Showing posts with label Budaya. Show all posts
Showing posts with label Budaya. Show all posts

Saat makan siang tadi saya ngobrol dengan seorang teman seorang relawan dari Australia yang ada di kantor tempat saya bekerja. Bron, begitu ia biasa dipanggil, berasal dari Melbourne dan sudah tinggal di beberapa negara lain sebelum ia menjadi relawan di sini. Sebelumnya ia sempat berkeliling Indonesia untuk mengenali kehidupan di negeri ini, termasuk ke Bengkulu dimana saya lahir dan besar.


Menilai fenomena korupsi di Indonesia, Bron berpendapat hal itu dapat disebabkan karena kesenjangan yang terlalu besar (huge gap) antara orang kaya dan orang miskin. Satu contoh saja, jika di sebuah pemukiman yang rumah-rumah berdekatan satu sama lain, maka akan lebih baik kalau rumah itu ukurannya sama dan tidak ada banyak perbedaan.

"Kalau punya rumah, saya akan melihat rumah orang lain. Jangan sampai rumah saya lebih besar dari rumah orang di sekitar. Kalau sampai berbeda, saya akan merasa tidak nyaman."

Pendapat Bron dan pengalamannya tentang "ukuran" rumah ini tentu jauh berbeda dengan kehidupan orang Indonesia kebanyakan akhir-akhir ini. Jika melihat rumah orang lain lebih besar, maka tetangganya akan berusaha membuat rumahnya juga berukuran besar, bahkan kalau dapat dibuat jauh lebih besar dibanding yang lainnya. Tentulah ini berkaitan erat dengan status sosial ekonomi masing-masing orang. Hasrat untuk lebih dari orang lain memacu seseorang untuk berusaha sedapat mungkin punya harta lebih banyak. Entah dengan cara yang baik seperti bekerja lebih keras, lebih banyak, lebih lama, ataupun dengan cara yang membuat negeri ini justru tambah parah tingkat korupsinya.

"Itulah sebabnya saya suka sistem komunis," kata Bron menambahkan dengan tertawa. 



Bron melihat di dalam sistem komunis, kesenjangan antara si miskin dan si kaya tak terlihat. Dan karena itu pula ia lebih baik dibanding dengan sistem yang ada seperti di Indonesia. 

Masyarakat Indonesia sekarang lebih sering menghargai orang lain karena pemilikan harta-benda. Sudah tak begitu hirau apakah mereka memperolehnya dari kerja keras ataukah dari menyiasati pencurian uang Negara.

Untuk menciptakan kondisi dimana jurang itu tak terlalu besar, ketimpangan sosial-ekonomi tak melahirkan kecemburuan, dan pembangunan lebih terlihat ada  pemerataan, maka sudah semestinya pemerintah mengeluarkan kebijakan yang tepat. Bukan membiarkan setiap orang berlomba tanpa batasan, sikut kiri-kanan, dan pada akhirnya menjadi srigala bagi orang lain. Siapa kuat maka dia menang. Siapa lemah, maka mohon maaf, Anda tak layak hidup di tanah air Indonesia.

Catatan: gambar ilustrasi bersumber dari sini.

Read More......

Orang Kaur Mudik Bersama

Persatuan Warga Kaur (PWK) Palembang dan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) mengajak adik sanak warga Kaur di perantauan untuk mudik bersama ke Kaur dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri 1434H.

Hari Minggu, 11 Agustus 2013 pukul 09.00 Wib atau reraye ke-4 akan ada kumpul-kumpul di Gedung Pendopo TM BINEKA desa Sekunyit Bintuhan. Pukul 19.00 Wib malam hari, akan ada pagelaran kesenian Kaur.

Mari balik ke Kaur. Kita bersilaturrahim sekaligus merayakan Idul Fitri tahun ini di Kaur.

Informasi ini disampaikan oleh Pak Son Iswandy dari PWK Palembang. Informasi lebih lanjut dapat menghubungi beliau di no telepon genggam 0812 782 0344.

Read More......

Kerukunan di Klungkung Bali




Saya sekeluarga beruntung dapat berlibur bersama di Bali pada 25 - 29 April 2013 lalu. Bagaimana tidak, di Bali kami menginap di rumah sahabat istri saya Naning semasa sekolah di Solo dulu. Letaknya di Kabupaten Klungkung, agak ke timur (atau tepatnya di Tenggara?) pulau Dewata itu. Ia dan suami beserta anaknya menyambut kami dengan hangat seperti kedatangan keluarga dari jauh. Karena kesibukan saudara kami ini yang berniaga dari pagi hingga petang, maka mereka tak sempat menemani kami berkeliling Bali. Sebagai gantinya, mereka menyediakan sebuah mobil kijang Innova lengkap dengan sopirnya. Ini fasilitas luar biasa untuk pelancong seperti kami.

Namanya Ine. Orangnya cantik dan berkerudung. Tingginya tak kurang dari 160 sentimeter. Ia keturunan Cina Bali dan Bandung. Suaminya Sandi, orang Lombok asli. Mereka memiliki dua orang putra, yang tertua baru setahun ini nyantri di Banyuwangi, serta anak terakhir ada di rumah dan duduk di kelas tiga sekolah dasar. Mereka hangat. Kami merasa seperti sedang mengunjungi keluarga di pulau ini.

Kampung Lebah, kelurahan Semarapura, merupakan pusat kota di Kabupaten Klungkung. Kampung Lebah merupakan salah satu dari enam kampung yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Muslim disini tak hanya pendatang, banyak juga yang merupakan orang Bali asli.Herman, orang yang membawa mobil innova yang kami tumpangi berkeliling Bali adalah salah satu orang Bali asli. Tidak seperti orang Bali yang identik memeluk agama Hindu, mas Herman dan keluarganya bahkan memeluk Islam sejak dulu kala. Kedua anak kami, Zahid dan Fatih, senang bersenda gurau dengannya. Apalagi nama panggilannya sama dengan saya. 


Hari raya nyepi merupakan hari suci bagi umat Hindu di Bali. Nyepi berasal dari kata sepi (sunyi, senyap). Hari Raya ini sebenarnya merupakan perayaan Tahun Baru Hindu berdasarkan penanggalan/kalender caka, yang dimulai sejak tahun 78 Masehi. Tidak seperti perayaan tahun baru Masehi, Tahun Baru Saka di Bali dimulai dengan menyepi. Tidak boleh ada aktivitas. Semua kegiatan ditiadakan, termasuk pelayanan umum, kecuali rumah sakit. Bandar Udara Internasional pun tutup. Pada hari ini suasana seperti mati. Tidak ada kesibukan aktivitas seperti biasa. Umat Hindu melaksanakan "Catur Brata" Penyepian yang terdiri dari amati geni (tiada berapi-api/tidak menggunakan dan atau menghidupkan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mendengarkan hiburan). Serta bagi yang mampu juga melaksanakan tapa, brata, yoga, dan semadhi.

Demikianlah untuk masa baru, benar-benar dimulai dengan suatu halaman baru yang putih bersih. Untuk memulai hidup dalam tahun baru Caka pun, dasar ini dipergunakan, sehingga semua yang kita lakukan berawal dari tidak ada, suci dan bersih. Tiap orang berilmu (sang wruhing tattwa jñana) melaksanakan brata (pengekangan hawa nafsu), yoga (menghubungkan jiwa dengan paramatma (Tuhan)), tapa (latihan ketahanan menderita), dan samadi (manunggal kepada Tuhan, yang tujuan akhirnya adalah kesucian lahir batin).

Semua itu menjadi keharusan bagi umat Hindu agar memiliki kesiapan batin untuk menghadapi setiap tantangan kehidupan di tahun yang baru.


Pada hari nyepi, umat Islam tetap melaksanakan aktivitasnya sehari-hari namun membatasi diri supaya tidak mengganggu nyepi umat Hindu. Suara adzan tak dikumandangkan dengan pengeras suara, tidak menyalakan lampu dan alat elektronik yang dapat menimbulkan suara, serta aktivitas lainnya.

Setiap kampung di Bali memiliki tenaga keamanan masing-masing. Namanya pecalang. Ada kesepakatan di antara pecalang di kampung muslim dan umat Hindu. Daripada terjadi bentrok antara pecalang dengan penduduk Muslim yang tidak mematikan lampu atau menjalankan aktivitas yang mengganggu, pecalang dari kampung Muslim sendiri yang melakukan operasi pengawasan rumah-rumah penduduk untuk memastikan bahwa tidak ada aktivitas yang terjadi yang menodai perayaan Nyepi. Jika pecalang Muslim
masih melihat ada lampu yang menyala, alat elektronik yang bersuara, atau aktivitas lainnya, maka pecalang kampung sendiri yang akan menegur warga dan menghentikan aktivitas tersebut. Hal ini dinilai baik supaya tidak ada bentrokan yang berbau agama.

Ada pengecualian bagi warga Muslim di Bali selama Nyepi. Antara lain adalah untuk orang lanjut usia, keluarga yang memiliki bayi, atau ada kematian, yang membutuhkan penerangan dan aktivitas di dalam rumah. Begitu juga dengan ibadah di masjid, Muslim tetap dapat ke masjid namun tidak membuat suara-suara yang "mengganggu". Kesepakatan ini kemudian diketahui dan dipatuhi oleh kedua pemeluk agama yang hidupnya mberdampingan ini.

Pernah ada bentrok fisik antar-warga yang kelihatannya yang berbau agama. Persoalannya sepele, seorang pemuda mabuk setelah meminum minuman keras. Lalu mengganggu pemuda lain yang kebetulah beragama berbeda. Akhirnya timbul perkelahian. Menghadapi ini, warga masing-masing umat memahami akar persoalan sehingga tidak sampai mengakibatkan kerugian yang lebih fatal.

Satu hal yang menarik selama kami berada di Semarapura. Saat sembahyang Subuh di Masjid, saya mengamati sepeda motor diletakkan begitu saja di pinggir jalan yang masih sepi. Bahkan tidak mengunci stangnya. Mobil-mobil pun tidak sedikit yang diparkir di pinggir jalan. Semuanya aman. Tidak ada pencurian kendaraan bermotor. Mas Sandi mengatakan kalau di kampung semuanya saling menjaga keamanan. Tidak ada pencurian, baik di kampung Muslim maupun di kampung yang mayoritas dihuni umat Hindu. Buat saya, ini hal yang luar biasa. Jangan coba-coba kalau mau meletakkan sepeda motor di pinggir jalan di tempat tinggal kami di Bogor, belum lima menit sepeda motor itu pun dapat dipastikan "berpindah tangan".



Jika di waktu subuh suara adzan berkumandang membangunkan warga, maka tepat pukul enam pagi suara alunan alat musik Bali menandai ibadah pagi umat Hindu di sini. Alunan musik yang sama juga terjadi di pukul enam petang. Semua saling tahu. Semua saling menoleransi.

Saya menemui satu istilah baru, yakni Rukun Umat. Mungkin ini semacam Rukun Warga (RW) kalau di pemukiman warga di pulau Jawa. Mungkin karena di perkampungan Muslim, maka istilahnya mejadi Rukun Umat. Seperti RW, Rukun Umat pun ada yang menjadi ketuanya. Segala hal yang berkaitan dengan kewargaan diatur di dalam Rukun Umat. Tentunya supaya kerukunan dapat berlangsung dengan baik.


Perbedaan agama tidak menjadi hambatan masyarakat dalam membangun kehidupan bersama. Hanya saja peristiwa bom Bali yang terjadi pada tahun 2002 dan 2005 lalu sempat membuat hubungan antar umat dua agama disini menjadi tegang. Umat Islam merasa terpojok karena dua kejadian itu.

Sekarang, lambat laun hubungan menjadi harmonis. Aktivitas sehari-hari berjalan lancar. Warga pemeluk dua agama ini menjadi biasa bersosialisasi satu sama lain. Hal yang menonjol di sini adalah warga Muslim mengambil peran di dunia niaga. Praktis aktivitas jual-beli dikuasai kalangan Muslim. Sementara instansi pemerintahan mayoritas diisi oleh umat Hindu. Pada umumnya, kerukunan menjadikan semua aktivitas bejalan lancar. Semoga ini merupakan kondisi yang terus terpelihara, sebab semua orang membutuhkannya.


Read More......

Kalau sedang bertugas ke daerah-daerah di Indonesia, teman-teman saya selalu mengagendakan aktivitas makan makanan khas daerah setempat. Bagi saya pribadi, hal ini masih tergantung pada ketersediaan waktu dan juga uang di kantong. Jika keduanya bersatu padu, maka mencicipi masakan khas setempat merupakan satu hal yang sangat berharga bagi saya.


Sebagai orang Bengkulu, saya harus mengakui kalau selama ini saya tak begitu hirau dengan nama-nama masakan dari dapur orang Bengkulu. Saya hanya mengingat bahannya serta rasanya. Sejak kecil, ibunda di rumah sangat memanjakan saya dan saudara-saudara dengan segala masakan khas orang kito di Bengkulu ini. Yang jelas, dari sekian masakan itu, ikan merupakan masakan paling saya sukai. Sampai-sampai dulu ayahanda berkelakar saat saya akan merantau ke Yogyakarta, "Nanti kalu ngah lah de agi di 'umah, siape nihan yang makan palak ikan ni.... " (Nanti kalau ngah sudah tidak ada di rumah, siapa lagi yang akan menyantap kepala ikan ini). Ngah adalah panggilan adik-adik untuk kakak nomor 2 bagi orang-orang Bengkulu suku Kaur). Yup, kepala ikan merupakan bagian dari ikan yang sangat saya sukai. Itu sebabnya, meski jauh dari Bengkulu, saya masih terus menikmati kepala ikan kakap, ikan patin, dan ikan-ikan lainnya. Dan betapa bersyukurnya saya ketika tahun lalu berada di Balikpapan dan Banjarmasin saya dapat menikmati kepala ikan patin dan ikan ghuan (gabus). Rasanya sunggu enak, berbeda dengan makan ikan cakalang atau kerapu kalau sedang berada di Maluku.

Berada di Bengkulu untuk tugas kantor bersama teman-teman dari Jakarta awal Oktober lalu semakin menyenangkan karena saya dapat menikmati masakan khas Bengkulu langsung di tanah kelahiran saya ini. Ayuk Susi, teman dari LSM Pendidikan untuk Perempuan dan Anak (PUPA), mengajak teman-teman dari Jakarta untuk merasakan masakan khas orang sini. Petang hari di tanggal 2 Oktober, kami pergi makan di rumah makan Marola yang letaknya di pantai panjang. Letaknya tak jauh dari hotel Grage Horizon tempat kami menginap. Saya pun sesungguhnya belum pernah menikmati masakan-masakan Bengkulu di rumah makan yang menyediakan masakan khas Bengkulu sendiri. Sebagai orang Bengkulu, inilah saat pertama kali saya menikmati masakan Bengkulu di rumah makan khas Bengkulu dan di Bengkulu pula.



Sepanjang perjalanan dari Padang Harapan tempat kami berkegiatan, ayuk Susi bercerita banyak pada teman-teman dari Jakarta tentang masakan Bengkulu. Bahkan soal petai dan jering (jengkol) yang tersedia di rumah makan Marola menjadi rayuan ayuk Susi supaya kami makan di sini. Meski saya yakin teman-teman saya tidak tergiur dengan lalapan itu karena kami semua memang doyan memakannya, namun kami tetap mendapati makanan nikmat nan mengenyangkan setelah berada di sini. :)

Saya teringat guru pelajaran Antropologi saya di SMAN 4 (sekarang SMUN 5) kota Bengkulu. Ia bercerita keunikan orang Bengkulu dalam pengamatannya soal makan. Pertama, orang Bengkulu tidak pernah membedakan antara gulai dan sayur. Jika orang Jawa menyebut gulai untuk masakah olahan dari daging dan berkuah santan, maka orang Bengkulu menyebut semua makanan peneman nasi sebagai "gulai". Bahkan pucuk ubi alias daun singkong pun disebut gulai. Bagi saya, makan nasi dengan gulai (rebusan) pucuk ubi dan goreng ikan betok (ikan puyuh) bersambal atau sambal tempuyak udang merupakan kenikmatan yang membuat saya tak pernah lupa dengan tanah kelahiran.

Kedua, jika orang di daerah lain menikmati makanan berkuah menggunakan sendok, maka orang Bengkulu tetaplah menggunakan tangan untuk makan. Hal ini diakui oleh kakak ipar saya yang asli Sunda dari Sukabumi. Sekarang, teteh saya itu menjadi sangat terbiasa untuk makan dengan cara seperti ini sejak ia tinggal di Kaur sekitar 10 tahun terakhir.


Ketiga, pan basuh atau tempat cuci tangan, atau kobokan kalau kata orang Jawa, merupakan wadah mencuci tangah seukuran mangkok bakso. Pencuci tangan ini biasanya digunakan bersama-sama di meja tempat makan. Banyak tangan dibasuh di satu tempat pencucian. :D

Keempat, mungkin sama dengan kabanyakan orang di Sumatera, orang Bengkulu sangat susah kalau menikmati makanan tanpa ada rasa pedasnya. Kalau bukan masakannya diolah dengan banyak cabe, tentu sambal goreng merupakan satu menu yang harus hadir di meja makan.

Mungkin Anda akan mengingat banyak hal lagi yang unik di daerah ini berkaitan dengan makan. Silahkan kalau mau berbagi cerita di blog ini.

Di rumah makan Marola, kami menyantap ikan gebur yang dibakar, kepiting, cumi-cumi, serta gulai pucuk ubi dan (kalau tak salah) ada pucuk lumay. Ada pula sayur asam dan lalapan terong bulat ungu yang sebenarnya lalapan khas masyarakat Sunda. Kalu lepang (timun) tentulah orang sini juga menyantpanya. Tak ada jering dan juga petai. Tapi hidangan yang ada sudah cukup memuaskan dan mengenyangkan kampi petang itu.

Keesokan harinya, kami memiliki agenda untuk mewawancarai tokoh adat dan seorang dukun beranak di daerah Talo. Disini kami ditemani oleh Ayuk Iin yang bekerja di kantor pemerintah kabupaten yang dulunya merupakan bagian dari kabupaten Bengkulu Selatan. Kami mewawancarai Pak Ujang yang merupakan Ketua Badan Musyawarah Adat (BMA) Kabupaten Seluma. sempai sekitar pukulu 14 siang. Perut keroncongan. Kami pun mulai berpikir untuk mencari warung makan. Ayuk Iin yang merupakan suku Lembak desa Tanjung Agung dan juga keturunan orang suku Serawai di Talo menawarkan kami untuk kembali menikmati masakan khas Bengkulu. Kali ini, gulai remis menjadi masakan yang dielu-elukan ayuk Iin. Remis sendiri belum pernah saya temukan di daerah lain di Indonesia. Ia semacam kerang yang hidup di muara sungai. Memasaknya dengan cara direbus seperti memasak sop. Saya kurang tahu persisnya bagaimana karena memang belum pernah belajar memasak remis dari ibunda di rumah. :)


Kami mampir di rumah makan Rosari yang terletak di Tais, ibukota kabupaten Seluma. Ternyata sudah banyak makanan yang habis. "Di sini banyak pegawai yang makan siang, jadi kita sudah dapat sisa-sisa mereka," kata ayuk Iin. Tetapi kami tetap masih dapat menikmati gulai rebung asam yang dicampur dengan ikan, umbut lipai, ikan mujair, kacang panjang dengan terong, dan kalau tak salah ingat juga ada daun paku. Gulai remis nyaris tak dapat kami nikmati karena warung ini baru memasak lagi setelah masakan sebelumnya habis dipesan oleh pengunjung sebelum kami. Kami sempat menunggu sejenak karena masakan disiapkan lagi dari dapur. Meski keroncongan, kami tetap sedia menunggu sampai hidangan yang kami pesan tersedia di meja.

Usai menyelesaikan tugas kantor, saya sempat pulang ke rumah orang tua saya di daerah Pagar Dewa selama dua malam. Teman-teman saya sudah kembali ke Jakarta. Di rumah, saya menikmati bagar hiu yang sengaja disedikan oleh ibunda untuk saya. Hari kedua di rumah saya pun menikmati pendap. Kedua masakan terkakhir tak kami temukan di rumah makan Marolah dan Rosari. Dan saya pun tak jadi membeli pendap di desa Tanjung Agung seperti disarankan ayuk Iin karena ternyata tetangga rumah orang tua saya ada yang bejulan pendap ini.


Saya kembali teringat daftar menu di beberapa rumah makan khas masakan Bengkulu yang pernah dimuat di salah satu edisi majalah Travelounge. Setibanya di rumah saya di Bogor, saya mencari-cari tulisan tentang ini di majalah-majalah khusus bandara yang ada di rak buku. Judulnya menarik sekali, "Rasa Sedap Khas Bengkulu" dan dimuat di edisi bulan Oktober 2011 lalu. Saya pikir sangat baik kalau Anda juga membaca isi majalah ini yang khusus mencatat masakan-masakan khas Bengkulu dari kunjungan penulis dan fotografernya ke beberapa rumah makan di Kota Bengkulu. Silahkan mengunduh (download) filenya di sini.

Read More......


Kembali ke Bengkulu untuk sebuah tugas saya alami pada 1 - 5 Oktober 2012. Sejak beberapa tahu terakhir saya memang berkeliling ke daerah-daerah di Nusantara untuk satu program pengkajian mengenai adat istiadat. Dan baru di awal bulan ini saya berkesempatan menggali adat istiadat yang berlaku di Bengkulu.

Saya dan dua teman lainnya dari Jakarta mewawancarai beberapa tokoh masyarakat, termasuk Ketua Badan Musyawarah Adat (BMA) Kabupaten Seluma dan Kota Bengkulu. Selan itu, kami pun mengumpulkan beberapa dokumen tertulis mengenai adat istiadat yang berlaku di daerah bekas jajahan Inggris ini. Bertemulah kami dengan dua dokumen yang sangat berarti, Koempoelan Oendang - Oendang Adat Lembaga dari Sembilan Onderafdeelingen dalam Gewest Benkoelen dan Adat Kota Bengukulu. Buku pertama merupakan kumpulan Oendang - Oendang Adat di Kota Bengkulu, Seluma, Manna, Kaur, Kroe, Rejang, Lebong, Lais, Muko-Muko, Serta Undang-Undang Simboer Tjahaja Bangkahoeloe. Dokumen ini sangat berharga karena merupakan dokumen tertulis mengenai adat istiadat di daerah yang pernah menjadi bagian propinsi Sumatera Selatan ini. Sementara dokumen kedua berupa Peraturan Daerah Kota Bengkulu Nomor 29 tahun 2003 tentang Pemberlakuan Adat Kota Bengkulu. Sebenarnya dokumen terakhir sudah saya miliki sejak sekitar 3 tahun lalu atas kebaikan hati teman dekat saya yang bekerja di kantor Pemerintah Daerah Kota Bengkulu. Sayangnya buku ini terselip entah dimana diantara tumpukan buku yang masih belum rapih sejak kepindahan domisili saya dan keluarga setahun terkahir.

Dokumen pertama kami dapatkan dari Ketua BMA Kabupaten Seluma, Bapak Syamsir Ardi. Bapak yang biasa dipanggil pak Ujang ini kami temui di kediamannya di desa Talang Saling, Kecamatan Seluma, Kabupaten Talo. Beliau dengan senang hati mengizinkan kami memfotokopi buku yang ia miliki ini serta bercerita banyak hal tentang adat istiadat orang Serawai. Serawai adalah salat satu suku yang ada di Bengkulu yang mendiami daerah Seluma hingga daerah Manna yang dulunya merupakan satu kabupaten, yakni Kabupaten Bengkulu Selatan. Buku kedua kami fotokopi dari buku milik Ketua BMA Kota Bengkulu, Drs. H. S. Effendi, Ms.

Sebelum bertemu dengan Bang Effen—begitu ia biasa dipanggil—saya sempat berkomunikasi dengan Rendiawan, seorang teman kecil yang tinggal di desa Tanjung Jaya. Saya sampaikan kalau sedang mencari peraturan adat di Bengkulu. Tak disangka ia menginformasikan kalau Bang Effen ternyata adalah kakak dari teman kami masa sekolah dasar di desa itu.

Bang Effen saya ceritai kalau kami sudah mendapatkan peraturan-peraturan adat yang dibuat sejak zaman Belanda. Beliau mengatakan kalau ia juga memiliki. Namun demikian ia memiliki beberapa catatan kritis terhadap pembukuan hukum adat itu oleh orang Belanda masa itu. Salah satunya adalah, hukum adat tidak dijatuhkan pada orang yang melanggar adat dalam bentuk uang. Denda berupa uang merupakan adopsi dari hukum di negera mereka di Eropa. Hukum adat di Bengkulu mengenal hukumnya sendiri yang justru memiliki efek jera yang ampuh. Misalnya jambar antara lain ada nasi kunyitnya.

Bang Effen memiliki rencana untuk menulis beberapa buku berkaitan dengan adat istiadat Bengkulu. Waktu ternyata sangatlah malah buatnya saat ini. Saya sendiri berharap ia segera menuliskannya sehingga semakin banyak adat istiadat orang Bengkulu yang terdokumentasikan, tertulis, dan dapat diwariskan ke generasi berikutnya. 

Dua dokumen adat yang sudah saya dapatkan ini penting juga untuk dibaca oleh orang-orang Bengkulu supaya tahu adat istiadatnya. Saya mencoba mendokumentasikan hukum-hukum adat ini dan akan membuatnya dalam bentuk file PDF supaya bisa mengunggahnya di blog ini dan berbagi dengan sanak-sanak dari Bengkulu atau siapapun yang membutuhkan. Ada sekitar 265 halam untuk dokumen pertama, serta 147 halaman untuk dokumen kedua. Cukup membutuhkan waktu dan tenaga untuk memindainya. Semoga ada kesempatan dalam waktu dekat ini.

Read More......

Dari Lok Baintan ke Martapura


Pagi-pagi buta aku dan teman-teman berangkat menuju Kampung Kenanga Ulu, Kelurahan Sungai Jingah, Kecamatan Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin. Di pinggiran sungai di dekat Museum Wasaka, sebuah museum mengenang perjuangan rakyat Banjarmasin melawan penjajah, telah menunggu perahu klotok yang kami sewa untuk ke Pasar Lok Baintan. Kami menyempatkan diri menunaikan sembahyang subuh di sebuah musholla di pinggir sungai. Mbak Nurhikmah yang mendampingi perjalanan kami selama di Kalimantan Selatan menyarankan untuk berangkat pagi-pagi sekali menuju Lok Baintan, sebab nanti tiba di sana pas betul ketika para pedagang mulai memenuhi lokasi dengan perahu-perahu (orang Banjar menyebutnya Jukung) berisi barang dagangan mereka. Hari itu tanggal 8 Mei 2011.

Pasar Terapung Lok Baintan terletak di desa Sungai Pinang (Lok Baintan), kecamatan Sungai Tabuk, Banjar. Selain di sini, ada satu lagi pasar terapung yang terletak di muara Sungai Kuin/Sungai Barito. Keduanya sama-sama pasar tradisional di atas jukung. Aktifitas jual-beli berlangsung tidak terlalu lama, hanya sekitar tiga hingga empat jam. Barang dagangan berupa hasil produksi pertanian/perkebunan, bahan makanan yang tak tahan lama seperti sayur-sayuran, buah-buahan, makanan tradisional atau kudapan dan kebutuhan dapur rumah tangga lainnya. pada pagi sekitar pukul 6 atau 7 mulai tampak di sepanjang pesisir aliran Sungai Martapura Lok Baintan konvoi perahu menuju lokasi pasar terapung. Mereka berasal dari berbagai anak Sungai Martapura, seperti Sungai Lenge, Sungai Bakung, Sungai Paku Alam, Sungai Saka Bunut, Sungai Madang, Sungai Tanifah, dan Sungai Lok Baintan.


Selain melihat aktivitas jual-beli di pasar terapung, sebenarnya kami ingin "ngobrol" tentang kehidupan masyarakat di sekitarnya dan juga mereka yang menjadi pedagang di pasar terapung yang terkenal itu. Untuk bisa ngobrol dan tidak membuat tersinggung para penjual, kami membeli barang dagangan mereka sehingga tak tampak kalau kami sedang menggali informasi.

Menurut Bu Fatimah, dosen Universitas Lambung Mangkurat yang pernah meneliti kehidupan perempuan pedagang di pasar terapung, kebanyakan pedagang kelas bawah memang berjualan makanan atau bahan makanan yang tak tahan lama. Harapannya setelah kembali dari Lok Baintan barang dagangan tersebut telah habis terjual. Jika tak habis, sebelum pulang ke rumah biasanya ibu-ibu pedagang akan membawa dagangannya masuk ke pemukiman warga yang tinggal di atas sungai untuk berjualan. Ibu-ibu pedagang ini adalah pencari nafkah keluarga yang tangguh. Kadang-kadang, para pedagang melakukan barter sayuran atau hasil bumi lainnya menjadi kebutuhan pokok. Jadi tak mesti dijual dengan uang, apalagi saat hari semakin siang dan barang dagangan belum habis.



Sepulang dari Lok Baintan kami menyusuri sungai untuk melakukan wawancara dengan beberapa warga. Lalu mampir di Warung Soto Banjar Bang Amat yang terletak di tepi Sungai Pengambangan (anak Sungai Martapura). Waktu di Surabaya Oktober 2010 lalu, aku dan seorang teman sempat mencicipi soto Banjar. Kupikir saat itu soto Banjar ini adalah soto yang berasal dari Banjarnegara, Jawa Tengah. Harus saya akui memang saya bukan orang yang gemar menghabiskan uang untuk mencicipi semua masakan nusantara yang sekarang orang menyebutnya sebagai wisata kuliner :).

Makan Soto Banjar, juga sate ayam, sembari mendengarkan musik tradisional orang Banjar yang disebut Panting. Panting berasal dari daerah Tapin, Kalimantan Selatan, merupakan alat musik yang dipetik yang berbentuk seperti gambus Arab tetapi ukurannya lebih kecil. Pada perkembangannya, Panting dimainkan dengan beberapa alat musik lainnya seperti babun, gong,dan biola sehingga pemainnya juga terdiri dari beberapa orang.

Setelah dari pasar terapung, kami ke Martapura, Banjar, untuk menemui dan mewawancarai tokoh masyarakat di sana. Salah satu yang kemi temui adalah Abah Anang, seorang Kyai (ulama Banjar) yang sangat berpengaruh. Karena kuatnya pengaruh Abah Anang di masyarakat Banjar, hampir semua calon Presiden bertandang padanya setiap kali musim pemilu di Indonesia. Bahkan Kapolri, Paglima TNI, dan pejabat lembaga-lembaga tinggi Negara hampir semuanya datang padanya. Kalau masyarakat kecil datang untuk berkonsultasi soal keislaman bahkan urusan dapur, kasur dan sumur, maka para pejabat datang padanya untuk minta didoakan supaya langgeng dan (ny)aman kursi kekuasaan mereka. :)

Kami pun mampir membeli buah tangan kain Sasirangan dan juga batu mulia. Sahabat Sasirangan adalah salah satu produsen dan penjual kain (batik) Sasirangan. Di salah satu tokonya di Martapura ada tergerai kain Sasirangan palsu. Buatan dari negeri Cina. Bahan kainnya tampak beda serta dari penampilan sudah tampak kalau ia dibuat secara massal menggunakan mesin. Jelas ditulis pada secarik kertas yang tertempel di kain kalau ini adalah Sasirangan palsu, dan toko ini tidak menjualnya. Bahkan pencapaian budaya nenek moyang dalam bentuk kain batik pun tak dilindungi dengan semestinya oleh Pemerintah. Ada banyak kasus seperti ini, motif-motif kain tenun atau batik di berbagai daerah dengan mudah ditiru oleh negeri tirai bambu itu. Mereka memproduksinya secara berlimpah sehingga harganya jadi murah. Tetapi, tentu saja, adalah barang palsu. Kalau kita mau ikut melestarikan kekayaan budaya negeri sendiri, salah satu wujud kecintaan itu adalah dengan cara membeli barang yang asli... :)

Di Martapura, saya dan teman-teman sempat mampir di Masjid Agung Al Karomah. Dari luar masjid ini tampak indah dan megah. Di dalamnya, usai sembahyang kami sempat leyeh-leyeh. Udara di dalam jelas terasa sejuk. Sementara cahaya matahari begitu menyengat di luar masjid.

Ini merupakan bagian dari perjalan saya di Kalimantan Selatan pada 4 - 13 Mei 2011.

Read More......

Joran Pancing Lidi Nau

Inilah alat mengail (memancing) ikan penduduk di dusun Air Langkap, Kaur Tengah, kabupaten Kaur, Propinsi Bengkulu. Jorannya terbuat dari lidi Nau (lidi dari pohon aren). Lidi sepanjang lebih kurang 1,5 meter ini disambung dengan buluh (bambu) sebesar ibu jari orang dewasa. Panjang buluh disesuaikan dengan kebutuhan panjang joran untuk mengail. Seperti joran pancing umumnya, tentu ada tali atum (tali pancing) dan mata kail (mata pancing/hook) untuk mengait ikan yang memakan umpannya. Ujung tali atum yang memiliki mata kail di salah satu ujung lainnya diikatkan pada ujung lidi nau.

Buluh yang digunakan untuk mengail ini adalah buluh Temiang atau buluh Kapal. Buluh ini dianggap paling pas untuk disambung dengan lidi Nau.

Lidi Nau yang dipilih mengail adalah lidi yang sudah tua, dari daun Nau (yang mirip dengan daun kelapa) yang sudah tua sehingga merupakan lidi yang kuat. Lidi yang dipilih lalu diletakkan di atas Lantai. Lantai dalam bahasa Air Langkap adalah tempat meletakkan bumbu-bumbu masak, panci dan lainnya di atas tungku perapian memasak. Dengan demikian, lidi yang disimpan di atasnya mengalami pengasapan setiap hari. Proses ini dinilai membuat lidi nau menjadi lebih kuat namun tetap lentur.

Meski menggunakan lidi nau, joran pancing ini bisa dipakai untuk menangkap ikan dengan berat hingga 2 kilogram. Joran ini pun bisa dipakai untuk mengail di sungai, pinggir laut/pantai, air payau, kolam atau sawah.

Umpan yang dipakai untuk mengail adalah umang-umang. Hewan sejenis siput ini hidup di pinggir laut atau pasir pantai. Ukuran umang-umang ini kecil hingga sekitar kelingking orang dewasa. Umang-umang ini biasa dipakai untuk memancing di pantai Air Langkap.

Ada satu cerita menarik mengenai cara memancing orang Air Langkap ini. Pada tahun 2003 lalu, dalam rangka ulang tahun Tentara Nasional Indonesia (TNI), Koramil Kaur Selatan menyelenggarakan lomba memancing. Peserta memancing jumlahnya puluhan dan berasal dari seluruh propinsi Bengkulu. Pemenang lomba memancing adalah ia yang paling banyak mendapatkan ikan. Setelah lomba selesai, ikan tersebut ditimbang oleh panitia.

Lomba memancing berlangsung di dermaga Linau Kaur Selatan, sebuah pelabuhan alam dengan banyak karang di pantai-pantai dekat pelabuhan itu. Waktu memancing ditentukan lamanya dan dalam rentang waktu itu semua peserta harus berlomba mendapatkan ikan sebanyak-banyaknya supaya bisa menjadi pemenang.

Tamsir (38 tahun) berasal dari dusun Air Langkap berhasil mengumpulkan ikan terbanyak diantara peserta yang lainnya. Dengan joran khas Air Langkap dan umpan umang-umang ia memenangkan lomba memancing tersebut.

Menurut cerita Tamsir, ada peserta lainnya yang ia tegur saat lomba berlangsung. Peserta tersebut membawa ikan di dalam kantong plastik hitam. Ikan laut dari membeli di pasar itu hendak ia serahkan ke panitia untuk ditimbang sebagai hasil tangkapan mata kailnya. Tamsir sudah mengingatkan kalau panitia tidak sebodoh yang ia bayangkan. Panitia memeriksa ikan-ikan hasil tangkapan. Mungkin karena hasil perlombaan jauh lebih segar hingga berbeda dengan ikan dari pasar, panitia akhirnya mengetahui ada peserta yang berbuat curang. Ikan yang bukan hasil tangkapan perlombaan itu diserahkan panitia kepada peserta yang curang tesebut. "Ikan ini kau bawa ke ibumu untuk dimasak!" kata panitia.

Sebagai pemenang, Tamsir mendapatkan piala dan sejumlah hadiah lainnya. Alat mengailnya yang terbuat dari buluh Temiang/Kapal yang disambung dengan lidi Nau diminta panitia sebagai kenang-kenangan penyelenggara lomba. Alat memancing itu menyedot perhatian banyak orang karena tidak lumrah dan unik.

Orang Air Langkap sudah sejak lama menggunakannya. Dengan joran pancing lidi Nau Tamsir berhasil mengalahkan peserta lainnya yang menggunakan joran pancing yang bagus-bagus, mahal dan katanya alat pancing yang lebih modern.

Read More......

Edward Burnett Tylor, memahami kebudayaan sebagai keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat. Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi menilai kebudayaan merupakan sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.[1]

Kamus Sosiologi Modern mendifinisikan kebudayaan sebagai:

The total, generally organized way of life, including values, norms, institutions, and artifacts, that is passed on from generation to generation by learning alone.[2]


Menurut Herskovits, kebudayaan terbentuk dalam waktu yang panjang sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic. Andreas Eppink menilai kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial, norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, termasuk segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.[3]

Dari berbagai definisi para ilmuan di atas, terlihat bahwa sebuah kebudayaan memakan waktu yang cukup panjang untuk menjadi sebuah nilai, norma sosial, dan pengetahuan yang diyakini dan menjadi rujukan bersama berupa sebuah sistem sosial. Perwujudan kebudayan itu sendiri berupa benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.[4]

Dalam masyarakat, nilai-nilai sosial dari sebuah budaya juga mengatur hubungan sosial dan keluarga antara laki-laki dan perempuan dalam berbagai bidang kehidupan. Pada umumnya hubungan antara laki-laki dan perempuan pada masyarakat di Indonesia masih menempatkan perempuan sebagai subordinat laki-laki, yang berarti nilainya lebih rendah. Nilai-nilai yang berkembang di dalam masyarakat ini pada akhirnya ikut mendukung, bahkan penyebab terjadinya diskriminasi dan kekerasan terhadap perempuan. Berikut ini beberapa contoh kekerasan terhadap perempuan yang berhubungan erat dengan nilai-nilai budaya suatu masyarakat.

Di Bali, anak perempuan yang sudah kawin dan keluar dari lingkungan keluarganya, maka ia tidak berhak mewaris karena ia sepenuhnya telah menjadi tanggung jawab keluarga pihak suami selama perkawinannya langgeng.[5]

Di masyarakat Nusa Tenggara Timur, untuk menikahi seorang perempuan, calon mempelai laki-laki harus memberikan mas kawin yang dalam bahasa setempat disebut "belis". Belis ini berupa uang, emas batangan atau perhiasan, sejumlah ternak dan atau barang-barang berharga lainya.[6] Semakin besar nilai belis menunjukkan semakin tinggi tingkat sosial-ekonomi keluarga si laki-laki. Pihak laki-laki harus bisa menaksir tingkat sosial-ekonomi keluarga calon istrinya, sehingga keluarganya dapat memperkirakan seberapa besar nilai belis yang harus mereka sediakan, atau memahami nilai belis yang diminta oleh keluarga perempuan.

Menurut informasi dari Yn, seorang aktivis perempuan yang berasal dari Manggarai, Flores Barat, NTT, Belis dikumpulkan secara gotong-royong oleh perempuan-perempuan saudara ayah dari calom mempelai laki-laki. Dari pihak calon mempelai perempuan, penerima belis sendiri adalah paman dan orang tuanya. Bahkan, seringkali pamannya memperoleh bagian yang jauh lebih besar daripada kedua orang tuanya.

Dalam perkembangannya, belis yang semula merupakan mas kawin, menjadi semacam alat tukar untuk membeli si perempuan. Ketika si perempuan telah resmi masuk menjadi bagian dari keluarga laki-laki, tak sedikit perempuan diperlakukan seperti 'budak' oleh anggota keluarga laki-laki. Kesannya, si perempuan sudah dibeli sehingga ia bisa diperlakukan seenaknya, seperti budak yang mengerjakan apapun di rumah tangga keluarga suaminya. Bahkan ketika keluarga suami menganggapnya tidak bisa menjadi istri yang baik dan mendapatkan kekerasan, keluarga si perempuan tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantunya. Sebabnya? Karena keluarga si perempaun telah mendapatkan belis sebagai alat tukar dan menyerahkan sepenuhnya anak perempuan mereka.

Di Aceh Kawin Cina Buta adalah contoh lain dari praktik kekerasan terhadap perempuan yang berbasis pada budaya. Kawin Cina Buta adalah perpaduan pemaksaan cerai dan pemaksaan perkawinan. Ikatan perkawinan harus putus ketika telah jatuh talak 3 oleh pihak suami kepada istrinya. Dengan demikian, untuk rujuk kembali, maka keduanya harus menikah dengan pihak lain yang kemudian harus dipastikan kalau mereka dengan pasangannya masing-masing telah malakukan hubungan seksual dengan tidak boleh menggunakan alat kontrasepsi kondom. Pernikahan dengan pasangan masing-masing untuk kembali ke pasangan sebelumnya itulah yang disebut sebagai kawin cina buta. Menurut sejumlah ulama setempat, pernikahan ini merupakan hal wajib dilalui bagi pasangan yang beragama Islam yang akan rujuk kembali.

Pada praktiknya, untuk bisa malakukan praktik kawin cina buta, si perempuan harus membayar sejumlah uang kepada calon suaminya. Terpaksa menjadi istri bagi seorang laki-laki pasangan kawin cina buta bukanlah hal yang membahagiakan. Bahkan ketika harus melakukan hubungan seksual dengan orang yang tidak ia cintai pun merupakan hal menyakitkan. Jika telah kawin dengan pasangan kawin cina buta, belum tentu si suami barunya ini mau menceraikannya sehingga ia tak bisa segera kembali ke suami sebelumnya. Juga, suami sebelumnya belum tentu mau menerimanya kembali setelah ia menjalani kawin cina buta, apalagi kalau ia akhirnya mengandung benih anak dari hasil berhubungan dengan suami kawin Cina Buta itu. Perlu dicatat, setelah bercerai dengan suami kawin cina buta, si perempuan harus menunggu masa iddah sepanjang 3 bulan 10 hari sebelum ia bisa menikah lagi dengan suami sebelumnya. [7]

Adat masyarakat Bali, seperti pengaturan hak waris di atas berdasarkan pada nilai-nilai agama Hindu yang mereka anut di sana. Demikian pula dengan Kawin Cina Buta, yang berangkat dari satu pemahaman mengenai nilai-nilai yang dianut dalam ajaran Islam. Seringkali, pemahaman akan satu ajaran agama itu menjadi sumber persoalan. Pemahaman akan ayat-ayat suci atau ajaran yang bias gender, lebih mengemuka untuk mempertahankan posisi yang lebih memuliakan laki-laki daripada perempuan. Pemahaman-pemahaman demikian lalu menjadi sumber pengaturan dalam adat istiadat yang membentuk satu kebudayaan masyarakat setempat.

Pemahaman-pemahaman akan relasi laki-laki dan perempuan yang patriarkhal telah ikut menyebabkan posisi perempuan dalam struktur masyarakat dan keluarga menjadi subordinat. Pada akhirnya, hak-hak perempuan dalam keluarga dan juga sosial menjadi terpinggirkan kalau tidak malah tak terpenuhi. Prioritas ada pada laki-laki: laki-laki sebagai pemimpin, sebagai orang yang mengenyam pendidikan tinggi, hak reproduksi lebih diperhatikan, sebagai pengambil keputusan publik maupun keluarga, bahkan sebagai pihak yang harus mendapatkan pelayanan dari pasangannya.

Cerita-cerita di atas merupakan beberapa fakta mengenai kekerasan yang dialami perempuan di berbagai daerah karena budaya masyarakat setempat. Saat ini saya bersama dengan teman-teman di lembaga tempat kami bekerja sedang mencoba untuk mengidentifikasi sekaligus memetakan berbagai bentuk kekerasan terhadap perempuan yang terjadi karena faktor budaya: adat istiadat masyarakat setempat. Dengan adanya peta kekerasan berbasis budaya ini, harapannya advokasi untuk menghapuskan segala bentuk kekerasan dan diskriminasi terhadap perempuan dapat dilakukan dengan lebih baik dan tentunya dengan pendekatan budaya setempat. Upaya ini akan dimulai dengan melakukan diskusi, atau lebih tepatnya konsultasi, dengan teman-teman serta mereka yang menggeluti isu kebudayaan lokal dan memiliki pengetahuan berkaitan dengan peran dan posisi perempuan di masyarakatnya.

Proses identifikasi ini akan melibatkan kawan-kawan internal, lembaga mitra yang bergerak dalam women's rights issues, akademisi, peneliti, dan mereka yang dapat memberikan kontribusi pengetahuan dan pengalaman mereka dalam bergelut pada isu budaya dan kekerasan terhadap perempuan. Hasil dari kegiatan ini akan menjadi acuan untuk proses selanjutnya, yakni melaksanakan program Pemetaan Kekerasan terhadap Perempuan Berbasis Budaya di Indonesia.


Catatan akhir:


[1] http://id.wikipedia.org/wiki/Budaya, diakses pada 17 Maret 2010
[2] http://courses.ed.asu.edu/margolis/spf301/definitions_of_culture.html, diakses pada tangal 17 Maret 2010
[3] Ibid.
[4] Ibid.
[5] Ni Ketut Sri Utari, SH.MH, Mengikis Ketidakadilan Gender dalam Adat Bali. Makalah disampaikan pada Temu Ilmiah II Asosiasi Pengajar dan Peminat Hukum Berspektif Gender se Indonesia (APPHGI). Tgl 18-20 September 2006, di Surabaya
[6] lihat misalnya tulisan Gesit Ariyanto, BUDAYA ROTE: “Tu’u” Belis di Nusa Lontar di KOMPAS, 18 November 2008.
[7] Laporan Khusus untuk Aceh Pelapor Khusus Komnas Perempuan, Sebagai Korban juga Survivor: Pengalaman dan Suara Perempuan Pengungsi Aceh tentang Kekerasan dan Diskriminasi (Komnas Perempuan, April 2006), hal. 54 - 55

Read More......

Bahasa: Berlomba atau Bertanding?

Maaf, saya bukan ahli bahasa. Hanya sedikit pengetahuan saya mengenainya. Hanya saja, saya agak tergelitik mengetahui penggunaan beberapa kata atau istilah yang kurang tepat. Berikut ini contoh yang kurang tepat itu, yakni penggunaan kata "lomba" dan "tanding".

Kata "lomba" dan "tanding" biasanya digunakan dengan imbuhan "pe-an" yang akan menjadi "perlombaan" dan "pertandingan" serta imbuhan "ber" yag akan mengubahnya menjadi "berlomba" dan "bertanding". Bagaimana memahami arti kedua kata ini? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, lomba berarti adu kecepatan atau adu kecakapan. Berlomba berati beradu kecepatan atau kecakapan. Tanding berarti yang seimbang/sebanding atau satu lawan satu. Bertanding berarti berlawanan, ada bandingnya (imbangannya, lawannya), atau melawan/menyaingi/menyamai.

Saya sendiri memahami keduanya sebagai proses bersaing untuk menjadi "lebih unggul". Berlomba sebagai proses menjadi lebih unggul dalam satu permainan yang setiap pesertanya tidak saling berhadapan. Misalnya, lomba mewarnai gambar yang biasanya diikuti oleh banyak anak-anak sekaligus, atau lomba lari maraton 10 km. Bertanding merupakan proses menjadi lebih unggul dalam satu permainan yang pesertanya saling berhadapan. Contoh dalam hal ini adalah bertanding sepak bola, pencak silat, atau bola volly.

Bisa saja satu jenis olahraga dimainkan untuk perlombaan sekaligus pertandingan. Misalnya, perlombaan pencak silat indah, dimana salah satu penilaian juri adalah keindahan seni beladiri ini. Juga, pertandingan pencak silat, dimana juri melihat dua orang peserta saling berhadapan dan saling serang sesuai dengan aturan pertandingan yang berlaku.

Jadi, cara paling mudah untuk membedakan penggunaan kedua kata itu, menurut guru SMA saya dulu, yakni melihat apakah dalam satu permainan masing-masing peserta dalam keadaan berhadap-hadapan atau tidak. Jika berhadapan, maka ia adalah bertanding. Jika tidak, maka itu adalah berlomba. Satu perlombaan, biasanya diikuti oleh banyak peserta sekaligus, berkebalikan dengan pertandingan yang biasanya terdiri dari dua pihak saja. Terdengar janggal kalau ada orang yang begitu bersemangat bercerita kalau ia baru saja pulang dari Senayan menonton perlombaan sepak bola.


* Picture of Pencak Silat was taken from here.

Read More......

Ragam Pitulasan

Ada banyak cara untuk merayakan hari kemerdekaan Indonesia setiap tahunnya. Mulai dari melakukan kontemplasi dan diskusi tentang perkembangan bangsa dan negara ini sejak 17 Agustus 1945 hingga sekarang, menyelenggarakan berbagai pertandingan dan perlombaan untuk bersuka ria sebagai bangsa yang telah "merdeka", bahkan ada yang menganggapnya biasa-biasa saja.

Di lingkungan tempat tinggal saya, desa Ciangsana, Gunung Puteri, Kabupaten Bogor, seperti biasanya ada perayaan dengan pertandingan dan perlombaan, serta panggung hiburan kesenian. Di RW 02 tempat kami tinggal, puncak acara peringatan hari kemerdekaan ini berlangsung pada 16 Agustus lalu, yang kebetulan bertepatan dengan hari Minggu. Pada sore hari dengan matahari yang masih terik, masyarakat dari RT 01 hingga RT 11 menyertai anak-anak yang berlomba pawai mengelilingi separoh komplek perumahan yang menjadi wilayah RW 02.

Pawai dilakukan dengan rombongan dari masing-masing RT berbaris menurut urut RT di jalan utama sebelah selatan yang terletak di wilayah RT 11. Pawai ini sesungguhnya diikuti anak-anak dari usia sekitar 3 tahun hingga usia SMA. Mereka berbaris dengan atribut pakaian yang beraneka macam, dari pakaian adat maupun seragam putih-putih, dari yang membawa cangkul a la seorang petani dengan kumis palsu menghiasi, kebaya, bahkan dengan sepeda hias dan seragam tentara seperti anak saya dan beberapa temannya sebagaimana permintaan panitia di RT. Orang tua hanya mengiringi barisan, terutama untuk mengawasi anak-anaknya yang masih kecil yang kemungkinan sulit untuk diarahkan dan tentunya akan membuat kacau barisan. Acara ini menjadi kesempatan saling menyapa antartetangga bahkan sesama orang tua yang berlainan RT. Satu bentuk suka cita karena ada kemeriahan di komplek perumahan. Entah mengapa, keramaian sejak dulu selalu merupakan satu hal yang teramat disukai. Seperti suasana keheningan desa yang ditinggalkan para pemudanya karena lebih memilih keramaian di kota-kota.

Di saat semua peserta pawai dari masing-masing RT merapihkan barisannya, satu kelompok kesenian Reog memainkan atraksi tari-tariannya. Kebanyak penghuni kawasan kami berasal dari Jawa termasuk Jawa Timur. Pertunjukan Reog menjadi hiburan menarik buat semua yang hadir. Kabar beberapa waktu lalu yang menyebutkan kalau Reog diakui oleh pemerintah Malaysia sebagai kesenian asli dari mereka telah membuat berang warga Ponorogo yang merupakan asal kesenian ini. Masyarakat Indonesia pun merasa tersentil rasa kepemilikan kesenian yang memang belakangan kurang mendapat perhatian. Reog mendapat sambutan hangat pada perayaan kemerdekaan tahun ini di tempat tinggal kami.

Setelah melewati jalan-jalan pinggiran hingga ke tengah perumahan, acara pawai diakhiri di dekat gerbang masuk komplek kami. Di sana, bersebelahan dengan pos satpam, terdapat lapangan bola volly. Pertunjukkan reog diteruskan untuk menghibur semua penonton yang mengelilingi lapangan. cukup ramai. Bahkan di salah satu sisi lapangan adalah tebing yang berbatasan dengan pemukiman penduduk desa sebelah perumahan dipenuhi oleh mereka yang menonton dengan leluasa ke seluruh lapangan. Di sela-sela pertunjukan reog itu pula diumumkan para pemenang berbagai macam lomba dan pertandingan di tingkat RW, mulai dari pertandingan bulu tangkis, bola volly, catur, futsal, lomba mewarnai untuk anak-anak, dan bentuk kompetisi lainnya, yang sudah terselenggara sejak awal Juli lalu. Perlombaan pawai menjadi penutup acara sesorean itu. Setelah semua hadiah di selesai dibagikan, para pemain reog mulai mengusung semua peralatan kembali ke rumah. Semua peserta pawai, anak dan orang tua juga mulai bergerak pulang. Anak-anak senang, meski tak menang ada hadiah makanan dan minumana ringan disediakan oleh panitia penyelenggara di tingkat RT.

Pada sore hari esoknya, 17 Agustus, ada perlombaan di tingkat RT 08 tempat kami tinggal. Semua anak-anak dikumpulkan untuk berbagai macam perlombaan: membawa kelereng dalam sendok, makan pilus dalam sebuah piring, mengambil uang logam yang menempel pada buah semangka, memecah balon yang berisi air dengan menggunakan jarum, memasukkan pensil ke dalam botol dan beberapa permainan lainnya.

Acara perayaan kemerdekaan ini melahirkan berbagai hiburan tahunan dalam masyarakat. Berbagai macam perlombaan dan pertandingan menjadi tontonan menarik, juga menjadi ajang menunjukkan kemampuan pengusaan permainan tertentu. Tapi, ada yang luput kami tonton kali ini, yakni perlombaan panjat pinang. Perlombaan ini hampir selalu ada di setiap daerah. Semakin tahun terlihat semakin menarik saja hadiahnya. Sayang, karena harus mencari semangka kesukaan anak kami, hiburan satu ini jadi terlewati.

Read More......

Selamat jalan Sapto Rahardjo

JIKA sedang suntuk, saya menyetel lagu Jogja Cinta Tanpa Akhir yang sangat saya sukai. Lagu ini memberikan kenangan tentang Yogya yang sulit untuk dilupakan. Inilah lagu kenangan tentang kota gudeg itu setelah sebelumnya lagu Yogyakarta, yang juga dinyanyikan oleh Katon Bagaskara.

Hal yang membuat saya begitu menyukai lagu ini, terutama adalah suara gamelan jawa yang begitu merdu serta suara Waljinah. Gamelan itu, sungguh, membuat saya seperti berada di Yogya kembali. Begitu khas nuansanya, sampai-sampai teman-teman saya di lantai 3 ruang kerja di daerah Menteng ikut senang mendengarkan. "Keraskan suaranya mas Herman...", demikian seorang teman berucap ketika pertama kali mendengarkan lagu itu.

Alunan gamelan itu, yang begitu merdu, adalah hasil aransemen seniman gamelan terkenal bernama Sapto Rahardjo. Ia terkenal sampai ke masyarakat pecinta seni di luar negeri, namun saya sendiri baru bertemu untuk pertama kalinya sekitar tahun 2000 atau 2001. Saya tak ingat kapan persisnya. Saat itu malam minggu. Secara rutin, sebulan sekali di malam itu Fakultas Kedokteran UGM menyelenggarakan pentas kesenian, yang biasanya adalah pertunjukan musik klasik. Saya suka mendatangi pertunjukan ini meski tak rajin. Di salah satu acara itulah untuk pertama kalinya saya melihat langsung pertunjukan Sapto Rahardjo, yang memainkan gamelan mengiringi permainan piano seorang londo yang menjadi salah satu pemusik yang diundang kali itu. Dengan ketenarannya yang sudah saya dengar sejak lama, serta pertunjukannya di malam itu, saya betul-betul harus mengakui kemampuan pelestari kesenian tradisional Jawa ini.



Saya teringat, masih di tahun-tahun saya hendak menyelesaikan kuliah, teman baik saya Saleh tiba-tiba mengajak saya di satu waktu selepas isya. "Ada festival Gamelan Internasional. Ayo kita nonton." Saya sedikit kaget saat itu, sebab Saleh dalam proses pertemanan kami yang cukup dekat sesungguhnya adalah mahasiswa yang sangat "serius" dan tak mengenal kesenian. Bahkan saya sempat mengkritiknya karena ia tak menyukai sastera entah berupa novel ataupun cerpen. Ajakannya saya amini dan kami pun pergi dengan sepeda motor dua tak menuju jalan Gayam, tak jauh dari stadion Mandala Krida. Informasi tentang festival Gamelan itu ternyata tidak begitu jelas. Tapi kami begitu bersemangat mengingat acara itu diberi embel-embel "internasional" yang menunjukkah betapa besarnya hajatan ini. Entah kegiatannya belum dimulai atau mungkin sudah selesai, saya tidak begitu ingat bagaimana Saleh mendapatkan informasi itu. Tapi kami tak berhasil menemukan festival itu. Bahkan ketika sepeda motor kami arahkan ke Jalan Malioboro menuju Benteng Vredeburg dan seputar alun-alun, tetap tak ada petunjuk keberadaannya. Kami pulang. Tapi saya senang melihat teman yang mulai suka pada kesenian.

SORE ini seorang teman kerja mengabari kalau ia telah meninggal. Saya mencoba mengeceknya di internet dan mendapatkan informasi tentang itu. Usia memang telah dibatasi oleh sang Maha Kuasa. Jika telah tiba saatnya, tak satu pun yang mampu menundanya. Selamat jalan Sapto Rahardjo...

Tulisan tentang Sapto Rahardjo:
Seniman Gamelan Sapto Rahardjo Meninggal Dunia
Sapto Rahardjo, Membongkar Kesakralan Tradisi
Gamelan musician, composer Sapto Rahardjo dies at 54
Tentang Sapto di Gudeg.net

Read More......

Namang

Nama adalah doa. Demikian Islam mengajarkan umatnya untuk memberikan nama yang baik pada anak yang baru lahir. Dengan nama yang baik itu, orang tua dan siapapun yang memanggil, telah mendoakan kebaikan bagi sang anak sesuai dengan namanya. Sebagai contoh, nama Yusuf, merupakan nama yang diberikan oleh orang tua untuk anaknya dengan harapan si anak kelak akan saleh seperti nabi Yusuf. Tak hanya itu, kalau perlu secara fisik si anak akan tampan seperti salah satu dari 25 orang nabi dan rasul yang terkenal itu.

Orang Kaur, daerah paling selatan propinsi Bengkulu, hampir seratus persen merupakan pemeluk agama Islam. Mungkin karena orang di sepanjang pulau Sumatera merupakan bagian dari rumpun besar bangsa Melayu yang budayanya dipengaruhi Islam secara kental, sebab penyebaran Islam di tanah Sumatera bergerak dari Pasai si sebelah paling Utara (Aceh) hingga paling selatan (Lampung).

Selain menentukan nama sesuai dengan ajaran Islam, sebelum anak lahir, orang tua telah memikirkan kepada siapa si anak kelak akan memanggil Tamang atau "namang".

Tamang adalah panggilan seorang cucu laki-laki kepada kakeknya. Kepada neneknya, sang cucu memanggil "Bini". Sebaliknya, cucu perempuan akan memanggil kakeknya dengan sebutan "Bini" dan memanggil neneknya dengan sebutan "Tamang". Panggilan ini merupakan panggilan biasa menurut aturan dalam budaya orang Kaur. "Namang" adalah adat yang lainnya. Panggilan Tamang akhirnya tidak hanya ditujukan kepada Tamang kandung.

Orang yang "di-Tamang" oleh anak yang baru lahir tetaplah harus memiliki pertalian darah dengan anak yang baru lahir. Tamangnya ini bisa merupakan saudara dari Tamang atau bini kandung.

Untuk bisa menamangkan anak kepada seseorang, maka anak yang baru lahir harus diberi nama yang memiliki minimal satu suku kata yang diambilkan dari satu suku kata orang yang ditamangkan. Misalnya, Herman, memiliki satu suku kata "Man" yang mengikatkan hubungan dengan Tamangnya yang bernama "Manaf". Manaf sendiri adalah adik kandung dari Tamang (kakek) kandung Herman dari pihak Bapak. Demikian pula dengan Midi, yang memiliki satu suku kata "Di" yang terdapat pada nama Tamangnya, yang kebetulan merupakan Tamang (kekek) kandung sendiri "Karadi".

Adat "menamangkan" sendiri memiliki tujuan penting, yakni semacam penghargaan orang tua anak yang baru lahir kepada orang yang ditamangkan. Menguatkan kembali pernyataan serta sikap bahwa diantara anak yang baru lahir dengan yang ditamangkan masih memiliki pertalian keluarga. "Namang" adalah tali pengikat dan penguatnya.

Bagi orang yang ditamangkan, ia akan merasa mendapatkan penghormatan yang lebih dari keluarga yang baru dikaruniai anak. Kadang, ada pula orang tua yang berharap supaya anak dari keponakannya yang baru lahir mau menamangkan ia. Si orang tua anak yang baru lahir pun juga tak mau dikatakan sombong tak menamangkan anaknya kepada orang tertentu. Tak jarang pula ada yang menilai ada anggota keluarganya yang tidak menamangkan keturunan mereka kepadanya karena merasa dirinya berlatar belakang ekonomi yang "kurang". Fungsi adat "namang" tetaplah untuk semakin mengikat dan menguatkan pertalian keluarga dan rasa persaudaraan.

Sebenarnya, ada pula yang mengaitkan nama anak yang namang dengan dan nama orang yang ditamang tidak dengan suku kata, namun cukup dengan hanya bunyi yang ditimbulkan dari penyebutan nama anak dan Tamangnya. Misalnya pada nama Marfendri. Ia lahir pada bulan Maret, dan namang ke Fandi, saudara dari Bini (nenek) kandungnya. Kedua nama itu tidak memiliki kesamaan suku kata sedikitpun. Keduanya hanya sama-sama memiliki bunyi "i" pada pelafalan nama mereka.

Namang langsung ke Tamang kandung merupakan hal yang langka. Namun tetap saja ada. Misalnya pada Midi. Sekarang pun, Anak ketiga Midi yang perempuan diberi nama Dhiya Shadrina (artinya: penerang hati kita), Namang kepada Tahaya. Tahaya adalah Mak (ibu) kandung Midi, yang berarti Tamang kandung bagi Dhiya.

Setelah ditamangkan, biasanya orang yang ditamangkan, istri atau suaminya, juga anak-anaknya merasa bahwa anak yang baru lahir itu adalah bagian dari keluarga inti (keluarga batih) mereka sendiri. Si Tamang dari hasil Namang ini kadangkala memiliki rasa kasing sayang yang lebih daripada Tamang kandung si anak itu sendiri. Jika memiliki harta (materi), si anak yang baru lahir ini akan mendapat "fasilitas" hidup yang baik dari "Tamang baru" beserta keluarganya itu.

Adat "Namang" ini hanya terdapat pada orang Kaur Asli, yakni mereka yang berbahasa Kaur/Bintuhan. Secara geografis, letak tempat tinggalnya mulai dari paling Utara adalah daerah Nusuk, Hawat Mate, atau daerah Kinal, yang berbatasan dengan Kecamatan Kaur Utara (yang lebih dikenal dengan Padang Guci) hingga daerah Way Hawang, daerah paling ujung Selatan, yang merupakan wilayah perbatasan Propinsi Bengkulu dengan propinsi Lampung.

Keterangan:
Foto "Tunggu(k)an" berasal dari blog Vibriyanti. Tunggu(k)an adalah kayu bakar dalam bahasa Kaur. Seperti tampak pada foto, dikumpulkan untuk kemudian di bawa ke dapur guna memasak.

Read More......

Teh Tawar dari Bogor

Peristiwa ini terjadi pada Kamis malam, akhir bulan lalu. Pengajian rutin pekanan bapak-bapak di lingkungan tempat tinggal kami saat itu berlangsung di rumah tinggal saya. Menjadi kesepakatan bersama, kegiatan ini berlangsung selepas shalat Isya di rumah orang yang bersedia menjadi tempat kegiatan. Setiap akhir pengajian setiap orang boleh mengajukan diri untuk menjadi tuan rumah pengajian pada pekan berikutnya. Cara pengajiannya sendiri, berupa membaca Al-Quran (biasanya satu halaman) secara bergantian, sementara yang lain menyimak dan mengoreksi kalau ada cara membaca yang salah. Setiap orang mendapat giliran untuk membaca ayat-ayat yang sama. Setelah itu dilanjutkan dengan pembacaan arti, dan diakhiri dengan berdiskusi. Jeda sebelum berdiskusi selalu diselingi dengan makan bersama atau sekedar menikmati hidangan yang disediakan oleh tuan rumah. Inilah salah satu kegiatan saya untuk mengeratkan hubungan dengan tetangga dan lingkungan sekitar.

Sudah sekitar 2 bulan terakhir saya tidak mengajukan diri menjadi tuan rumah. Saya memang jarang mengajukan diri, sebab sehari-hari saya tiba di rumah paling cepat pukul 20.00 WIB, dan bahkan bisa lebih malam. Akibatnya, pengajian di rumah bapak-bapak yang lain pun biasanya saya datang paling akhir, meski masih ada beberapa orang lain yang belum mendapat giliran untuk membaca Al Qurán. Karena tak enak sudah lama tidak menjadi tuan rumah itu, sekaligus ingin menjamu tetangga, maka pekan itu saya menjadi tuan rumah kegiatan rutin kami ini.

Secara kebetulan, kamis malam itu istri saya diminta untuk mengajar privat. Seharusnya jadwal mengajarnya adalah pada Jumat malam. Namun karena muridnya pada hari Jumat akan keluar kota, maka jadwal belajar dimajukan sehari. Akhirnya istri saya tidak bisa membantu saya menyiapkan makan malam untuk teman-teman pengajian. Istri saya adalah seorang guru bahasa Arab dan Islam pada sebuah sekolah swasta di pinggir timur Jakarta Timur. Ia pandai berbahasa Arab karena latar belakang pendidikannya memang sastera Arab, serta sempat bersekolah di pondok pesantren sejak selepas sekolah dasar.

Malam itu, ibu saya yang kebetulan sedang di rumah dan juga (Teteh) Norma--pengasuh anak kami yang baru beberapa hari menjadi anggota keluarga kami--menyiapkan sajian untuk tamu-tamu kami. Norma berasal dari Pasir Muncang, Kabupaten Bogor. Desa asalnya tidak seberapa jauh dari Ciawi. Usai shalat Isya tamu-tamu kami belum ada yang datang, Norma saya mintai tolong membuatkan teh. Ia siapkan teh itu dalam sebuah teko hingga hampir penuh.

Sejak Maghrib hujan sempat turun meski hanya gerimis. Saya cukup khawatir kalau-kalau hanya sedikit yang bisa hadir. Pada waktu sebelumnya dimana rumah kami menjadi tempat pengajian, hujan turun sangat lebat sedari sore. Akibatnya yang hadir hanya beberapa orang saja. Alhamdulillah, pukul 20.00 WIB sudah mulai berdatangan satu persatu tamu yang kami tunggu. Sekitar 15 menit kemudian pengajian pun dimulai.

Usai membaca Al Quran, minuman dan makanan alakadarnya dihidangkan. Saya tidak begitu suka minuman yang manis. Entah mengapa, sejak kecil saya selalu mengalami sariawan di bibir atau di lidah kalau sudah minum teh manis. Hal ini menurun dari Bapak saya yang juga mengalami hal demikian setelah menikmati minuman yang manis. Itulah sebabnya Bapak selalu minum kopi pahit, dan saya sendiri terbiasa dengan minuman teh tawar atau air putih hangat. Usai pengajian, semua orang pulang ke rumah masing-masing. Saya baru menyadari kalau segelas teh yang tersisa dan lalu saya cicipi, ternyata terasa tawar. Istri saya yang beberapa waktu sebelum pengajian ditutup telah tiba di rumah tersenyum ketika mengetahui teh tidak diberi gula. Saya yang bertanya pada Norma perihal teh tawar itu. Ia sendiri kaget, "Emangnya teh harus dikasih gula". Barulah saya menyadari Norma asli lahir dan besar di Bogor. Di tempat tinggalnya, teh menjadi minuman utama di rumah, namun selalu tanpa gula. Itulah kebiasaan orang Sunda sejak lama.

Saya teringat pada 1997 lalu, ketika saya pertama kali menginjakkan kaki di Bogor. Saya mengalami kekagetan ketika menyeruput teh yang rasanya tawar. Kakak saya yang sejak 1993 kuliah dan menetap di Bogor pernah bercerita kalau orang di sana terbiasa meminum air teh tanpa pemanis. Kejadian malam itu mengingatkan saya ketika masih kecil. Di desa kelahiran saya yang saat itu merupakan penghasil cengkeh, masyarakat terbiasa meminum air putih dari dalam ceret yang air minum itu telah diberi beberapa biji cengkeh. Aroma harum cengkeh, seperti aroma teh yang disiapkan norma malam itu, memberikan kenikmatan lain pada minuman.

Catatan: gambar pinjam dari sini.

Read More......

Filosofi Hidup Orang Bengkulu

Orang Bengkulu asli, terutama di kota Bengkulu, memiliki filosopi hidup yang unik. Sederhana tapi juga menarik, serta mengandung pandangan hidup yang dalam. Beginilah bunyinya:

Ikan sejerek
Bere secupak
Rokok Gudang Garam sebatang

Madar...

Ikan sejerekmaksudnya adalah ikan hasil tangkapan (biasanya memancing di sungai, rawa, atau di laut), diikat dengan tali wi (rotan) yang masih kecil (seukuran lidi kelapa). Ikan pertama diikat dengan salah satu ujung wi dari lubang insang dan keluar dari mulutnya. Ikan-ikan lainnya disusun dengan cara memasukkan ujung wi satu lagi dari lubang insang menembus ke mulutnya. Lalu sejerek ikan itu terlihat susunan ikan yang dibawa dengan seutas tali wi. Jerek ini sebenarnya tidak hanya menggunakan wi, namun bisa juga dengan sebuah lidinau (aren), dahan kecil semak-semak yang ditemui atau lainnya yang bisa menjerek ikan.


Bere adalah beras. Huruf epertama diucapkan seperti melafazkan kata "belajar" atau "senjata". Huruf ekedua berbunyi seperti kita mengucapkan kata "ekologi" atau "pepes".

Cupak adalah ukuran yang setara dengan satu setengah liter. Secupak berarti satu setengah liter.

Dahulu, Gudang Garam merupakan salah satu merek dagang rokok yang diakrabi oleh kelompok masyarakat yang perokok. Untuk itulah ia menjadi salah satu merek yang diinginkan untuk dinikmati oleh kelompok masyarakat itu.

Madarberarti istirahat. Dalam bahasa Kaur atau Bintuhan berarti tulik. Atau tidur. Tapi madarini memiliki makna beristirahat, melepas lelah, namun betul-betul melepaskan beban hidup setelah seharian menjalani dan menikmati.

Bagi saya, filosopi hidup ini menggambarkan kesederhanaan orang Bengkulu dalam menjalani hidup. Hidup selalu mengambil segala sesuatu dari alam secukupnya, tidak melebihi dari ukuran yang menjadi kebutuhan. Ikan sejerek menggambarkan orang mengambil kekayaan alam berupa ikan hanya sekedar untuk makan sekeluarga. Sejerek ikan jamak hanya sekitar lima sampai belasan ikan ukuran sedang (tak lebih besar dari telapak tangan orang dewasa).

Untuk ukuran keluarga batih, bere secupak cukup untuk makan dua tiga hari. Maka bere sebanyak itu cukuplah untuk menjalani hidup.

Bagi perokok, makna sebatang rokok bisa merupakan ungkapan bahwa dengan hanya merokok sebatang dalam sehari sudah terasa cukup. Tidak perlu menjadi perokok berat yang menghabiskan tidak kurang dari satu bungkus setiap harinya.

Setelah mendapatkan ikan sejerek, bere secupak, dan sebatang rokok, rasanya sudah cukup pencarian rezeki hari ini. Sehingga, selanjutnya adalah madar, beristirahat, atau memanfaatkan waktu untuk bercengkrama dengan orang di sekelilingnya.

Betapa sederhananya hidup. Tidak perlu ngotot bekerja membanting tulang mati-matian serta mengeksploitasi kekayaan alam tanpa henti dan tanpa hati nurani, namun demikian hidup ini bisa begitu indah dijalani. Apa yang diperoleh segera dinikmati. Jika memang ada lebihnya, maka itu bisa disimpan untuk beberapa hari kedepan. Dengan demikian pengelolaan penghasilan juga ada, memisahkan yang untuk dinikmati hari ini serta ada pula yang perlu disimpan (saving ). Tidak ada perilaku eksploitatif di dalamnya. Tidak pula ada keserakahan. Sangat sederhana bukan?

Mungkin sebagian besar orang akan menilai orang Bengkulu yang masih memegang filosofi hidup di atas adalah manusia-manusia primitif. Bertentangan dengan kehidupan orang moderen yang serba akumulatif dalam pencapaian (terutama dalam materi), selalu memacu percepatan, serta habiskan yang ada kalau perlu sampai tandas. Persaingan adalah satu sumber energi yang luar biasa dalam upaya memperoleh sebanyak-banyaknya. Tidak peduli kanan kiri, yang ada hanya memikirkan diri sendiri. Tak ada waktu untuk membangun relasi secara lebih intim, yang ada adalah relasi kepentingan dimana orang selalu politis dalam mengembangkan pergaulan terutama untuk kepentingan ekonomi.

Wajar saja ketika angka tekanan hidup (stres) masyarakat yang disebut moderen jauh lebih tinggi daripada mereka yang dinilai berada pada arah pendulum mendekati primitif. Masyarakat moderen terasosiasikan pada kota dan masyarakat primitif terasosiasikan pada masyarakat desa. Sayangnya,keserakahan orang kota dan moderen itu telah menimbulkan dampak buruk pula pada masyarakat primitif dan desa. Pembangunan vila-vila di pegunungan telah menyebabkan banjir dan longsor, kebijakan menekan harga beras di pasaran untuk orang kota telah menyebabkan petani tak mampu memetik keuntungan bertani karena harga produksi lebih tinggi daripada harga jual, ataupun gaya hidup orang kota yang dipaksa ditiru oleh orang-orang desa lewat tayangan-tayangan televisi yang menyerbu dari ruang-ruang keluarga.

Ah... filosofi hidup itu, masih adakah yang kukuh teguh menjalankannya?


Keterangan:
Orang Bengkulu kota, terutama di pesisir pantai, mengucapkan hurup r dengan sumber suara dari pangkal tenggorokan. Orang-orang di sini menyebutnya r berkarat. Untuk lebih jelasnya, silahkan unduh (download) file contoh lafalnya disini.

Read More......

Satuan Ukur Orang Bengkulu

Saat ini, di Aya' Langkap, Kabupaten Kaur, masyarakat sedang memanen padi. Saya teringat orang Bengkulu memiliki satuan tersendiri dalam mengukur jumlah padi/gabah dan beras hasil panen. Sebenarnya tidak hanya itu, satuan ini juga dipakai untuk mengukur ketan, cengkeh, kacang hijau dan lainnya. Satuan itu adalah:

  1. Canting
  2. Cupak
  3. Kulak
  4. Kaleng


Cantingadalah ukuran yang dipakai dengan menggunakan alat berupa kaleng susu kental Indo***k atau susu B*nd**a yang paling kecil. Setelah susu kental di dalamnya habis, lalu kaleng dicuci bersih serta kertas yang menjadi kulit tempat merek dagang beserta keterangan lainnya itu dilepas. Akhirnya, ia menjadi sebuah canting, berupa kaleng kecil berwarna putih dimana salah satu tutup kaleng (berbentuk lingkaran) yang semula dilubangi untuk menuang susu telah dilepas bersih.

Satu Cupaksetara dengan satu setengah liter. Ukuran satu Kulak sama dengan dua Cupak. Alat yang digunakan untuk mengukur Cupak sama seperti Liter yang kita dapati di kios atau pasar yang menjual beras, ketan ataupun kacang hijau di berbagai daerah di Indonesia. Alat ukur Kulakdua kali lebih besar dengan liter. Kedua alat ukur ini biasanya terbuat dari logam besi.

Kalengmerupakan alat ukur yang menggunakan kaleng cat kapur. Di dusun-dusun beberapa daerah di Indonesia cat kapur merupakan cat murah untuk memutihkan pagar-pagar dari bilah bambu atau tembok-tembok. Kaleng ini menjadi alat ukur sendiri bagi orang Bengkulu.

Perbandingan dari alat-alat ukur itu adalah sebagai berikut:

1 canting
1 cupak = 6 canting
1 kulak = 2 cupak = 12 canting
1 kaleng = 5 kulak = 10 cupak = 60 canting

Kemarin saya mengonfirmasi ukuran-ukuran di atas pada saudara saya Amrul Hamidi di Bengkulu. Terus terang saya belum membuktikan sendiri ukuran-ukuran ini apakah sesuai dengan perbandingan di atas. Namun sejak kecil saya akrab dengan satuan-satuan ukur itu. Anda sedang di Bengkulu? Setelah membaca artikel ini, tidak ada salahnya Anda membuktikan sendiri kebenaran perbandingan ukuran-ukuran itu.

Read More......

Acara pesta blogger 2007, ajang berkumpul blogger Indonesia berlangsung juga kemarin. Saya salah satu pesertanya. Sejak mula saya sudah berharap dapat teman baru, jumpa blogger-blogger yang selama ini hanya bisa membaca tulisan-tulisan mereka, serta berbagi pengalaman. Semuanya jadi kenyataan.



Usai melakukan registrasi ulang di meja panitia, saya berkenalan dengan Dhan, blogger yang juga nge-blog di blogspot seperti saya. Ia bekerja di bagian IT Telkomsel dan berkantor di daerah Kuningan. Sejak sesi pertama hingga selesai, teman baru asal Malang ini dengan senang hati menyertai saya sepanjang acara. Tidak seperti blogger lain yang datang bersama dengan teman-teman dari satu komunitas blog atau blogger yang telah terlebih dahulu membuat janji ketemu di acara ini, saya dan Dhan adalah bagian dari blogger yang datang sendiri, hanya berbekal keyakinan bakal mendapat teman ngobrol setelah berada di tempat acara.


Saat menunggu acara dimulai, saya juga sempat berkenalan dengan Agung Firdaus dan beberapa lainnya. Begitu juga saat makan siang, saya dan Dhana makan bersama dengan Sukri Sulaiman dan Nawir dari Komunitas Blogger Makassar "Angingmammiri", juga dengan Abdul Kadir dari Bandung dan seorang wartawan majalah Trust yang sedang meliput acara. Perkenalan dengan mereka, juga beberapa lainnya yang saya lupa nama-namanya, berawal dari senyum dan sapa ramah sesama blogger Indonesia. Sungguh keramahan semacam ini yang saya rindukan dan jarang saya dapatkan setelah 3 tahun tinggal di Jakarta ini. Identitas sebagai blogger ternyata menumbuhkan rasa kebersamaan dan melahirkan sikap hangat pada siapa saja yang ditemui.

Saya bertemu dengan Andreas Harsono, seorang jurnalis yang sampai saat ini masih memimpin Pantau, dulu merupakan majalah Jurnalisme Sastrawi yang luar biasa bagus isinya. Saya menyukai tulisan-tulisan Andreas. Blog Andreas adalah salah satu blog yang sering saya kunjungi, bahkan mendapatkan penghargaan dari Maverick, sebuah perusahaan public relations di Jakarta, sebagai blogger-wartawan pilihan mereka tahun 2007. Andreas mengajukan satu pertanyaan bagus: Hal apa yang belum sempat terpikirkan para blogger yang hadir di pertemuan ini, yang akan menyadarkan mereka bahwa sesungguhnya kebebasan nge-blog bukanlah berarti bebas sebebasnya dalam berekspresi?

Saat acara diskusi penutup, saya melihat Satrio Arismunandar di layar besar karena tersorot kamera panitia. Sebenarnya saya ingin berkenalan dan ngobrol langsung dengannya. Dia adalah anggota yang aktif di milis Jurnalisme yang juga saya ikuti.

Usai makan siang, ada diskusi kelompok sesuai dengan kategori yang dibuat oleh panitia. Diskusi ini terbagai dalam Women's Issues, Blog Teknologi, Blog Personal, Blog Selebiti, Current Issues, dan Bridge Blogging. Setiap peserta bergabung pada kelompok diskusi yang mereka minati.

Saya bergabung dalam kelompok yang mendiskusikan blog personal. Blog yang saya miliki saya nilai sebagai blog pribadi yang berisi tulisan-tulisan mengenai hal-hal yang sedang melintas dalam pikiran saya. Pandangan saya ini ternyata sama dengan beberapa teman yang memutuskan untuk bergabung dalam kelompok diskusi ini. Pengalaman beberapa peserta begitu menarik untuk saya.

Anjar Priandoyo, salah satu pemandu diskusi kelompok bercerita tentang tulisanya yang bersifat pribadi namun ada yang sempat membuat heboh teman-teman sekerjanya. Pasalnya, Priandoyo yang seorang auditor ini bercerita tentang istrinya yang mengalami keguguran kandungan. Saat diskusi, istrinya juga hadir dalam kondisi hamil setelah keguguran itu. Semoga kandungan kali ini sehat dan buah hati mereka lahir dalam kondisi sehat.

Pemandu diskusi lainnya, Nila Tanzil. Ia bercerita bagaimana tulisan di blognya membuat berang Pemerintah Malaysia, hanya karena kritiknya pada kinerja lembaga di negeri tetangga itu dinilai membuat buruk wajah negara tetangga itu. Majalah the Star, salah satu leading media di sana memuat kritik Nila hingga ia kemudian dipecat dari status presenter salah satu stasiun TV di sana. Tak hanya itu, Menteri Pariwisata Malaysia mengatakan kebanyakan blogger adalah pembohong, dan blogger perempuan adalah mereka yang tidak bekerja. Nila mendapat banyak dukungan moril dari blogger-blogger Indonesia, bahkan dari Malaysia sendiri. Ia merasakan betul bagaimana dukungan itu begitu menguatkannya dan membuatnya merasa tidak perlu takut untuk menyuarakan kritik, asalkan itu merupakan kebenaran faktual. Tulisan-tulisannya di blog dilirik dan dinilai menarik oleh salah media luar negeri hingga ia mendapatkan pekerjaan baru sebagai kontributor media tersebut.

Dari Batam ada Meity. Kantor tempat ia bekerja mendapatkan pengalaman buruk dengan layanan Telkom. Keluhan-keluhan sudah ia sampaikan namun tidak mendapat tanggapan yang baik dari Telkom. Karena kesal, ia pun menulis di blognya. Di tulisan itu ia menceritakan pengalaman buruk dengan pelayanan Telkom. Dampaknya, Telkom lalu merespon dengan menindaklanjuti apa yang menjadi keluhan Meity. Di lain waktu, ketika ia menelepon ke Telkom dan pegawainya mengetahui itu Meity, makan respon yang diberikan begitu cepatnya. Tulisan Meity yang lain, berupa banyaknya jalan raya yang berlubang yang tidak juga diperbaiki juga ditanggapi oleh Pemerintah Daerah setempat. Hanya dalam hitungan hari, jalanan yang rusak diperbaiki.

Amril bercerita mengenai isi blognya menjadi sinetron dan buku. Tak hanya itu, tulisan mengenai pengalaman 13 tahun pernikahannya belum juga dikaruniai anak telah mendamaikan orang yang akan bercerai. Salah satu pembaca blognya membaca kisah Amril yang baru mendapatkan anak setelah 13 tahun. Si pembaca memberikan tulisan itu kepada saudaranya yang putus asa setelah 8 tahun usia pernikahan, mereka tidak kunjung dikarunia anak. Mereka akhirnya menyadari bahwa perihal satu ini adalah urusan Sang Maha Kuasa.

Kisoratun mengelola blog Peduli. Blog ini merupakan media yang dipakai untuk menumbuhkan kepedulian pembacanya pada korban musibah seperti gempa dan tsunami. Melalui media blog ini, berhasil terkumpul dana tidak kurang dari 1 Milyar. Ia senang bisa menyalurkan dana tersebut untuk mereka yang membutuhkan.

Sama dengan Amril, tulisan-tulisan Ira Lathief menarik penerbit dari Yogyakarta untuk menjadikannya sebuah buku. Ira pernah bekerja sebagai wartawan untuk acara infotainment.

Rovicky, yang mengkhususkan blognya untuk topik geologi serta kalau tidak salah ingat ia bekerja di Malaysia. Ia mengingatkan teman-teman blogger lainnya untuk memfokuskan isi blog, serta melengkapi tulisan dengan data-data yang akurat. Tulisan yang fokus pada topik tertentu menarik pembaca yang menyukai atau mencari informasi mengenai topik tersebut. Data-data diperlukan untuk menunjukkan apa yang ditulis merupakan fakta yang jelas-jelas ada dan seperti yang ditulis oleh Meity, hal tersebut bisa ditindaklanjuti oleh lembaga terkait.

Berkaitan dengan fokus isi blog, Ira dari Komunitas Blogger "Angingmammiri" Makassar bercerita tentang kesenangan travelling yang ia lakukan dan ia tulis di blog. Karena tulisan-tulisannya itu, ia pernah dikontak oleh pembaca blognya dan dimita untuk menjadi pemandu traveller yang ingin mengunjungi daerah atau negara tertentu.

Budi Putra dalam diskusi pembuka yang dipandu pemilik blog Perspektif Baru, Wimar Witoelar, mengatakan yang harus betul-betul diperhatikan pada blog adalah isinya (contents). Meski tampilan dibuat semenarik mungkin, namun tetaplah pembaca blog menginginkan membaca isi blognya. Kalau isinya menarik maka pembaca akan selalu mengunjungi blog tersebut.

Dari diskusi kelompok mengenai blog pribadi, ternyata suara-suara yang termuat di blog-blog itu tidak bisa dianggap remeh. Kritik atau masukan belum tentu dimuat di media massa konvensional. Di blog dan melalui blog, kritik itu bisa sangat berpengaruh dan menjadi didengarkan. Di masa mendatang, blog pastilah akan menjadi kontrol sosial yang tidak bisa dianggap remeh. Di situlah ada suara masyarakat, yang mau tidak mau memang harus didengar meski dari sebuah weblog.

Saat memberikan sambutan pada sesi pembukaan, Menkominfo, Mohammad Nuh, resmi mengumumkan tanggal berlangsungnya acara bertajuk "Suara Baru Indonesia" ini dijadikan sabagai Hari Blogger Nasional. Jadi, 27 Oktober 2007 adalah hari blogger Indonesia.

Read More......