RI mewakili propinsi DI Yogyakarta beberapa tahun silam, ketika aku mengabari ada reunian alumni organisasi tempat kami pernah memupuk aktivisme mahasiswa. Ia ogah untuk ikutan karena ia anggap sebagai sesuatu yang sia-sia dan hanya memunculkan rasa sombong. Buat aku sendiri, perjumpaan dengan teman-teman lama ibarat berkaca diri sudah berbuat apa saja dalam hidup ini sejak perpisahan dengan mereka. Juga, upaya mengobati rasa kangen yang bisa menjadi sumber energi baru.
Membangun dan memelihara relasi bisa jadi memang merupakan langkah seorang politisi untuk membangun dan memelihara kekuatan dukungan. Buatku, cukuplah ini sebagai upaya mengeratkan tali silaturrahmi. Dan, sungguh ini bukanlah sesuatu yang "sia-sia"....
Dunia boleh modern, teknologi semakin canggih, dan pergaulan makin meng-global, tapi ternyata tetap saja masih ada yang menggunakan pikiran dan cara primitif untuk mengatasi satu keadaan di masa ini.
Sekitar Juli tahun 2006 lalu. Kami mengadakan dialog inter-regional dalam upaya mencari terobosan penyelesaian masalah kekerasan yang dialami pekerja migran (TKI) di Timur Tengah. Kegiatan kami lakukan selama sepekan, mengundang aktifis HAM dan ilmuan dari Timur Tengah yang memiliki perhatian pada issue ini ke Indonesia. Selain dialog di Jakarta, mereka diajak mengunjungi daerah-daerah (asal) yang menjadi kantong pekerja migran yang mengadu nasib di Timur Tengah dan berdialog dengan aktifis pemerhati dan juga keluarga pekerja migran, tokoh adat dan tokoh agama, serta pemerintah daerah setempat. Dengan demikian, mereka yang dari Timur Tengah ini dapat melihat secara langsung, tak hanya dari laporan aktifis HAM di Indonesia, kondisi yang dihadapi oleh pekerja migran dan keluarganya.
Timur Tengah adalah tujuan yang cukup mengundang ketertarikan calon TKI. Selain harapan bekerja sekaligus dapat menunaikan ibadah haji, calon-calon TKI di daerah yang mayoritas muslim menilai bahwa orang-orang di sana yang menjadi majikan berperilaku baik karena seiman dengan mereka. Kenyataannya seringkali bertolak belakang. Mereka yang bekerja kebanyakan sebagai PRT justru mendapatkan perlakuan yang tidak manusiawi: gaji tak dibayarkan, mendapat kekerasan baik fisik maupun mental, bahkan perkosaan oleh majikan maupun anggota keluarganya. Kondisi rumah tangga yang tertutup juga mempengaruhi keselamatan mereka yang sulit untuk mendapatkan perlindungan dari luar rumah majikan. Cerita-cerita mengenai hal ini dapat diperoleh dari catatan laporan penelitian yang dilakukan Human Rights Watch, yang dapat Anda baca di sini.
Sebagai peneyelenggara, kami berharap dapat membangun jaringan dengan para aktifis dari Timur Tengah yang menjadi peserta dialog inter-regional dalam mengupayakan perlindungan TKI di sana. Ilmuan di sana dapat melakukan penelitian mengenai TKI dan membuat rekomendasi kepada pemerintahnya atau mempublikasi tulisan sehingga didengar oleh pihak berwenang di sana. Aktifis HAM dapat melakukan advokasi secara serius untuk TKI, melakuan kampanye bersama, dan bentuk-bentuk kerjasama lainnya.
Apa yang hendak saya sampaikan berkaitan dengan kalimat pertama tulisan ini adalah, cerita lain dari proses kegiatan kami itu. Kegiatannya diawali dengan malam ramah tamah serta pementasan seni yang menunjukkan sejarah hubungan masyarakat Indonesia dengan masyarakat di Timur Tengah. Kesenian saat itu antara lain berupa Marawis dari Betawi serta tari Saman dari Aceh yang semuanya mengandung nilai-nilai atau simbol Islam. Bahkan nuansa Timur Tengah lebih kental pada Marawis.
Acara dilangsungkan di kediaman Ibu Kamala Chandrakirana atau rumah almarhum Soedjamoko di Menteng. Persisnya acara berupa penyambutan sekaligus ramah tamah dengan juga mengundang anggota DPR, Pejabat Deplu, Kedubes negara-negara Timur Tengah, beberapa lembaga donor dan mitra-mitra kerja, dilangsungkan di halaman rumah supaya terkesan santai. Untuk mengantisipasi kemungkinan turunnya hujan pada saat acara, ternyata teman saya yang merupakan aktifis feminis senior di tanah air menggunakan jasa pawang hujan. Ini supaya acara malam itu dapat berjalan dengan lancar.
Saya mengetahui langkah yang diambil teman saya ini ketika tiba di kantor pada pagi hari. Kami sibuk mempersiapkan segala kebutuhan untuk kegiatan malamnya. Saya terkejut ketika melihat sebuah celana dalam bekas yang masih basah terhampar di atas salah satu kursi kerja. Celana dalam itu benar-benar bekas yang sudah buruk rupa serta bolong-bolong pula. Seorang teman kemudian menjelaskan kalau itu adalah cara yang diminta pawang hujan untuk mencegah hujan turun di malam itu. Sejak itu, saya tahu kalau pawang hujan mencegah datangnya hujan dengan menjadikan celana dalam bekas sebagai salah satu alatnya. Entah apa maknanya, tetapi bagi saya ini sungguh mengejutkan. Pertama, karena teman saya yang menggunakan jasa pawang itu adalah orang yang sudah berkeliling dunia, mengenal banyak peradaban, serta berinteraksi dengan beraneka ragam orang "modern", serta semua hal yang semuanya dijelaskan dengan rasionalitas. Dan, celana dalam itu betul-betul di luar nalar, jauh dari rasionalitas yang dapat saya terima.
Ketika SBY baru menjabat Pesinden Presiden pada akhir 2004 lalu, terjadi musibah tsunami di Aceh, kecelakaan di jalan tol Jagorawi yang menewaskan satu bis kota, serta beberapa bencana lainnya. Saat itu terdengar kabar sampai ke telinga saya bahwa Presiden kita ini akan memotong 1.000 ekor kambing untuk prosesi selamatan supaya segala bencana di negeri ini berhenti terjadi. Rencana ini urung terlaksana, konon, karena teguran dari pihak Muhammadiyah dan salah satu partai pendukungnya (PKS). Untuk orang yang mencoba menggali penjelasan melalui ilmu pengetahuan, sungguh tindakan semacam itu termasuk dalam kategori "primitif". Bahkan keberadaan paranormal yang begitu banyak di Nusantara tidak mampu mempersingkat kurun waktu penjajahan bangsa Eropa selama 350 tahun.
Pada 12 Oktober nanti, kami bersama teater Garasi akan menyelenggarakan pentas teater, masih dalam upaya kampanye perlindungan pekerja migran (TKI) di luar negeri. Segala persiapan sudah mulai kami lakukan. Kemarin, kami melakukan rapat serta melihat area pelataran Komnas HAM yang akan menjadi tempat pementasan. Ada rencana untuk menyewa tenda untuk mengantisipasi turunnya hujan ketika pementasan berlangsung. Salah seorang teman yang ikut rapat mengusulkan untuk menggunakan jasa pawang hujan. Kembali celana dalam disebut-sebut.
Orang boleh pergi ke luar angkasa, nuklir dikembangkan sebagai sumber energi, teknologi kloning diperdebatkan, tetapi di sini, meski orang berpendidikan tinggi, masih tetap saja mangandalkan jasa paranormal. Apakah kemiskinan, kekayaan alam dan Pemerintah dikendalikan oleh asing, serta mental korup akan segera hilang dari daftar penyakit yang diderita bangsa ini karena kehadiran paranormal?
Catatan:
tulisan yang sama dimuat di Politikana.com
SALAH satu tukang ojek langganan saya yang mangkal di depan kampus UKI, Cawang, begitu bahagia pagi ini. Sambil menyiapkan motornya untuk mengantar saya ke jalan Latuharhari Menteng, ia bercerita kalau besok pagi selepas sahur (dan selepas subuh tentunya), ia akan berangkat menunggangi kuda besi bersama tujuh teman lainnya. Ia akan mudik ke Boyolali.
Narto bertubuh kurus dengan kulit terbakar matahari sebagaimana tukang ojek kebanyakan di Jakarta. Matanya sering tampak sayu seperti aktor Herman Ngantuk di masa kejayaan TVRI tahun 80-an. Ia sering dipanggil Gus Dur oleh teman-temannya di pangkalan ojek di depan kampus UKI itu.
Saya tak ingat kapan pertama kali menggunakan jasanya untuk berangkat ke tempat kerja. Yang pasti, sejak 3 tahun lalu ada 3 tukang ojek langganan saya. Pertama, adalah Budi, yang sempat mengalami kecelakaan lalu lintas dan harus istirahat total beberapa bulan. Kedua, Syahrul Gondrong, yang panjang rambutnya melampaui bahu. Ketiga, ya si Narto "Gus Dur" ini. Jika mereka semua ada di Cawang, maka sebagai tukang ojek pertama yang berkenalan dengan saya, kesempatan pertama jatuh pada Budi. Demikian seterusnya. Mereka saling memahami untuk masalah ini.
Budi sudah hampir setahun tak kelihatan. Setelah mengalami kecelakaan, ia muncul dengan sepeda motor baru. Lalu menghilang dan muncul dengan sepeda motor berbeda. Setelah lama tak tampak, Gondrong bercerita kalau Budi tak sanggup membayar cicilan kredit hingga sepeda motornya harus diambil kembali oleh dealer penjualnya. Sudah sekitar dua bulan ini Gondrong juga hilang dari peredaran tukang ojek Cawang. Narto yang tinggal satu-satunya pengantar saya, bercerita kalau Gondrong memutuskan tinggal di rumah menemani anak-anaknya serta menjaga warung, sebab istrinya setiap hari berdagang di pasar.
Sebenarnya, beberapa pekan sebelum menghilang, Gondrong bercerita tentang pendapatannya sebagai tukang ojek semakin menurun. Pertama karena penumpang yang semakin berkurang dan lebih memilih naik bisa kota atau Transjakarta setelah krisis keuangan tahun lalu. Kedua, tukang ojek di Cawang telah semakin bertambah tanpa dapat dikendalikan oleh paguyuban tukang ojek yang mereka buat sendiri. "Dapat 30 ribu sehari sudah mending," katanya suatu kali mengantar saya. "Ini juga baru narik meski sudah nunggu dari pagi," tambahnya lagi. Kadang seharian hanya mengantar penumpang satu, ya saya ini.
Narto masih bisa bertahan dengan profesinya. Dulu ia menggunakan Honda Astrea Grand tahun 90-an yang sudah terlihat payah. Dua bulan terakhir ia sudah menggunakan sepeda motor bebek yang sama keluaran terbaru. Ia terlihat lebih percaya diri dengan kendaraan kredit yang saya sendiri merasa belum mampu untuk mengangsurnya. Tapi itulah pilihan perjuangan hidup di kota Jakarta.
Semua tukang ojek langganan saya memiliki sifat pendiam. Tak banyak bicara kecuali kalau ditanya, atau bercerita seadanya kalau ada hal yang mereka pikir akan menarik perhatian saya. Narto lahir di Boyolali, Jawa Tengah. Tidak disangka, ternyata ia berasal dari dusun yang bersebelahan dengan tempat kelahiran istri saya di kecamatan Ngaglik, kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Itu sebabnya meski tak banyak bicara namun bahasa tubuhnya memperlihatkan keakraban tak sekedar hubungan antara penjual dan pembeli.
Menjelang lebaran idul fitri tahun lalu Narto bercerita kalau mau mudik menggunakan bis yang disediakan Pemerintah Daerah Jawa Tengah. Dari ceritanya tadi pagi, saya ketahui kalau Pemda di sana sudah menyelenggarakan mudik bareng sejak sekitar 5 tahun terakhir. Kali ini Narto terlihat sangat bahagia. "Dapat 5 tiket," ceritanya. Masing-masing untuk istri dan dua anaknya, satu untuk kak ipar dan satu lagi saudaranya.
Saya berpikir tentunya program ini cukup baik, sekaligus politis. Masyarakat asli Jawa Tengah yang tinggal di Jabodetabek tentunya memiliki rasa bangga memiliki pemerintahan Jawa Tengah, dan tentu akan meningkatkan dukungan politik baik dari mereka yang di perantauan maupun dari keluarga mereka yang masih tinggal di Jawa Tengah.
Persyaratannya cukup mudah: hanya membuktikan memiliki KTP atau Kartu Keluarga Jawa Tengah. Lalu mereka mendaftar di tempat-tempat yang sudah ditentukan sebagaimana tersebut dalam pengumuman di beberapa koran dan radio. Hal ini memunculkan pertanyaan dari dalam diri saya. Bagaimana mungkin orang yang tinggal di Jakarta bisa memiliki KTP Jakarta dan juga KTP Jawa Tengah? Bukankah untuk mendapatkan KTP dan KK Jakarta harus menggunakan surat pindah dari pemerintah daerah tempat domisili sebelumnya? Inilah masalah kronis dari Departemen Dalam Negeri Indonesia dan jajarannya hingga tingkat paling bawah. Seingat saya, surat keterangan pindah domisili dikeluarkan oleh kantor kecamatan untuk diserahkan ke kantor kecataman tujuan sehingga kita bisa mendapatkan KTP dan KK baru.
Sudah umum untuk mendapatkan KTP dan KK di Jakarta, para pendatang harus membayarnya dengan mahal. Seorang teman beberapa bulan lalu harus membayar sejumlah 600 ribu untuk mendapatkan satu KTP dan KK. Sulit untuk menghindari proses mahal ini, sebaba jika ingin mengurus sendiri pun seringkali menjadi mustahil. Di sini, semua pakai uang kalau mau lancar. Akibatnya, sangat mungkin orang yang mendapatkan KTP baru di Jakarta juga masih memegang KTP daerah asalnya. Macam Narto ini. Di sinilah ketidakberesan dalam pencatatan kependudukan yang diselenggarakan oleh Depdagri.
Tahun 1997, saya mendapatkan KTP Bengkulu yang katanya merupakan KTP nasional dan berlaku di seluruh Indonesia. Nomor penduduk yang tercatat di sana bersifat tunggal sehingga tak mungkin status kependudukan saya tercatat dua kali atau lebih di daerah yang berbeda. Nyatanya, KTP itu tidak berlaku di Yogyakarta saat saya ke sana, juga tak berlaku di Kabupaten Bogor tempat saya tinggal sekarang.
SETIAP pemegang tiket mudik bareng ke Jawa Tengah diberi paket lebaran. Ada sarung cap Gajah Duduk, minuman dalam kemasan beserta roti, serta paket dari Air Mancur, sebuah perusahaan jamu yang terletak di daerah itu. Tentu semuanya adalah sponsor kegiatan. Ada 120 bus pariwisata yang disediakan oleh Pemda Jawa Tengah. Bagi pendaftar yang lebih awal, 30 bis diantaranya merupakan bisa kelas VIP untuk mereka. Selebihnya bis yang juga cukup nyaman untuk pulang ke kampung halaman. Mereka semua, termasuk keluarga Narto, telah berangkat kemarin sore dari Taman Mini Indonesia Indah.
Kalau pun Narto masih mencari penumpang hari ini, itu karena ia masih ingin mendapatkan uang beberapa puluh ribu lagi. Paling tidak untuk tambahan beli bensin pada keberangkatannya besok pagi menuju Boyolali. Cukup jauh. "Sekitar 600 kilometer," katanya bercerita tadi pagi. Sesampainya di kantor, saya beri ongkos seperti biasanya, ditambah dengan beberapa untuk sekedar uang saku bagi anaknya. "Minal Aidin walfaidzin, maaf lahri dan batin. Hati-hati di jalan ya," pesan saya.
Lebaran tahun lalu Narto sangat ingin ketemu saya yang juga mudik ke kampung istri. Demikian pula sebaliknya. Sayang, sebelumnya kami tak sempat bertukar nomor ponsel. Tahun ini, saya dan istri tak bisa mudik. Fatih, anak kedua kami belum genap berusia 3 bulan. Agak repot ke mana-mana dengan satu anak yang baru mulai ceria di masa TK serta satu anak yang mulai berusaha membalik-balik badannya. Apalagi belum memiliki kendaraan roda empat pula.
Selamat Berlebaran, kawan-kawan. Semoga amal ibadah kita selama bulan Ramadhan ini diterima oleh Allah SWT, serta memiliki pengaruh luar biasa untuk perbaikan bangsa ini di masa yang akan datang.
Mohon maaf lahir dan batin untuk semua kesalahan yang sangat mungkin tidak berkenan di hati Anda.
Saya menemukan laporan World Bank 2009 di scribd. com. Seperti biasanya, saya mengunduh dokumen-dokumen menarik dari situs ini. Namun, ternyata sudah tidak bisa melakukannya dari jaringan internet di kantor kali ini. Pesan yang muncul saat beberapa kali mencoba mengunduh: All download limits exceeded from your IP (202.152.XX.XXX).
Laporan tahuan ini cukup menarik karena ia menunjukkan perkembangan dunia "versi" lembaga keuangan bentukan kalangan neoliberal. Paling tidak, kita bisa mengetahui bagaimana perkembangan dunia saat ini, dan tentu saja kita harus tetap kritis terhadap semua isinya. Tidak ada yang netral dalam hal ini. Termasuk isi sebuah laporan.
Di situs Scribd.com terurai deskripsi laporan ini:The World Bank Annual Report 2009, Year in Review, explores the impact of the global financial and economic crisis in developing countries, and fast-track funding and programs that can help member countries withstand the debacle. In addition, new and ongoing programs and projects in health, climate change, infrastructure, and several other areas are highlighted. A new feature this year is personal-impact stories for each region, relaying the positive effects of World Bank assistance on individuals.
The World Bank Annual Report 2009: Year in Review
Bagi Anda yang tertarik, silahkan mengunduhnya sendiri dari Scribd.com melalui jaringan internet yang Anda miliki. Atau, silahkan unduh dari website WB langsung di sini. Selamat membaca dan mempelajari.
Maaf, saya bukan ahli bahasa. Hanya sedikit pengetahuan saya mengenainya. Hanya saja, saya agak tergelitik mengetahui penggunaan beberapa kata atau istilah yang kurang tepat. Berikut ini contoh yang kurang tepat itu, yakni penggunaan kata "lomba" dan "tanding".
Kata "lomba" dan "tanding" biasanya digunakan dengan imbuhan "pe-an" yang akan menjadi "perlombaan" dan "pertandingan" serta imbuhan "ber" yag akan mengubahnya menjadi "berlomba" dan "bertanding". Bagaimana memahami arti kedua kata ini? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, lomba berarti adu kecepatan atau adu kecakapan. Berlomba berati beradu kecepatan atau kecakapan. Tanding berarti yang seimbang/sebanding atau satu lawan satu. Bertanding berarti berlawanan, ada bandingnya (imbangannya, lawannya), atau melawan/menyaingi/menyamai.
Saya sendiri memahami keduanya sebagai proses bersaing untuk menjadi "lebih unggul". Berlomba sebagai proses menjadi lebih unggul dalam satu permainan yang setiap pesertanya tidak saling berhadapan. Misalnya, lomba mewarnai gambar yang biasanya diikuti oleh banyak anak-anak sekaligus, atau lomba lari maraton 10 km. Bertanding merupakan proses menjadi lebih unggul dalam satu permainan yang pesertanya saling berhadapan. Contoh dalam hal ini adalah bertanding sepak bola, pencak silat, atau bola volly.
Bisa saja satu jenis olahraga dimainkan untuk perlombaan sekaligus pertandingan. Misalnya, perlombaan pencak silat indah, dimana salah satu penilaian juri adalah keindahan seni beladiri ini. Juga, pertandingan pencak silat, dimana juri melihat dua orang peserta saling berhadapan dan saling serang sesuai dengan aturan pertandingan yang berlaku.
Jadi, cara paling mudah untuk membedakan penggunaan kedua kata itu, menurut guru SMA saya dulu, yakni melihat apakah dalam satu permainan masing-masing peserta dalam keadaan berhadap-hadapan atau tidak. Jika berhadapan, maka ia adalah bertanding. Jika tidak, maka itu adalah berlomba. Satu perlombaan, biasanya diikuti oleh banyak peserta sekaligus, berkebalikan dengan pertandingan yang biasanya terdiri dari dua pihak saja. Terdengar janggal kalau ada orang yang begitu bersemangat bercerita kalau ia baru saja pulang dari Senayan menonton perlombaan sepak bola.
* Picture of Pencak Silat was taken from here.








