BUKA dan Pentingnya Kepemimpinan Perempuan Buruh
Posted by Herman Labels: Kehidupan, Opini, Renungan, SosialSaat makan siang tadi saya ngobrol dengan seorang teman seorang relawan dari Australia yang ada di kantor tempat saya bekerja. Bron, begitu ia biasa dipanggil, berasal dari Melbourne dan sudah tinggal di beberapa negara lain sebelum ia menjadi relawan di sini. Sebelumnya ia sempat berkeliling Indonesia untuk mengenali kehidupan di negeri ini, termasuk ke Bengkulu dimana saya lahir dan besar.
Menilai fenomena korupsi di Indonesia, Bron berpendapat hal itu dapat disebabkan karena kesenjangan yang terlalu besar (huge gap) antara orang kaya dan orang miskin. Satu contoh saja, jika di sebuah pemukiman yang rumah-rumah berdekatan satu sama lain, maka akan lebih baik kalau rumah itu ukurannya sama dan tidak ada banyak perbedaan.
"Kalau punya rumah, saya akan melihat rumah orang lain. Jangan sampai rumah saya lebih besar dari rumah orang di sekitar. Kalau sampai berbeda, saya akan merasa tidak nyaman."
Pendapat Bron dan pengalamannya tentang "ukuran" rumah ini tentu jauh berbeda dengan kehidupan orang Indonesia kebanyakan akhir-akhir ini. Jika melihat rumah orang lain lebih besar, maka tetangganya akan berusaha membuat rumahnya juga berukuran besar, bahkan kalau dapat dibuat jauh lebih besar dibanding yang lainnya. Tentulah ini berkaitan erat dengan status sosial ekonomi masing-masing orang. Hasrat untuk lebih dari orang lain memacu seseorang untuk berusaha sedapat mungkin punya harta lebih banyak. Entah dengan cara yang baik seperti bekerja lebih keras, lebih banyak, lebih lama, ataupun dengan cara yang membuat negeri ini justru tambah parah tingkat korupsinya.
"Itulah sebabnya saya suka sistem komunis," kata Bron menambahkan dengan tertawa.
Bron melihat di dalam sistem komunis, kesenjangan antara si miskin dan si kaya tak terlihat. Dan karena itu pula ia lebih baik dibanding dengan sistem yang ada seperti di Indonesia.
Masyarakat Indonesia sekarang lebih sering menghargai orang lain karena pemilikan harta-benda. Sudah tak begitu hirau apakah mereka memperolehnya dari kerja keras ataukah dari menyiasati pencurian uang Negara.
Untuk menciptakan kondisi dimana jurang itu tak terlalu besar, ketimpangan sosial-ekonomi tak melahirkan kecemburuan, dan pembangunan lebih terlihat ada pemerataan, maka sudah semestinya pemerintah mengeluarkan kebijakan yang tepat. Bukan membiarkan setiap orang berlomba tanpa batasan, sikut kiri-kanan, dan pada akhirnya menjadi srigala bagi orang lain. Siapa kuat maka dia menang. Siapa lemah, maka mohon maaf, Anda tak layak hidup di tanah air Indonesia.
Catatan: gambar ilustrasi bersumber dari sini. Read More......
Persatuan Warga Kaur (PWK) Palembang dan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) mengajak adik sanak warga Kaur di perantauan untuk mudik bersama ke Kaur dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri 1434H.
Hari Minggu, 11 Agustus 2013 pukul 09.00 Wib atau reraye ke-4 akan ada kumpul-kumpul di Gedung Pendopo TM BINEKA desa Sekunyit Bintuhan. Pukul 19.00 Wib malam hari, akan ada pagelaran kesenian Kaur.
Mari balik ke Kaur. Kita bersilaturrahim sekaligus merayakan Idul Fitri tahun ini di Kaur.
Informasi ini disampaikan oleh Pak Son Iswandy dari PWK Palembang. Informasi lebih lanjut dapat menghubungi beliau di no telepon genggam 0812 782 0344.
Peristiwa ini terjadi tahun 2000 lalu. Ceritanya saya bersama-teman tim pembawa bantuan dari Surat Kabar Kedaulatan Rakyat Yogyakarta membawa sumbangan warga Yogya untuk korban gempa bumi di Bengkulu. Sebagai orang Bengkulu, saya bersama teman-teman dari Bengkulu dipercaya untuk menjadi tim lapangan untuk memastikan semua bantuan tersalurkan ke masyarakat di banyak tempat. Maklum, gempa besar dengan kekuatan 7,3 SR saat itu mengundang banyak pihak untuk memberikan bantuan untuk menolong warga. Kalau asal-asalan, akan ada warga yang menerima bantuan berlimpah sementara tak sedikit mereka yang justru kekurangan bantuan.
Di sela-sela waktu bertugas itu, saya pulang ke rumah orang tua. Saya sembahyang dzuhur di rumah. Sajadah saya bentangkan di ruang belakang. Setelah selesai, rupanya ibunda memperhatikan saya.
"Menghadapnya kok kesana?" tanya ibu.
Saya kaget.
"Seharusnye kemane, Mak?" tanya saya dalam bahasa Kaur.
"Kesitu" kata ibu saya menunjuk ke arah depan rumah.
Tadi saya sembahyang menghadap ke arah kanan rumah. Akhirnya saya sadar kalau tadi saya bersembahyang ke arah Utara. Dengan posisi pulau Sumatera yang berada di bagian Timur kalau dari Tanah Suci Mekkah, seharusnya saya memang menghadap ke arah Barat. Setalah tiga tahun merantau ke Yogya, saya lupa arah kiblat ketika berada di rumah orang tua di sini.
Menurut penjelasan seorang saudara saya yang lulusan Pondok Pesantren Gontor, secara bahasa, kiblat (qiblatun/qiblah) adalah nomina (mashdar) berarti hadapan/tempat menghadap. Ia berakar dari verba qabila yang berarti menghadap.
"Secara khusus (Islam), Kiblat adalah tempat (baca:arah) kepada mana kaum muslimin menghadapkan wajahnya ketika shalat. Sebelum turunnya surat al-Baqarah: 144, Kiblat kaum muslimin adalah Masjidil Aqsha. Setelah turunnya ayat tersebut: berubah ke Masjidil Haram."
Kiblat adalah arah shalat (orang Melayu menyebutnya "sembahyang") yang menuju satu titik yakni Masjidil Haram yang ada di Mekkah. Semua ummat Islam yang melaksanakan Rukun Islam kedua tersebut mengarah kesana. Karena dari posisi Indonesia Kiblat itu adanya di sebelah barat--meski sesungguhnya juga agak ke barat laut sedikit, makanya orang di sini lebih sering menyebut Barat untuk menunjuk ke kiblat saat sembahyang.
Selain arah menghadap saat sembahyang, kiblat juga merupakah arah kepala hewan yang disembeliih dan arah kepala jenazah ketika dimakamkan. Informasi sederhana tentang kiblat ini dapat diperoleh di tautan ini.
Seorang teman yang baru pulang dari sekolah master di Belanda dua tahun lalu bercerita. Teman-temannya dari Suriname di Belanda melakukan sembahyang menghadap ke arah Barat. Ketika ditanya kenapa demikian, mereka menjawab singkat, "Karena dari nenek moyang kami dulu kalau melaksanakan shalat kiblatnya ke arah Barat." Padahal posisi Ka'bah jika di negeri Kincir Angin itu mestinya ke arah Timur.
Kisah teman di Belanda tadi saya ceritakan ke teman-teman saya di Alimat di dalam satu pertemuan. Mereka pun sudah mendapatkan kisah yang sama dari pengalaman berinteraksi dengan orang Suriname. Mereka yang berada di Suriname merupakan keturunan orang-orang Jawa masa penjajaha Belanda. Mereka di bawa ke negeri itu sebagai tenaga budak dan akhirnya beranak pinak di sana. Karena orang Jawa zaman dulu menghadap ke Barat saat shalat, akhirnya anak cucunya ikut demikian. Aneh, tetapi itulah kenyataan.
Saat saya ditegur ibunda usai melaksanakan sembahyang di Bengkulu 13 tahun lalu itu, saya hanya tersenyum-senyum saja. Sembahyangnya tetap sah dalam ajaran Islama. Pertama karena itu dilakukan tanpa sengaja dan karena ketidaktahuan. Kesalahan demikian selalu mendapatkan pengampunan dari Allah SWT. Kedua, di dalam ajaran Islam, kalau dalam kondisi arah Kiblat tak diketahui, maka mereka yang sembahyang mengikuti keyakinannya arah mana Kiblat itu. Dan ibunda saya pun sangat memahami kondisi saya.
"Kemanapun kalian menghadap, di situlah 'Wajah' Allah" (QS. Al-Baqarah:115). Demikianlah yang diajarkan dalam Islam. Dan Allah pun ada dimana-mana.
Saya dan dua teman lainnya dari Jakarta mewawancarai beberapa tokoh masyarakat, termasuk Ketua Badan Musyawarah Adat (BMA) Kabupaten Seluma dan Kota Bengkulu. Selan itu, kami pun mengumpulkan beberapa dokumen tertulis mengenai adat istiadat yang berlaku di daerah bekas jajahan Inggris ini. Bertemulah kami dengan dua dokumen yang sangat berarti, Koempoelan Oendang - Oendang Adat Lembaga dari Sembilan Onderafdeelingen dalam Gewest Benkoelen dan Adat Kota Bengukulu. Buku pertama merupakan kumpulan Oendang - Oendang Adat di Kota Bengkulu, Seluma, Manna, Kaur, Kroe, Rejang, Lebong, Lais, Muko-Muko, Serta Undang-Undang Simboer Tjahaja Bangkahoeloe. Dokumen ini sangat berharga karena merupakan dokumen tertulis mengenai adat istiadat di daerah yang pernah menjadi bagian propinsi Sumatera Selatan ini. Sementara dokumen kedua berupa Peraturan Daerah Kota Bengkulu Nomor 29 tahun 2003 tentang Pemberlakuan Adat Kota Bengkulu. Sebenarnya dokumen terakhir sudah saya miliki sejak sekitar 3 tahun lalu atas kebaikan hati teman dekat saya yang bekerja di kantor Pemerintah Daerah Kota Bengkulu. Sayangnya buku ini terselip entah dimana diantara tumpukan buku yang masih belum rapih sejak kepindahan domisili saya dan keluarga setahun terkahir.
Dokumen pertama kami dapatkan dari Ketua BMA Kabupaten Seluma, Bapak Syamsir Ardi. Bapak yang biasa dipanggil pak Ujang ini kami temui di kediamannya di desa Talang Saling, Kecamatan Seluma, Kabupaten Talo. Beliau dengan senang hati mengizinkan kami memfotokopi buku yang ia miliki ini serta bercerita banyak hal tentang adat istiadat orang Serawai. Serawai adalah salat satu suku yang ada di Bengkulu yang mendiami daerah Seluma hingga daerah Manna yang dulunya merupakan satu kabupaten, yakni Kabupaten Bengkulu Selatan. Buku kedua kami fotokopi dari buku milik Ketua BMA Kota Bengkulu, Drs. H. S. Effendi, Ms.
Sebelum bertemu dengan Bang Effen—begitu ia biasa dipanggil—saya sempat berkomunikasi dengan Rendiawan, seorang teman kecil yang tinggal di desa Tanjung Jaya. Saya sampaikan kalau sedang mencari peraturan adat di Bengkulu. Tak disangka ia menginformasikan kalau Bang Effen ternyata adalah kakak dari teman kami masa sekolah dasar di desa itu.
Bang Effen memiliki rencana untuk menulis beberapa buku berkaitan dengan adat istiadat Bengkulu. Waktu ternyata sangatlah malah buatnya saat ini. Saya sendiri berharap ia segera menuliskannya sehingga semakin banyak adat istiadat orang Bengkulu yang terdokumentasikan, tertulis, dan dapat diwariskan ke generasi berikutnya.
Dua dokumen adat yang sudah saya dapatkan ini penting juga untuk dibaca oleh orang-orang Bengkulu supaya tahu adat istiadatnya. Saya mencoba mendokumentasikan hukum-hukum adat ini dan akan membuatnya dalam bentuk file PDF supaya bisa mengunggahnya di blog ini dan berbagi dengan sanak-sanak dari Bengkulu atau siapapun yang membutuhkan. Ada sekitar 265 halam untuk dokumen pertama, serta 147 halaman untuk dokumen kedua. Cukup membutuhkan waktu dan tenaga untuk memindainya. Semoga ada kesempatan dalam waktu dekat ini. Read More......
Pagi ini dalam perjalanan dari halte Matraman ke Halimun, saya mendapat posisi berdiri di pinggir pintu bis Transjakarta. Persis berhimpitan dengan saya ada perempuan tua (seorang nenek) yang berjilbab besar, berkacamata, dan ternyata di balik jubahnya tersembunyi tongkat yang ia pegang dengan erat. Ada juga ibu-ibu menggendong anak kecil.
Padat sekali penumpang bis ini sebagaimana biasanya. Petugas pun meminta ibu yang menggendong anaknya untuk masuk ke dalam supaya ada yang memberi tempat duduk baginya.
"Mohon pengertiannya ya, beri tempat duduk ibu yang menggendong anaknya...!" teriak petugas.
Sebenanya di bagian tengah, arah ke belakang, ada perempuan-perempuan muda yang duduk di kursi barisan sejajar dengan pintu masuk bis. Tak satupun dari mereka memberikan tempat duduknya untuk ibu itu. Hingga akhirnya sang ibu pun menggendong anaknya ke arah belakang bis, barulah kemudian ada seorang penumpang perempuan yang memberikan tempat duduknya. Kebanyakan penumpang yang menduduki kursi adalah perempuan. Rata-rata masih muda, mungkin pekerja di bilangan Sudirman, Kuningan, dan sekitarnya. Tetapi, na'udzubillah, tak satu pun dari mereka yang tersentuh hatinya untuk memberikan tempat duduknya pada ibu yang menggendong anaknya tadi. Perempuan-perempuan muda ini, setidaknya yang terdekat dengan pintu, sibuk memainkan Blackberry di tangan mereka. Tak hanya petugas bis, saya pun merasa geram.
Duduk di barisan terdekat dengan pintu bis adalah seorang perempuan muda etnis Tionghoa. Di sebelahnya ada perempuan muda berjilbab. Tampak keduanya hendak berangkat ke tempat kerja masing-masing. Di kursi ketiga duduklah seorang perempuan belia bercelana pendek yang memamerkan paha, berkaos oblong dan aksesoris lainnya, serta berkacamata dengan bingkai agak kebesaran yang lagi trendi saat ini. Ketiganya asyik pada Blackberry-nya sendiri-sendiri. Terlihat mengidap autis dan tampak tidak peduli pada sekelilingnya.
Ketika bis sudah mendekati pertigaan jalan Proklamasi dan jalan Tambak yang menuju arah Manggarai, petugas melihat nenek-nenek di sebelahku sempoyongan dan berkeringat dingin. Aku baru menyadari kalau penumpang ini adalah seorang perempuan tua, sebab sebelumnya ia membelakangiku, menghadap ke arah dalam bis. Semula aku pun ingin mengingatkannya supaya menghadap ke arah depan sehingga ia bisa bersandar pada kaca bis yang membatasi pintu bis dan barisan tempat duduk yang ada di bagian dalamnya. Keringat dingin di dahinya semain terlihat jelas. Berdirinya pun agak susah. Petugas mengatakan pada nenek supaya ia duduk saja, petugas itu akan berusaha mencarikan tempat duduk untuknya.
Kali ini petugas sudah tidak lagi berteriak keras ke semua penumpang yang duduk di bagian tengah. Ia langsung menggamit penumpuan yang duduk di kursi paling dekat dengan pintu masuk bis. Perempuan Tionghoa itu pun kemudian tampak dengan berat hati mencari posisi berdiri di bis dan memberikan kursinya pada sang nenek.
Beginilah Jakarta, Kawan. Ketika kursi di bis diprioritaskan bagi perempuan hamil, orang tua dan penyandang cacat, ditambah lagi ruang bagian depan bis diperuntukan khusus bagi perempuan, sensitifitas di kalangan perempuan itu sendiri justru masih kurang. Sama saja halnya dengan penumpang laki-laki yang tak peduli pada penumpang lainnya. Rasa tidak peduli pada orang lain itu bisa hadir pada diri laki-laki dan perempuan. Sudah menjadi penyakit sosial. Penyakit ini tidak mengenal agama, etnis, maupun jenis kelamin. Semua orang bisa mengidapnya.
Pernah suatu waktu beberapa tahun lalu, saya naik bis kota dari arah Slipi menuju Cawang. Karena tak ada tempat duduk yang kosong, saya harus berdiri di lorong. Kiri-kanan adalah kursi-kursi yang berjajar bagi penumpang yang beruntung. Ketika salah seorang penumpang di samping saya berdiri meninggalkan kursinya untuk turun, saya tak langsung menduduki kursi tersebut, dengan harapan seorang perempuan yang juga berdiri tak jauh dari saya akan duduk disana. Tak disangka, penumpang laki-laki yang persis di sebelah saya langsung menempati kursi itu. Tak dilihatnya kalau saya berusaha meminta penumpang perempuan itu untuk duduk disitu. Sedihnya...
Dalam pengalaman memanfaatkan mode transportasi buruk di Jakarta lebih dari 7 tahun terakhir, ketidakpedulian pada sesama penumpang sudah menjadi pemandangan sehari-hari. Belakangan kehadiran ponsel pintar macam Blackberry memperlihatkan ketidakpedulian itu semakin meninggi. Padahal yang tampak di layar mereka sembilan puluh sembilan persen adalah facebook. Sebegitu pentingnyakah jejaring sosial yang didominasi warna biru itu dalam kehidupan mereka? Penumpang laki-laki atau perempuan sama saja mentalnya. Saya harus mengelus dada kalau melihat pemandangan ini. Di dalam hati saya hanya bisa berdoa semoga rasa peduli itu masih tetap tersisa di dalam diri ini.
Pagi-pagi buta aku dan teman-teman berangkat menuju Kampung Kenanga Ulu, Kelurahan Sungai Jingah, Kecamatan Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin. Di pinggiran sungai di dekat Museum Wasaka, sebuah museum mengenang perjuangan rakyat Banjarmasin melawan penjajah, telah menunggu perahu klotok yang kami sewa untuk ke Pasar Lok Baintan. Kami menyempatkan diri menunaikan sembahyang subuh di sebuah musholla di pinggir sungai. Mbak Nurhikmah yang mendampingi perjalanan kami selama di Kalimantan Selatan menyarankan untuk berangkat pagi-pagi sekali menuju Lok Baintan, sebab nanti tiba di sana pas betul ketika para pedagang mulai memenuhi lokasi dengan perahu-perahu (orang Banjar menyebutnya Jukung) berisi barang dagangan mereka. Hari itu tanggal 8 Mei 2011.
Pasar Terapung Lok Baintan terletak di desa Sungai Pinang (Lok Baintan), kecamatan Sungai Tabuk, Banjar. Selain di sini, ada satu lagi pasar terapung yang terletak di muara Sungai Kuin/Sungai Barito. Keduanya sama-sama pasar tradisional di atas jukung. Aktifitas jual-beli berlangsung tidak terlalu lama, hanya sekitar tiga hingga empat jam. Barang dagangan berupa hasil produksi pertanian/perkebunan, bahan makanan yang tak tahan lama seperti sayur-sayuran, buah-buahan, makanan tradisional atau kudapan dan kebutuhan dapur rumah tangga lainnya. pada pagi sekitar pukul 6 atau 7 mulai tampak di sepanjang pesisir aliran Sungai Martapura Lok Baintan konvoi perahu menuju lokasi pasar terapung. Mereka berasal dari berbagai anak Sungai Martapura, seperti Sungai Lenge, Sungai Bakung, Sungai Paku Alam, Sungai Saka Bunut, Sungai Madang, Sungai Tanifah, dan Sungai Lok Baintan.
Selain melihat aktivitas jual-beli di pasar terapung, sebenarnya kami ingin "ngobrol" tentang kehidupan masyarakat di sekitarnya dan juga mereka yang menjadi pedagang di pasar terapung yang terkenal itu. Untuk bisa ngobrol dan tidak membuat tersinggung para penjual, kami membeli barang dagangan mereka sehingga tak tampak kalau kami sedang menggali informasi.
Menurut Bu Fatimah, dosen Universitas Lambung Mangkurat yang pernah meneliti kehidupan perempuan pedagang di pasar terapung, kebanyakan pedagang kelas bawah memang berjualan makanan atau bahan makanan yang tak tahan lama. Harapannya setelah kembali dari Lok Baintan barang dagangan tersebut telah habis terjual. Jika tak habis, sebelum pulang ke rumah biasanya ibu-ibu pedagang akan membawa dagangannya masuk ke pemukiman warga yang tinggal di atas sungai untuk berjualan. Ibu-ibu pedagang ini adalah pencari nafkah keluarga yang tangguh. Kadang-kadang, para pedagang melakukan barter sayuran atau hasil bumi lainnya menjadi kebutuhan pokok. Jadi tak mesti dijual dengan uang, apalagi saat hari semakin siang dan barang dagangan belum habis.
Sepulang dari Lok Baintan kami menyusuri sungai untuk melakukan wawancara dengan beberapa warga. Lalu mampir di Warung Soto Banjar Bang Amat yang terletak di tepi Sungai Pengambangan (anak Sungai Martapura). Waktu di Surabaya Oktober 2010 lalu, aku dan seorang teman sempat mencicipi soto Banjar. Kupikir saat itu soto Banjar ini adalah soto yang berasal dari Banjarnegara, Jawa Tengah. Harus saya akui memang saya bukan orang yang gemar menghabiskan uang untuk mencicipi semua masakan nusantara yang sekarang orang menyebutnya sebagai wisata kuliner :).
Makan Soto Banjar, juga sate ayam, sembari mendengarkan musik tradisional orang Banjar yang disebut Panting. Panting berasal dari daerah Tapin, Kalimantan Selatan, merupakan alat musik yang dipetik yang berbentuk seperti gambus Arab tetapi ukurannya lebih kecil. Pada perkembangannya, Panting dimainkan dengan beberapa alat musik lainnya seperti babun, gong,dan biola sehingga pemainnya juga terdiri dari beberapa orang.
Setelah dari pasar terapung, kami ke Martapura, Banjar, untuk menemui dan mewawancarai tokoh masyarakat di sana. Salah satu yang kemi temui adalah Abah Anang, seorang Kyai (ulama Banjar) yang sangat berpengaruh. Karena kuatnya pengaruh Abah Anang di masyarakat Banjar, hampir semua calon Presiden bertandang padanya setiap kali musim pemilu di Indonesia. Bahkan Kapolri, Paglima TNI, dan pejabat lembaga-lembaga tinggi Negara hampir semuanya datang padanya. Kalau masyarakat kecil datang untuk berkonsultasi soal keislaman bahkan urusan dapur, kasur dan sumur, maka para pejabat datang padanya untuk minta didoakan supaya langgeng dan (ny)aman kursi kekuasaan mereka. :)
Di Martapura, saya dan teman-teman sempat mampir di Masjid Agung Al Karomah. Dari luar masjid ini tampak indah dan megah. Di dalamnya, usai sembahyang kami sempat leyeh-leyeh. Udara di dalam jelas terasa sejuk. Sementara cahaya matahari begitu menyengat di luar masjid.
Ini merupakan bagian dari perjalan saya di Kalimantan Selatan pada 4 - 13 Mei 2011.
Read More......
Beberapa malam lalu saya mencicipi ceramah menarik pada ibadah tarawih berjamaah di sebuah perumahan mewah di sebelah Timur Cibubur. Sebagaimana pada Ramadhan-Ramadhan sebelumnya, saya memang suka mengikuti ceramah tarawih di masjid ini karena isi ceramah yang biasanya memang bagus-bagus, tidak menggurui, dan menambah wawasan. Tak melulu ngomongin ibadah ritual, tetapi juga tentang kaitan agama dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, sosial dan kebudayaan masyarakat. Maklum, sejak kecil saya tidak pernah nyantri selain pesantren kilat waktu masih siswa SMA di Bengkulu sana. Juga, pengetahuan agama saya teramat sedikit.
Naik ke mimbar, ia memulai ceramah dengan cerita tentang taman surga bagi siapa saja yang memiliki amal kebaikan selama hidup di dunia. Ia mengingatkan kembali betapa sukanya manusia akan tempat yang disebut dengan taman. Di sebelah utara Jakarta terdapat Taman Impian Jaya Ancol. Lalu ada Taman Safari yang jauh di sebelah selatannya. Juga ada Taman Mekarsari di daerah Jonggol, kabupaten Bogor. Jika sudah meninggal pun orang maunya dimakamkan di sebuah taman, seperti yang terdapat di daerah Kalibata: Taman Makam Pahlawan.
Semua orang pastilah ingin berada di taman yang indah sebagai tempat peristirahatan terakhir. Meski ukurannya kecil, hanya satu kali dua meter saja, kalau suasananya seperti taman tentunya akan terasa nyaman. Tidak terasa lamanya menunggu hari akhir (akhirat) datang. Pada intinya, amal kebaikan yang kita lakukan selama di dunia ini yang akan menentukan apakah kuburan kita nanti akan seperti taman yang indah atau malah gelap gulita dan menyeramkan :)
Di akhirat nantinya kita maunya masuk ke taman surga. Taman Firdaus adalah surga dengan tingkatan paling atas, tempatnya orang-orang yang seluruh hidupnya di dunia hanya diisi dengan amal kebaikan.
Itulah lebih kurang cerita ustadz itu tentang taman.
Lalu, penceramah yang membuat saya jatuh hati ini kemudian bertanya pada jamaah, "Anda mengharapkan siapa kira-kira pendamping hidup Anda kalau nanti masuk surga?" Pertanyaan itu itu kemudian diarahkan ke imam shalat Tarawih malam itu. Ia minta imam menjawab pertama kali. Lalu sang imam pun menjawabnya, "Bidadari..." Penceramah tersebut mengarahkan pertanyaan yang sama kepada semua jamaah laki-laki. Tentu jawabannya sama dengan sang imam.
Dengan nada sedikit meninggi, ustadz meminta imam beristighfar, memohon ampun kepada Allah SWT.
"Istighfar. Minta ampunlah kepada Allah karena ketika masuk surga ternyata pak imam lupa pada istri. Lupa pada anak-anaknya."
Kontan pernyataan ustadz ini membuat terperangah semua jamaah termasuk saya yang ada di barisan agak belakang ruang masjid yang besar itu. Ustadz juga meminta semua jamaah untuk beristighfar.
"Kalau pulang kerja, kita minta dibuatkan teh pada istri. Kalau capek minta dipijitin istri. Apa-apa minta disediakan istri. Giliran masuk surga, istrinya dilupakan."
Jamaah terdiam. Saya terkesima. Belum pernah saya mendengar sindiran yang tajam kepada jamaah muslim di masjid ini. Sindiran ini, meski disampaikan dengan cara sambil tertawa, terus terang sangat mengena.
"Dulu waktu kita masih kecil, masih ingat gak siapa yang nyebokin kita? Siapa? Ibu kita. Ayah kita. Lalu masuk surga pun kita lupa pada mereka."
Jamaah bertambah diam.
Tidak salah, semua orang selama ini membayangkan kehidupan di surga yang serba indah, serba nikmat, tak ada habisnya. Tapi tak pernah kita berpikir bahwa semua kenimatan itu akan dinikmati bersama orang-orang yang kita cintai selama di dunia, anak-istri kita, orang tua kita, tetangga-tetangga kita. Mereka semua orang-orang seperjuangan dengan kita saat menjalani kehidupan di dunia ini. Bahkan, jika memang memaknai Rahmatan lil 'alamin secara lebih luas, tentunya kita ingin semua orang di dunia ini berbuat kebaikan bersama kita sehingga kelak kebahagiaan di akhirat pun kita nikmati bersama-sama.
Tak ada lagi penderitaan. Tak ada lagi kemiskinan. Tak ada lagi luka lara. Semua bahagia di surga.
Seperti kata ustadz yang berceramah malam itu, akan lebih baik kalau kita berdoa agar masuk surga bersama-sama orang-orang yang kita cintai di dunia ini. Bidadari itu adalah simbol tentang kecantikan luar biasa makhluk-Nya. Tentu kita berharap bidadari itu kelak adalah ibu yang telah melahirkan dan mencurahkan kasih sayangnya pada kita sejak masih dalam kandungan, istri kita yang merasakan betul pahit getir mendampingi hidup kita, adik - kakak perempuan kita, dan semua perempuan yang telah mengamalkan seluruh hidupnya untuk berbuat kebaikan dan membuat dunia ini begitu nyaman bagi semua penghuninya.
Untuk sementara waktu, semua layanan SMS Content pada nomor seluler saya sudah dihentikan oleh operator Telkomsel segera ketika saya menelepon operatornya. Saya urung menghubungi BRTI. Semoga hal ini tidak lagi terulang. Terima kasih untuk Telkomsel yang sudah mau menanggapi keluhan pelanggan macam saya ini. Semoga dengan kasus ini perusahaan milik PT. Telkom ini juga mau belajar meningkatkan pelayanan serta tidak memberi kesempatan pada para pihak yang mengeruk keuntungan namun bisa membuat citra operator seluler menjadi buruk.
Read More......
Menerima PRT mulanya dari tetanggannya yang mencari pekerjaan dengan mendatangi bapaknya di Purworejo. Akhirnya PRT ini dibawa ke tempat tinggalnya di Batam sejak tahun 2007. Lalu kemudian berlanjut ketika ia dan keluarganya pindah ke Jakarta dan terakhir di Yogyakarta setahun terakhir.
Pekerjaan yang diberikan kepada PRT berupa bersih-bersih rumah, mencuci, dan memasak dan mengantarkan anak ke sekolah. Saat pertama kali di tahun 2007 ia menggaji PRT sejumlah 600 ribu rupiah. Lalu dinaikan hingga menjadi 800 ribu rupiah. Sebenarnya tidak ada pekerjaan yang diwajibkan untuk diselesaikan oleh PRT. Niken juga biasanya menyapu halaman serta membersihkan rumah. Jadi ia memberikan pekerjaan kerumahtanggaan secara fleksibel kepada PRTnya. Suasana kekeluargaan terus dijaga oleh Niken selaku orang tua tunggal dalam keluarga.
Sejak berpisah dengan suaminya kira-kira 6 bulan lalu, Niken bernegosiasi dengan PRT mengenai gaji. Niken menurunkan gaji PRTnya kerena ia merasa tidak mampu untuk membayar sebesar 800rb seperti sebelumnya. Ia menyanggupi 600 rb setiap bulannya. Lalu sejak 4 bulan lalu akhirnya ia kembali bernegosiasi tentang gaji PRTnya ini, sebab ia hanya mampu membayar 400 rb. Untuk ekonomi keluarga, sejak bercerai dengan suaminya Niken menghidupi 2 orang anaknya dari berjualan buku serta menulis cerpen dan novel serta tulisan-tulisan non fiksi yang ia cetak dan distribusikan sendiri maupun bekerjasama dengan pihak ketiga. Meski kesepekatan dengan PRT ia akan menggaji hanya 400rb, namun Niken biasanya membayarkan 500rb.
Semua kebutuhan PRT dipenenuhi oleh Niken. Tak ada perbedaan makan antara keluarga Niken dan PRTnya. Rumah kontrakan yang mereka tempati memiliki 3 kamar tidur. PRTnya sekamar dengan anak-anak Niken. Meski ada kamar sendiri, PRT biasa tidur dengan anak-anak karena akrabnya mereka. Pekerjaan rumah tangga seperti menyapu dan bersih-bersih rumah, Niken ikut melakukan, sehingga sebenarnya PRT lebih ringan pekerjaannya.
PRT Niken biasanya mengantar dan menjemput anak-anak ke sekolah sekitar 7km dari kediaman mereka. Ada sepeda motor yang biasa digunakan oleh PRTnya.
Satu hal yang pernah mengganggu Niken, PRTnya pernah dianggap membahayakan keselamatan mereka. Satu saat, ketika memboncengkan Niken dengan sepeda motor, di traffic light PRTnya asyik mengirimkan SMS. Ini mengganggu Niken. Karena sering terjadi, akhirnya Niken menegur. Bagi Niken, hal semacam itu lebih baik dikomunikasikan. Ia akan menegur PRT kalau ada hal yang dinilainya tidak baik. Mengenai SMS, di rumah tinggal pun PRT sering SMSan dan berpacaran menggunakan HP. Tapi Niken membiarkan saja karena masih dianggap wajar. Masih bisa ditoleransi. Lagi pula ia memaklumi masa lalu PRTnya pernah ditinggal oleh suaminya, dan sekarang bertemu lagi dengan teman masa kecil melalui facebok. Niken sendiri yang mengenalkan facebook (dan internet) kepada PRTnya ini.
Niken seorang penjual buku serta penulis cerpen dan masuk dalam komunitas sastrawan muda yang lahir dari kalangan mahasiswa tahun 2000 awal. Ia memiliki perpustakaan untuk keluarganya. Ia pun ingin perpustakaan tersebut menjadi sumber ilmu buat PRTnya, tak hanya bagi diri dan anak-anaknya.
Yogyakarta, 20 Oktober 2010
Namanya Surti. Itu bukanlah nama aslinya. Ia mahasiswa asal Sumatera saat itu. Kuliah di Jogja memberikan pengalaman tersendiri untuknya. Mengikuti kegiatan kampus dan organisasi bersama teman-temannya di Jogja, melakukan bakti sosial pada masyarakat di sekeliling kampus, membuat dirinya mengalami perubahan cukup signifikan. Semula ia adalah gadis pendiam. Susah untuk melihatnya mau bicara kalau orang tak mengajaknya bercakap-cakap secara pribadi. Jadilah ia gadis rantau yang mulai mengenal dunia.
Masa kuliah, sebagai muslimah yang baik, ia tak begitu terpengaruh oleh teman-temannya yang mulai menjalin hubungan khusus dengan teman mahasiwa laki-laki. Ia tahu, sebagai orang yang berlatar belakang keluarga yang cukup agamis, hal semacam ini harus ia hindari.
Memasuki tahun ketiga ia kuliah di Jogja, Surti mulai berkenalan dengan salah satu kelompok kajian mahasiswa. Kelompok ini mencoba mencari pemahaman baru tentang keislaman mereka. Mereka kritis pada teman-teman di kampus yang mulai seperti garis keras, gampang menganggap teman-teman lain sebagai kelompok sesat, tidak syari'ah, atau menilai bahwa pemahaman teman-teman lain terhadap agama Islam banyak yang salah. Surti merasa tidak mendapatkan tempat untuk memiliki pemahaman yang lain di komunitas mahasiswa muslimah kampusnya. Karena itulah, kelompok kajian tempat ia baru bergabung ini memberikan kesan yang cukup dalam untuknya. Ia boleh menggali keagamaan dan keingintahuannya secara lebih leluasa. Ia bisa mendiskusikan apa saja untuk mendalami pemahamannya. Teman-teman barunya ini kemudian ia ketahui sebagai kelompok yang mengidentifikasi diri sebagai Syiah. Kelompok ini terkenal suka melakukan kajian kritis Keislaman dan isu-isu sosial politik. Murtada Mutahhari dan Ali Syariati merupakan dua tokoh Islam asal Iran yang menjadi idola mereka dalam memahami Islam dan dunia. Dua tokoh merupakan tokoh kritis pada masa revolusi di negeri Timur Tengah tersebut.
Di komunitas baru ini Surti kemudian mengenal seorang pemuda. Satu kampus dengannya, hanya beda fakultas. Pemuda ini terlihat cerdas, kritis dan senang berpolitik di kampus. Pemuda itu pernah pula mencalonkan diri pada satu kesempatan pemilihan Ketua BEM di tingkat universitas. Kebetulan mereka sama-sama berlatar belakang suku Sunda. Meski berasal dari Sumatera, orang tua Surti sebenarnya berasal dari tanah Sunda. Mereka pun akrab. Akhirnya kedekatan mereka cepat diketahui oleh teman-teman sekitarnya. Mungkin karena mereka sudah mulai terlihat bersama ke mana-mana. Penampilan Surti yang mengenakan pakaian muslimah seperti jubah, dengan kerudung yang cukup besar, menimbulkan tanda tanya besar pada teman-temannya tentang terlihatnya mereka berjalan bersama.
Berceritalah Surti pada salah teman dekatnya dulu yang juga sama-sama merantau dari Sumatera untuk melanjutkan pendidikan di Jogja. Surti pun membuka cerita perjalanannya hidupnya.
Surti dan pemuda pujaannya meyakini ajaran syiah yang mereka pelajari belakangan ini. Mereka juga tak ingin menjalani kehidupan sebagaimana mahasiswa lain yang melakukan pacaran. Buat mereka, tak boleh ada hubungan semacam pacaran. Ajaran Islam yang mereka yakini memberikan jalan kemudahan supaya mereka dapat hidup bersama namun tidak berdosa. Mereka sudah menikah menurut keyakinan mereka. Pernikahan ini yang dinamakan Pernikahan Muth'ah.
Pernikahan muth'ah yang mereka jalani, menurut Surti, adalah pernikahan yang mereka lakukan sendiri. Prosesnya, mereka bersepakat menjadi suami istri. Lalu meniatkan diri untuk menjadi pasangan suami istri. Dalam pernikahan ini mereka terikat perjanjian atau kontrak yang mereka sepekati berkaitan dengan sebatas mana hubungan ini mereka jalani. Misalnya, apakah mereka hanya boleh berjalan berudua-duaan saja, atau sampai pada tinggal serumah, melakukan hubungan badan sebagaimana layaknya hubungan suami istri yang dipahami khalayak banyak, beban ekonomi ditanggung ataukah tidak oleh salah satu pihak atau menjadi tanggungan kedua belah pihak, apakah status suami istri ini akan berlangsung dalam jangka waktu tertentu ataukah akan tetap selamanya, dan lain sebagainya. Semua itu harus disepakati bersama.
Surti dan "suaminya" menikah pada satu waktu di tempat kos Surti. Tempat ini adalah sebuah rumah tinggal. Ada beberapa mahasiswi yang tinggal di sini. Mereka tinggal bersama dengan keluarga pemilik rumah. Mereka menyewa kamar-kamar yang seperti paviliun di rumah itu. Di teras rumah ini terdapat beberap kursi dan meja yang memang dijadikan tempat menerima tamu baik tamu keluarga pemilik rumah maupun tamu mahasiswi yang mondok di situ. Di situlah Surti dan pemuda pujaannya itu menikah. Ketika temannya bertanya apakah ada saksi, Surti hanya menjawab: "Allah Maha Tahu segalanya. Ia adalah Tuhan. Tuhan menjadi saksi pernikahan kami..."
Beberapa tahun kemudian pemuda yang menjadi suami Surti lulus dari studinya. Ia kembali ke kampung halamannya di Jawa Barat. Sebagai pemuda yang mulai berpolitik sejak mahasiswa, laki-laki pujaan Surti ini kemudian melanjutkan karir politiknya di sebuah partai politik Islam yang sempat jaya di masa Orde Baru. Di partai ini, demi karir politiknya yang kinclong, ia rela meninggalkan Surti. Pemuda ini lalu memilih menikahi putri salah seorang petinggi partai politik tempatnya bergelut, hingga ia tak lagi merasa memiliki tanggung jawab untuk hidup bersama dengan Surti.
Surti kecewa ditinggal pemudanya. Ia sedih, sakit hati, tapi tak bisa berbuat lain selain menangisi diri. Surti memang tak pernah bercerita batasan hubungan dari pernikahan muth'ah mereka. Tetapi, status sebagai istri muth'ah pun membuatnya tak memiliki hak sama sekali untuk menuntut suaminya supaya tidak meninggalkannya. Ia kecewa selamanya....
Catatan:
1. Tulisan ini merupakan satu dari beberapa tulisan tentang kasus perkawinan untuk masukan revisi UU Perkawinan No.1 tahun 1974
2. Gambar ilustrasi diambil dari sini.
Sumbangsih PRT terhadap Ekonomi Nasional
Posted by Herman Labels: Kehidupan, Opini, Renungan, SosialApakah ada sumbangsih Pembantu Pekerja Rumah Tangga (PRT) terhadap ekonomi nasional? Pertanyaan ini terus muncul dan membutuhkan jawaban di tengah-tengah upaya mengadvokasi Rancangan Undang-Undang Perlindungan PRT (RUU PPRT).
Setiap keluarga yang suami istri bekerja di luar rumah, baik sebagai pegawai sebuah instansi atau perusahaan, maupun memiliki usaha sendiri, pekerjaan di wilayah domestik diserahkan pada PRT. Mulai dari menyapu rumah, merawat anak serta mengantar ke sekolah, mencuci pakaian, memasak dan urusan-urusan rumah lainnya. Pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan oleh PRT ini telah membuat pekerjaan-pekerjaan pencari nafkah keluarga (suami, istri atau suami dan istri) menjadi lancar karena urusan domestik mereka telah ditangani oleh PRT.
PRT telah turut berperan dalam memungkinkan suami-istri dalam sebuah keluarga bisa bekerja dengan leluasa. Suami-istri yang yang bekerja ini akan meningkatkan konsumsi dan investasi yang pada gilirannya akan menambah pendapatan nasional.[1] Demikian pula dengan PRT yang dengan profesi yang ia tekuni, ia memiliki penghasilan dan dengan demikian mampu mengkonsumsi dan investasi yang tentunya memiliki pengaruh dalam pendapatan nasional.[2]
Data pendapatan nasional merupakan alat untuk mendapatkan angka pertumbuhan ekonomi masyarakat dan ekonomi nasional. Data Pendapatan nasional dapat digunakan untuk melihat berbagai sektor perekonomian suatu negara, apakah ia merupakan negara industri, pertaninan, atau negara jasa. Data itu juga dapat dipakai untuk membandingkan kemajua perekonomian dari waktu ke waktu, membandingakn perkonomian antarnegara atau antar daerah, serta sebagai landasan perumusan kebijakan pembangunan oleh pemerintah.
Disamping itu, data pendapatan nasional juga dapat digunakan untuk menentukan besarnya kontribusi berbagai sektor perekomian terhadap pendapatan nasional, misalnya sektor pertanian, pertambangan, industri, perdagangan, jasa, dan sebagainya. Data tersebut juga digunakan untuk membandingkan kemajuan perekonomian dari waktu ke waktu, membandingkan perekonomian antarnegara atau antardaerah, dan sebagai landasan perumusan kebijakan pemerintah.
PRT adalah pekerjaan dalam sektor jasa. Sama halnya dengan TKI yang bekerja di beberapa negara tetangga, mereka berprofesi sebagai PRT yang merupakan sektor jasa juga. Jika sumbangsih TKI terhadap ekonomi nasional dapat dihitung besarnya devisa yang dihasilkan (dilihat dari remitansi). Pada tahun 2008 saja, TKI memberikan devisa 130) trilyun rupiah.[3] Angka sumbangan devisa kedua setelah Migas (180 trilyun rupiah). PRT dalam negeri tentunya memiliki sumbangan ekonomi yang tak kalah signifikan karena peran mereka yang memberikan peningkatan produktifitas angkatan kerja karena urusan domestik telah dialihkan ke PRT. Angka-angka tersebut memang belum pernah disebutkan dalam sensus atau pendataan yang serius oleh lembaga yang kridibel seperti BPS. Tentunya pendataan secara lebih cermat menjadi rekomendasi penting untuk melihat peran strategis PRT dalam ekonomi nasional.
Baik TKI (yang kebanyakan berprofesi PRT di luar negeri) maupun PRT di dalam negeri belum mendapatkan perlindungan yang memadai untuk pemenuhan hak-hak mereka sebagai pekerja maupun perlindungan atas pelanggaran hak-hak mereka sebagai manusia. Pelecehan seksual, penganiayaan, upah di bawah standar, penganiayaan dan bentuk kekerasan lainnya tidak sedikit dialami oleh PRT. Perlindungan yang sistematis dan menyulurh sangat dibutuhkan untuk mengantisipasi semua itu. Memahami kontribusi PRT terhadap ekonomi nasional merupakan satu langkah untuk meyakinkan pemerintah bahwa keberadaan PRT harus diakui dan tanggung jawab pemerintah untuk melindungi. Bagi masyarakat luas yang mempekerjakan PRT juga perlu mengetahui peran penting PRT ini terhadap ekonomi keluarga mereka.
Catatan Akhir:
* Tulisan ini merupakan kerangka acuan diskusi dengan tema yang sama, yang diselenggarakan oleh Jaringan Nasional Advokasi Pekerja Rumah Tangga (Jala PRT) bekerjasama dengan Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) di Jakarta pada 14 Desember 2010.
[1] Lihat tiga pendekatan untuk mengetahui pendapatan negara di http://id.wikipedia.org/wiki/Pendapatan_nasional (diakses pada tanggal 6 September 2010 pukul 11.20 wib)
[2] Lihat juga Rumus Menghitung PDB, PNB, PNN, Pendapatan Nasional, Individu Dan Pendapatan Dapat Dibelanjakan di http://organisasi.org/rumus-menghitung-pdb-pnb-pnn-pendapatan-nasional-individu-dan-pendapatan-dapat-dibelanjakan (diakses pada tanggal 6 September 2010 pkl.11.35 wib)
[3] KompasTv.com, 15 Desember 2008
Saya membaca majalah Respect edisi 02 (Des 09 - Jan 10), yang saya dapatkan dari seorang teman di kantor. Majalah berukuran separoh kertas cetak ini menawarkan diri sebagai Panduan Gaya Hidup Ramah Sosial dan Lingkungan.
Sebagai edisi di awal tahun 2010, majalah respect memberikan suplemen kalender menarik berukuran kertas cetak dilipat-lipat hingga muat di kantong baju. Tak hanya warna-warnanya yang seru, kalender ini juga disisipi 12 resolusi ide untuk perubahan di 2010. Meski tawarannya di tahun 2010, namun sebagai sebuah gerakan perubahan tentunya ia harus kita lakukan terus menerus. Tak ada perubahan yang tak bisa terjadi kalau kita gigih melakukannya sehari-hari tanpa henti. Berikut ini resolusi yang dimaksud:
Makan produk organik
Lebih sehat, lebih ramah lingkungan dan sosial, dan lebih renyah. Respect food bisa dipesan melalui no 021-78831383
Konsumsi buah lokal
Jamblang, sawo, delima atau kecapi? Ini buah-buahan lokal yang yummy, fresh, dan eksotis lho. Coba deh...
Pake batik saat hang out
Batik Indonesia sudah diresmikan menjadi warisan budaya dunia oleh UNESCO.
Belanja di pasar tradisional
Jarang berbelanja di pasar tradisional? Sekali sekali belanja di sini yuk. Dengan berbelanja di pasar, kita sudah turut mendukung pedagang lokal.
Minum kopi lokal
Nikmat & aroma kopi Indonesia sudah mendunia. Sebut saja kopi Gayo, Toraja, Robusta, Arabika, dan Sumba. Minum kopi yuk, di gerai lokal lebih asyik lagi.
Say NO to styrofoam!
Styrofoam tidak dapat terurai. Proses pembuatannya pun tidak ramah lingkungan. Menyebabkan kanker pula...
Mendukung kampanye Desa Sejahtera di facebook dan twitter
Suka facebook-an dan twitter-an? Jadilah fans desa sejahter di facebook dan twitter. Mau tahu lebih banyak? Silahkan akses desasejahtera.org
Daur ulang kertas
Sisa kertas yang asih bisa ditulis bisa menjadi scrapbook. Lalu kita jual menjadi produk kerajinan. Kalau kreatif, makin banyak yang mau beli.
Membeli pruduk pakaian lokal
FYI, produk fesyen banyak yang bua di Indonesia dan banyak yang diekspor dan jadi banah dsar brand terkenal. Artinya kualitas kita juga internasional...
Makan beras hitam atau merah
Indonesia memiliki sekitar 8.000 jenis padi, kini hanya 10-15% yang masih ada. Saat kita makan beras hitam dan merah, spesies padi lokal yang terancam punah akan ditanam lagi.
Sweat shop? no more...
Gaya tapi bikin orang menderita? Ah gak cool banget ya... Sweat shop! Perusahaan yang membayar buruhnya dengan sangat murah. Contohnya banyak di produk pakaian dan sepatu.
Menjelajahi Indonesia
Kita bisa menemukan banyak tempat-tempat keren yang justru lebih banyak diketahui orang bule...
Mereka berbaris, terbagi dalam 4 kelompok dengan namanya masing-masing: Ember, pel, setrika dan panci. Mengenakan serbet yang diikatkan di kepala, dengan semangat yang tinggi mereka menjahit serbet-serbet yang berjumlah 900 lembar menjadi sebuah serbet raksasa. Di atas serbet raksasa itu tertulis tuntutan PRT seluruh Indonesia: Wujudkan Undang-Undang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga.
Kegiatan menjahit serbet raksasa ini merupakan salah satu isi acara peringatan Hari Pekerja Rumah Tangga (PRT) Nasional yang berlangsung pada Ahad lalu, 14 Februari 2010. Tak kurang dari 300 orang hadir pada acara yang berlangsung di Monumen Proklamator Kemerdekaan, Jakarta Pusat. Mereka mewakili kalangan masyarakat, serikat buruh, majikan, pegawai pemerintah, anggota DPR, aktivis, dan semua pihak yang mendukung perlindungan bagi PRT dari segala tindak kekerasan dan eksploitasi.
Mr Peter van ROOIJ dari ILO Jakarta, Syafrudin dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Sri Nurherwati dari Komnas Perempuan dan Sri Rahayu dari Komisi IX DPR-RI tampak turut menghadiri perayaan Hari PRT Nasional tahun ini.Hari PRT Nasional lahir untuk mengingat Sunarsih, seorang PRT yang yang tewas karena disiksa majikannya di Surabaya antara tanggal 12 - 15 Februari 2001. Peristiwa ini menegaskan betapa pentingnya perlindungan bagi PRT serta adanya pengakuan bagi mereka sebagai pekerja. Tanggal 15 Februari akhirnya disepakati oleh Jaringan Nasional Advokasi Pekerja Rumah Tangga (Jala PRT) sebagai hari PRT.
Jala PRT adalah jaringan organisasi - organisasi yang gigih memperjuangkan hadirnya kebijakan perlindungan bagi PRT serta membangun kesadaran masyarakat bahwa mereka adalah juga pekerja yang harus mendapatkan hak-hak sebagaimana mestinya. Sekarang jaringan ini memiliki anggota tak kurang dari 36 organisasi se-Indonesia.
Menurut lembar informasi yang dibagikan oleh Jala PRT, tak kurang dari 4 juta orang PRT yang ada di Indonesia. Jumlah ini merupakan bagian dari sekitar 100-an juta orang yang memilih profesi sebagai PRT di seluruh dunia. PRT memiliki hubungan kerja dengan majikannya sehingga mereka layak untuk diakui profesinya:
Kehadiran PRT di dalam rumah majikan telah membuat pekerjaan-pekerjaan domestik seperti memasak, membersihkan rumah, memasak, menyetrika, merawat anak dan anggota keluarga yang lanjut usia terselesaikan, hingga memungkinkan para majikan dapat menjalankan aktivitas di luar rumahnya dengan baik. Karena itulah kehadiran PRT menjadi sebuah kebutuhan banyak keluarga.
PRT juga membutuhkan satu perlindungan dari segala bentuk eksploitasi, pelecehan dan kekerasan, serta kebebasan untuk beraktualisasi seperti bersosialisasi dengan sesama termasuk untuk berserikat dan berkumpul sebagaimana pekerja-pekerja di sektor formal. Sebagai pekerja, PRT berhak atas hak mereka sebagai pekerja seperti upah yang layak, libur mingguan, jaminan sosial dan kesehatan, bantuan hukum, dan segala bentuk perlakuan manusiawi lainnya dari keluarga majikan serta masyarakat sekitar.
Pada perayaan Hari PRT Ahad lalu, beberapa orang perwakilan PRT menyampaikan pernyataannya di hadapan semua yang hadir:
Pernyataan tersebut merupakan bagian dari tuntutan terhadap komitmen Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat untuk melindungi warga negaranya yang bekerja sebagai PRT dan juga ajakan kepada masyarakat mewujudkan pengakuan, penghargaan dan perlindungan terhadap mereka.Pada acara itu pula, Komisioner Komnas Perempuan Sri Nurherwati melihat fakta bahwa UU 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (PKDRT) dan UU No. 21 tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (PTPPO) pun belum mampu membuka dan menjangkau pencegahan, perlindungan dan penanganan yang komprehensif terhadap persoalan PRT dari kekerasan dan eksploitasi. Selain itu, ia juga melihat sisi pemenuhan hak ekonomi, sosial dan budaya ekosobnya sebagaimana telah dijamin dalam Kovenan Internasional tentang Hak-Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya yang telah diratifikasi melalui UU No. 11 Tahun 2005. Dalam hal ini, seperti disampaikan Nur, Komnas Perempuan merekomendasikan :
Serbet raksasa yang dijahit bersama oleh semua elemen masyarakat itu merupakan "Serbet Cinta" untuk PRT. Selamat Hari PRT!
Dunia boleh modern, teknologi semakin canggih, dan pergaulan makin meng-global, tapi ternyata tetap saja masih ada yang menggunakan pikiran dan cara primitif untuk mengatasi satu keadaan di masa ini.
Sekitar Juli tahun 2006 lalu. Kami mengadakan dialog inter-regional dalam upaya mencari terobosan penyelesaian masalah kekerasan yang dialami pekerja migran (TKI) di Timur Tengah. Kegiatan kami lakukan selama sepekan, mengundang aktifis HAM dan ilmuan dari Timur Tengah yang memiliki perhatian pada issue ini ke Indonesia. Selain dialog di Jakarta, mereka diajak mengunjungi daerah-daerah (asal) yang menjadi kantong pekerja migran yang mengadu nasib di Timur Tengah dan berdialog dengan aktifis pemerhati dan juga keluarga pekerja migran, tokoh adat dan tokoh agama, serta pemerintah daerah setempat. Dengan demikian, mereka yang dari Timur Tengah ini dapat melihat secara langsung, tak hanya dari laporan aktifis HAM di Indonesia, kondisi yang dihadapi oleh pekerja migran dan keluarganya.
Timur Tengah adalah tujuan yang cukup mengundang ketertarikan calon TKI. Selain harapan bekerja sekaligus dapat menunaikan ibadah haji, calon-calon TKI di daerah yang mayoritas muslim menilai bahwa orang-orang di sana yang menjadi majikan berperilaku baik karena seiman dengan mereka. Kenyataannya seringkali bertolak belakang. Mereka yang bekerja kebanyakan sebagai PRT justru mendapatkan perlakuan yang tidak manusiawi: gaji tak dibayarkan, mendapat kekerasan baik fisik maupun mental, bahkan perkosaan oleh majikan maupun anggota keluarganya. Kondisi rumah tangga yang tertutup juga mempengaruhi keselamatan mereka yang sulit untuk mendapatkan perlindungan dari luar rumah majikan. Cerita-cerita mengenai hal ini dapat diperoleh dari catatan laporan penelitian yang dilakukan Human Rights Watch, yang dapat Anda baca di sini.
Sebagai peneyelenggara, kami berharap dapat membangun jaringan dengan para aktifis dari Timur Tengah yang menjadi peserta dialog inter-regional dalam mengupayakan perlindungan TKI di sana. Ilmuan di sana dapat melakukan penelitian mengenai TKI dan membuat rekomendasi kepada pemerintahnya atau mempublikasi tulisan sehingga didengar oleh pihak berwenang di sana. Aktifis HAM dapat melakukan advokasi secara serius untuk TKI, melakuan kampanye bersama, dan bentuk-bentuk kerjasama lainnya.
Apa yang hendak saya sampaikan berkaitan dengan kalimat pertama tulisan ini adalah, cerita lain dari proses kegiatan kami itu. Kegiatannya diawali dengan malam ramah tamah serta pementasan seni yang menunjukkan sejarah hubungan masyarakat Indonesia dengan masyarakat di Timur Tengah. Kesenian saat itu antara lain berupa Marawis dari Betawi serta tari Saman dari Aceh yang semuanya mengandung nilai-nilai atau simbol Islam. Bahkan nuansa Timur Tengah lebih kental pada Marawis.
Acara dilangsungkan di kediaman Ibu Kamala Chandrakirana atau rumah almarhum Soedjamoko di Menteng. Persisnya acara berupa penyambutan sekaligus ramah tamah dengan juga mengundang anggota DPR, Pejabat Deplu, Kedubes negara-negara Timur Tengah, beberapa lembaga donor dan mitra-mitra kerja, dilangsungkan di halaman rumah supaya terkesan santai. Untuk mengantisipasi kemungkinan turunnya hujan pada saat acara, ternyata teman saya yang merupakan aktifis feminis senior di tanah air menggunakan jasa pawang hujan. Ini supaya acara malam itu dapat berjalan dengan lancar.
Saya mengetahui langkah yang diambil teman saya ini ketika tiba di kantor pada pagi hari. Kami sibuk mempersiapkan segala kebutuhan untuk kegiatan malamnya. Saya terkejut ketika melihat sebuah celana dalam bekas yang masih basah terhampar di atas salah satu kursi kerja. Celana dalam itu benar-benar bekas yang sudah buruk rupa serta bolong-bolong pula. Seorang teman kemudian menjelaskan kalau itu adalah cara yang diminta pawang hujan untuk mencegah hujan turun di malam itu. Sejak itu, saya tahu kalau pawang hujan mencegah datangnya hujan dengan menjadikan celana dalam bekas sebagai salah satu alatnya. Entah apa maknanya, tetapi bagi saya ini sungguh mengejutkan. Pertama, karena teman saya yang menggunakan jasa pawang itu adalah orang yang sudah berkeliling dunia, mengenal banyak peradaban, serta berinteraksi dengan beraneka ragam orang "modern", serta semua hal yang semuanya dijelaskan dengan rasionalitas. Dan, celana dalam itu betul-betul di luar nalar, jauh dari rasionalitas yang dapat saya terima.
Ketika SBY baru menjabat Pesinden Presiden pada akhir 2004 lalu, terjadi musibah tsunami di Aceh, kecelakaan di jalan tol Jagorawi yang menewaskan satu bis kota, serta beberapa bencana lainnya. Saat itu terdengar kabar sampai ke telinga saya bahwa Presiden kita ini akan memotong 1.000 ekor kambing untuk prosesi selamatan supaya segala bencana di negeri ini berhenti terjadi. Rencana ini urung terlaksana, konon, karena teguran dari pihak Muhammadiyah dan salah satu partai pendukungnya (PKS). Untuk orang yang mencoba menggali penjelasan melalui ilmu pengetahuan, sungguh tindakan semacam itu termasuk dalam kategori "primitif". Bahkan keberadaan paranormal yang begitu banyak di Nusantara tidak mampu mempersingkat kurun waktu penjajahan bangsa Eropa selama 350 tahun.
Pada 12 Oktober nanti, kami bersama teater Garasi akan menyelenggarakan pentas teater, masih dalam upaya kampanye perlindungan pekerja migran (TKI) di luar negeri. Segala persiapan sudah mulai kami lakukan. Kemarin, kami melakukan rapat serta melihat area pelataran Komnas HAM yang akan menjadi tempat pementasan. Ada rencana untuk menyewa tenda untuk mengantisipasi turunnya hujan ketika pementasan berlangsung. Salah seorang teman yang ikut rapat mengusulkan untuk menggunakan jasa pawang hujan. Kembali celana dalam disebut-sebut.
Orang boleh pergi ke luar angkasa, nuklir dikembangkan sebagai sumber energi, teknologi kloning diperdebatkan, tetapi di sini, meski orang berpendidikan tinggi, masih tetap saja mangandalkan jasa paranormal. Apakah kemiskinan, kekayaan alam dan Pemerintah dikendalikan oleh asing, serta mental korup akan segera hilang dari daftar penyakit yang diderita bangsa ini karena kehadiran paranormal?
Catatan:
tulisan yang sama dimuat di Politikana.com
SALAH satu tukang ojek langganan saya yang mangkal di depan kampus UKI, Cawang, begitu bahagia pagi ini. Sambil menyiapkan motornya untuk mengantar saya ke jalan Latuharhari Menteng, ia bercerita kalau besok pagi selepas sahur (dan selepas subuh tentunya), ia akan berangkat menunggangi kuda besi bersama tujuh teman lainnya. Ia akan mudik ke Boyolali.
Narto bertubuh kurus dengan kulit terbakar matahari sebagaimana tukang ojek kebanyakan di Jakarta. Matanya sering tampak sayu seperti aktor Herman Ngantuk di masa kejayaan TVRI tahun 80-an. Ia sering dipanggil Gus Dur oleh teman-temannya di pangkalan ojek di depan kampus UKI itu.
Saya tak ingat kapan pertama kali menggunakan jasanya untuk berangkat ke tempat kerja. Yang pasti, sejak 3 tahun lalu ada 3 tukang ojek langganan saya. Pertama, adalah Budi, yang sempat mengalami kecelakaan lalu lintas dan harus istirahat total beberapa bulan. Kedua, Syahrul Gondrong, yang panjang rambutnya melampaui bahu. Ketiga, ya si Narto "Gus Dur" ini. Jika mereka semua ada di Cawang, maka sebagai tukang ojek pertama yang berkenalan dengan saya, kesempatan pertama jatuh pada Budi. Demikian seterusnya. Mereka saling memahami untuk masalah ini.
Budi sudah hampir setahun tak kelihatan. Setelah mengalami kecelakaan, ia muncul dengan sepeda motor baru. Lalu menghilang dan muncul dengan sepeda motor berbeda. Setelah lama tak tampak, Gondrong bercerita kalau Budi tak sanggup membayar cicilan kredit hingga sepeda motornya harus diambil kembali oleh dealer penjualnya. Sudah sekitar dua bulan ini Gondrong juga hilang dari peredaran tukang ojek Cawang. Narto yang tinggal satu-satunya pengantar saya, bercerita kalau Gondrong memutuskan tinggal di rumah menemani anak-anaknya serta menjaga warung, sebab istrinya setiap hari berdagang di pasar.
Sebenarnya, beberapa pekan sebelum menghilang, Gondrong bercerita tentang pendapatannya sebagai tukang ojek semakin menurun. Pertama karena penumpang yang semakin berkurang dan lebih memilih naik bisa kota atau Transjakarta setelah krisis keuangan tahun lalu. Kedua, tukang ojek di Cawang telah semakin bertambah tanpa dapat dikendalikan oleh paguyuban tukang ojek yang mereka buat sendiri. "Dapat 30 ribu sehari sudah mending," katanya suatu kali mengantar saya. "Ini juga baru narik meski sudah nunggu dari pagi," tambahnya lagi. Kadang seharian hanya mengantar penumpang satu, ya saya ini.
Narto masih bisa bertahan dengan profesinya. Dulu ia menggunakan Honda Astrea Grand tahun 90-an yang sudah terlihat payah. Dua bulan terakhir ia sudah menggunakan sepeda motor bebek yang sama keluaran terbaru. Ia terlihat lebih percaya diri dengan kendaraan kredit yang saya sendiri merasa belum mampu untuk mengangsurnya. Tapi itulah pilihan perjuangan hidup di kota Jakarta.
Semua tukang ojek langganan saya memiliki sifat pendiam. Tak banyak bicara kecuali kalau ditanya, atau bercerita seadanya kalau ada hal yang mereka pikir akan menarik perhatian saya. Narto lahir di Boyolali, Jawa Tengah. Tidak disangka, ternyata ia berasal dari dusun yang bersebelahan dengan tempat kelahiran istri saya di kecamatan Ngaglik, kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Itu sebabnya meski tak banyak bicara namun bahasa tubuhnya memperlihatkan keakraban tak sekedar hubungan antara penjual dan pembeli.
Menjelang lebaran idul fitri tahun lalu Narto bercerita kalau mau mudik menggunakan bis yang disediakan Pemerintah Daerah Jawa Tengah. Dari ceritanya tadi pagi, saya ketahui kalau Pemda di sana sudah menyelenggarakan mudik bareng sejak sekitar 5 tahun terakhir. Kali ini Narto terlihat sangat bahagia. "Dapat 5 tiket," ceritanya. Masing-masing untuk istri dan dua anaknya, satu untuk kak ipar dan satu lagi saudaranya.
Saya berpikir tentunya program ini cukup baik, sekaligus politis. Masyarakat asli Jawa Tengah yang tinggal di Jabodetabek tentunya memiliki rasa bangga memiliki pemerintahan Jawa Tengah, dan tentu akan meningkatkan dukungan politik baik dari mereka yang di perantauan maupun dari keluarga mereka yang masih tinggal di Jawa Tengah.
Persyaratannya cukup mudah: hanya membuktikan memiliki KTP atau Kartu Keluarga Jawa Tengah. Lalu mereka mendaftar di tempat-tempat yang sudah ditentukan sebagaimana tersebut dalam pengumuman di beberapa koran dan radio. Hal ini memunculkan pertanyaan dari dalam diri saya. Bagaimana mungkin orang yang tinggal di Jakarta bisa memiliki KTP Jakarta dan juga KTP Jawa Tengah? Bukankah untuk mendapatkan KTP dan KK Jakarta harus menggunakan surat pindah dari pemerintah daerah tempat domisili sebelumnya? Inilah masalah kronis dari Departemen Dalam Negeri Indonesia dan jajarannya hingga tingkat paling bawah. Seingat saya, surat keterangan pindah domisili dikeluarkan oleh kantor kecamatan untuk diserahkan ke kantor kecataman tujuan sehingga kita bisa mendapatkan KTP dan KK baru.
Sudah umum untuk mendapatkan KTP dan KK di Jakarta, para pendatang harus membayarnya dengan mahal. Seorang teman beberapa bulan lalu harus membayar sejumlah 600 ribu untuk mendapatkan satu KTP dan KK. Sulit untuk menghindari proses mahal ini, sebaba jika ingin mengurus sendiri pun seringkali menjadi mustahil. Di sini, semua pakai uang kalau mau lancar. Akibatnya, sangat mungkin orang yang mendapatkan KTP baru di Jakarta juga masih memegang KTP daerah asalnya. Macam Narto ini. Di sinilah ketidakberesan dalam pencatatan kependudukan yang diselenggarakan oleh Depdagri.
Tahun 1997, saya mendapatkan KTP Bengkulu yang katanya merupakan KTP nasional dan berlaku di seluruh Indonesia. Nomor penduduk yang tercatat di sana bersifat tunggal sehingga tak mungkin status kependudukan saya tercatat dua kali atau lebih di daerah yang berbeda. Nyatanya, KTP itu tidak berlaku di Yogyakarta saat saya ke sana, juga tak berlaku di Kabupaten Bogor tempat saya tinggal sekarang.
SETIAP pemegang tiket mudik bareng ke Jawa Tengah diberi paket lebaran. Ada sarung cap Gajah Duduk, minuman dalam kemasan beserta roti, serta paket dari Air Mancur, sebuah perusahaan jamu yang terletak di daerah itu. Tentu semuanya adalah sponsor kegiatan. Ada 120 bus pariwisata yang disediakan oleh Pemda Jawa Tengah. Bagi pendaftar yang lebih awal, 30 bis diantaranya merupakan bisa kelas VIP untuk mereka. Selebihnya bis yang juga cukup nyaman untuk pulang ke kampung halaman. Mereka semua, termasuk keluarga Narto, telah berangkat kemarin sore dari Taman Mini Indonesia Indah.
Kalau pun Narto masih mencari penumpang hari ini, itu karena ia masih ingin mendapatkan uang beberapa puluh ribu lagi. Paling tidak untuk tambahan beli bensin pada keberangkatannya besok pagi menuju Boyolali. Cukup jauh. "Sekitar 600 kilometer," katanya bercerita tadi pagi. Sesampainya di kantor, saya beri ongkos seperti biasanya, ditambah dengan beberapa untuk sekedar uang saku bagi anaknya. "Minal Aidin walfaidzin, maaf lahri dan batin. Hati-hati di jalan ya," pesan saya.
Lebaran tahun lalu Narto sangat ingin ketemu saya yang juga mudik ke kampung istri. Demikian pula sebaliknya. Sayang, sebelumnya kami tak sempat bertukar nomor ponsel. Tahun ini, saya dan istri tak bisa mudik. Fatih, anak kedua kami belum genap berusia 3 bulan. Agak repot ke mana-mana dengan satu anak yang baru mulai ceria di masa TK serta satu anak yang mulai berusaha membalik-balik badannya. Apalagi belum memiliki kendaraan roda empat pula.
Selamat Berlebaran, kawan-kawan. Semoga amal ibadah kita selama bulan Ramadhan ini diterima oleh Allah SWT, serta memiliki pengaruh luar biasa untuk perbaikan bangsa ini di masa yang akan datang.
Mohon maaf lahir dan batin untuk semua kesalahan yang sangat mungkin tidak berkenan di hati Anda.
Ada banyak cara untuk merayakan hari kemerdekaan Indonesia setiap tahunnya. Mulai dari melakukan kontemplasi dan diskusi tentang perkembangan bangsa dan negara ini sejak 17 Agustus 1945 hingga sekarang, menyelenggarakan berbagai pertandingan dan perlombaan untuk bersuka ria sebagai bangsa yang telah "merdeka", bahkan ada yang menganggapnya biasa-biasa saja.
Di lingkungan tempat tinggal saya, desa Ciangsana, Gunung Puteri, Kabupaten Bogor, seperti biasanya ada perayaan dengan pertandingan dan perlombaan, serta panggung hiburan kesenian. Di RW 02 tempat kami tinggal, puncak acara peringatan hari kemerdekaan ini berlangsung pada 16 Agustus lalu, yang kebetulan bertepatan dengan hari Minggu. Pada sore hari dengan matahari yang masih terik, masyarakat dari RT 01 hingga RT 11 menyertai anak-anak yang berlomba pawai mengelilingi separoh komplek perumahan yang menjadi wilayah RW 02.
Pawai dilakukan dengan rombongan dari masing-masing RT berbaris menurut urut RT di jalan utama sebelah selatan yang terletak di wilayah RT 11. Pawai ini sesungguhnya diikuti anak-anak dari usia sekitar 3 tahun hingga usia SMA. Mereka berbaris dengan atribut pakaian yang beraneka macam, dari pakaian adat maupun seragam putih-putih, dari yang membawa cangkul a la seorang petani dengan kumis palsu menghiasi, kebaya, bahkan dengan sepeda hias dan seragam tentara seperti anak saya dan beberapa temannya sebagaimana permintaan panitia di RT. Orang tua hanya mengiringi barisan, terutama untuk mengawasi anak-anaknya yang masih kecil yang kemungkinan sulit untuk diarahkan dan tentunya akan membuat kacau barisan. Acara ini menjadi kesempatan saling menyapa antartetangga bahkan sesama orang tua yang berlainan RT. Satu bentuk suka cita karena ada kemeriahan di komplek perumahan. Entah mengapa, keramaian sejak dulu selalu merupakan satu hal yang teramat disukai. Seperti suasana keheningan desa yang ditinggalkan para pemudanya karena lebih memilih keramaian di kota-kota.Di saat semua peserta pawai dari masing-masing RT merapihkan barisannya, satu kelompok kesenian Reog memainkan atraksi tari-tariannya. Kebanyak penghuni kawasan kami berasal dari Jawa termasuk Jawa Timur. Pertunjukan Reog menjadi hiburan menarik buat semua yang hadir. Kabar beberapa waktu lalu yang menyebutkan kalau Reog diakui oleh pemerintah Malaysia sebagai kesenian asli dari mereka telah membuat berang warga Ponorogo yang merupakan asal kesenian ini. Masyarakat Indonesia pun merasa tersentil rasa kepemilikan kesenian yang memang belakangan kurang mendapat perhatian. Reog mendapat sambutan hangat pada perayaan kemerdekaan tahun ini di tempat tinggal kami.
Setelah melewati jalan-jalan pinggiran hingga ke tengah perumahan, acara pawai diakhiri di dekat gerbang masuk komplek kami. Di sana, bersebelahan dengan pos satpam, terdapat lapangan bola volly. Pertunjukkan reog diteruskan untuk menghibur semua penonton yang mengelilingi lapangan. cukup ramai. Bahkan di salah satu sisi lapangan adalah tebing yang berbatasan dengan pemukiman penduduk desa sebelah perumahan dipenuhi oleh mereka yang menonton dengan leluasa ke seluruh lapangan. Di sela-sela pertunjukan reog itu pula diumumkan para pemenang berbagai macam lomba dan pertandingan di tingkat RW, mulai dari pertandingan bulu tangkis, bola volly, catur, futsal, lomba mewarnai untuk anak-anak, dan bentuk kompetisi lainnya, yang sudah terselenggara sejak awal Juli lalu. Perlombaan pawai menjadi penutup acara sesorean itu. Setelah semua hadiah di selesai dibagikan, para pemain reog mulai mengusung semua peralatan kembali ke rumah. Semua peserta pawai, anak dan orang tua juga mulai bergerak pulang. Anak-anak senang, meski tak menang ada hadiah makanan dan minumana ringan disediakan oleh panitia penyelenggara di tingkat RT.Pada sore hari esoknya, 17 Agustus, ada perlombaan di tingkat RT 08 tempat kami tinggal. Semua anak-anak dikumpulkan untuk berbagai macam perlombaan: membawa kelereng dalam sendok, makan pilus dalam sebuah piring, mengambil uang logam yang menempel pada buah semangka, memecah balon yang berisi air dengan menggunakan jarum, memasukkan pensil ke dalam botol dan beberapa permainan lainnya.
Acara perayaan kemerdekaan ini melahirkan berbagai hiburan tahunan dalam masyarakat. Berbagai macam perlombaan dan pertandingan menjadi tontonan menarik, juga menjadi ajang menunjukkan kemampuan pengusaan permainan tertentu. Tapi, ada yang luput kami tonton kali ini, yakni perlombaan panjat pinang. Perlombaan ini hampir selalu ada di setiap daerah. Semakin tahun terlihat semakin menarik saja hadiahnya. Sayang, karena harus mencari semangka kesukaan anak kami, hiburan satu ini jadi terlewati.
Akhir pekan lalu saya mengikuti pertemuan Komnas HAM, Komnas Perempuan, SBMI Pusat, KOPBUMI, LBH APIK Jakarta, Solidaritas Perempuan, GPPBM, LBH Jakarta, HRWG, Migrant Care, SBM Karawang, SBM Cianjur, LBH Cianjur, KASBI, dan AP2BMI Lombok. Pertemuan ini membahas tentang format pendokumentasian kasus-kasus buruh migran Indonesia. Sekitar 2 tahun terakhir pembahasan mengenai ini vacuum. Seingat saya, selain karena belum ada kata sepakat mengenai format yang baku, juga masing-masing organisasi sibuk dengan programnya sendiri.
Satu hal yang menarik bagi saya adalah, masih ada diantara peserta pertemuan yang belum memahami terminolgi "kriminalisasi". Akibatnya, ketika membahas kasus dimana ada BMI yang mengalami kriminalisasi di negara tempat mereka bekerja, hal ini menjadi tidak tuntas.
Eni Suprapto, salah seorang mantan komisioner Komnas HAM periode lalu mencoba merumuskan istilah ini. Rumusan ini menurut saya adalah rumusan yang dapat mewakili apa yang dimaksudkan:Kriminalisasi yaitu tindak yang dilakukan oleh pihak berwenang terhadap pekerja migran dengan memperlakukannya sebagai pelaku tindak pidana sebagai akibat dari tindak yang dilakukan atau ketiadaan tindak yang dilakukan (non action) atau karena ketidak sengajaannya, walaupun tindak, ketiadaan tindak, ketidaksengajaan tersebut bukan merupakan tindak pidana.
Contoh dari kriminalisasi ini adalah, saat seorang buruh migran yang berprofesi sebagai PRT di Malaysia. Ia mengalami penyiksaan oleh majikannya. Karena tidak tahan, PRT ini lalau melarikan diri. Pada masa pelariannya itu ia ditangkap oleh petugas keamanan negara itu. Ia ditahan karena dinilai sebagai pendatang haram sebab tak memiliki dokumen. Padahal, semua dokumen yang ia miliki seperti Visa Kerja, Passport, dan lainnya ditahan oleh majikan. Datang dan tinggal di Malaysia tanpa memiliki dokumen adalah sebuah tindakan kriminal.
Contoh kasus kedua adalah, seorang buruh migran perempuan yang berprofesi sebagai PRT juga di Timur Tengah. Ia mengalami tindak kekerasan seksual berupa perkosaan oleh keluarga majikan dan kemudian hamil. Lalu ia melarikan diri sebab ia pun tak tahan mengalami siksaan fisik dan psikis. Saat melapor ke petugas setempat, ia dituduh telah melakukan perzinahan. Saat PRT ini mengatakan bahwa ia hamil karena perkosaan, ia diminta untuk menghadirkan saksi dari peristiwa perkosaan itu. Di jazirah Arab itu, peristiwa perkosaan baru dapat diakui sebagai kejadian hukum jika ada saksinya sejumlah minimal 3 orang. Karena si korban tidak dapat menghadirkan saksi, maka ia dianggap telah berzinah. Perbuatan zinah adalah tindakan kriminal.
Terminologi ini sangat penting untuk difahami oleh siapa saja yang melakukan advokasi masyarakat, tak hanya di pembelaan hak-hak buruh migran Indonesia.
Kemana saya lebih sering berbelanja untuk memenuhi kebutuhan? Apakah saya membeli barang betul-betul karena kebutuhan ataukah sekedar karena keinginan? Apakah barang-barang yang saya beli terbuat dari bahan-bahan yang ramah lingkungan, tidak menggunakan bahan baku yang merupakan bagian dari hewan (langka)? Apakah produsen mengupah pekerja-pekerjanya dengan layak? Apakah barang-barang yang saya miliki betul-betul mendesak, tidak adakah yang bisa menjadi substitusi yang juga tidak kalah bermutu? Apakah barang-barang ini dapat didaur ulang, dapat digunakan lagi setelah dipakai, dikurangi pemakaiannya? Apakah barang-barang ini produksi lokal ataukah produk asing? Apakah aktivitas membeli kita seimbang dengan tingkat kebutuhan untuk berbelanja?
Pertanyaan-pertanyaan di muka merupakan beberapa diantara sekian pertanyaan yang dapat menjadi renungan di hari tanpa belanja yang jatuh pada 28 november 2008 yang dirayakan di Amerika Utara, serta dirayakan secara internasional pada 29 November 2008.
Buy Nothing Day adalah sebuah bentuk perang melawan konsumerisme. Ia merupakan moment untuk memikirkan kembali budaya belanja yang sudah jauh melampaui batas-batah keramahan pada lingkungan, baik sosial maupun alam sekitar. Jauhkan semboyan "Belanja terus sampai mampus". Hiduplah secara wajar. Mari ikut mengampanyekannya.
Informasi mengenai ini dapat Anda akses disini atau disini.




