Peristiwa ini terjadi tahun 2000 lalu. Ceritanya saya bersama-teman tim pembawa bantuan dari Surat Kabar Kedaulatan Rakyat Yogyakarta membawa sumbangan warga Yogya untuk korban gempa bumi di Bengkulu. Sebagai orang Bengkulu, saya bersama teman-teman dari Bengkulu dipercaya untuk menjadi tim lapangan untuk memastikan semua bantuan tersalurkan ke masyarakat di banyak tempat. Maklum, gempa besar dengan kekuatan 7,3 SR saat itu mengundang banyak pihak untuk memberikan bantuan untuk menolong warga. Kalau asal-asalan, akan ada warga yang menerima bantuan berlimpah sementara tak sedikit mereka yang justru kekurangan bantuan.
Di sela-sela waktu bertugas itu, saya pulang ke rumah orang tua. Saya sembahyang dzuhur di rumah. Sajadah saya bentangkan di ruang belakang. Setelah selesai, rupanya ibunda memperhatikan saya shalat.
"Menghadapnya kok kesana?" tanya ibu.
Saya kaget.
"Seharusnye ke arah mane, Mak?" tanya saya dalam bahasa Kaur.
"Kesitu" kata ibu saya menunjuk ke arah depan rumah.
Sementara saya tadi sembahyang menghadap ke arah kanan rumah. Sadarlah saya bahwa tadi saya bersembahyang ke arah Utara. Dengan posisi pulau Sumatera yang berada di bagian Timur kalau dari Tanah Suci Mekkah, seharusnya saya memang menghadap ke arah Barat. Tiga tahun merantau ke Yogya, saya lupa arah kiblat ketika berada di rumah orang tua lagi.
Kiblat adalah arah shalat (orang Melayu menyebutnya "sembahyang") yang menuju satu titik yakni Ka'bah yang ada di Mekkah. Semua ummat Islam yang melaksanakan Rukun Islam kedua tersebut mengarah ke Ka'bah yang merupakan kiblat. Karena posisi Indonesia Ka'bah itu adanya di sebelah barat--meski sesungguhnya juga agak ke barat laut sedikit, makanya orang di sini lebih sering menyebut Barat untuk menunjuk ke kiblat saat sembahyang.
Selain arah menghadap saat sembahyang, kiblat juga merupakah arah kepala hewan yang disembeliih dan arah kepala jenazah ketika dimakamkan. Informasi sederhana tentang kiblat ini dapat diperoleh di tautan ini.
Seorang teman yang baru pulang dari sekolah master di Belanda dua tahun lalu bercerita. Teman-temannya dari Suriname di Belanda melakukan sembahyang menghadap ke arah Barat. Ketika ditanya kenapa demikian, mereka menjawab singkat, "Karena dari nenek moyang kami dulu kalau melaksanakan shalat kiblatnya ke arah Barat." Padahal posisi Ka'bah jika di negeri Kincir Angin itu mestinya ke arah Timur.
Kisah teman di Belanda tadi saya ceritakan ke teman-teman saya di Alimat di dalam satu pertemuan. Mereka pun sudah mendapatkan kisah yang sama dari pengalaman berinteraksi dengan orang Suriname. Mereka yang berada di Suriname merupakan keturunan orang-orang Jawa masa penjajaha Belanda. Mereka di bawa ke negeri itu sebagai tenaga budak dan akhirnya beranak pinak di sana. Karena orang Jawa zaman dulu menghadap ke Barat saat shalat, akhirnya anak cucunya ikut demikian. Aneh, tetapi itulah kenyataan.
Saat saya ditegur ibunda usai melaksanakan sembahyang di Bengkulu 13 tahun lalu itu, saya hanya tersenyum-senyum saja. Sembahyangnya tetap sah dalam ajaran Islama. Pertama karena itu dilakukan tanpa sengaja dan karena ketidaktahuan. Kesalahan demikian selalu mendapatkan pengampunan dari Allah SWT. Kedua, di dalam ajaran Islam, kalau dalam kondisi arah Kiblat tak diketahui, maka mereka yang sembahyang mengikuti keyakinannya arah mana Kiblat itu. Dan ibunda saya pun sangat memahami kondisi saya.
"Kemana pun engkau menghadap, di situlah wajah Allah." Demikianlah yang diajarkan dalam Islam. Dan Allah pun ada dimana-mana.

Saya sekeluarga beruntung dapat berlibur bersama di Bali pada 25 - 29 April 2009 lalu. Bagaimana tidak, di Bali kami menginap di rumah sahabat istri saya Naning semasa sekolah di Solo dulu. Letaknya di Kabupaten Klungkung, agak ke timur (atau tepatnya di Tenggara?) pulau Dewata itu. Ia dan suami beserta anaknya menyambut kami dengan hangat seperti kedatangan keluarga dari jauh. Karena kesibukan saudara kami ini yang berniaga dari pagi hingga petang, maka mereka tak sempat menemani kami berkeliling Bali. Sebagai gantinya, mereka menyediakan sebuah mobil kijang Innova lengkap dengan sopirnya. Ini fasilitas luar biasa untuk pelancong seperti kami.
Namanya Ine. Orangnya cantik dan berkerudung. Tingginya tak kurang dari 160 sentimeter. Ia keturunan Cina Bali dan Bandung. Suaminya Sandi, orang Lombok asli. Mereka memiliki dua orang putra, yang tertua baru setahun ini nyantri di Banyuwangi, serta anak terakhir ada di rumah dan duduk di kelas tiga sekolah dasar. Mereka hangat. Kami merasa seperti sedang mengunjungi keluarga di pulau ini.
Kampung Lebah, kelurahan Semarapura, merupakan pusat kota di Kabupaten Klungkung. Kampung Lebah merupakan salah satu dari enam kampung yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Muslim disini tak hanya pendatang, banyak juga yang merupakan orang Bali asli.Herman, orang yang membawa mobil innova yang kami tumpangi berkeliling Bali adalah salah satu orang Bali asli. Tidak seperti orang Bali yang identik memeluk agama Hindu, mas Herman dan keluarganya bahkan memeluk Islam sejak dulu kala. Kedua anak kami, Zahid dan Fatih, senang bersenda gurau dengannya. Apalagi nama panggilannya sama dengan saya. Hari raya nyepi merupakan hari suci bagi umat Hindu di Bali. Nyepi berasal dari kata sepi (sunyi, senyap). Hari Raya ini sebenarnya merupakan perayaan Tahun Baru Hindu berdasarkan penanggalan/kalender caka, yang dimulai sejak tahun 78 Masehi. Tidak seperti perayaan tahun baru Masehi, Tahun Baru Saka di Bali dimulai dengan menyepi. Tidak boleh ada aktivitas. Semua kegiatan ditiadakan, termasuk pelayanan umum, kecuali rumah sakit. Bandar Udara Internasional pun tutup. Pada hari ini suasana seperti mati. Tidak ada kesibukan aktivitas seperti biasa. Umat Hindu melaksanakan "Catur Brata" Penyepian yang terdiri dari amati geni (tiada berapi-api/tidak menggunakan dan atau menghidupkan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mendengarkan hiburan). Serta bagi yang mampu juga melaksanakan tapa, brata, yoga, dan semadhi.
Demikianlah untuk masa baru, benar-benar dimulai dengan suatu halaman baru yang putih bersih. Untuk memulai hidup dalam tahun baru Caka pun, dasar ini dipergunakan, sehingga semua yang kita lakukan berawal dari tidak ada, suci dan bersih. Tiap orang berilmu (sang wruhing tattwa jñana) melaksanakan brata (pengekangan hawa nafsu), yoga (menghubungkan jiwa dengan paramatma (Tuhan)), tapa (latihan ketahanan menderita), dan samadi (manunggal kepada Tuhan, yang tujuan akhirnya adalah kesucian lahir batin).
Semua itu menjadi keharusan bagi umat Hindu agar memiliki kesiapan batin untuk menghadapi setiap tantangan kehidupan di tahun yang baru.
Pada hari nyepi, umat Islam tetap melaksanakan aktivitasnya sehari-hari namun membatasi diri supaya tidak mengganggu nyepi umat Hindu. Suara adzan tak dikumandangkan dengan pengeras suara, tidak menyalakan lampu dan alat elektronik yang dapat menimbulkan suara, serta aktivitas lainnya. Setiap kampung di Bali memiliki tenaga keamanan masing-masing. Namanya pecalang. Ada kesepakatan di antara pecalang di kampung muslim dan umat Hindu. Daripada terjadi bentrok antara pecalang dengan penduduk Muslim yang tidak mematikan lampu atau menjalankan aktivitas yang mengganggu, pecalang dari kampung Muslim sendiri yang melakukan operasi pengawasan rumah-rumah penduduk untuk memastikan bahwa tidak ada aktivitas yang terjadi yang menodai perayaan Nyepi. Jika pecalang Muslim masih melihat ada lampu yang menyala, alat elektronik yang bersuara, atau aktivitas lainnya, maka pecalang kampung sendiri yang akan menegur warga dan menghentikan aktivitas tersebut. Hal ini dinilai baik supaya tidak ada bentrokan yang berbau agama.
Ada pengecualian bagi warga Muslim di Bali selama Nyepi. Antara lain adalah untuk orang lanjut usia, keluarga yang memiliki bayi, atau ada kematian, yang membutuhkan penerangan dan aktivitas di dalam rumah. Begitu juga dengan ibadah di masjid, Muslim tetap dapat ke masjid namun tidak membuat suara-suara yang "mengganggu". Kesepakatan ini kemudian diketahui dan dipatuhi oleh kedua pemeluk agama yang hidupnya mberdampingan ini.
Pernah ada bentrok fisik antar-warga yang kelihatannya yang berbau agama. Persoalannya sepele, seorang pemuda mabuk setelah meminum minuman keras. Lalu mengganggu pemuda lain yang kebetulah beragama berbeda. Akhirnya timbul perkelahian. Menghadapi ini, warga masing-masing umat memahami akar persoalan sehingga tidak sampai mengakibatkan kerugian yang lebih fatal.
Satu hal yang menarik selama kami berada di Semarapura. Saat sembahyang Subuh di Masjid, saya mengamati sepeda motor diletakkan begitu saja di pinggir jalan yang masih sepi. Bahkan tidak mengunci stangnya. Mobil-mobil pun tidak sedikit yang diparkir di pinggir jalan. Semuanya aman. Tidak ada pencurian kendaraan bermotor. Mas Sandi mengatakan kalau di kampung semuanya saling menjaga keamanan. Tidak ada pencurian, baik di kampung Muslim maupun di kampung yang mayoritas dihuni umat Hindu. Buat saya, ini hal yang luar biasa. Jangan coba-coba kalau mau meletakkan sepeda motor di pinggir jalan di tempat tinggal kami di Bogor, belum lima menit sepeda motor itu pun dapat dipastikan "berpindah tangan".
Jika di waktu subuh suara adzan berkumandang membangunkan warga, maka tepat pukul enam pagi suara alunan alat musik Bali menandai ibadah pagi umat Hindu di sini. Alunan musik yang sama juga terjadi di pukul enam petang. Semua saling tahu. Semua saling menoleransi.
Saya menemui satu istilah baru, yakni Rukun Umat. Mungkin ini semacam Rukun Warga (RW) kalau di pemukiman warga di pulau Jawa. Mungkin karena di perkampungan Muslim, maka istilahnya mejadi Rukun Umat. Seperti RW, Rukun Umat pun ada yang menjadi ketuanya. Segala hal yang berkaitan dengan kewargaan diatur di dalam Rukun Umat. Tentunya supaya kerukunan dapat berlangsung dengan baik.
Perbedaan agama tidak menjadi hambatan masyarakat dalam membangun kehidupan bersama. Hanya saja peristiwa bom Bali yang terjadi pada tahun 2002 dan 2005 lalu sempat membuat hubungan antar umat dua agama disini menjadi tegang. Umat Islam merasa terpojok karena dua kejadian itu.
Sekarang, lambat laun hubungan menjadi harmonis. Aktivitas sehari-hari berjalan lancar. Warga pemeluk dua agama ini menjadi biasa bersosialisasi satu sama lain. Hal yang menonjol di sini adalah warga Muslim mengambil peran di dunia niaga. Praktis aktivitas jual-beli dikuasai kalangan Muslim. Sementara instansi pemerintahan mayoritas diisi oleh umat Hindu. Pada umumnya, kerukunan menjadikan semua aktivitas bejalan lancar. Semoga ini merupakan kondisi yang terus terpelihara, sebab semua orang membutuhkannya.
Read More......
Kalau sedang bertugas ke daerah-daerah di Indonesia, teman-teman saya selalu mengagendakan aktivitas makan makanan khas daerah setempat. Bagi saya pribadi, hal ini masih tergantung pada ketersediaan waktu dan juga uang di kantong. Jika keduanya bersatu padu, maka mencicipi masakan khas setempat merupakan satu hal yang sangat berharga bagi saya.
Sebagai orang Bengkulu, saya harus mengakui kalau selama ini saya tak begitu hirau dengan nama-nama masakan dari dapur orang Bengkulu. Saya hanya mengingat bahannya serta rasanya. Sejak kecil, ibunda di rumah sangat memanjakan saya dan saudara-saudara dengan segala masakan khas orang kito di Bengkulu ini. Yang jelas, dari sekian masakan itu, ikan merupakan masakan paling saya sukai. Sampai-sampai dulu ayahanda berkelakar saat saya akan merantau ke Yogyakarta, "Nanti kalu ngah lah de agi di 'umah, siape nihan yang makan palak ikan ni.... " (Nanti kalau ngah sudah tidak ada di rumah, siapa lagi yang akan menyantap kepala ikan ini). Ngah adalah panggilan adik-adik untuk kakak nomor 2 bagi orang-orang Bengkulu suku Kaur). Yup, kepala ikan merupakan bagian dari ikan yang sangat saya sukai. Itu sebabnya, meski jauh dari Bengkulu, saya masih terus menikmati kepala ikan kakap, ikan patin, dan ikan-ikan lainnya. Dan betapa bersyukurnya saya ketika tahun lalu berada di Balikpapan dan Banjarmasin saya dapat menikmati kepala ikan patin dan ikan ghuan (gabus). Rasanya sunggu enak, berbeda dengan makan ikan cakalang atau kerapu kalau sedang berada di Maluku.
Berada di Bengkulu untuk tugas kantor bersama teman-teman dari Jakarta awal Oktober lalu semakin menyenangkan karena saya dapat menikmati masakan khas Bengkulu langsung di tanah kelahiran saya ini. Ayuk Susi, teman dari LSM Pendidikan untuk Perempuan dan Anak (PUPA), mengajak teman-teman dari Jakarta untuk merasakan masakan khas orang sini. Petang hari di tanggal 2 Oktober, kami pergi makan di rumah makan Marola yang letaknya di pantai panjang. Letaknya tak jauh dari hotel Grage Horizon tempat kami menginap. Saya pun sesungguhnya belum pernah menikmati masakan-masakan Bengkulu di rumah makan yang menyediakan masakan khas Bengkulu sendiri. Sebagai orang Bengkulu, inilah saat pertama kali saya menikmati masakan Bengkulu di rumah makan khas Bengkulu dan di Bengkulu pula.
Sepanjang perjalanan dari Padang Harapan tempat kami berkegiatan, ayuk Susi bercerita banyak pada teman-teman dari Jakarta tentang masakan Bengkulu. Bahkan soal petai dan jering (jengkol) yang tersedia di rumah makan Marola menjadi rayuan ayuk Susi supaya kami makan di sini. Meski saya yakin teman-teman saya tidak tergiur dengan lalapan itu karena kami semua memang doyan memakannya, namun kami tetap mendapati makanan nikmat nan mengenyangkan setelah berada di sini. :)
Saya teringat guru pelajaran Antropologi saya di SMAN 4 (sekarang SMUN 5) kota Bengkulu. Ia bercerita keunikan orang Bengkulu dalam pengamatannya soal makan. Pertama, orang Bengkulu tidak pernah membedakan antara gulai dan sayur. Jika orang Jawa menyebut gulai untuk masakah olahan dari daging dan berkuah santan, maka orang Bengkulu menyebut semua makanan peneman nasi sebagai "gulai". Bahkan pucuk ubi alias daun singkong pun disebut gulai. Bagi saya, makan nasi dengan gulai (rebusan) pucuk ubi dan goreng ikan betok (ikan puyuh) bersambal atau sambal tempuyak udang merupakan kenikmatan yang membuat saya tak pernah lupa dengan tanah kelahiran.
Kedua, jika orang di daerah lain menikmati makanan berkuah menggunakan sendok, maka orang Bengkulu tetaplah menggunakan tangan untuk makan. Hal ini diakui oleh kakak ipar saya yang asli Sunda dari Sukabumi. Sekarang, teteh saya itu menjadi sangat terbiasa untuk makan dengan cara seperti ini sejak ia tinggal di Kaur sekitar 10 tahun terakhir.
Ketiga, pan basuh atau tempat cuci tangan, atau kobokan kalau kata orang Jawa, merupakan wadah mencuci tangah seukuran mangkok bakso. Pencuci tangan ini biasanya digunakan bersama-sama di meja tempat makan. Banyak tangan dibasuh di satu tempat pencucian. :D
Keempat, mungkin sama dengan kabanyakan orang di Sumatera, orang Bengkulu sangat susah kalau menikmati makanan tanpa ada rasa pedasnya. Kalau bukan masakannya diolah dengan banyak cabe, tentu sambal goreng merupakan satu menu yang harus hadir di meja makan.
Mungkin Anda akan mengingat banyak hal lagi yang unik di daerah ini berkaitan dengan makan. Silahkan kalau mau berbagi cerita di blog ini.
Di rumah makan Marola, kami menyantap ikan gebur yang dibakar, kepiting, cumi-cumi, serta gulai pucuk ubi dan (kalau tak salah) ada pucuk lumay. Ada pula sayur asam dan lalapan terong bulat ungu yang sebenarnya lalapan khas masyarakat Sunda. Kalu lepang (timun) tentulah orang sini juga menyantpanya. Tak ada jering dan juga petai. Tapi hidangan yang ada sudah cukup memuaskan dan mengenyangkan kampi petang itu.
Keesokan harinya, kami memiliki agenda untuk mewawancarai tokoh adat dan seorang dukun beranak di daerah Talo. Disini kami ditemani oleh Ayuk Iin yang bekerja di kantor pemerintah kabupaten yang dulunya merupakan bagian dari kabupaten Bengkulu Selatan. Kami mewawancarai Pak Ujang yang merupakan Ketua Badan Musyawarah Adat (BMA) Kabupaten Seluma. sempai sekitar pukulu 14 siang. Perut keroncongan. Kami pun mulai berpikir untuk mencari warung makan. Ayuk Iin yang merupakan suku Lembak desa Tanjung Agung dan juga keturunan orang suku Serawai di Talo menawarkan kami untuk kembali menikmati masakan khas Bengkulu. Kali ini, gulai remis menjadi masakan yang dielu-elukan ayuk Iin. Remis sendiri belum pernah saya temukan di daerah lain di Indonesia. Ia semacam kerang yang hidup di muara sungai. Memasaknya dengan cara direbus seperti memasak sop. Saya kurang tahu persisnya bagaimana karena memang belum pernah belajar memasak remis dari ibunda di rumah. :)
Kami mampir di rumah makan Rosari yang terletak di Tais, ibukota kabupaten Seluma. Ternyata sudah banyak makanan yang habis. "Di sini banyak pegawai yang makan siang, jadi kita sudah dapat sisa-sisa mereka," kata ayuk Iin. Tetapi kami tetap masih dapat menikmati gulai rebung asam yang dicampur dengan ikan, umbut lipai, ikan mujair, kacang panjang dengan terong, dan kalau tak salah ingat juga ada daun paku. Gulai remis nyaris tak dapat kami nikmati karena warung ini baru memasak lagi setelah masakan sebelumnya habis dipesan oleh pengunjung sebelum kami. Kami sempat menunggu sejenak karena masakan disiapkan lagi dari dapur. Meski keroncongan, kami tetap sedia menunggu sampai hidangan yang kami pesan tersedia di meja.
Usai menyelesaikan tugas kantor, saya sempat pulang ke rumah orang tua saya di daerah Pagar Dewa selama dua malam. Teman-teman saya sudah kembali ke Jakarta. Di rumah, saya menikmati bagar hiu yang sengaja disedikan oleh ibunda untuk saya. Hari kedua di rumah saya pun menikmati pendap. Kedua masakan terkakhir tak kami temukan di rumah makan Marolah dan Rosari. Dan saya pun tak jadi membeli pendap di desa Tanjung Agung seperti disarankan ayuk Iin karena ternyata tetangga rumah orang tua saya ada yang bejulan pendap ini.
Saya kembali teringat daftar menu di beberapa rumah makan khas masakan Bengkulu yang pernah dimuat di salah satu edisi majalah Travelounge. Setibanya di rumah saya di Bogor, saya mencari-cari tulisan tentang ini di majalah-majalah khusus bandara yang ada di rak buku. Judulnya menarik sekali, "Rasa Sedap Khas Bengkulu" dan dimuat di edisi bulan Oktober 2011 lalu. Saya pikir sangat baik kalau Anda juga membaca isi majalah ini yang khusus mencatat masakan-masakan khas Bengkulu dari kunjungan penulis dan fotografernya ke beberapa rumah makan di Kota Bengkulu. Silahkan mengunduh (download) filenya di sini. Read More......
Entah sejak kapan mulai masuk dalam pelajaran pendidikan olahraga di sekolah-sekolah, anak-anak SD hingga SMA di Bengkulu melakukan olahraga berenang sebulan sekali. Setidaknya saya mengalami itu sejak duduk di bangku SMP 20-an tahun lalu.
Awal Oktober 2012, saat bertugas di Bengkulu untuk satu penelitian mengenai adat istiadat di daerah ini, saya menginap di hotel Grage Horizon. Di hotel ini, begitu membuka pintu kamar, kita langsung dapat melihat pantai panjang yang terkenal itu di propinsi bagian Selatan Sumatera ini. Kolam renang di hotel ini sering digunakan oleh para siswa sekolah untuk mengikuti mata pelajaran olahraga. Jadilah setiap pagi di awal Oktober 2012 ini saya harus menyaksikan anak-anak berenang di kolam renang hotel sembari menikmati sarapan.
Berenang di kolam renang hotel Grage Horizon merupakan hal menyenangkan. Dari kolam kita dapat melihat pemandangan laut lepas berwarna biru dengan pantai yang ditumbuhi pohon pinus. Restoran berada di dekat kolam renang. Kalau merasa lelah, sembari menyantap makanan atau minuman ringan menghadap ke laut tentu sangat menyegarkan pikiran. Air kolam renang yang kebiruan tentu menambah kesegaran itu. Apalagi di pagi hari saat mentari belum terik dan langit dalam kondisi bersinar cerah. Saya mendapati itu di setiap pagi di awal Oktober lalu.
Usai mengambil beberapa gambar sekitar 10 menit, saya pun kembali ke restoran, menikmati buah, lalu kemudian beranjake ke kamar untuk mengambil peralatan. Pukul 09.00 saya harus sudah bersama teman-teman lain untuk melanjutkan pekerjaan mengumpulkan data lapangan yang kami butuhkan. Read More......
Saya dan dua teman lainnya dari Jakarta mewawancarai beberapa tokoh masyarakat, termasuk Ketua Badan Musyawarah Adat (BMA) Kabupaten Seluma dan Kota Bengkulu. Selan itu, kami pun mengumpulkan beberapa dokumen tertulis mengenai adat istiadat yang berlaku di daerah bekas jajahan Inggris ini. Bertemulah kami dengan dua dokumen yang sangat berarti, Koempoelan Oendang - Oendang Adat Lembaga dari Sembilan Onderafdeelingen dalam Gewest Benkoelen dan Adat Kota Bengukulu. Buku pertama merupakan kumpulan Oendang - Oendang Adat di Kota Bengkulu, Seluma, Manna, Kaur, Kroe, Rejang, Lebong, Lais, Muko-Muko, Serta Undang-Undang Simboer Tjahaja Bangkahoeloe. Dokumen ini sangat berharga karena merupakan dokumen tertulis mengenai adat istiadat di daerah yang pernah menjadi bagian propinsi Sumatera Selatan ini. Sementara dokumen kedua berupa Peraturan Daerah Kota Bengkulu Nomor 29 tahun 2003 tentang Pemberlakuan Adat Kota Bengkulu. Sebenarnya dokumen terakhir sudah saya miliki sejak sekitar 3 tahun lalu atas kebaikan hati teman dekat saya yang bekerja di kantor Pemerintah Daerah Kota Bengkulu. Sayangnya buku ini terselip entah dimana diantara tumpukan buku yang masih belum rapih sejak kepindahan domisili saya dan keluarga setahun terkahir.
Dokumen pertama kami dapatkan dari Ketua BMA Kabupaten Seluma, Bapak Syamsir Ardi. Bapak yang biasa dipanggil pak Ujang ini kami temui di kediamannya di desa Talang Saling, Kecamatan Seluma, Kabupaten Talo. Beliau dengan senang hati mengizinkan kami memfotokopi buku yang ia miliki ini serta bercerita banyak hal tentang adat istiadat orang Serawai. Serawai adalah salat satu suku yang ada di Bengkulu yang mendiami daerah Seluma hingga daerah Manna yang dulunya merupakan satu kabupaten, yakni Kabupaten Bengkulu Selatan. Buku kedua kami fotokopi dari buku milik Ketua BMA Kota Bengkulu, Drs. H. S. Effendi, Ms.
Sebelum bertemu dengan Bang Effen—begitu ia biasa dipanggil—saya sempat berkomunikasi dengan Rendiawan, seorang teman kecil yang tinggal di desa Tanjung Jaya. Saya sampaikan kalau sedang mencari peraturan adat di Bengkulu. Tak disangka ia menginformasikan kalau Bang Effen ternyata adalah kakak dari teman kami masa sekolah dasar di desa itu.
Bang Effen memiliki rencana untuk menulis beberapa buku berkaitan dengan adat istiadat Bengkulu. Waktu ternyata sangatlah malah buatnya saat ini. Saya sendiri berharap ia segera menuliskannya sehingga semakin banyak adat istiadat orang Bengkulu yang terdokumentasikan, tertulis, dan dapat diwariskan ke generasi berikutnya.
Dua dokumen adat yang sudah saya dapatkan ini penting juga untuk dibaca oleh orang-orang Bengkulu supaya tahu adat istiadatnya. Saya mencoba mendokumentasikan hukum-hukum adat ini dan akan membuatnya dalam bentuk file PDF supaya bisa mengunggahnya di blog ini dan berbagi dengan sanak-sanak dari Bengkulu atau siapapun yang membutuhkan. Ada sekitar 265 halam untuk dokumen pertama, serta 147 halaman untuk dokumen kedua. Cukup membutuhkan waktu dan tenaga untuk memindainya. Semoga ada kesempatan dalam waktu dekat ini. Read More......
Pagi ini dalam perjalanan dari halte Matraman ke Halimun, saya mendapat posisi berdiri di pinggir pintu bis Transjakarta. Persis berhimpitan dengan saya ada perempuan tua (seorang nenek) yang berjilbab besar, berkacamata, dan ternyata di balik jubahnya tersembunyi tongkat yang ia pegang dengan erat. Ada juga ibu-ibu menggendong anak kecil.
Padat sekali penumpang bis ini sebagaimana biasanya. Petugas pun meminta ibu yang menggendong anaknya untuk masuk ke dalam supaya ada yang memberi tempat duduk baginya.
"Mohon pengertiannya ya, beri tempat duduk ibu yang menggendong anaknya...!" teriak petugas.
Sebenanya di bagian tengah, arah ke belakang, ada perempuan-perempuan muda yang duduk di kursi barisan sejajar dengan pintu masuk bis. Tak satupun dari mereka memberikan tempat duduknya untuk ibu itu. Hingga akhirnya sang ibu pun menggendong anaknya ke arah belakang bis, barulah kemudian ada seorang penumpang perempuan yang memberikan tempat duduknya. Kebanyakan penumpang yang menduduki kursi adalah perempuan. Rata-rata masih muda, mungkin pekerja di bilangan Sudirman, Kuningan, dan sekitarnya. Tetapi, na'udzubillah, tak satu pun dari mereka yang tersentuh hatinya untuk memberikan tempat duduknya pada ibu yang menggendong anaknya tadi. Perempuan-perempuan muda ini, setidaknya yang terdekat dengan pintu, sibuk memainkan Blackberry di tangan mereka. Tak hanya petugas bis, saya pun merasa geram.
Duduk di barisan terdekat dengan pintu bis adalah seorang perempuan muda etnis Tionghoa. Di sebelahnya ada perempuan muda berjilbab. Tampak keduanya hendak berangkat ke tempat kerja masing-masing. Di kursi ketiga duduklah seorang perempuan belia bercelana pendek yang memamerkan paha, berkaos oblong dan aksesoris lainnya, serta berkacamata dengan bingkai agak kebesaran yang lagi trendi saat ini. Ketiganya asyik pada Blackberry-nya sendiri-sendiri. Terlihat mengidap autis dan tampak tidak peduli pada sekelilingnya.
Ketika bis sudah mendekati pertigaan jalan Proklamasi dan jalan Tambak yang menuju arah Manggarai, petugas melihat nenek-nenek di sebelahku sempoyongan dan berkeringat dingin. Aku baru menyadari kalau penumpang ini adalah seorang perempuan tua, sebab sebelumnya ia membelakangiku, menghadap ke arah dalam bis. Semula aku pun ingin mengingatkannya supaya menghadap ke arah depan sehingga ia bisa bersandar pada kaca bis yang membatasi pintu bis dan barisan tempat duduk yang ada di bagian dalamnya. Keringat dingin di dahinya semain terlihat jelas. Berdirinya pun agak susah. Petugas mengatakan pada nenek supaya ia duduk saja, petugas itu akan berusaha mencarikan tempat duduk untuknya.
Kali ini petugas sudah tidak lagi berteriak keras ke semua penumpang yang duduk di bagian tengah. Ia langsung menggamit penumpuan yang duduk di kursi paling dekat dengan pintu masuk bis. Perempuan Tionghoa itu pun kemudian tampak dengan berat hati mencari posisi berdiri di bis dan memberikan kursinya pada sang nenek.
Beginilah Jakarta, Kawan. Ketika kursi di bis diprioritaskan bagi perempuan hamil, orang tua dan penyandang cacat, ditambah lagi ruang bagian depan bis diperuntukan khusus bagi perempuan, sensitifitas di kalangan perempuan itu sendiri justru masih kurang. Sama saja halnya dengan penumpang laki-laki yang tak peduli pada penumpang lainnya. Rasa tidak peduli pada orang lain itu bisa hadir pada diri laki-laki dan perempuan. Sudah menjadi penyakit sosial. Penyakit ini tidak mengenal agama, etnis, maupun jenis kelamin. Semua orang bisa mengidapnya.
Pernah suatu waktu beberapa tahun lalu, saya naik bis kota dari arah Slipi menuju Cawang. Karena tak ada tempat duduk yang kosong, saya harus berdiri di lorong. Kiri-kanan adalah kursi-kursi yang berjajar bagi penumpang yang beruntung. Ketika salah seorang penumpang di samping saya berdiri meninggalkan kursinya untuk turun, saya tak langsung menduduki kursi tersebut, dengan harapan seorang perempuan yang juga berdiri tak jauh dari saya akan duduk disana. Tak disangka, penumpang laki-laki yang persis di sebelah saya langsung menempati kursi itu. Tak dilihatnya kalau saya berusaha meminta penumpang perempuan itu untuk duduk disitu. Sedihnya...
Dalam pengalaman memanfaatkan mode transportasi buruk di Jakarta lebih dari 7 tahun terakhir, ketidakpedulian pada sesama penumpang sudah menjadi pemandangan sehari-hari. Belakangan kehadiran ponsel pintar macam Blackberry memperlihatkan ketidakpedulian itu semakin meninggi. Padahal yang tampak di layar mereka sembilan puluh sembilan persen adalah facebook. Sebegitu pentingnyakah jejaring sosial yang didominasi warna biru itu dalam kehidupan mereka? Penumpang laki-laki atau perempuan sama saja mentalnya. Saya harus mengelus dada kalau melihat pemandangan ini. Di dalam hati saya hanya bisa berdoa semoga rasa peduli itu masih tetap tersisa di dalam diri ini.
Pagi-pagi buta aku dan teman-teman berangkat menuju Kampung Kenanga Ulu, Kelurahan Sungai Jingah, Kecamatan Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin. Di pinggiran sungai di dekat Museum Wasaka, sebuah museum mengenang perjuangan rakyat Banjarmasin melawan penjajah, telah menunggu perahu klotok yang kami sewa untuk ke Pasar Lok Baintan. Kami menyempatkan diri menunaikan sembahyang subuh di sebuah musholla di pinggir sungai. Mbak Nurhikmah yang mendampingi perjalanan kami selama di Kalimantan Selatan menyarankan untuk berangkat pagi-pagi sekali menuju Lok Baintan, sebab nanti tiba di sana pas betul ketika para pedagang mulai memenuhi lokasi dengan perahu-perahu (orang Banjar menyebutnya Jukung) berisi barang dagangan mereka. Hari itu tanggal 8 Mei 2011.
Pasar Terapung Lok Baintan terletak di desa Sungai Pinang (Lok Baintan), kecamatan Sungai Tabuk, Banjar. Selain di sini, ada satu lagi pasar terapung yang terletak di muara Sungai Kuin/Sungai Barito. Keduanya sama-sama pasar tradisional di atas jukung. Aktifitas jual-beli berlangsung tidak terlalu lama, hanya sekitar tiga hingga empat jam. Barang dagangan berupa hasil produksi pertanian/perkebunan, bahan makanan yang tak tahan lama seperti sayur-sayuran, buah-buahan, makanan tradisional atau kudapan dan kebutuhan dapur rumah tangga lainnya. pada pagi sekitar pukul 6 atau 7 mulai tampak di sepanjang pesisir aliran Sungai Martapura Lok Baintan konvoi perahu menuju lokasi pasar terapung. Mereka berasal dari berbagai anak Sungai Martapura, seperti Sungai Lenge, Sungai Bakung, Sungai Paku Alam, Sungai Saka Bunut, Sungai Madang, Sungai Tanifah, dan Sungai Lok Baintan.
Selain melihat aktivitas jual-beli di pasar terapung, sebenarnya kami ingin "ngobrol" tentang kehidupan masyarakat di sekitarnya dan juga mereka yang menjadi pedagang di pasar terapung yang terkenal itu. Untuk bisa ngobrol dan tidak membuat tersinggung para penjual, kami membeli barang dagangan mereka sehingga tak tampak kalau kami sedang menggali informasi.
Menurut Bu Fatimah, dosen Universitas Lambung Mangkurat yang pernah meneliti kehidupan perempuan pedagang di pasar terapung, kebanyakan pedagang kelas bawah memang berjualan makanan atau bahan makanan yang tak tahan lama. Harapannya setelah kembali dari Lok Baintan barang dagangan tersebut telah habis terjual. Jika tak habis, sebelum pulang ke rumah biasanya ibu-ibu pedagang akan membawa dagangannya masuk ke pemukiman warga yang tinggal di atas sungai untuk berjualan. Ibu-ibu pedagang ini adalah pencari nafkah keluarga yang tangguh. Kadang-kadang, para pedagang melakukan barter sayuran atau hasil bumi lainnya menjadi kebutuhan pokok. Jadi tak mesti dijual dengan uang, apalagi saat hari semakin siang dan barang dagangan belum habis.
Sepulang dari Lok Baintan kami menyusuri sungai untuk melakukan wawancara dengan beberapa warga. Lalu mampir di Warung Soto Banjar Bang Amat yang terletak di tepi Sungai Pengambangan (anak Sungai Martapura). Waktu di Surabaya Oktober 2010 lalu, aku dan seorang teman sempat mencicipi soto Banjar. Kupikir saat itu soto Banjar ini adalah soto yang berasal dari Banjarnegara, Jawa Tengah. Harus saya akui memang saya bukan orang yang gemar menghabiskan uang untuk mencicipi semua masakan nusantara yang sekarang orang menyebutnya sebagai wisata kuliner :).
Makan Soto Banjar, juga sate ayam, sembari mendengarkan musik tradisional orang Banjar yang disebut Panting. Panting berasal dari daerah Tapin, Kalimantan Selatan, merupakan alat musik yang dipetik yang berbentuk seperti gambus Arab tetapi ukurannya lebih kecil. Pada perkembangannya, Panting dimainkan dengan beberapa alat musik lainnya seperti babun, gong,dan biola sehingga pemainnya juga terdiri dari beberapa orang.
Setelah dari pasar terapung, kami ke Martapura, Banjar, untuk menemui dan mewawancarai tokoh masyarakat di sana. Salah satu yang kemi temui adalah Abah Anang, seorang Kyai (ulama Banjar) yang sangat berpengaruh. Karena kuatnya pengaruh Abah Anang di masyarakat Banjar, hampir semua calon Presiden bertandang padanya setiap kali musim pemilu di Indonesia. Bahkan Kapolri, Paglima TNI, dan pejabat lembaga-lembaga tinggi Negara hampir semuanya datang padanya. Kalau masyarakat kecil datang untuk berkonsultasi soal keislaman bahkan urusan dapur, kasur dan sumur, maka para pejabat datang padanya untuk minta didoakan supaya langgeng dan (ny)aman kursi kekuasaan mereka. :)
Di Martapura, saya dan teman-teman sempat mampir di Masjid Agung Al Karomah. Dari luar masjid ini tampak indah dan megah. Di dalamnya, usai sembahyang kami sempat leyeh-leyeh. Udara di dalam jelas terasa sejuk. Sementara cahaya matahari begitu menyengat di luar masjid.
Ini merupakan bagian dari perjalan saya di Kalimantan Selatan pada 4 - 13 Mei 2011.
Read More......











