Dari Lok Baintan ke Martapura


Pagi-pagi buta aku dan teman-teman berangkat menuju Kampung Kenanga Ulu, Kelurahan Sungai Jingah, Kecamatan Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin. Di pinggiran sungai di dekat Museum Wasaka, sebuah museum mengenang perjuangan rakyat Banjarmasin melawan penjajah, telah menunggu perahu klotok yang kami sewa untuk ke Pasar Lok Baintan. Kami menyempatkan diri menunaikan sembahyang subuh di sebuah musholla di pinggir sungai. Mbak Nurhikmah yang mendampingi perjalanan kami selama di Kalimantan Selatan menyarankan untuk berangkat pagi-pagi sekali menuju Lok Baintan, sebab nanti tiba di sana pas betul ketika para pedagang mulai memenuhi lokasi dengan perahu-perahu (orang Banjar menyebutnya Jukung) berisi barang dagangan mereka. Hari itu tanggal 8 Mei 2011.

Pasar Terapung Lok Baintan terletak di desa Sungai Pinang (Lok Baintan), kecamatan Sungai Tabuk, Banjar. Selain di sini, ada satu lagi pasar terapung yang terletak di muara Sungai Kuin/Sungai Barito. Keduanya sama-sama pasar tradisional di atas jukung. Aktifitas jual-beli berlangsung tidak terlalu lama, hanya sekitar tiga hingga empat jam. Barang dagangan berupa hasil produksi pertanian/perkebunan, bahan makanan yang tak tahan lama seperti sayur-sayuran, buah-buahan, makanan tradisional atau kudapan dan kebutuhan dapur rumah tangga lainnya. pada pagi sekitar pukul 6 atau 7 mulai tampak di sepanjang pesisir aliran Sungai Martapura Lok Baintan konvoi perahu menuju lokasi pasar terapung. Mereka berasal dari berbagai anak Sungai Martapura, seperti Sungai Lenge, Sungai Bakung, Sungai Paku Alam, Sungai Saka Bunut, Sungai Madang, Sungai Tanifah, dan Sungai Lok Baintan.


Selain melihat aktivitas jual-beli di pasar terapung, sebenarnya kami ingin "ngobrol" tentang kehidupan masyarakat di sekitarnya dan juga mereka yang menjadi pedagang di pasar terapung yang terkenal itu. Untuk bisa ngobrol dan tidak membuat tersinggung para penjual, kami membeli barang dagangan mereka sehingga tak tampak kalau kami sedang menggali informasi.

Menurut Bu Fatimah, dosen Universitas Lambung Mangkurat yang pernah meneliti kehidupan perempuan pedagang di pasar terapung, kebanyakan pedagang kelas bawah memang berjualan makanan atau bahan makanan yang tak tahan lama. Harapannya setelah kembali dari Lok Baintan barang dagangan tersebut telah habis terjual. Jika tak habis, sebelum pulang ke rumah biasanya ibu-ibu pedagang akan membawa dagangannya masuk ke pemukiman warga yang tinggal di atas sungai untuk berjualan. Ibu-ibu pedagang ini adalah pencari nafkah keluarga yang tangguh. Kadang-kadang, para pedagang melakukan barter sayuran atau hasil bumi lainnya menjadi kebutuhan pokok. Jadi tak mesti dijual dengan uang, apalagi saat hari semakin siang dan barang dagangan belum habis.



Sepulang dari Lok Baintan kami menyusuri sungai untuk melakukan wawancara dengan beberapa warga. Lalu mampir di Warung Soto Banjar Bang Amat yang terletak di tepi Sungai Pengambangan (anak Sungai Martapura). Waktu di Surabaya Oktober 2010 lalu, aku dan seorang teman sempat mencicipi soto Banjar. Kupikir saat itu soto Banjar ini adalah soto yang berasal dari Banjarnegara, Jawa Tengah. Harus saya akui memang saya bukan orang yang gemar menghabiskan uang untuk mencicipi semua masakan nusantara yang sekarang orang menyebutnya sebagai wisata kuliner :).

Makan Soto Banjar, juga sate ayam, sembari mendengarkan musik tradisional orang Banjar yang disebut Panting. Panting berasal dari daerah Tapin, Kalimantan Selatan, merupakan alat musik yang dipetik yang berbentuk seperti gambus Arab tetapi ukurannya lebih kecil. Pada perkembangannya, Panting dimainkan dengan beberapa alat musik lainnya seperti babun, gong,dan biola sehingga pemainnya juga terdiri dari beberapa orang.

Setelah dari pasar terapung, kami ke Martapura, Banjar, untuk menemui dan mewawancarai tokoh masyarakat di sana. Salah satu yang kemi temui adalah Abah Anang, seorang Kyai (ulama Banjar) yang sangat berpengaruh. Karena kuatnya pengaruh Abah Anang di masyarakat Banjar, hampir semua calon Presiden bertandang padanya setiap kali musim pemilu di Indonesia. Bahkan Kapolri, Paglima TNI, dan pejabat lembaga-lembaga tinggi Negara hampir semuanya datang padanya. Kalau masyarakat kecil datang untuk berkonsultasi soal keislaman bahkan urusan dapur, kasur dan sumur, maka para pejabat datang padanya untuk minta didoakan supaya langgeng dan (ny)aman kursi kekuasaan mereka. :)

Kami pun mampir membeli buah tangan kain Sasirangan dan juga batu mulia. Sahabat Sasirangan adalah salah satu produsen dan penjual kain (batik) Sasirangan. Di salah satu tokonya di Martapura ada tergerai kain Sasirangan palsu. Buatan dari negeri Cina. Bahan kainnya tampak beda serta dari penampilan sudah tampak kalau ia dibuat secara massal menggunakan mesin. Jelas ditulis pada secarik kertas yang tertempel di kain kalau ini adalah Sasirangan palsu, dan toko ini tidak menjualnya. Bahkan pencapaian budaya nenek moyang dalam bentuk kain batik pun tak dilindungi dengan semestinya oleh Pemerintah. Ada banyak kasus seperti ini, motif-motif kain tenun atau batik di berbagai daerah dengan mudah ditiru oleh negeri tirai bambu itu. Mereka memproduksinya secara berlimpah sehingga harganya jadi murah. Tetapi, tentu saja, adalah barang palsu. Kalau kita mau ikut melestarikan kekayaan budaya negeri sendiri, salah satu wujud kecintaan itu adalah dengan cara membeli barang yang asli... :)

Di Martapura, saya dan teman-teman sempat mampir di Masjid Agung Al Karomah. Dari luar masjid ini tampak indah dan megah. Di dalamnya, usai sembahyang kami sempat leyeh-leyeh. Udara di dalam jelas terasa sejuk. Sementara cahaya matahari begitu menyengat di luar masjid.

Ini merupakan bagian dari perjalan saya di Kalimantan Selatan pada 4 - 13 Mei 2011.

Read More......

Saya pun salah satu korbannya

Pagi ini saya mendapati sebuah koran nasional yang kebetulan dibeli oleh seorang teman kerja yang berpapasan di ruang makan. Salah satu beritanya, semakin banyak keluhan masyarakat yang merasa ditipu, pulsa ponselnya digarong oleh layanan SMS Content yang mereka tak pernah berlangganana. Modus-modus penipuan melalui SMS, mulihat, dan kemudian penerima SMS secara tak sadar kemudian terjebak berlangganan pesan yang mereka inginkan. Pulsa tersedot, informasi yang diterima juga tak berguna. Selain itu, ada juga yang secara tiba-tiba, tanpa pernah mendaftar, lalu terdaftar sebagai pelanggan informasi dengan tarif premium itu.

Siang ini secara mengejutkan saya pun kembali menerima SMS yang tidak jelas sumbernya. Langsung saya cek pulsa yang saya gunakaan terakhir dari pemakaian. Karena saya pengguna nomor Simpati dari operator Telkomsel, saya pun mengecek dengan cara menghubungi *888# dan hasilnya mengejutkan:

Biaya akses event terkahir adalah Rp.2200

Adapun layar ponsel saya menunjukkan keterangan dan isi SMS ini sebagai berikut:

9388
04.10.2011
03:22 PM
Rafi Ahmad mempersembahkan sesuatu khusus untuk anak Yuni Shara, saksikan liputannya di http://bit.ly/r5kRSI

Kalau seandainya manusia, bukan mesin, tentu si pengirim sudah sangat keterlaluan berkirim informasi yang sesungguhnya buat saya adalah sampah. Saya tidak mengurusi kehidupan artis. Sungguh saya adalah pembenci berita remeh temeh semacam ini.

Saya kemudian menghubungi nomor pengaduan yang disediakan oleh Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) di 159. Telepon saya dijawab oleh mesin penerima. Satu hal yang membuat saya tercenung adalah permintaan mesin penjawab supaya sebelum melakukan pengaduan ini sebaiknya pengadu melakukan pengaduan terlebih dahulu ke operator telepon selulernya. Saya pikir, saran ini sangat masuk akal. Saya ingin operator ponsel memberikan layanan yang baik dan bertanggung jawab atas penipuan ini. Jika tidak pengaduan ini tidak memuaskan, maka saya akan adukan ini ke BRTI.

Saya pun menghubungi operator di nomor 116. Setelah mengikuti instruksi mesin operator, saya pun akhirnya berhasil tersambung ke petugasnya yang bernama Karin. Saya adukan perihal nomor sms content yang baru saja menyedot pulsa saya sebesar 2.200 rupiah itu. Lalu kemudian Karin yang suaranya lembut sebagaimana operator telepon maupun penyiar radio yang memang tidak kita ketahui seperti apa rupanya, meminta saya menunggu. Ia akan mengecek Content SMS yang terdaftar pada nomor ponsel saya.

Hasil pengecekan operator Telkomsel ini akhirnya menemukan bahwa terdapat 3 SMS Content serta nama atau keterangan dari nomor-nomor tersebut yang tentunya masih akan terus memangsa pulsa yang saya miliki. Mereka adalah:


7337: IGUANA, aktif sejak 6 Juni 2011
9044: NEXIAN, aktif sejak 21 Agustus 2011
9388: INFOKOM, aktif sejak 6 September 2011

Saya minta semuanya dihapus dari daftar SMS Content pada nomor ponsel saya. Sesungguhnya saya merasa tidak pernah mendaftar ke nomor-nomor premium tersebut.

Saya memang baru berganti ponsel dari semula Nokia ke Nexian. Alsannya sederhana, saya membutuhkan pesawat ponsel untuk nomor CDMA. Pesawat saya yang lama saya gunakan untuk telepon rumah. Telepon rumah sendiri yang dulu menggunakan layanan dari PT. Telkom hendak saya putus karena memang kami sekeluarnya nyaris tidak pernah menggunakannya, sementara abonement yang harus kami bayarkan lebih dari cukup untuk menjadikan ponsel CDMA di rumah selalu aktif. Jadilah saya pengguna Nexian yang menawarkan penggunaan nomor GSM dan CDMA dalam satu pesawat telepon.

SMS content yang masih terdeteksi Telkomsel saya curigai dari penggunaan pesawat baru ini, meski saya merasa sudah melakukan pemutusan layanan SMS Content dengan cara UNREG untuk semua layanannya, entah mengapa nomor dari Nexian ini masih bercokol. Nomor 9388 yang barusan menyedot pulsa saya itu sama sekali tidak pernah saya mendaftarkan. Sebagai catatan, saya tidak pernah merasa tertarik pada gosip artis yang tidak punya kemanfaatan terhadap saya dan keluarga, apalagi buat masyarakat Indonesia selain daripada sekedar sampah informasi yang harusnya tidak boleh dibiarkan begitu saja. Bahkan saya tidak memiliki televisi di rumah karena banyaknya tayangan sampah infotainment seperti itu. Layanan SMS Content dari IGUANA juga, entah mengapa bisa bercokol di nomor ponsel saya. Saya tidak pernah mendaftar ke nomor ini.

Sebulan lalu pun saya sempat menerima SMS yang berisi tentang pengetahuan agama. SMS ini pun dengan tarif premium dan sungguh mati saya tidak pernah mendaftar ke nomor tersebut. Saya kesal. Langsug SMS saya balas dengan mengetik UNREG dan kirim. Akhrinya berhasil berhenti berlangganan. Padahal saya hanya mengira-ngira cara untuk berhenti berlangganan dengan mengetik UNREG saja. :)

Keluhan masyarakat luas yang sampai menjadi pemberitaan media beberapa hari terahir ini menjadi pelajaran buat saya. Juga buat masyarakat semua. Penipuan seringkali beroperasi dengan segala cara untuk mendapatkan keuntungan. Saya termasuk orang yang tidak suka ikut perkembangan gaya hidup, entah itu fashion maupun gadget. Bahkan kalau ditanya ponsel saya tipe apa, saya pun tak tahu selain bahwa ia punya merek dagang tertentu. Prinsip saya, selagi sesuai dengan kebutuhan saya maka itulah yang saya gunakan. SMS Content yang sudah hilang dari daftar benalu nomor ponsel saya, terus terang belum menjadi kebutuhan untuk saat ini. Entah nanti.

Untuk sementara waktu, semua layanan SMS Content pada nomor seluler saya sudah dihentikan oleh operator Telkomsel segera ketika saya menelepon operatornya. Saya urung menghubungi BRTI. Semoga hal ini tidak lagi terulang. Terima kasih untuk Telkomsel yang sudah mau menanggapi keluhan pelanggan macam saya ini. Semoga dengan kasus ini perusahaan milik PT. Telkom ini juga mau belajar meningkatkan pelayanan serta tidak memberi kesempatan pada para pihak yang mengeruk keuntungan namun bisa membuat citra operator seluler menjadi buruk.


Pembaruan Jum'at, 07 Oktober 2011:

Pagi ini saya menggunakan Telkomsel Flash untuk mengakses internet. Tiba-tiba muncul SMS yang nomor pengirimnya ditutupi (masked) sehingga keterangan pengirim yang muncul bernama PROMO seperti tampak berikut ini :



From: PROMO
Time: 2011-10-06 13:16:02


Pemilik no.HP dgn 4 digit belakang 1988, SEGERA hubungi *800*600#, kesempatan dapat Uang dan Pulsa.


2rb/sms/hr cs02158908230 Stop:UNREG LANGIT ke9577

Saya menghubungi operator Telkomsel. Salah satu petugasnya (namanya Lindi atau siapa, saya jadi lupa karena emosi mendengar jawabannya :) ) Kemudian ia mengecek jikaa ada nomor yang saya berlangganan SMS Content. Hasilnya NIHIL. Nomor untuk internetan saya tidak berlangganan apapun. Saya mengeluhkan pulsa saya yang dicuri. Petugas operator ini terus ngotot menyatakan saya berlangganan atau membalas SMS penawaran sehingga pulsa saya terkurangi. Terus berbantahan, akhirnya saya tanyakan apa ada kebijakan Telkomsel untuk menghentikan promo seperti ini. Ia hanya mengatakan kalau itu kesalahan saya yang membalas SMS promo yang saya terima. Hopeless!!!!

Saya menyadari kalau yang saya hadapi adalah petugas lapangan yang tidak tahu soal kebijakan pemberian izin promo kurang ajar ini. Mestinya operator tidak boleh membuka kesempatan para pencuri seperti ini. Kalau memang mau promosi produk tertentu, silahkan saja mengirim SMS dengan cara umumnya. Kalau penerima tidak mau membalas, tentu ia tidak mengeluarkan pulsa untuk biayanya. Apalagi kalau sekedar menerima SMS, tidak boleh pulsa si penerima diambil seenaknya.

Di negara kleptokrasi seperti Indonesia ini, tak hanya pengurus Negara, banyak pihak juga berlomba-lomba jadi pencuri.

Read More......

Ingat bidadari, lupa pada istri

Beberapa malam lalu saya mencicipi ceramah menarik pada ibadah tarawih berjamaah di sebuah perumahan mewah di sebelah Timur Cibubur. Sebagaimana pada Ramadhan-Ramadhan sebelumnya, saya memang suka mengikuti ceramah tarawih di masjid ini karena isi ceramah yang biasanya memang bagus-bagus, tidak menggurui, dan menambah wawasan. Tak melulu ngomongin ibadah ritual, tetapi juga tentang kaitan agama dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, sosial dan kebudayaan masyarakat. Maklum, sejak kecil saya tidak pernah nyantri selain pesantren kilat waktu masih siswa SMA di Bengkulu sana. Juga, pengetahuan agama saya teramat sedikit.

Pada malam itu, kalau biasanya penceramah hadir di shaf (barisan) shalat paling depan, penceramah yang saya lupa namanya ini datang dari shaf tengah dan kemudian berjalan menuju mimbar sesaat setelah dipersilahkan oleh panitia Ramadhan di masjid tersebut. Ia terlihat sederhana, mengenakan kemeja batik lengan panjang dan menggunakan peci, tubuh terlihat agak kurus dibandingkan dengan tinggi badannya yang sekira 160-an centi meter. Dialek Jawanya yang terkesan orang "ndeso" tertutupi oleh pengetahuan agama yang terlihat luas dan membuatnya tetap terlihat berwibawa membawakan ceramah dengan sindiran-sindirannya yang cukup tajam malam itu.

Naik ke mimbar, ia memulai ceramah dengan cerita tentang taman surga bagi siapa saja yang memiliki amal kebaikan selama hidup di dunia. Ia mengingatkan kembali betapa sukanya manusia akan tempat yang disebut dengan taman. Di sebelah utara Jakarta terdapat Taman Impian Jaya Ancol. Lalu ada Taman Safari yang jauh di sebelah selatannya. Juga ada Taman Mekarsari di daerah Jonggol, kabupaten Bogor. Jika sudah meninggal pun orang maunya dimakamkan di sebuah taman, seperti yang terdapat di daerah Kalibata: Taman Makam Pahlawan.

Semua orang pastilah ingin berada di taman yang indah sebagai tempat peristirahatan terakhir. Meski ukurannya kecil, hanya satu kali dua meter saja, kalau suasananya seperti taman tentunya akan terasa nyaman. Tidak terasa lamanya menunggu hari akhir (akhirat) datang. Pada intinya, amal kebaikan yang kita lakukan selama di dunia ini yang akan menentukan apakah kuburan kita nanti akan seperti taman yang indah atau malah gelap gulita dan menyeramkan :)

Di akhirat nantinya kita maunya masuk ke taman surga. Taman Firdaus adalah surga dengan tingkatan paling atas, tempatnya orang-orang yang seluruh hidupnya di dunia hanya diisi dengan amal kebaikan.

Itulah lebih kurang cerita ustadz itu tentang taman.

Lalu, penceramah yang membuat saya jatuh hati ini kemudian bertanya pada jamaah, "Anda mengharapkan siapa kira-kira pendamping hidup Anda kalau nanti masuk surga?" Pertanyaan itu itu kemudian diarahkan ke imam shalat Tarawih malam itu. Ia minta imam menjawab pertama kali. Lalu sang imam pun menjawabnya, "Bidadari..." Penceramah tersebut mengarahkan pertanyaan yang sama kepada semua jamaah laki-laki. Tentu jawabannya sama dengan sang imam.

Dengan nada sedikit meninggi, ustadz meminta imam beristighfar, memohon ampun kepada Allah SWT.

"Istighfar. Minta ampunlah kepada Allah karena ketika masuk surga ternyata pak imam lupa pada istri. Lupa pada anak-anaknya."

Kontan pernyataan ustadz ini membuat terperangah semua jamaah termasuk saya yang ada di barisan agak belakang ruang masjid yang besar itu. Ustadz juga meminta semua jamaah untuk beristighfar.

"Kalau pulang kerja, kita minta dibuatkan teh pada istri. Kalau capek minta dipijitin istri. Apa-apa minta disediakan istri. Giliran masuk surga, istrinya dilupakan."

Jamaah terdiam. Saya terkesima. Belum pernah saya mendengar sindiran yang tajam kepada jamaah muslim di masjid ini. Sindiran ini, meski disampaikan dengan cara sambil tertawa, terus terang sangat mengena.

"Dulu waktu kita masih kecil, masih ingat gak siapa yang nyebokin kita? Siapa? Ibu kita. Ayah kita. Lalu masuk surga pun kita lupa pada mereka."

Jamaah bertambah diam.

Tidak salah, semua orang selama ini membayangkan kehidupan di surga yang serba indah, serba nikmat, tak ada habisnya. Tapi tak pernah kita berpikir bahwa semua kenimatan itu akan dinikmati bersama orang-orang yang kita cintai selama di dunia, anak-istri kita, orang tua kita, tetangga-tetangga kita. Mereka semua orang-orang seperjuangan dengan kita saat menjalani kehidupan di dunia ini. Bahkan, jika memang memaknai Rahmatan lil 'alamin secara lebih luas, tentunya kita ingin semua orang di dunia ini berbuat kebaikan bersama kita sehingga kelak kebahagiaan di akhirat pun kita nikmati bersama-sama.

Tak ada lagi penderitaan. Tak ada lagi kemiskinan. Tak ada lagi luka lara. Semua bahagia di surga.

Seperti kata ustadz yang berceramah malam itu, akan lebih baik kalau kita berdoa agar masuk surga bersama-sama orang-orang yang kita cintai di dunia ini. Bidadari itu adalah simbol tentang kecantikan luar biasa makhluk-Nya. Tentu kita berharap bidadari itu kelak adalah ibu yang telah melahirkan dan mencurahkan kasih sayangnya pada kita sejak masih dalam kandungan, istri kita yang merasakan betul pahit getir mendampingi hidup kita, adik - kakak perempuan kita, dan semua perempuan yang telah mengamalkan seluruh hidupnya untuk berbuat kebaikan dan membuat dunia ini begitu nyaman bagi semua penghuninya.

Untuk sementara waktu, semua layanan SMS Content pada nomor seluler saya sudah dihentikan oleh operator Telkomsel segera ketika saya menelepon operatornya. Saya urung menghubungi BRTI. Semoga hal ini tidak lagi terulang. Terima kasih untuk Telkomsel yang sudah mau menanggapi keluhan pelanggan macam saya ini. Semoga dengan kasus ini perusahaan milik PT. Telkom ini juga mau belajar meningkatkan pelayanan serta tidak memberi kesempatan pada para pihak yang mengeruk keuntungan namun bisa membuat citra operator seluler menjadi buruk.

Read More......

Niken dan PRT-nya

Menerima PRT mulanya dari tetanggannya yang mencari pekerjaan dengan mendatangi bapaknya di Purworejo. Akhirnya PRT ini dibawa ke tempat tinggalnya di Batam sejak tahun 2007. Lalu kemudian berlanjut ketika ia dan keluarganya pindah ke Jakarta dan terakhir di Yogyakarta setahun terakhir.

Pekerjaan yang diberikan kepada PRT berupa bersih-bersih rumah, mencuci, dan memasak dan mengantarkan anak ke sekolah. Saat pertama kali di tahun 2007 ia menggaji PRT sejumlah 600 ribu rupiah. Lalu dinaikan hingga menjadi 800 ribu rupiah. Sebenarnya tidak ada pekerjaan yang diwajibkan untuk diselesaikan oleh PRT. Niken juga biasanya menyapu halaman serta membersihkan rumah. Jadi ia memberikan pekerjaan kerumahtanggaan secara fleksibel kepada PRTnya. Suasana kekeluargaan terus dijaga oleh Niken selaku orang tua tunggal dalam keluarga.

Sejak berpisah dengan suaminya kira-kira 6 bulan lalu, Niken bernegosiasi dengan PRT mengenai gaji. Niken menurunkan gaji PRTnya kerena ia merasa tidak mampu untuk membayar sebesar 800rb seperti sebelumnya. Ia menyanggupi 600 rb setiap bulannya. Lalu sejak 4 bulan lalu akhirnya ia kembali bernegosiasi tentang gaji PRTnya ini, sebab ia hanya mampu membayar 400 rb. Untuk ekonomi keluarga, sejak bercerai dengan suaminya Niken menghidupi 2 orang anaknya dari berjualan buku serta menulis cerpen dan novel serta tulisan-tulisan non fiksi yang ia cetak dan distribusikan sendiri maupun bekerjasama dengan pihak ketiga. Meski kesepekatan dengan PRT ia akan menggaji hanya 400rb, namun Niken biasanya membayarkan 500rb.

Semua kebutuhan PRT dipenenuhi oleh Niken. Tak ada perbedaan makan antara keluarga Niken dan PRTnya. Rumah kontrakan yang mereka tempati memiliki 3 kamar tidur. PRTnya sekamar dengan anak-anak Niken. Meski ada kamar sendiri, PRT biasa tidur dengan anak-anak karena akrabnya mereka. Pekerjaan rumah tangga seperti menyapu dan bersih-bersih rumah, Niken ikut melakukan, sehingga sebenarnya PRT lebih ringan pekerjaannya.

PRT Niken biasanya mengantar dan menjemput anak-anak ke sekolah sekitar 7km dari kediaman mereka. Ada sepeda motor yang biasa digunakan oleh PRTnya.

Satu hal yang pernah mengganggu Niken, PRTnya pernah dianggap membahayakan keselamatan mereka. Satu saat, ketika memboncengkan Niken dengan sepeda motor, di traffic light PRTnya asyik mengirimkan SMS. Ini mengganggu Niken. Karena sering terjadi, akhirnya Niken menegur. Bagi Niken, hal semacam itu lebih baik dikomunikasikan. Ia akan menegur PRT kalau ada hal yang dinilainya tidak baik. Mengenai SMS, di rumah tinggal pun PRT sering SMSan dan berpacaran menggunakan HP. Tapi Niken membiarkan saja karena masih dianggap wajar. Masih bisa ditoleransi. Lagi pula ia memaklumi masa lalu PRTnya pernah ditinggal oleh suaminya, dan sekarang bertemu lagi dengan teman masa kecil melalui facebok. Niken sendiri yang mengenalkan facebook (dan internet) kepada PRTnya ini.

Niken seorang penjual buku serta penulis cerpen dan masuk dalam komunitas sastrawan muda yang lahir dari kalangan mahasiswa tahun 2000 awal. Ia memiliki perpustakaan untuk keluarganya. Ia pun ingin perpustakaan tersebut menjadi sumber ilmu buat PRTnya, tak hanya bagi diri dan anak-anaknya.

Yogyakarta, 20 Oktober 2010

Read More......

Anda pernah naik pesawar Lion Air? "Pesawat ini memang suka Lie on air," kata teman lama masa kuliah dulu menanggapi sebuah foto kericuhan yang terjadi pada 2 Juni 2011 malam di terminal 1B bandara Soekarno Hatta. Foto itu saya ambil saat orang-orang ramai berkerumun mengelilingi petugas Lion Air di salah satu Gate di terminal itu. Saya mengunggahnya di facebook beberapa menit setelah kejadian memalukan tersebut. Orang-orang minta bertemu dengan pihak managerial Lion Air karena merasa kasihan juga kalau bawahan-bawahan yang langsung menghadapi para calon penumpang. Kata-kata kasar meluncur. Makian kian tak terkendali. Tapi nyatanya, Lion Air memang sudah terkenal suka ingkar jadwal penerbangan yang mereka buat sendiri.


Saya kebetulan hendak pulang ke Bengkulu hari itu. Kami semua berjumlah 14 orang termasuk anak saya yang belum lagi berusia 2 tahun. Jadwal penerbangan ke Bengkulu sebenarnya pukul 17.04 WIB. Ketika kami datang pada sekitar pukul 16, sampai dengan pukul 17, ruang tunggu sudah tak mampu menampung calon penumpang. Calon penumpang tumpah ruah menunggu di koridor menuju ruang tunggu. Lalu tiba-tiba suasana jadi bertambah ramai oleh kegaduhan para calon penumpang yang penerbangannya ditunda. Yang saya ingat, mereka hendak menuju Medan. Mereka kecewa karena, bisa jadi, jadwal rapat mereka akhirnya harus terganggu dengan penundaan ini. Juga ada janji keluarga atau urusan bisnis lain yang pada akhirnya jadi berantakan karena penundaan ini.

Kegaduhan yang terjadi sore itu berlanjut hingga malam. Penerbangan kami ke Bengkulu juga diumumkan mengalami penundaan 3 jam dan itu pun menimbulkan teriakan "huuu....." dari para calong penumpang. Itu artinya paling cepat kami baru bisa berangkat pada pukul 20.04 WIB. Entah kenapa kok penundaan bisa selama itu. Lalu sekitar sejam dua jam kemudian kegaduhan terjadi lagi dan kali ini merupakan bentuk kemarahan dari penumpang menuju Palembang. Disusul kembali dengan kemarahan dari mereka yang hendak ke Pekanbaru. Menjelang pukul 20 lalu terjadi keributan. Ternyata kembali calon penumpang yang akan menuju Medan. Penumpang yang satu rombongan dengan kami pun mulai berteriak-teriak seperti penumpang-penumpang dengan tujuan kota-kota di Sumatera itu.

Saya merasa capek dengan semua keributan. Sebenarnya sangat marah dan kesal pada pelayanan macam ini. Saya sudah menebak sejak semula bahwa tidak mungkin hanya sekedar persoalan terknis penerbangan. Sangat mungkin karena keinginan maskapai untuk membuat semua kursi di pesawat penuh semua hingga baru akan diberangkatkan. Lagi pula, ini saatnya libur panjang di akhir pekan. Tanggal 2 Juni merupakan hari libur nasional karena peringatan Kenaikan Isa Almasih. Otomatis hari Jumat keesokan harinya menjadi libur bersama yang akan berlanjut hingga hari Ahad. Tiket dengan harga mahal tentu bak musim panen bagi maskapai angkutan udara. Sayangnya, hal ini tidak diimbangi dengan peningkatan kualitas pelayanan. Saya hanya peduli dengan anak-anak saya yang mulai tak bisa diam karena jemu menunggu. Mereka berlarian kesana kemari. Saya khawatir mereka akan kecapean dan juga hilang ditengah kerumunan orang yang sedang emosi tinggi. Tentu saya tak ingin mereka sampai celaka karena terinjak atau malah terbanting di salah satu sudut karena ketidaksengajaan orang-orang yang sedang kecewa.

Menunggu selama 3 jam ternyata membuat hati saya penat. Sejak selepas lebaran Idul Fitri tahun lalu saya menjalankan tugas penelitian lapangan di berbagai daerah di Indonesia bagian Timur dan Tengah. Eloknya, penerbangan kami selalu menggunakan pesawat Garuda Indonesia. Saya bangga dengan maskapai ini yang merupakan simbol transportasi udara Nusantara milik pemerintah. Pelayanan baik, meski pernah satu kali kami harus marah pada petugas bandara Sultan Hasanuddin Makassar karena ketidakjelasan Gate untuk keberangkatan. Itupun kami sadari kemudian disebabkan karena ketidakberesan dalam pengelolaan bandara hingga tak ada kepastian tempat parkir pesawat. Hal semacam ini tak hanya terjadi di Makassar, di bandara Soekarno Hatta pun sudah menjadi biasa penumpang harus berpindah dari Gate yang tertera di Boarding Pass ke Gate dimana pesawat yang akan digunakan mendapat tempat parkir. Hal ini merupakan gambaran pengelolaan yang belum sempurna--untuk tidak mengatakan buruk--bandara-bandara yang katanya kelas internasional. Tak hanya itu, saya pikir ini semua cermin pemimpin-pemimpin negeri ini yang juga bisa jadi lebih buruk dalam mengurus Negara.

Hal yang lebih baik saya dapatkan dari layanan Garuda adalah keterlambatan dibayar dengan Executive Lounge yang membuat saya dan teman-teman satu tim yang akan ke Ambon November lalu harus rehat dan menikmati hidangan di ruang tuggu itu. Setidaknya, kami merasa mendapatkan kepastian bahwa pesawat memang tertunda karena keterlambatan pesawat yang datang dari daerah. Kenyamanan ruang tunggu dan hidangan itu sedikit mengobati. Dan yang pasti, meski kursi penumpang tidak semuanya terisi, pesawat dari maskapai ini tetap melakukan penerbangan.

Maskapai lain yang pernah saya dan keluarga tumpangi kadangkala juga mengalami penundaan penerbangan. Hanya saja tidak separah yang dilakukan oleh Lion Air. Kalau Lion Air terkenal suka menunda penerbangan, itu tandanya sudah telalu sering penumpang mengalami ini serta frekuensinya terlalu tinggi. Syukurnya, maskapai ini tidak menguasai penerbangan semua rute dan dengan ongkos relatif murah. Kalau tidak, tentunya kita hanya bisa menggerutu.



Saya teringat kecelakaan Lion Air di bandara Adi Sumarmo pada 30 November 2004 lalu. Peristiwa naas yang menewaskan puluhan orang termasuk pilotnya tersebut dibantah oleh pihak Lion Air sebagai satu kecerobohan dan mengabaikan standar keselamatan. Peristiwa itu membuat saya ngeri. Sebuah koran nasional memuat karikatur di pojok kiri bawah halaman muka dengan tulisan We make people cry. Tulisan tersebut merupakan plesetan dari semboyan We make people fly yang dijual maskapai ini.

Manajemen di darat yang kacau balau bukan tidak mungkin bisa menyebabkan kekacauan dalam penerbangan di udara. Dan jika fatal, sangat mungkin nyawa bisa jadi taruhannya.

Jika Mandala Air, yang menurut seorang teman memiliki layanan terbaik kedua setelah Garuda, telah mengalami tutup buku, saya berharap maskapai-maskapai lain dapat memberikan layanan tak kalah memuaskan bagi para pengguna jasa angkutan udara di Indonesia. Ungkapan teman lama saya pada awal tulisan ini "Lie on air" yang mungkin maksudnya Lion Air suka bohong tentu harus mendapatkan perhatian dari pihak manajemen maskapai ini jika tak mau terus menerus mengalami kemerosotan kepercayaan. Saya kecewa, tapi saya masih berharap Lion Air mau belajar dari kekecewaan penumpang-penumpangnya.

Tambahan informasi, 11 Juli 2011:
Lion Air juga dilaporkan ke Komnas HAM oleh DPP Persatuan Tunanetra Indonesia terkait diskriminasi yang sering mereka terima saat ingin melakukan penerbangan menggunakan maskapai itu. Lihat beritanya di sini.

Read More......

Namanya Surti. Itu bukanlah nama aslinya. Ia mahasiswa asal Sumatera saat itu. Kuliah di Jogja memberikan pengalaman tersendiri untuknya. Mengikuti kegiatan kampus dan organisasi bersama teman-temannya di Jogja, melakukan bakti sosial pada masyarakat di sekeliling kampus, membuat dirinya mengalami perubahan cukup signifikan. Semula ia adalah gadis pendiam. Susah untuk melihatnya mau bicara kalau orang tak mengajaknya bercakap-cakap secara pribadi. Jadilah ia gadis rantau yang mulai mengenal dunia.

Masa kuliah, sebagai muslimah yang baik, ia tak begitu terpengaruh oleh teman-temannya yang mulai menjalin hubungan khusus dengan teman mahasiwa laki-laki. Ia tahu, sebagai orang yang berlatar belakang keluarga yang cukup agamis, hal semacam ini harus ia hindari.

Memasuki tahun ketiga ia kuliah di Jogja, Surti mulai berkenalan dengan salah satu kelompok kajian mahasiswa. Kelompok ini mencoba mencari pemahaman baru tentang keislaman mereka. Mereka kritis pada teman-teman di kampus yang mulai seperti garis keras, gampang menganggap teman-teman lain sebagai kelompok sesat, tidak syari'ah, atau menilai bahwa pemahaman teman-teman lain terhadap agama Islam banyak yang salah. Surti merasa tidak mendapatkan tempat untuk memiliki pemahaman yang lain di komunitas mahasiswa muslimah kampusnya. Karena itulah, kelompok kajian tempat ia baru bergabung ini memberikan kesan yang cukup dalam untuknya. Ia boleh menggali keagamaan dan keingintahuannya secara lebih leluasa. Ia bisa mendiskusikan apa saja untuk mendalami pemahamannya. Teman-teman barunya ini kemudian ia ketahui sebagai kelompok yang mengidentifikasi diri sebagai Syiah. Kelompok ini terkenal suka melakukan kajian kritis Keislaman dan isu-isu sosial politik. Murtada Mutahhari dan Ali Syariati merupakan dua tokoh Islam asal Iran yang menjadi idola mereka dalam memahami Islam dan dunia. Dua tokoh merupakan tokoh kritis pada masa revolusi di negeri Timur Tengah tersebut.

Di komunitas baru ini Surti kemudian mengenal seorang pemuda. Satu kampus dengannya, hanya beda fakultas. Pemuda ini terlihat cerdas, kritis dan senang berpolitik di kampus. Pemuda itu pernah pula mencalonkan diri pada satu kesempatan pemilihan Ketua BEM di tingkat universitas. Kebetulan mereka sama-sama berlatar belakang suku Sunda. Meski berasal dari Sumatera, orang tua Surti sebenarnya berasal dari tanah Sunda. Mereka pun akrab. Akhirnya kedekatan mereka cepat diketahui oleh teman-teman sekitarnya. Mungkin karena mereka sudah mulai terlihat bersama ke mana-mana. Penampilan Surti yang mengenakan pakaian muslimah seperti jubah, dengan kerudung yang cukup besar, menimbulkan tanda tanya besar pada teman-temannya tentang terlihatnya mereka berjalan bersama.

Berceritalah Surti pada salah teman dekatnya dulu yang juga sama-sama merantau dari Sumatera untuk melanjutkan pendidikan di Jogja. Surti pun membuka cerita perjalanannya hidupnya.

Surti dan pemuda pujaannya meyakini ajaran syiah yang mereka pelajari belakangan ini. Mereka juga tak ingin menjalani kehidupan sebagaimana mahasiswa lain yang melakukan pacaran. Buat mereka, tak boleh ada hubungan semacam pacaran. Ajaran Islam yang mereka yakini memberikan jalan kemudahan supaya mereka dapat hidup bersama namun tidak berdosa. Mereka sudah menikah menurut keyakinan mereka. Pernikahan ini yang dinamakan Pernikahan Muth'ah.

Pernikahan muth'ah yang mereka jalani, menurut Surti, adalah pernikahan yang mereka lakukan sendiri. Prosesnya, mereka bersepakat menjadi suami istri. Lalu meniatkan diri untuk menjadi pasangan suami istri. Dalam pernikahan ini mereka terikat perjanjian atau kontrak yang mereka sepekati berkaitan dengan sebatas mana hubungan ini mereka jalani. Misalnya, apakah mereka hanya boleh berjalan berudua-duaan saja, atau sampai pada tinggal serumah, melakukan hubungan badan sebagaimana layaknya hubungan suami istri yang dipahami khalayak banyak, beban ekonomi ditanggung ataukah tidak oleh salah satu pihak atau menjadi tanggungan kedua belah pihak, apakah status suami istri ini akan berlangsung dalam jangka waktu tertentu ataukah akan tetap selamanya, dan lain sebagainya. Semua itu harus disepakati bersama.

Surti dan "suaminya" menikah pada satu waktu di tempat kos Surti. Tempat ini adalah sebuah rumah tinggal. Ada beberapa mahasiswi yang tinggal di sini. Mereka tinggal bersama dengan keluarga pemilik rumah. Mereka menyewa kamar-kamar yang seperti paviliun di rumah itu. Di teras rumah ini terdapat beberap kursi dan meja yang memang dijadikan tempat menerima tamu baik tamu keluarga pemilik rumah maupun tamu mahasiswi yang mondok di situ. Di situlah Surti dan pemuda pujaannya itu menikah. Ketika temannya bertanya apakah ada saksi, Surti hanya menjawab: "Allah Maha Tahu segalanya. Ia adalah Tuhan. Tuhan menjadi saksi pernikahan kami..."

Beberapa tahun kemudian pemuda yang menjadi suami Surti lulus dari studinya. Ia kembali ke kampung halamannya di Jawa Barat. Sebagai pemuda yang mulai berpolitik sejak mahasiswa, laki-laki pujaan Surti ini kemudian melanjutkan karir politiknya di sebuah partai politik Islam yang sempat jaya di masa Orde Baru. Di partai ini, demi karir politiknya yang kinclong, ia rela meninggalkan Surti. Pemuda ini lalu memilih menikahi putri salah seorang petinggi partai politik tempatnya bergelut, hingga ia tak lagi merasa memiliki tanggung jawab untuk hidup bersama dengan Surti.

Surti kecewa ditinggal pemudanya. Ia sedih, sakit hati, tapi tak bisa berbuat lain selain menangisi diri. Surti memang tak pernah bercerita batasan hubungan dari pernikahan muth'ah mereka. Tetapi, status sebagai istri muth'ah pun membuatnya tak memiliki hak sama sekali untuk menuntut suaminya supaya tidak meninggalkannya. Ia kecewa selamanya....


Catatan:
1. Tulisan ini merupakan satu dari beberapa tulisan tentang kasus perkawinan untuk masukan revisi UU Perkawinan No.1 tahun 1974
2. Gambar ilustrasi diambil dari sini.

Read More......

Oktober lalu, seorang teman aktivis perempuan yang mendampingi petani di pedesaan Yogyakarta dan Jawa Tengah bercerita kalau ada perempuan yang tidak dapat mengakses secara penuh bantuan pertanian dari Pemerintah. Petani pedesaan di sana mengalami diskriminasi karena mereka adalah janda.

Bantuan pertanian berupa pupuk dari pemerintah pusat (Kementerian Pertanian) turun hingga ke masyarakat melalui pemerintah desa. Dalam hal pembangunan pertanian di desa, masyarakat membuat kelompok tani-kelompok tani untuk mendapatkan bantuan. Di dalam kelompok petani, setiap keluarga hanya diwakili oleh satu orang kepala keluarga. Di beberapa desa, perempuan janda yang menjadi pencari nafkah untuk keluarganya tidak dapat dianggap sebagai kepala keluarga. Masyarakat masih menilai bahwa yang boleh menjadi kepala keluarga hanyalah seorang lelaki, seorang suami sekaligus ayah dalam keluarganya. Ini menjadi masalah krusial bagi keluarga yang tidak memiliki suami atau ayah.


Menurut informasi yang disampaikan oleh Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga (Pekka), sebuah NGO yang mendampingi dan memberdayakan perempuan kepala keluarga, ada sekitar 13 - 17 persen rumah tangga di Indonesia dikepalai oleh perempuan (Pekka, 2009). Mereka yang terhitung sebagai perempuan kepala keluarga adalah perempuan yang ditinggal cerai, suaminya sakit hingga tak bisa mencari nafkah, janda ditinggal meninggal, perempuan lajang namun pencari nafkah untuk keluarganya, serta perempuan yang ditinggal suaminya untuk merantau atau hal lain namun lama tak jelas keberadaannya.

Ketika menghadapi kondisi di atas, seorang perempuan mau tak mau harus berjuang menghidupi keluarganya. Mereka bekerja sebagai pencari nafkah untuk kelangsungan hidup diri dan anak-anak yang menjadi tanggung jawabnya. Undang-Undang Perkawinan No. 1 tahun 1974 masih menilai kepala keluarga adalah laki-laki. Budaya masyarakat di Indonesia yang masih bias patriarkhi juga mengabaikan entitas perempuan yang mengambil alih fungsi seorang laki-laki (kepala keluarga) untuk mencari nafkah dan menghidupi keluarganya. Akibatnya, perempuan kepala keluarga seringkali mendapatkan diskriminasi dan kekerasan dalam keluarga bahkan di dalam masyarakatnya. Tidak diperhitungkan keberadaannya dalam kelompok tani seperti terjadi di salah satu desa di Yogyakarta adalah contohnya.

Di tempat tinggal saya, di pinggiran Jakarta, gang tempat kami tinggal dikenal sebagai gang janda. Sebabnya, dibandingkan dengan gang-gang lain di komplek perumahan ini, gang kami memiliki paling banyak janda (ditinggal mati suami). Mereka harus mencari nafkah untuk biaya sekolah anak-anaknya antara lain dengan berjualan atau membuka warung nasi kecil-kecilan di pagi hari. Pada satu rapat rukun tetangga (RT) tahun lalu, keputusan rapat yang dihadiri oleh kepala keluarga menyatakan kalau perempuan tidak boleh ikut mewakili keluarganya dalam rapat rutin RT setiap bulannya. Padahal, rapat RT seringkali membuat keputusan-keputusan yang menyangkut semua warga. Dengan demikian, jika keluarga janda ini tidak ada yang mewakili dalam rapat, berarti mereka harus menerima begitu saja semua keputusan rapat RT, dan  mereka pun wajib menjalankan keputusan-keputusannya. Terlihat jelas kalau perempuan janda tidak diakui sebagai kepala keluarga serta suaranya tidak dihargai. Padahal, tempat tinggal kami masih terhitung daerah perkotaan.

Tujuan pembangunan milenium yang dirumuskan oleh pemimpin-pemimpin dunia dan diupayakan untuk tercapa pada tahun 2015, pada tujuan pertama memuat "pengentasan kemiskinan dan kelaparan ekstrem" (Eradicate extreme poverty and hunger). Pada tujuan ketiganya disebutkan "mendukung kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan" (Promote gender equality and empower women). Kasus sulitnya perempuan kepala rumah tangga mengakses bantuan pertanian di pedesaan menunjukan dengan jelas rentannya perempuan pada kemiskinan. Sangat mungkin mereka akan menjadi petani miskin karena kebijakan pemerintah di sektor pertanian sendiri selama ini sudah membuat bertani bukan pekerjaan yang membuat sejahtera. Impor beras saat petani di dalam negeri sedang panen dan harga pupuk membubung tinggi saat musim bercocok tanam merupakan dua dari sekian kebijakan pertanian yang memiskinkan. Di tambah lagi, saat adanya program bantuan  untuk para petani, ternyata perempuan tidak dapat mengaksesnya dengan baik karena mereka tidak diakui sebagai kepala keluarga. Sementara, perempuan di wilayah kota (urban) tidak memiliki suara dalam pertemuan di lingkungan mereka. Kondisi ini jelas menunjukan ketimpangan relasi gender yang masih melekat dalam nilai-nilai sosial di masyarakat.

Delapan tujuan pembangunan millenium yang disepakati dan dirumuskan pada Millennium Summit tahun 2000 agaknya akan sulit dicapai Indonesia pada 2015 nanti jika pemerintah masih belum berhasil membuat kebijakan yang baik. Undang-undang perkawinan No. 1 tahun 1974 perlu direvisi untuk memungkinkan pengakuan perempuan sebagai kepala keluarga. Demikian pula dengan pendidikan bagi masyarakat luas (baik formal dan informal) serta upaya-upaya menyadarkan masyarakat tentang kesetaraan lelaki dan perempuan mutlak harus dilakukan oleh pemerintah selain yang sudah dilakukan oleh NGO perempuan. Kemiskinan di negeri ini lebih banyak dialami dan diderita kaum perempuan, dari pedesaan hingga perkotaan. Menghargai perempuan sebagai kepala keluarga dan pencari nafkah serta menghormati kesetaraan perempuan dan laki-laki hanyalah sebagian kecil upaya untuk mengentaskan kemiskinan sebagaimana menjadi tujuan dari pembangunan millenium.

Read More......

Apakah ada sumbangsih Pembantu Pekerja Rumah Tangga (PRT) terhadap ekonomi nasional? Pertanyaan ini terus muncul dan membutuhkan jawaban di tengah-tengah upaya mengadvokasi Rancangan Undang-Undang Perlindungan PRT (RUU PPRT).

Setiap keluarga yang suami istri bekerja di luar rumah, baik sebagai pegawai sebuah instansi atau perusahaan, maupun memiliki usaha sendiri, pekerjaan di wilayah domestik diserahkan pada PRT. Mulai dari menyapu rumah, merawat anak serta mengantar ke sekolah, mencuci pakaian, memasak dan urusan-urusan rumah lainnya. Pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan oleh PRT ini telah membuat pekerjaan-pekerjaan pencari nafkah keluarga (suami, istri atau suami dan istri) menjadi lancar karena urusan domestik mereka telah ditangani oleh PRT.

PRT telah turut berperan dalam memungkinkan suami-istri dalam sebuah keluarga bisa bekerja dengan leluasa. Suami-istri yang yang bekerja ini akan meningkatkan konsumsi dan investasi yang pada gilirannya akan menambah pendapatan nasional.[1] Demikian pula dengan PRT yang dengan profesi yang ia tekuni, ia memiliki penghasilan dan dengan demikian mampu mengkonsumsi dan investasi yang tentunya memiliki pengaruh dalam pendapatan nasional.[2]

Data pendapatan nasional merupakan alat untuk mendapatkan angka pertumbuhan ekonomi masyarakat dan ekonomi nasional. Data Pendapatan nasional dapat digunakan untuk melihat berbagai sektor perekonomian suatu negara, apakah ia merupakan negara industri, pertaninan, atau negara jasa. Data itu juga dapat dipakai untuk membandingkan kemajua perekonomian dari waktu ke waktu, membandingakn perkonomian antarnegara atau antar daerah, serta sebagai landasan perumusan kebijakan pembangunan oleh pemerintah.

Disamping itu, data pendapatan nasional juga dapat digunakan untuk menentukan besarnya kontribusi berbagai sektor perekomian terhadap pendapatan nasional, misalnya sektor pertanian, pertambangan, industri, perdagangan, jasa, dan sebagainya. Data tersebut juga digunakan untuk membandingkan kemajuan perekonomian dari waktu ke waktu, membandingkan perekonomian antarnegara atau antardaerah, dan sebagai landasan perumusan kebijakan pemerintah.

PRT adalah pekerjaan dalam sektor jasa. Sama halnya dengan TKI yang bekerja di beberapa negara tetangga, mereka berprofesi sebagai PRT yang merupakan sektor jasa juga. Jika sumbangsih TKI terhadap ekonomi nasional dapat dihitung besarnya devisa yang dihasilkan (dilihat dari remitansi). Pada tahun 2008 saja, TKI memberikan devisa 130) trilyun rupiah.[3] Angka sumbangan devisa kedua setelah Migas (180 trilyun rupiah). PRT dalam negeri tentunya memiliki sumbangan ekonomi yang tak kalah signifikan karena peran mereka yang memberikan peningkatan produktifitas angkatan kerja karena urusan domestik telah dialihkan ke PRT. Angka-angka tersebut memang belum pernah disebutkan dalam sensus atau pendataan yang serius oleh lembaga yang kridibel seperti BPS. Tentunya pendataan secara lebih cermat menjadi rekomendasi penting untuk melihat peran strategis PRT dalam ekonomi nasional.

Baik TKI (yang kebanyakan berprofesi PRT di luar negeri) maupun PRT di dalam negeri belum mendapatkan perlindungan yang memadai untuk pemenuhan hak-hak mereka sebagai pekerja maupun perlindungan atas pelanggaran hak-hak mereka sebagai manusia. Pelecehan seksual, penganiayaan, upah di bawah standar, penganiayaan dan bentuk kekerasan lainnya tidak sedikit dialami oleh PRT. Perlindungan yang sistematis dan menyulurh sangat dibutuhkan untuk mengantisipasi semua itu. Memahami kontribusi PRT terhadap ekonomi nasional merupakan satu langkah untuk meyakinkan pemerintah bahwa keberadaan PRT harus diakui dan tanggung jawab pemerintah untuk melindungi. Bagi masyarakat luas yang mempekerjakan PRT juga perlu mengetahui peran penting PRT ini terhadap ekonomi keluarga mereka.



Catatan Akhir:

* Tulisan ini merupakan kerangka acuan diskusi dengan tema yang sama, yang diselenggarakan oleh Jaringan Nasional Advokasi Pekerja Rumah Tangga (Jala PRT) bekerjasama dengan Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) di Jakarta pada 14 Desember 2010.

[1] Lihat tiga pendekatan untuk mengetahui pendapatan negara di http://id.wikipedia.org/wiki/Pendapatan_nasional (diakses pada tanggal 6 September 2010 pukul 11.20 wib)

[2] Lihat juga Rumus Menghitung PDB, PNB, PNN, Pendapatan Nasional, Individu Dan Pendapatan Dapat Dibelanjakan di http://organisasi.org/rumus-menghitung-pdb-pnb-pnn-pendapatan-nasional-individu-dan-pendapatan-dapat-dibelanjakan (diakses pada tanggal 6 September 2010 pkl.11.35 wib)

[3] KompasTv.com, 15 Desember 2008

Read More......