BUKA dan Pentingnya Kepemimpinan Perempuan Buruh
Posted by Herman Labels: Kehidupan, Opini, Renungan, SosialPeristiwa ini terjadi tahun 2000 lalu. Ceritanya saya bersama-teman tim pembawa bantuan dari Surat Kabar Kedaulatan Rakyat Yogyakarta membawa sumbangan warga Yogya untuk korban gempa bumi di Bengkulu. Sebagai orang Bengkulu, saya bersama teman-teman dari Bengkulu dipercaya untuk menjadi tim lapangan untuk memastikan semua bantuan tersalurkan ke masyarakat di banyak tempat. Maklum, gempa besar dengan kekuatan 7,3 SR saat itu mengundang banyak pihak untuk memberikan bantuan untuk menolong warga. Kalau asal-asalan, akan ada warga yang menerima bantuan berlimpah sementara tak sedikit mereka yang justru kekurangan bantuan.
Di sela-sela waktu bertugas itu, saya pulang ke rumah orang tua. Saya sembahyang dzuhur di rumah. Sajadah saya bentangkan di ruang belakang. Setelah selesai, rupanya ibunda memperhatikan saya.
"Menghadapnya kok kesana?" tanya ibu.
Saya kaget.
"Seharusnye kemane, Mak?" tanya saya dalam bahasa Kaur.
"Kesitu" kata ibu saya menunjuk ke arah depan rumah.
Tadi saya sembahyang menghadap ke arah kanan rumah. Akhirnya saya sadar kalau tadi saya bersembahyang ke arah Utara. Dengan posisi pulau Sumatera yang berada di bagian Timur kalau dari Tanah Suci Mekkah, seharusnya saya memang menghadap ke arah Barat. Setalah tiga tahun merantau ke Yogya, saya lupa arah kiblat ketika berada di rumah orang tua di sini.
Menurut penjelasan seorang saudara saya yang lulusan Pondok Pesantren Gontor, secara bahasa, kiblat (qiblatun/qiblah) adalah nomina (mashdar) berarti hadapan/tempat menghadap. Ia berakar dari verba qabila yang berarti menghadap.
"Secara khusus (Islam), Kiblat adalah tempat (baca:arah) kepada mana kaum muslimin menghadapkan wajahnya ketika shalat. Sebelum turunnya surat al-Baqarah: 144, Kiblat kaum muslimin adalah Masjidil Aqsha. Setelah turunnya ayat tersebut: berubah ke Masjidil Haram."
Kiblat adalah arah shalat (orang Melayu menyebutnya "sembahyang") yang menuju satu titik yakni Masjidil Haram yang ada di Mekkah. Semua ummat Islam yang melaksanakan Rukun Islam kedua tersebut mengarah kesana. Karena dari posisi Indonesia Kiblat itu adanya di sebelah barat--meski sesungguhnya juga agak ke barat laut sedikit, makanya orang di sini lebih sering menyebut Barat untuk menunjuk ke kiblat saat sembahyang.
Selain arah menghadap saat sembahyang, kiblat juga merupakah arah kepala hewan yang disembeliih dan arah kepala jenazah ketika dimakamkan. Informasi sederhana tentang kiblat ini dapat diperoleh di tautan ini.
Seorang teman yang baru pulang dari sekolah master di Belanda dua tahun lalu bercerita. Teman-temannya dari Suriname di Belanda melakukan sembahyang menghadap ke arah Barat. Ketika ditanya kenapa demikian, mereka menjawab singkat, "Karena dari nenek moyang kami dulu kalau melaksanakan shalat kiblatnya ke arah Barat." Padahal posisi Ka'bah jika di negeri Kincir Angin itu mestinya ke arah Timur.
Kisah teman di Belanda tadi saya ceritakan ke teman-teman saya di Alimat di dalam satu pertemuan. Mereka pun sudah mendapatkan kisah yang sama dari pengalaman berinteraksi dengan orang Suriname. Mereka yang berada di Suriname merupakan keturunan orang-orang Jawa masa penjajaha Belanda. Mereka di bawa ke negeri itu sebagai tenaga budak dan akhirnya beranak pinak di sana. Karena orang Jawa zaman dulu menghadap ke Barat saat shalat, akhirnya anak cucunya ikut demikian. Aneh, tetapi itulah kenyataan.
Saat saya ditegur ibunda usai melaksanakan sembahyang di Bengkulu 13 tahun lalu itu, saya hanya tersenyum-senyum saja. Sembahyangnya tetap sah dalam ajaran Islama. Pertama karena itu dilakukan tanpa sengaja dan karena ketidaktahuan. Kesalahan demikian selalu mendapatkan pengampunan dari Allah SWT. Kedua, di dalam ajaran Islam, kalau dalam kondisi arah Kiblat tak diketahui, maka mereka yang sembahyang mengikuti keyakinannya arah mana Kiblat itu. Dan ibunda saya pun sangat memahami kondisi saya.
"Kemanapun kalian menghadap, di situlah 'Wajah' Allah" (QS. Al-Baqarah:115). Demikianlah yang diajarkan dalam Islam. Dan Allah pun ada dimana-mana.
Beberapa malam lalu saya mencicipi ceramah menarik pada ibadah tarawih berjamaah di sebuah perumahan mewah di sebelah Timur Cibubur. Sebagaimana pada Ramadhan-Ramadhan sebelumnya, saya memang suka mengikuti ceramah tarawih di masjid ini karena isi ceramah yang biasanya memang bagus-bagus, tidak menggurui, dan menambah wawasan. Tak melulu ngomongin ibadah ritual, tetapi juga tentang kaitan agama dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, sosial dan kebudayaan masyarakat. Maklum, sejak kecil saya tidak pernah nyantri selain pesantren kilat waktu masih siswa SMA di Bengkulu sana. Juga, pengetahuan agama saya teramat sedikit.
Naik ke mimbar, ia memulai ceramah dengan cerita tentang taman surga bagi siapa saja yang memiliki amal kebaikan selama hidup di dunia. Ia mengingatkan kembali betapa sukanya manusia akan tempat yang disebut dengan taman. Di sebelah utara Jakarta terdapat Taman Impian Jaya Ancol. Lalu ada Taman Safari yang jauh di sebelah selatannya. Juga ada Taman Mekarsari di daerah Jonggol, kabupaten Bogor. Jika sudah meninggal pun orang maunya dimakamkan di sebuah taman, seperti yang terdapat di daerah Kalibata: Taman Makam Pahlawan.
Semua orang pastilah ingin berada di taman yang indah sebagai tempat peristirahatan terakhir. Meski ukurannya kecil, hanya satu kali dua meter saja, kalau suasananya seperti taman tentunya akan terasa nyaman. Tidak terasa lamanya menunggu hari akhir (akhirat) datang. Pada intinya, amal kebaikan yang kita lakukan selama di dunia ini yang akan menentukan apakah kuburan kita nanti akan seperti taman yang indah atau malah gelap gulita dan menyeramkan :)
Di akhirat nantinya kita maunya masuk ke taman surga. Taman Firdaus adalah surga dengan tingkatan paling atas, tempatnya orang-orang yang seluruh hidupnya di dunia hanya diisi dengan amal kebaikan.
Itulah lebih kurang cerita ustadz itu tentang taman.
Lalu, penceramah yang membuat saya jatuh hati ini kemudian bertanya pada jamaah, "Anda mengharapkan siapa kira-kira pendamping hidup Anda kalau nanti masuk surga?" Pertanyaan itu itu kemudian diarahkan ke imam shalat Tarawih malam itu. Ia minta imam menjawab pertama kali. Lalu sang imam pun menjawabnya, "Bidadari..." Penceramah tersebut mengarahkan pertanyaan yang sama kepada semua jamaah laki-laki. Tentu jawabannya sama dengan sang imam.
Dengan nada sedikit meninggi, ustadz meminta imam beristighfar, memohon ampun kepada Allah SWT.
"Istighfar. Minta ampunlah kepada Allah karena ketika masuk surga ternyata pak imam lupa pada istri. Lupa pada anak-anaknya."
Kontan pernyataan ustadz ini membuat terperangah semua jamaah termasuk saya yang ada di barisan agak belakang ruang masjid yang besar itu. Ustadz juga meminta semua jamaah untuk beristighfar.
"Kalau pulang kerja, kita minta dibuatkan teh pada istri. Kalau capek minta dipijitin istri. Apa-apa minta disediakan istri. Giliran masuk surga, istrinya dilupakan."
Jamaah terdiam. Saya terkesima. Belum pernah saya mendengar sindiran yang tajam kepada jamaah muslim di masjid ini. Sindiran ini, meski disampaikan dengan cara sambil tertawa, terus terang sangat mengena.
"Dulu waktu kita masih kecil, masih ingat gak siapa yang nyebokin kita? Siapa? Ibu kita. Ayah kita. Lalu masuk surga pun kita lupa pada mereka."
Jamaah bertambah diam.
Tidak salah, semua orang selama ini membayangkan kehidupan di surga yang serba indah, serba nikmat, tak ada habisnya. Tapi tak pernah kita berpikir bahwa semua kenimatan itu akan dinikmati bersama orang-orang yang kita cintai selama di dunia, anak-istri kita, orang tua kita, tetangga-tetangga kita. Mereka semua orang-orang seperjuangan dengan kita saat menjalani kehidupan di dunia ini. Bahkan, jika memang memaknai Rahmatan lil 'alamin secara lebih luas, tentunya kita ingin semua orang di dunia ini berbuat kebaikan bersama kita sehingga kelak kebahagiaan di akhirat pun kita nikmati bersama-sama.
Tak ada lagi penderitaan. Tak ada lagi kemiskinan. Tak ada lagi luka lara. Semua bahagia di surga.
Seperti kata ustadz yang berceramah malam itu, akan lebih baik kalau kita berdoa agar masuk surga bersama-sama orang-orang yang kita cintai di dunia ini. Bidadari itu adalah simbol tentang kecantikan luar biasa makhluk-Nya. Tentu kita berharap bidadari itu kelak adalah ibu yang telah melahirkan dan mencurahkan kasih sayangnya pada kita sejak masih dalam kandungan, istri kita yang merasakan betul pahit getir mendampingi hidup kita, adik - kakak perempuan kita, dan semua perempuan yang telah mengamalkan seluruh hidupnya untuk berbuat kebaikan dan membuat dunia ini begitu nyaman bagi semua penghuninya.
Untuk sementara waktu, semua layanan SMS Content pada nomor seluler saya sudah dihentikan oleh operator Telkomsel segera ketika saya menelepon operatornya. Saya urung menghubungi BRTI. Semoga hal ini tidak lagi terulang. Terima kasih untuk Telkomsel yang sudah mau menanggapi keluhan pelanggan macam saya ini. Semoga dengan kasus ini perusahaan milik PT. Telkom ini juga mau belajar meningkatkan pelayanan serta tidak memberi kesempatan pada para pihak yang mengeruk keuntungan namun bisa membuat citra operator seluler menjadi buruk.
Read More......
Anda pernah naik pesawar Lion Air? "Pesawat ini memang suka Lie on air," kata teman lama masa kuliah dulu menanggapi sebuah foto kericuhan yang terjadi pada 2 Juni 2011 malam di terminal 1B bandara Soekarno Hatta. Foto itu saya ambil saat orang-orang ramai berkerumun mengelilingi petugas Lion Air di salah satu Gate di terminal itu. Saya mengunggahnya di facebook beberapa menit setelah kejadian memalukan tersebut. Orang-orang minta bertemu dengan pihak managerial Lion Air karena merasa kasihan juga kalau bawahan-bawahan yang langsung menghadapi para calon penumpang. Kata-kata kasar meluncur. Makian kian tak terkendali. Tapi nyatanya, Lion Air memang sudah terkenal suka ingkar jadwal penerbangan yang mereka buat sendiri.
Saya kebetulan hendak pulang ke Bengkulu hari itu. Kami semua berjumlah 14 orang termasuk anak saya yang belum lagi berusia 2 tahun. Jadwal penerbangan ke Bengkulu sebenarnya pukul 17.04 WIB. Ketika kami datang pada sekitar pukul 16, sampai dengan pukul 17, ruang tunggu sudah tak mampu menampung calon penumpang. Calon penumpang tumpah ruah menunggu di koridor menuju ruang tunggu. Lalu tiba-tiba suasana jadi bertambah ramai oleh kegaduhan para calon penumpang yang penerbangannya ditunda. Yang saya ingat, mereka hendak menuju Medan. Mereka kecewa karena, bisa jadi, jadwal rapat mereka akhirnya harus terganggu dengan penundaan ini. Juga ada janji keluarga atau urusan bisnis lain yang pada akhirnya jadi berantakan karena penundaan ini.
Kegaduhan yang terjadi sore itu berlanjut hingga malam. Penerbangan kami ke Bengkulu juga diumumkan mengalami penundaan 3 jam dan itu pun menimbulkan teriakan "huuu....." dari para calong penumpang. Itu artinya paling cepat kami baru bisa berangkat pada pukul 20.04 WIB. Entah kenapa kok penundaan bisa selama itu. Lalu sekitar sejam dua jam kemudian kegaduhan terjadi lagi dan kali ini merupakan bentuk kemarahan dari penumpang menuju Palembang. Disusul kembali dengan kemarahan dari mereka yang hendak ke Pekanbaru. Menjelang pukul 20 lalu terjadi keributan. Ternyata kembali calon penumpang yang akan menuju Medan. Penumpang yang satu rombongan dengan kami pun mulai berteriak-teriak seperti penumpang-penumpang dengan tujuan kota-kota di Sumatera itu.
Saya merasa capek dengan semua keributan. Sebenarnya sangat marah dan kesal pada pelayanan macam ini. Saya sudah menebak sejak semula bahwa tidak mungkin hanya sekedar persoalan terknis penerbangan. Sangat mungkin karena keinginan maskapai untuk membuat semua kursi di pesawat penuh semua hingga baru akan diberangkatkan. Lagi pula, ini saatnya libur panjang di akhir pekan. Tanggal 2 Juni merupakan hari libur nasional karena peringatan Kenaikan Isa Almasih. Otomatis hari Jumat keesokan harinya menjadi libur bersama yang akan berlanjut hingga hari Ahad. Tiket dengan harga mahal tentu bak musim panen bagi maskapai angkutan udara. Sayangnya, hal ini tidak diimbangi dengan peningkatan kualitas pelayanan. Saya hanya peduli dengan anak-anak saya yang mulai tak bisa diam karena jemu menunggu. Mereka berlarian kesana kemari. Saya khawatir mereka akan kecapean dan juga hilang ditengah kerumunan orang yang sedang emosi tinggi. Tentu saya tak ingin mereka sampai celaka karena terinjak atau malah terbanting di salah satu sudut karena ketidaksengajaan orang-orang yang sedang kecewa.
Menunggu selama 3 jam ternyata membuat hati saya penat. Sejak selepas lebaran Idul Fitri tahun lalu saya menjalankan tugas penelitian lapangan di berbagai daerah di Indonesia bagian Timur dan Tengah. Eloknya, penerbangan kami selalu menggunakan pesawat Garuda Indonesia. Saya bangga dengan maskapai ini yang merupakan simbol transportasi udara Nusantara milik pemerintah. Pelayanan baik, meski pernah satu kali kami harus marah pada petugas bandara Sultan Hasanuddin Makassar karena ketidakjelasan Gate untuk keberangkatan. Itupun kami sadari kemudian disebabkan karena ketidakberesan dalam pengelolaan bandara hingga tak ada kepastian tempat parkir pesawat. Hal semacam ini tak hanya terjadi di Makassar, di bandara Soekarno Hatta pun sudah menjadi biasa penumpang harus berpindah dari Gate yang tertera di Boarding Pass ke Gate dimana pesawat yang akan digunakan mendapat tempat parkir. Hal ini merupakan gambaran pengelolaan yang belum sempurna--untuk tidak mengatakan buruk--bandara-bandara yang katanya kelas internasional. Tak hanya itu, saya pikir ini semua cermin pemimpin-pemimpin negeri ini yang juga bisa jadi lebih buruk dalam mengurus Negara.
Hal yang lebih baik saya dapatkan dari layanan Garuda adalah keterlambatan dibayar dengan Executive Lounge yang membuat saya dan teman-teman satu tim yang akan ke Ambon November lalu harus rehat dan menikmati hidangan di ruang tuggu itu. Setidaknya, kami merasa mendapatkan kepastian bahwa pesawat memang tertunda karena keterlambatan pesawat yang datang dari daerah. Kenyamanan ruang tunggu dan hidangan itu sedikit mengobati. Dan yang pasti, meski kursi penumpang tidak semuanya terisi, pesawat dari maskapai ini tetap melakukan penerbangan.
Maskapai lain yang pernah saya dan keluarga tumpangi kadangkala juga mengalami penundaan penerbangan. Hanya saja tidak separah yang dilakukan oleh Lion Air. Kalau Lion Air terkenal suka menunda penerbangan, itu tandanya sudah telalu sering penumpang mengalami ini serta frekuensinya terlalu tinggi. Syukurnya, maskapai ini tidak menguasai penerbangan semua rute dan dengan ongkos relatif murah. Kalau tidak, tentunya kita hanya bisa menggerutu.
Saya teringat kecelakaan Lion Air di bandara Adi Sumarmo pada 30 November 2004 lalu. Peristiwa naas yang menewaskan puluhan orang termasuk pilotnya tersebut dibantah oleh pihak Lion Air sebagai satu kecerobohan dan mengabaikan standar keselamatan. Peristiwa itu membuat saya ngeri. Sebuah koran nasional memuat karikatur di pojok kiri bawah halaman muka dengan tulisan We make people cry. Tulisan tersebut merupakan plesetan dari semboyan We make people fly yang dijual maskapai ini.
Manajemen di darat yang kacau balau bukan tidak mungkin bisa menyebabkan kekacauan dalam penerbangan di udara. Dan jika fatal, sangat mungkin nyawa bisa jadi taruhannya.
Jika Mandala Air, yang menurut seorang teman memiliki layanan terbaik kedua setelah Garuda, telah mengalami tutup buku, saya berharap maskapai-maskapai lain dapat memberikan layanan tak kalah memuaskan bagi para pengguna jasa angkutan udara di Indonesia. Ungkapan teman lama saya pada awal tulisan ini "Lie on air" yang mungkin maksudnya Lion Air suka bohong tentu harus mendapatkan perhatian dari pihak manajemen maskapai ini jika tak mau terus menerus mengalami kemerosotan kepercayaan. Saya kecewa, tapi saya masih berharap Lion Air mau belajar dari kekecewaan penumpang-penumpangnya.
Tambahan informasi, 11 Juli 2011:
Lion Air juga dilaporkan ke Komnas HAM oleh DPP Persatuan Tunanetra Indonesia terkait diskriminasi yang sering mereka terima saat ingin melakukan penerbangan menggunakan maskapai itu. Lihat beritanya di sini.
Read More......
Sumbangsih PRT terhadap Ekonomi Nasional
Posted by Herman Labels: Kehidupan, Opini, Renungan, SosialApakah ada sumbangsih Pembantu Pekerja Rumah Tangga (PRT) terhadap ekonomi nasional? Pertanyaan ini terus muncul dan membutuhkan jawaban di tengah-tengah upaya mengadvokasi Rancangan Undang-Undang Perlindungan PRT (RUU PPRT).
Setiap keluarga yang suami istri bekerja di luar rumah, baik sebagai pegawai sebuah instansi atau perusahaan, maupun memiliki usaha sendiri, pekerjaan di wilayah domestik diserahkan pada PRT. Mulai dari menyapu rumah, merawat anak serta mengantar ke sekolah, mencuci pakaian, memasak dan urusan-urusan rumah lainnya. Pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan oleh PRT ini telah membuat pekerjaan-pekerjaan pencari nafkah keluarga (suami, istri atau suami dan istri) menjadi lancar karena urusan domestik mereka telah ditangani oleh PRT.
PRT telah turut berperan dalam memungkinkan suami-istri dalam sebuah keluarga bisa bekerja dengan leluasa. Suami-istri yang yang bekerja ini akan meningkatkan konsumsi dan investasi yang pada gilirannya akan menambah pendapatan nasional.[1] Demikian pula dengan PRT yang dengan profesi yang ia tekuni, ia memiliki penghasilan dan dengan demikian mampu mengkonsumsi dan investasi yang tentunya memiliki pengaruh dalam pendapatan nasional.[2]
Data pendapatan nasional merupakan alat untuk mendapatkan angka pertumbuhan ekonomi masyarakat dan ekonomi nasional. Data Pendapatan nasional dapat digunakan untuk melihat berbagai sektor perekonomian suatu negara, apakah ia merupakan negara industri, pertaninan, atau negara jasa. Data itu juga dapat dipakai untuk membandingkan kemajua perekonomian dari waktu ke waktu, membandingakn perkonomian antarnegara atau antar daerah, serta sebagai landasan perumusan kebijakan pembangunan oleh pemerintah.
Disamping itu, data pendapatan nasional juga dapat digunakan untuk menentukan besarnya kontribusi berbagai sektor perekomian terhadap pendapatan nasional, misalnya sektor pertanian, pertambangan, industri, perdagangan, jasa, dan sebagainya. Data tersebut juga digunakan untuk membandingkan kemajuan perekonomian dari waktu ke waktu, membandingkan perekonomian antarnegara atau antardaerah, dan sebagai landasan perumusan kebijakan pemerintah.
PRT adalah pekerjaan dalam sektor jasa. Sama halnya dengan TKI yang bekerja di beberapa negara tetangga, mereka berprofesi sebagai PRT yang merupakan sektor jasa juga. Jika sumbangsih TKI terhadap ekonomi nasional dapat dihitung besarnya devisa yang dihasilkan (dilihat dari remitansi). Pada tahun 2008 saja, TKI memberikan devisa 130) trilyun rupiah.[3] Angka sumbangan devisa kedua setelah Migas (180 trilyun rupiah). PRT dalam negeri tentunya memiliki sumbangan ekonomi yang tak kalah signifikan karena peran mereka yang memberikan peningkatan produktifitas angkatan kerja karena urusan domestik telah dialihkan ke PRT. Angka-angka tersebut memang belum pernah disebutkan dalam sensus atau pendataan yang serius oleh lembaga yang kridibel seperti BPS. Tentunya pendataan secara lebih cermat menjadi rekomendasi penting untuk melihat peran strategis PRT dalam ekonomi nasional.
Baik TKI (yang kebanyakan berprofesi PRT di luar negeri) maupun PRT di dalam negeri belum mendapatkan perlindungan yang memadai untuk pemenuhan hak-hak mereka sebagai pekerja maupun perlindungan atas pelanggaran hak-hak mereka sebagai manusia. Pelecehan seksual, penganiayaan, upah di bawah standar, penganiayaan dan bentuk kekerasan lainnya tidak sedikit dialami oleh PRT. Perlindungan yang sistematis dan menyulurh sangat dibutuhkan untuk mengantisipasi semua itu. Memahami kontribusi PRT terhadap ekonomi nasional merupakan satu langkah untuk meyakinkan pemerintah bahwa keberadaan PRT harus diakui dan tanggung jawab pemerintah untuk melindungi. Bagi masyarakat luas yang mempekerjakan PRT juga perlu mengetahui peran penting PRT ini terhadap ekonomi keluarga mereka.
Catatan Akhir:
* Tulisan ini merupakan kerangka acuan diskusi dengan tema yang sama, yang diselenggarakan oleh Jaringan Nasional Advokasi Pekerja Rumah Tangga (Jala PRT) bekerjasama dengan Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) di Jakarta pada 14 Desember 2010.
[1] Lihat tiga pendekatan untuk mengetahui pendapatan negara di http://id.wikipedia.org/wiki/Pendapatan_nasional (diakses pada tanggal 6 September 2010 pukul 11.20 wib)
[2] Lihat juga Rumus Menghitung PDB, PNB, PNN, Pendapatan Nasional, Individu Dan Pendapatan Dapat Dibelanjakan di http://organisasi.org/rumus-menghitung-pdb-pnb-pnn-pendapatan-nasional-individu-dan-pendapatan-dapat-dibelanjakan (diakses pada tanggal 6 September 2010 pkl.11.35 wib)
[3] KompasTv.com, 15 Desember 2008
Kemacetan jalan-jalan di Jakarta, pekerjaan yang menumpuk, suasana relasi yang cenderung saling tidak peduli pada orang di kanan-kiri, rasanya merupakan salah satu kepenatan sendiri untuk aku. Tinggal di Bogor dan bekerja di Jakarta bukan hal yang mudah. Ditambah lagi secara ekonomi masih terhitung pas-pasan dan terus bepikir bagaimana caranya untuk hidup tenang dan bahagia dalam kondisi apa pun. Kalau perlu menertawakan diri sendiri menjadi satu cara menuju ke sana.
Hari-hari belakangan ini aku merasa bahagia. Di tengah-tengah kepenatan menghadapi situasi tersebut, ternyata berkumpul dengan teman-teman lama merupakan satu jeda untuk refreshing. Bulan Ramadhan lalu, aku mengikuti reuni sekaligus berbuka puasa bersama dengan teman-teman semasa SMA. Lalu hari Ahad lalu, 11 Oktober, teman-teman seangkatan dari JIP Fisipol UGM mengajak berkumpul bagi semua alumni 1997 di Jakarta. Tadi malam ngobrol dengan Wahid Arsyad, teman dekat masa-masa kuliah yang kebetulan sedang berada di Jakarta serta tak sempat ikut reunian di blok M dengan teman-teman kuliah pada Ahad lalu. Sebelumnya, 8 Oktober, aku bertemu dengan Ochy teman masa kecil di Bengkulu. Insya Allah akhir pekan ini aku pun akan bertemu Rendi, sama seperti Ochy, teman dekat masa-masa sekolah di SDN 66 desa Tanjung Jaya, Bengkulu.
Reuni dengan teman-teman SMA menarik perhatian aku. Undangan dikirim oleh Fitri Herlita, teman waktu di kelas 2C, lewat pesan di facebook. Meminjam istilah anak-anak sekarang, judulnya menggigit banget: 12 Tahun Pasca Abu-abu. Belasan yang hadir, baik mereka yang pernah sekelas (dalam arti dalam satu ruang kelas), maupun tidak. Bahkan lucunya, Henny Perwitasari yang tidak pernah sekelas denganku tidak tahu nama sehingga harus bertanya pada teman lainnya. Demikian pun dengan aku sendiri, hanya ingat wajahnya namun tak tahu siapa namanya. Di SMAN 4 (sekarang SMUN 5) Bengkulu, ada 6 ruang kelas secara paralel, untuk semua level kelas 1 hingga kelas 2. Selanjutnya, di kelas 3 kami dibagi menjadi 2 jurusan, jurusan IPS terdapat 3 kelas dan demikian pula untuk jurusan IPA. Tak seperti sebelumnya, jurusan Budaya atau Bahasa ditiadakan pada periode kami. Reunian ini mempertemukan kami setelah 12 tahun terpisah karena melanjutkan pendidikan di berbagai kota dan seterusnya memasuki dunia kerja di Jakarta dan sekitarnya. Buka puasa bersama berlangsung di restoran Tawan, Pacific Place jalan Sudirman pada 3 September lalu.
Ahad lalu, 11 Oktober adalah pertemuan dengan teman-teman kuliah. Tidak tahu pasti ada berapa alumni seangkatan yang ada di Jakarta. Yang jelas, juga melalui facebook Makhrus telah menghubungi beberapa teman sepekan sebelumnya untuk melakukan pertemuan ini. Yang hadir hanya 6 orang. Ada Desianto yang masih betah jadi PNS di Gedung DPR/MPR Senayan, juga Pramaarta yang tempat kerjanya sama dengan Desianto namun berstatus staf ahli, Sari yang bekerja di Bank DKI, Ayu yang bekerja di BNI, Harunti di Depdagri, Makhrus yang bekerja di perusahaan IT dan aku sendiri yang menjadi "pekerja sosial". Bertemu teman-teman Yogya memberikan kesan sendiri. Entahlah, aku merasa sepertinya kami bertemu dengan penuh bahagia, bercerita tentang masa-masa kuliah, tentang Yogya, tentang teman-teman yang tak dapat ikut serta, serta hal-hal lainnya. Berbeda dengan reunian lain yang pernah aku ikuti, suasana bertemu dengan teman-teman kali ini terasa sederhana tapi menyenangkan. Barangkali karena kami produk Yogya :))Wahid Arsyad adalah salah satu teman dekatku semasa di Yogya. Saat ini ia tinggal di Lampung sebagai PNS guru di sekolah Depag, serta juga nyambi memelihara Muhammadiyah di sana dengan menjadi kepala sekolah, ketua Pemuda Muhammadiyah, dan beberapa hari terakhir ini berada di Jakarta untuk mengikuti pembekalan sebelum melakukan survey sebuah proyek lembaga internasional yang banyak memberikan hutang untuk Indonesia. Arsyad dikenal sebagai mahasiswa Musholla (katanya Sari loh...) sama seperti Saleh yang sekarang kembali ke kampung halamannya di Surakarta. Ia menempuah pendidikan di fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga selain di Fisipol UGM. Itu pula yang menyebabkan ia dapat menjadi pegawai di Departemen Agama. Tadi malam kami bercerita tentang banyak hal hingga larut malam di hotel Sahid Jaya Jakarta. Sama seperti dulu, ia masih tetap kritis namun mengakui kalau kekurangan banyak informasi setelah berpindah ke daerah. Tapi aku masih suka berdiskusi dengan teman satu ini.
Ochy adalah salah satu temanku masa-masa di SD. Saat ini bekerja untuk sebuah perusahaan pertambangan di Bengkulu. Kami bercerita tentang kawan-kawan lama serta tentang diri kami masing-masing. Miris juga mendengar kisah teman-teman kecil dulu yang ternyata menghadapi kesulitan ekonomi sehingga pendidikan tinggi mereka harus putus di tengah jalan karena memilih bekerja sebab tak ada biaya. Ada juga cerita tentang cita-cita ingin melanjutkan studi di luar Bengkulu namun terpaksa menerima kehendak orang tua untuk memilih pendidikan keguruan dan di UNIB supaya kelak menjadi PNS sebagaimana kehendak kebanyakan orang tua di Bengkulu. Entahlah, aku pikir tak hanya di daerah kelahiran aku itu, banyak orang menjadikan PNS sebagai cita-cita final dan rela mengeluarkan uang puluhan juta rupiah untuk status PNS.
Ochy, menurut cerita Yeni Yunidarti yang kutelepon sehari setelah mendapatkan nomor kontaknya, berpenampilan sedikit tomboy. Cerita itu sedikit berbeda jika kubandingkan dengan foto-foto Ochy yang banyak terdapat di facebook. Saat kami bertemu ia memang terlihat penuh keberanian serta percaya diri tinggi. Ochy bekerja untuk sebuah perusahaan asing yang cukup menjamin kebutuhan hidupnya sehari-hari. Karena kepercayaan dan kedekatan dengan Bos (yang juga perempuan sukses seperti terkesan dari cerita yang kutangkap), Ochy memiliki kebebasan untuk bertamasya ke seluruh Indonesia jika sudah penat dengan pekerjaan. Dari Ochy pula aku memahami Bengkulu saat ini dari konstelasi politik elit-elit di daerah.
Insya Allah akhir pekan ini aku akan bertemu Rendi. Sesuai dengan janji aku pada Ochy, aku ingin mengajak Rendi untuk merencanakan berkumpul dengan teman-teman kami dulu. Mungkin akhir tahun ini, atau bisa jadi lebaran idul fitri tahun depan. aku dan rendi cukup dekat dan berpisah kira-kira 5 tahun lalu. Rendi menamatkan kuliah di jurusan Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Kakak dan saudara-saudara sepupunya menempuh pendidikan di UGM. Mereka menyewa sebuah rumah di sebelah utara kampus biru itu. Rumah itu pula yang setelah gempa hebat di Bengkulu tahun 2000 menjadi sekretariat Forum Silaturrahmi Mahasiswa Muslim Bengkulu di Yogyakarta. Aku sering main ke sekretariat itu. Aku dan Rendi sudah berjanji bertemu akhir pekan ini.
Bertemu dengan teman lama, bercerita tentang masa-masa lampau serta berbagi kabar masing-masing pada saat ini merupakan satu cara untuk melepaskan beban. Mengenang masa lalu betul-betul menyenangkan. Untuk aku, ini merupakan cara mengisi jeda untuk melanjutkan perjalanan ke masa depan. Mungkin itu pula yang menyebabkan orang rela mengeluarkan uang jutaan rupiah hanya untuk bersama-sama mengikut konser kelompok musik yang tenar di masa mereka muda. Atau, yang sekarang lagi tren ada komunitas 80-an, yang membuat blog untuk berbagi cerita, serta mengikuti secara rutin acara di salah satu televisi swasta bertajuk "Zona 80". Sebenarnya, sekitar 6 tahun lalu aku pun senang mendengarkan acara the seventies hits yang diasuh oleh Helmi Yahya di sebuah jaringan stasiun radio ibukota setiap pekannya. Meski masuk dalam kategori generasi 90-an, lagu-lagu itu cukup akrab menemaniku belajar saat itu.
Bagi beberapa orang, reuni bisa jadi merupakan saat dimana orang yang "sukses" ingin menunjukkan kesuksesannya pada teman-teman lama. Ini yang sempat diungkap seorang seniorku yang menjadi Anggota DPR-RI mewakili propinsi DI Yogyakarta beberapa tahun silam, ketika aku mengabari ada reunian alumni organisasi tempat kami pernah memupuk aktivisme mahasiswa. Ia ogah untuk ikutan karena ia anggap sebagai sesuatu yang sia-sia dan hanya memunculkan rasa sombong. Buat aku sendiri, perjumpaan dengan teman-teman lama ibarat berkaca diri sudah berbuat apa saja dalam hidup ini sejak perpisahan dengan mereka. Juga, upaya mengobati rasa kangen yang bisa menjadi sumber energi baru.
Membangun dan memelihara relasi bisa jadi memang merupakan langkah seorang politisi untuk membangun dan memelihara kekuatan dukungan. Buatku, cukuplah ini sebagai upaya mengeratkan tali silaturrahmi. Dan, sungguh ini bukanlah sesuatu yang "sia-sia"....
Dunia boleh modern, teknologi semakin canggih, dan pergaulan makin meng-global, tapi ternyata tetap saja masih ada yang menggunakan pikiran dan cara primitif untuk mengatasi satu keadaan di masa ini.
Sekitar Juli tahun 2006 lalu. Kami mengadakan dialog inter-regional dalam upaya mencari terobosan penyelesaian masalah kekerasan yang dialami pekerja migran (TKI) di Timur Tengah. Kegiatan kami lakukan selama sepekan, mengundang aktifis HAM dan ilmuan dari Timur Tengah yang memiliki perhatian pada issue ini ke Indonesia. Selain dialog di Jakarta, mereka diajak mengunjungi daerah-daerah (asal) yang menjadi kantong pekerja migran yang mengadu nasib di Timur Tengah dan berdialog dengan aktifis pemerhati dan juga keluarga pekerja migran, tokoh adat dan tokoh agama, serta pemerintah daerah setempat. Dengan demikian, mereka yang dari Timur Tengah ini dapat melihat secara langsung, tak hanya dari laporan aktifis HAM di Indonesia, kondisi yang dihadapi oleh pekerja migran dan keluarganya.
Timur Tengah adalah tujuan yang cukup mengundang ketertarikan calon TKI. Selain harapan bekerja sekaligus dapat menunaikan ibadah haji, calon-calon TKI di daerah yang mayoritas muslim menilai bahwa orang-orang di sana yang menjadi majikan berperilaku baik karena seiman dengan mereka. Kenyataannya seringkali bertolak belakang. Mereka yang bekerja kebanyakan sebagai PRT justru mendapatkan perlakuan yang tidak manusiawi: gaji tak dibayarkan, mendapat kekerasan baik fisik maupun mental, bahkan perkosaan oleh majikan maupun anggota keluarganya. Kondisi rumah tangga yang tertutup juga mempengaruhi keselamatan mereka yang sulit untuk mendapatkan perlindungan dari luar rumah majikan. Cerita-cerita mengenai hal ini dapat diperoleh dari catatan laporan penelitian yang dilakukan Human Rights Watch, yang dapat Anda baca di sini.
Sebagai peneyelenggara, kami berharap dapat membangun jaringan dengan para aktifis dari Timur Tengah yang menjadi peserta dialog inter-regional dalam mengupayakan perlindungan TKI di sana. Ilmuan di sana dapat melakukan penelitian mengenai TKI dan membuat rekomendasi kepada pemerintahnya atau mempublikasi tulisan sehingga didengar oleh pihak berwenang di sana. Aktifis HAM dapat melakukan advokasi secara serius untuk TKI, melakuan kampanye bersama, dan bentuk-bentuk kerjasama lainnya.
Apa yang hendak saya sampaikan berkaitan dengan kalimat pertama tulisan ini adalah, cerita lain dari proses kegiatan kami itu. Kegiatannya diawali dengan malam ramah tamah serta pementasan seni yang menunjukkan sejarah hubungan masyarakat Indonesia dengan masyarakat di Timur Tengah. Kesenian saat itu antara lain berupa Marawis dari Betawi serta tari Saman dari Aceh yang semuanya mengandung nilai-nilai atau simbol Islam. Bahkan nuansa Timur Tengah lebih kental pada Marawis.
Acara dilangsungkan di kediaman Ibu Kamala Chandrakirana atau rumah almarhum Soedjamoko di Menteng. Persisnya acara berupa penyambutan sekaligus ramah tamah dengan juga mengundang anggota DPR, Pejabat Deplu, Kedubes negara-negara Timur Tengah, beberapa lembaga donor dan mitra-mitra kerja, dilangsungkan di halaman rumah supaya terkesan santai. Untuk mengantisipasi kemungkinan turunnya hujan pada saat acara, ternyata teman saya yang merupakan aktifis feminis senior di tanah air menggunakan jasa pawang hujan. Ini supaya acara malam itu dapat berjalan dengan lancar.
Saya mengetahui langkah yang diambil teman saya ini ketika tiba di kantor pada pagi hari. Kami sibuk mempersiapkan segala kebutuhan untuk kegiatan malamnya. Saya terkejut ketika melihat sebuah celana dalam bekas yang masih basah terhampar di atas salah satu kursi kerja. Celana dalam itu benar-benar bekas yang sudah buruk rupa serta bolong-bolong pula. Seorang teman kemudian menjelaskan kalau itu adalah cara yang diminta pawang hujan untuk mencegah hujan turun di malam itu. Sejak itu, saya tahu kalau pawang hujan mencegah datangnya hujan dengan menjadikan celana dalam bekas sebagai salah satu alatnya. Entah apa maknanya, tetapi bagi saya ini sungguh mengejutkan. Pertama, karena teman saya yang menggunakan jasa pawang itu adalah orang yang sudah berkeliling dunia, mengenal banyak peradaban, serta berinteraksi dengan beraneka ragam orang "modern", serta semua hal yang semuanya dijelaskan dengan rasionalitas. Dan, celana dalam itu betul-betul di luar nalar, jauh dari rasionalitas yang dapat saya terima.
Ketika SBY baru menjabat Pesinden Presiden pada akhir 2004 lalu, terjadi musibah tsunami di Aceh, kecelakaan di jalan tol Jagorawi yang menewaskan satu bis kota, serta beberapa bencana lainnya. Saat itu terdengar kabar sampai ke telinga saya bahwa Presiden kita ini akan memotong 1.000 ekor kambing untuk prosesi selamatan supaya segala bencana di negeri ini berhenti terjadi. Rencana ini urung terlaksana, konon, karena teguran dari pihak Muhammadiyah dan salah satu partai pendukungnya (PKS). Untuk orang yang mencoba menggali penjelasan melalui ilmu pengetahuan, sungguh tindakan semacam itu termasuk dalam kategori "primitif". Bahkan keberadaan paranormal yang begitu banyak di Nusantara tidak mampu mempersingkat kurun waktu penjajahan bangsa Eropa selama 350 tahun.
Pada 12 Oktober nanti, kami bersama teater Garasi akan menyelenggarakan pentas teater, masih dalam upaya kampanye perlindungan pekerja migran (TKI) di luar negeri. Segala persiapan sudah mulai kami lakukan. Kemarin, kami melakukan rapat serta melihat area pelataran Komnas HAM yang akan menjadi tempat pementasan. Ada rencana untuk menyewa tenda untuk mengantisipasi turunnya hujan ketika pementasan berlangsung. Salah seorang teman yang ikut rapat mengusulkan untuk menggunakan jasa pawang hujan. Kembali celana dalam disebut-sebut.
Orang boleh pergi ke luar angkasa, nuklir dikembangkan sebagai sumber energi, teknologi kloning diperdebatkan, tetapi di sini, meski orang berpendidikan tinggi, masih tetap saja mangandalkan jasa paranormal. Apakah kemiskinan, kekayaan alam dan Pemerintah dikendalikan oleh asing, serta mental korup akan segera hilang dari daftar penyakit yang diderita bangsa ini karena kehadiran paranormal?
Catatan:
tulisan yang sama dimuat di Politikana.com
Suatu ketika, Musa sedang sakit. Lalu ia berdo'a memohon kepada Allah SWT, minta disembuhkan dari sakitnya.
Karena Musa adalah seorang nabi, utusan Allah, maka datanglah kepadanya malaikat Jibril. Malaikat penyampai wahyu itu memberitahu Musa tentang obat untuk menyembuhkan sakitnya.
"Ambillah daun-daunan dari tumbuhan yang ada di dekat rumahmu, lalu rebuslah daun-daun itu dan minumlah air rebusan itu." Demikian jibril memberi tahu tentang obat untuk Musa.
Lalu Musa melakukan apa yang dikatakan oleh malaikat Jibril. Tak lama setelahnya, Musa pun sembuh dari sakit yang ia derita.
Beberapa waktu kemudian Musa kembali mengalami sakit. Ia merasakan gejala sakit yang ia derita sama dengan sakit yang ia alami sebelumnya. Maka, dengan percaya diri Musa pun mulai meracik obat sesuai dengan petunjuk yang dulu pernah diberikan oleh malaikar Jibril.
Sesudah meminum ramuan obat, menunggu beberapa lama, ternyata Musa tak juga sembuh dari sakitnya. Ia pun bertanya-tanya kenapa gerangan ia tak juga kunjung sembuh dari sakit.
Lalu datanglah Jibril memberikan jawaban. Ia katakan kepada Musa, "sesungguhnya sakir yang mampu menyembuhkan segala macam penyakit adalah Allah SWT. Ia yang maha segalanya, termasuk menyembuhkan segala macam penyakit."
Rupanya, malaikat Jibril menyampaikan teguran Allah kepada Musa. Musa telah lalai, telah abai bahwa sesungguhnya ramuan berupa dedaunan dan semua yang bernama obat adalah perantara dari bantuan kesembuhan yang diberikan Allah.
Dalam dunia yang disebut modern ini, seringkali manusia lupa pada kekuasaan-Nya. Dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin maju, manusia menganggap bahwa dirinya maha tahu segalanya. Seolah ilmu pengetahuan dan teknologi bisa menyelesaikan semua persoalan yang dihadapi oleh manusia. Orang lupa bahwa ada Ia yang Maha Kuasa. Bahwa manusia ini hanyalah ciptaan-Nya.
Terlalu banyak manusia yang lupa bahwa ia berasal dari-Nya, dari penciptaan-Nya, dan kelak akan kembali lagi kepada-Nya. Cerita tentang Adam adalah hikmah bagi umat manusia, bahwa sesungguhnya hanya Ia yang Maha Kuasa atas segala yang ada di kehidupan ini. Ia yang menciptakan langit dan bumi serta seisinya. Tanpa kehendak-Nya, obat hasil ilmu pengetahuan dan teknologi buatan manusia tak akan pernah bisa mengobati segala penyakit yang ada. Hanya kepada-Nya saja kita memohon pertolongan.
Catatan:
1. Cerita ini saya dapat dari istri saya yang menyimak satu kajian agama Islam selepas subuh di radio Delta FM Jakarta beberapa waktu lalu.
2. Foto Senja di Linau saya dapatkan dari sini, dan © pada Farid Gaban sebagai fotografernya. Pantai Linau terletak di daerah kelahiran saya, Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu.
Namanya Murtini. Saya lupa persis namanya, dan hanya kata itu yang saya ingat untuk namanya, meski tidak yakin bahwa itu nama yang ia sebutkan pada dua pekan lalu. Ya, dua pekan lalu saya mampir di warung nasi yang ia kelola di dekat Gudeg Yu Djum, sebelah utara Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM). Saya mampir ke warungnya setelah sekitar 7 tahun lalu untuk terakhir kali saya makan di sana. Mbak Murtini berusia sekitar 35 tahun.
Saya tinggal di Tawang Sari saat itu, tak jauh dari warung mbak Murtini yang berada di Karangasem. Ada banyak warung di daerah pondokan mahasiswa di sebelah utara kampus "ndeso" itu. Saya salah satu mahasiswa 12 tahun lalu, bisa memilih warung mana saja sekedar untuk variasi makanan sehingga tak bosan. Namun, pilihan warung macam milik mbak Murtini lebih karena murahnya.Bandingkan misalnya dengan warung Bu Tuti, yang menyediakan masakan khas Bengkulu, yang harganya bisa tiga kali lipat. Berapa uang yang harus dikeluarkan untuk makan di warung mbak Murtini saat itu? Seingat saya, makan dengan seribu atau seribu lima ratus perak sudah sangat layak untuk mahasiswa sembilan tahun lalu. Apalagi saat sebelum krisis, makan dengan lauk ayam dan tempe dua potong hanya butuh tak sampai seribu perak.
Ia masih mengingat saya, setidaknya ia masih ingat kalau saya dulu sering makan di warungnya. Saya memiliki seorang teman yang kebetulan mondok di kos-kosan miliknya di bagian belakang warung. Saya bertanya kabarnya, dan ia katakan kalau ia baik-baik saja. Kakaknya yang dulu bersamanya menghidangkan pesanan pembeli ternyata mengalami struk sudah beberapa tahun terakhir, sehingga otomatis tinggal mbak Murtini yang menunggui warung. Ia terlihat lebih gemuk, meski menurut pengakuannya ia belum bersuami. Inilah anggapan yang keliru di masyarakat, bahwa setiap orang yang sudah berkeluarga pasti akan menjadi gemuk. Ia pun mulai bercerita tentang suasana warungnya.
"Sekarang sepi, mas. Sedikit mahasiswa yang makan di warung ini. Jika dulu warung buka sampai malam, namun sekarang pukul lima sore warung sudah saya tutup."
"Dulu orang akan mikir dua kali kalau mau makan di lesehan atau resto yang sekarang makin menjamur. Namun sekarang mahasiswa lebih senang makan di sana daripada di sini."
Cerita mbak Murtini lebih terdengar sebagai keluhan.
Mahalnya biaya kuliah dengan penetapan UGM, IPB, ITB, dan UI sebagai Badan Hukum Milik Negara (BHMN) telah menjadikan kampus-kampus besar ini hanya dapat diakses oleh anak-anak dari kalangan berduit. UGM sebagai kampus negeri terbesar dan tertua di Yogyakarta (bahkan kampus tertua di Indonesia) pun menjadi sangat berbeda dengan masa-masa sebelumnya. Dulu mahasiswa UGM kebanyakan adalah anak-anak cerdas namun kebanyakan dari kalangan ekonomi "lemah". Jika ada anak orang kaya yang masuk ke sini, maka mereka akan sedikit banyak mengikuti gaya hidup teman-temannya yang sederhana, ramah, dan mudah bersosialisasi dengan warga setempat. Bahkan setelah lulus pun mereka memiliki idealisme untuk membangun masyarakat di daerah-daerah daripada bergelimang harta dan tahta di kota-kota besar. Sekarang, mahasiswanya berbeda, lebih kaya sekaligus lebih manja dengan fasilitas yang serba ada.
Naiknya biaya pendidikan di UGM mempengaruhi kampus-kampus lain di Yogya. Biaya hidup pun jadi lebih mahal dari sebelumnya. Mungkin benar bahwa kondisi ini mengikuti inflasi setiap tahun terjadi yang membuat nilai uang semakin berkurang dari waktu ke waktu. Selera makan mahasiswa pun jadi berubah, dari yang semula makan makanan sederhana dari warung-warung warga sekitar tempat pondokan menjadi makan makanan yang disediakan oleh resto-resto atau semacam cafe yang sekarang bertumbuhan.
Soal makan ini, tak hanya dari sajian makanan yang berbeda, namun suasana lebih "santai" dengan iringan musik hidup serta tempat tempat yang lebih luas yang tersedia yang tak dimiliki oleh warung-warung sederhana yang dulu jadi idola. Jika dulu koran Kedaulatan Rakyat, Bernas, Jawa Pos atau Kompas menjadi daya tarik warung sebab mahasiswa ingin makan sambil membaca koran. Sekarang, koran-koran serta harga murah tidak menjadi daya tarik yang tinggi untuk makan di warung. Mungkin era berita yang serba digital karena kemajuan teknologi komunikasi dan informasi (ICT), koran-koran itu sudah tidak dibutuhkan lagi. Uang yang banyak membuat harga tinggi tak perlu dikhwatiri.
Cerita mbak Murtini merupakan kegelisahan warung makan-warung makan yang dikelola oleh masyarakat setempat. Kos-kosan yang disewakan memang merupakan pemasukan ekonomi. Namun kos-kos dengan fasilitas yang lebih banyak, suasana lebih nyaman tentunya menjadikan kos-kos dengan fasilitas seadanya hanya mampu menghasilkan uang bagi pemiliknya dengan jumlah pas-pasan. Banyak kos-kosan dengan fasilitas lebih "mewah" sebenarnya merupakan usaha (milik) orang-orang Jakarta. Warung makan adalah pelengkap sumber penghasilan sehari-hari. Warung-warung seperti milik mbak Murtini memang telah mengalami pengurangan penghasilan yang cukup berarti. Seperti di siang saat bertandang ke sana, hanya saya satu-satunya pembeli di jam makan siang itu.
Sudah tiga pekan lebih saya di Yogya dan menyisakan sepekan lagi sebelum kembali mengikuti aktivitas Jakarta yang ramai. Sempat saya amati setiap akhir pekan, warung-warung memang banyak yang berubah. Mereka yang memiliki modal yang cukup akan mengubah penampilan dan juga sajian yang lebih "modern" akan mempertahankan, setidaknya, jumlah pengunjung yang sudah ia miliki. Tapi, ada berapa banyak yang bisa begini?
Warung mbak Murtini sendiri tidak berubah sejak 7 tahun lalu. Sementara, di luar sana, di pinggir-pinggir jalan atau tempat strategis di sekitar kampus telah berdiri kafe atau resto dengan tampilan dan suasana yang lebih "kota" serta ada pula sajian musik hidup yang lebih menggoda para mahasiswa yang kebanyakan dari kota-kota se-Indonesia. Meski harga lebih tinggi dari harga makanan di warung mbak Murtini, tetap saja tempat semacam ini menjadi lebih ramai. Saya perkirakan, warung warga setempat dengan modal seadanya dan tak mampu mengubahnya menjadi lebih "modern" itu akan terus terhimpit dari waktu ke waktu. Mereka akan seperti warga asli Ibu kota, tersingkir oleh para pendatang yang memiliki naluri bisnis yang tinggi. Kekhawatiran saya pun sama seperti pada kondisi orang-orang betawi, kelak di kemudian hari mereka hanya mampu menonton dari jauh, sembari bercerita pada anak-cucu: dulu, di sana, mbah kakung dan mbah putri pernah tinggal dan memiliki warung yang ramai.
Akhir pekan lalu, saya dan istri membeli beberapa kebutuhan untuk kelahiran putra kedua kami. Saat itu, istri menyebut satu toko yang menurut informasi yang ia dapat merupakan toko yang menjual barang-barang yang sedikit lebih murah dibanding toko-toko lain yang menjual barang yang sama di sekitar sana. Toko itu terletak di sebuah kawasan niaga sebuah perumahan elit di timur Cibubur, Jakarta Timur.
Ketika melewati gerbang perumahan yang dijaga oleh beberapa satpam itu, betapa terkejutnya saya pada satu tanda lingkaran yang dibuat garis miring diamater menutupi gambar orang bersepeda motor di dalamnya. Di bawah gambar tertulis: Ojek dilarang masuk. Tegas sekali larangan itu. Ojek yang merupakan alat transportasi kawasan yang paling praktis dan cepat ternyata dilarang di kawasan itu. Mungkin saja larangan itu berkaitan dengan keamanan bagi penghuni kawasan dengan rumah-rumah besar namun tak sedikit hanya ditempati oleh pekerja rumah tangga (PRT), bahkan ada yang kosong tak berpenghuni. Asumsinya, semua penghuni perumahan memiliki kendaraan pribadi sehingga tak membutuhkan alternatif angkutan. Namun, bagi saya pribadi larangan ini adalah satu bentuk diskriminasi yang seharusnya tak boleh terjadi.
Beberapa kawasan perumahan memang menyediakan angkutan kawasan. Sebut saja perumahan Kota Wisata. Perumahan elit ini menyediakan angkutan itu, namun warga tetap saja memerlukan ojek sebagai alat transportasi alternatif. Selain lebih cepat karena tak perlu berkeliling kawasan namun langsung menuju rumah, juga karena angkutan kawasan datang tidak dalam jeda yang singkat. Ojek akhirnya menjadi satu kebutuhan. Ada demand maka ada supply.
Masalah keamanan, perumahan dengan pengamanan satpam di setiap cluster kawasan tentunya tak begitu mengkhawatirkan. Jika pun tukang ojek sering melintas, sebagai mana tamu yang datang, biasanya dimintai tanda pengenal atau dicatat ciri-cirinya oleh satpam yang ada. Jika memiliki langganan, tentunya ia akan sering keluar-masuk, dan satpam seharusnya mengetahui itu. Sungguh, tak perlu ada kekhawatiran.
Pelarangan ojek untuk masuk ke dalam kawasan menunjukkan satu bentuk tuduhan secara tidak langsung bahwa para pencari nafkah dengan menawarkan jasa mengantar orang dengan sepeda motor ini adalah mereka yang "pasti" melakukan kejahatan. Bisa jadi ini adalah permintaan segelintir warga atau pun memang "fasilitas" kenyamanan yang ditawarkan pengelola perumahan. Namun, siapa yang dapat memastikan kalau mereka adalah pelaku kejahatan?
Melarang ojek masuk kawasan sama niatnya dengan pelarangan terhadap pemulung. Harus diakui, memang ada kejadian di mana pemulung membawa pergi beberapa barang berharga milik warga. Namun, sekali lagi, tak semua pemulung berbuat jahat melakukan pencurian atau kejahatan yang lain. Mereka, para pemulung itu, adalah penyelamat lingkungan. Mereka memungut kardus, bungkus plastik, botol-botol bekas dan barang-barang tak terpakai lagi yang kelak akan jadi barang-barang bermanfaat setelah mengalami proses daur ulang.
Kita sepatutnya berterima kasih pada pemulung. Atas jasa mereka, sampah-sampah yang kita buang tak langsung mengotori dan menyakiti bumi ini. Mereka yang begitu benci pada pemulung karena ketakutan hartanya dicuri belum tentu adalah mereka yang ramah pada bumi, dan membuang sampah pada tempatnya. Mungkin secara sosial status kepemilikan harta mereka yang melarang pemulung masuk lebih tinggi kedudukannya, namun dalam hal kesadaran melestarikan bumi untuk anak-cucu kita nanti juga belum pasti mereka memiliki.
Mengamati pelarangan di mana-mana ini, sepertinya ada upaya untuk melestarikan sekat-sekat antarkelas dalam masyarakat. Sekat itu bisa antara penghuni perumahan "elit" dengan para kelas ekonomi paling bawah seperti para pemulung atau tukang ojek. Bisa juga dalam bentuk yang lain berupa akses untuk mendapatkan layanan publik yang saat ini telah banyak diserahkan pengelolaannya pada pihak swasta. Pihak swasta, yang dengan kerakusan pada akumulasi keuntungan tidak akan mudah memberikan akses kepada mereka yang tidak memberikan keuntungan.
Jika kepentingan publik telah diserahkan pada swasta, maka layanan publik yang masih dijalankan oleh Pemerintah biasanya tetap tidak mampu memberikan layanan maksimal kepada masyarakat. Inilah skenario kapitalisme neoliberal yang menjadikan subsidi pemerintah sebagai duri dalam daging yang harus dilenyapkan. Karena itu, kesepakatan hutang Pemerintah Indonesia dengan IMF dan lembaga moneter lainnya jelas menyebutkan tak boleh ada lagi pemberian subsidi. Pencabutan subsidi adalah kewajiban Pemerintah lainnya di samping menyerahkan pengelolaan kepentingan publik kepada swasta.
Sebut saja sekolah-sekolah di wilayah Jabodetabek yang mulai berstatus internasional atau sekolah unggulan. Jika bukan milik swasta maka ia adalah sekolah-sekolah negeri yang iuran wajibnya tak mungkin dapat terbayar oleh para pemulung atau tukang ojek. Sekolah murah untuk kaum miskin dengan subsidi yang telah terkurangi adalah sekolah yang paling banyak dapat diakses oleh anak-anak tukang ojek dan pemulung.
Rumah sakit pun demikian. Susah sekali untuk menemukan rumah sakit pemerintah yang mau memberikan pelayanan yang baik pada orang-orang miskin. Bahkan yang dirawat dengan menggunakan kartu tanda keluarga miskin pun harus ikhlas untuk dibedakan standar pelayanan minimal dengan mereka yang mampu membayar dengan lebih mahal untuk mendapatkannya.
Di rumah sakit-rumah sakit swasta, untuk mendapatkan pelayanan Anda harus menyetorkan sejumlah uang sebagai deposit untuk menjamin bahwa biaya perawatan dapat dibayar oleh keluarga si sakit. Besar deposit biasanya sebanyak biaya perawatan selama 10 hari. Jika tak dapat membayarkan uang deposit ini, jangan harap Anda akan mendapatkan perhatian yang manusiawi dari para tenaga medis di rumah sakit.
Tak perlu membuat tanda larangan dan menuliskannya dengan huruf-huruf berukuran besar sebagaimana larangan masuk bagi tukang ojek di kawasan perumahan elit di timur Cibubur itu. Fenomena akses ke sekolah-sekolah dan rumah sakit-rumah sakit dengan layanan yang layak jelas menunjukkan larangan nyata bagi sebagian besar masyarakat kita. Meminjam bahasa aktivis HAM dari dari Yogyakarta, Eko Prasetyo: "Orang Miskin Dilarang Sekolah" dan "Orang Miskin Dilarang Sakit."
Catatan:
1. Gambar sampul buku Orang Miskin Dilarang Sakit saya ambilkan dari sini.
2. Istri saya trauma atas kejadian Prita Mulyasari dan beberapa orang lainnya yang dituntut karena mengemukakan pendapat. Karena itu, saya pun tidak mendapat izinnya untuk memotret tanda larangan masuk bagi tukang ojek.
Mau nangis rasanya, membaca berita di Koran Tempo Jumat lalu tentang antrian orang sampai memacetkan jalanan di seputar Senayan City. Orang-orang mengantri untuk membeli sandal dengan harga 300 ribu dan berlian seharga jutaan hingga milyar rupiah. Mereka berdesakan di ruang-ruang mall berpengatur udara yang sejuk.
Tahun lalu, saya menyaksikan sendiri ibu-ibu mengantri berjam-jam hingga pingsan di daerah Jatinegara hanya untuk mendapatkan beberapa liter minyak tanah supaya tetap bisa memasak dengan kompor mereka. Sesuatu yang sungguh paradoks dalam negara bangsa bernama Indonesia.
Fenomena kelas menengah semacam ini pernah disebut oleh teman saya sebagai "menertawai kemiskinan". Sepertinya mereka bangga untuk berbeda dengan orang-orang sebangsanya. Tak peduli, yang penting bisa berbeda selera dengan yang lain, serta harus terlihat lebih tinggi secara sosial dan ekonomi. Ini menyangkut soal prestise. Di kehidupan yang serba semu, prestise adalah tujuan. "Gengsi kami harus lebih tinggi," kira-kira demikian yang jadi semboyan.
Sungguh, saya merasa hidup dalam negeri yang nyaris tak lagi memiliki rasa senasib sepenanggungan. Sering saya mencoba keluar dari kerangka berpikir ini, menjauhkan diri dari realitas sekeliling, dan cukup memikirkan perut sendiri dan keluarga. Tapi kok gak bisa ya?
Keterangan:
Tulisan yang sama pernah dimuat di Politikana
© foto pada Tempo.
Suatu hari dua tahun lalu, di sebuah hotel bintang lima di pusat perkantoran jalan Sudirman Jakarta. Saya dan teman-teman sekantor sedang melakukan pembahasan mengenai Rencana Kerja lembaga kami untuk 3 tahun ke depan.
Saat berada di lobi hotel, tiba-tiba masuklah beberapa orang dengan wajah dan penampilan orang-orang dari negeri Arab. Baik perempuan maupun laki-laki terlihat demikian adanya. Mereka pun terlihat seperti keluarga. Lalu salah seorang teman yang sangat bersemangat kalau bicara tentang HAM dan keadilan jender berujar: "Dasar Arab!" Sinis sekali ucapannya. Ia sangat benci pada masyarakat Arab dan kebudayaannya.
Kebencian teman ini lahir dari fenomena banyaknya buruh migran perempuan (BMP/TKI) yang mengalami penyiksaan oleh majikan mereka di negeri-negeri Timur Tengah. Di sana pun perempuan-perempuannya tidak memiliki kebebasan untuk berekspresi sebab berada di bawah kekuasaan laki-laki.
Di Indonesia, teman saya membaca fenomena kawin kontrak di daerah Puncak, Bogor, Jawa Barat. Banyak laki-laki Arab yang datang ke daerah ini untuk mendapatkan istri yang hanya dikontrak untuk beberapa bulan/tahun selama mereka bekerja atau menetap di Indonesia. Perempuan-perempuan di daerah ini dinikahi untuk melampiaskan kehendak birahi dan menyiasati agar tidak disebut "berzina". Setelah masa tugas selesai, atau tak suka lagi, maka istri pun ditinggal pergi. Betapa bejatnya para lelaki seperti ini.
Saya mencoba berpikir jernih. Saya katakan pada teman ini, "setiap orang dapat berbuat jahat."
Kalau membaca kasus sodomi dan fidofilia di pulau wisata Bali banyak dilakukan oleh orang-orang barat. Bule-bule berambut pirang dan berkulit terang dan sangat dihormati oleh orang-orang bermental inlander di negeri ini datang ke Bali bahkan ada yang terang-terangan ingin mencari bocah-bocah lelaki untuk disetubuhi. Persebaran HIV/AIDS di negeri ini juga tak sedikit kasus orang-orang itu juga yang gemar mencari perempuan pekerja seks di tanah air, dengan alasan yang sama dengan lelaki Arab yang suka memperkosa perempuan BMP Indonesia yang (mohon maaf) dinilai memiliki liang vagina yang lebih sempit dibandingkan dengan perempuan di kalangan mereka. Bukankah kedua bangsa ini sama-sama melakukan penistaan terhadap kemanusiaan?
Fenomena kekerasan (penyiksaan bahkan perkosaan oleh majikan) yang terjadi di Arab Saudi dan negeri-negeri tetangganya merupakan gambaran masyarakat yang memang tidak menghargai kemanusiaan. Namun, tidak semua masyarakatnya berlaku demikian. Ia bukanlah fenomena tunggal hanya terjadi di negeri-negeri gurun itu. Tempat bekerja di wilayah domestik dan juga tinggal di dalam rumah majikan menyebabkan kondisi BMP yang berprofesi sebagai PRT rentan menjadi korban. Masyarakat yang tertutup satu sama lain tak sama dengan cara bertetangga di Indonesia, sehingga apa yang terjadi di dalam satu rumah tangga akan sangat sulit untuk diketahui oleh penduduk sekitarnya. Hukum yang sangat kaku di negeri itu, dimana setiap kali ada kejahatan yang merugikan perempuan selalu mensyaratkan adanya pembuktian dan saksi yang tak mungkin dipenuhi. Bagaimana mungkin orang yang diperkosa dapat mengajukan "penonton" sebagai saksi peristiwa nahas kepada penegak hukum? Akibatnya, alih-alih mendapat pembelaan dari penegak hukum, korbannya malah dituduh telah melakukan zina dan kemudian malah mendapat hukuman.
Masalah kawin kontrak juga menggambarkan betapa payahnya orang memenuhi kebutuhan pokoknya. Keluarga yang salah satu anggotanya menjadi istri kontrak biasanya mendapatkan jaminan pemenuhan kebutuhan pokok selama masa kontrak perkawinan. Tak jarang seorang anak perempuan dijadikan sebagai sumber ekonomi keluarga. Pengasuh anak saya yang tinggal di daerah Ciawi menuju Puncak menceritakan hal ini.
Fenomena migrasi tenaga kerja ke luar negeri dan kawin kontrak merupakan cerminan kemiskinan di pedesaan. Ini merupakah salah satu ketimpangan pembangunan kota dan desa, dimana pemerintah lebih peduli pada wilayah kota dalam pembangunan namun acuh pada kemiskinan yang tak banyak mengalami pengurangan di pedesaan. Kebijakan yang bias pada ekonomi industri dan jasa menyebabkan bidang pertanian kurang mendapat perhatian. Fenomena perusahaan besar dan transnasional juga mulai terlihat dengan penguasaan sumber-sumber pertanian di pedesaan.
Gerakan sosial yang melakuan pemberdayaan di bidang pertanian masih sangat sedikit. Ini karena--salah satunya--ketergantungan organisasi yang menyebut diri "swadaya" pada lembaga donor luar negeri yang tak berminat mengucurkan bantuan untuk pemberdayaan masyarakat petani. Organisasi-organisasi sosial dalam pemenuhan HAM justru lebih cenderung melihat dari sudut pandang hukum pada setiap permasalahan. Akibatnya, penyelesaian masalah lebih mengarah pada penegakan hukum dengan penerapan kebijakan baik di dalam maupun yang berlaku transnegara semacam konvensi international yang dikeluarkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Saya sendiri menilai keduanya harus bersinergi. Pemberdayaan masyarakat pertanian mutlak diperlukan, kebijakan pemerintah harus selalu memperhatikan perbaikan perekonomian pedesaan, hukum di dalam negeri harus dapat melindungi setiap orang dari korban penistaan kemanusiaan, serta konvensi internasional harus berlaku untuk mengganjar setiap pemerintah negara yang tidak melindungi semua pekerja dari luar negeri yang ada di rumah-rumah warga negaranya.
Cerita lain, ketika ada yang mencuri ponsel saya di bis Transjakarta (Busway) setahun lalu, seorang penumpang berpendapat bahwa pencurinya adalah orang yang berperawakan Ambon. Dengan penuh keyakinan ia menyatakan orang itulah pelaku pencurian. Tetapi, maaf, kalau pun benar ia pelakunya, tetap saya tak dapat menerima stigma yang menyatakan orang Ambon sudah pasti pencuri. Belum ada bukti dan juga orang lain pun dapat saja melakukan kejahatan serupa.
Kembali ke cerita di awal. Saya ingin menunjukkan bahwa sebuah prasangka, steorotif, atau stigma terhadap sekelompok orang tertentu sebagai pelaku kejahatan tak boleh membuat kita berbuat tidak adil terhadap orang lain. Sebuah perintah berbuat adil dari dalam Al Qur'an surat Al Maa'idah ayat 8 berbunyi:
.....Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Kita harus memperlakukan semua orang dengan sama (adil), tidak peduli ia dari suku bangsa mana, warna kulitnya, posisi sosial dan jabatannya tinggi atau rendah, atau apapun. Pada hakikatnya setiap manusia adalah sama derajatnya.
Agak mengherankan apa yang menjadi pikiran dan penilaian teman saya pada awal cerita ini ternyata dimiliki pula oleh aktivis-aktivis HAM lainnya. Saya berharap teman-teman saya ini mau membaca dan memahami kembali Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia. Jika masih memercayai bahwa HAM itu bersifat universal, berlaku kapan saja dan di mana saja, maka sejatinya para pengusungnya sama sekali tak patut menuduh orang lain sebagai pelaku pelanggaran HAM hanya karena sebuah pelabelan. Penghargaan akan kemanusiaan adalah inti dari nilai-nilai HAM yang saya fahami. Ia baru dapat terwujud kalau kita berbuat adil, bahkan, seperti dituliskan Pramoedya Ananta Toer: sejak dalam pikiran. Read More......
Ini kisah perpustakaan. Saya teringat pada perpustakaan Mohammad Hatta di Yogyakarta. Saat ini telah tutup. Mengenaskan memang, sebab ia berisi buku-buku sang Proklamator sejak bersekolah di Belanda. Salah satu hal yang sangat saya kagumi dari sosok ini setelah membaca Memoir Mohammad Hatta adalah kegilaannya untuk membaca (menambah ilmu).
Tahun 2000 lalu, saya sempat bertemu dengan kepala Perpustakaan itu. Namanya (kalau tidak salah ingat) Ibrahim. Ia orang Bengkulu asli dan saya menjumpainya pada pertemuan sesepuh orang Bengkulu di Yogyakarta pasca gempa di Bengkulu tahun itu. Saat itu sudah mulai ada tanda-tanda perpustakaan Hatta akan tutup dengan alasan tidak memiliki anggaran. Meski tak sering, saya pernah menikmati beberapa buku tua disana.
Berita yang cukup membuat hati ini lega adalah, perpustakaan yang sama di Bukit Tinggi, tempat kelahiran sang pemalu ini, telah diperbaiki dengan bantuan dana dari Pemerintah.
Perpusatakaan daerah Bengkulu adalah tempat saya lebih banyak menghabiskan waktu luang kalau sedang mudik libur kuliah. Di sini, buku-buku yang sudah selesai saya baca di perpustakaan kampus ndeso tempat saya sempat menuntut ilmu ternyata masih rapih. Di bagian belakang buku, tempat pencatatan peminjaman ternyata masih ada yang kosong alias belum pernah dipinjam. Hal aneh buat saya saat itu. Padahal sejak sekolah SMU di dekat perpustakaan itu, saya sudah biasa hampir mampir untuk meminjam buku sepulang sekolah. Saya pikir, bisa jadi karena yang saya bidik adalah buku-buku sosial humaniora, yang isi dan ketebalannya membuat orang agak emoh untuk menyentuhnya. Orang lebih senang membaca tulisan pendek atau kutipan-kutipan sederhana dari media massa.
Semasa tujuh tahun hidup di Yogya, saya mendapati kondisi sangat kondusif untuk membaca, berdiskusi, dan berorganisasi baik di kampus maupun di masyarakat. Kesukaan pada membaca ternyata membuat saya sadar bahwa pengetahuan saya akan lebih banyak terasah dan bertambah. Interaksi dengan teman dan masyarakat membuat saya bisa melihat realitas yang tertulis di buku dan juga mengerti realitas sebenarnya di masyarakat yang berbeda atau telah berbeda dengan apa yang tertulis di buku.
Kamar kos-kosan yang hanya berukuran dua kali dua setengah meter terasa penuh dengan buku. Meski demikian, teman sebelah kamar saya yang lebih gila membaca ternyata memiliki buku yang memenuhi raknya hingga hampir menyentuh plafon kamar dan hampir memenuhi semua sisi tembok kamar. Saya pikir, ia memang sudah seperti Goenawan Mohamad yang menurut cerita yang saya dengar mengoleksi bacaan yang sudah nyaris tak beroleh tempat.
Perkembangan yang sangat menggembirakan adalah ada banyak komunitas yang melahirkan perpustakaan. Tak hanya itu, perpustakaan yang diperuntukkan bagi lingkungan sekitar itu pun menjadi tempat untuk menghasilkan penulis-penulis cilik, penulis muda belia, baik yang berpendidikan maupun hanya mendapatkan pendidikan dari komunitas yang peduli pada mereka. Rumah Cahaya dan Rumah Dunia adalah dua diantara yang ada.
Merujuk manfaat yang telah diberikan oleh perpustakaan komunitas itu, sejak lama saya dan istri sudah membuat rencana untuk membuka akses pada perpustakaan keluarga bagi lingkungan sekitar kami. Tidak banyak memang, sebab koleksi pustaka sewaktu di Yogya telah kami pindah ke Boyolali. Meski belum terlaksana sesuai dengan konsep awal, paling tidak ada satu dua yang meminjam. Perlu strategi juga untuk mengelolanya bagi publik, sebab waktu kerja telah menghabiskan hari-hari di luar rumah. Rencana untuk membuka rumah baca yang lebih khusus, dengan melibatkan ibu-ibu RT yang tidak bekerja, dan komunitas pengajian teman-teman kami, menjadi PR yang belum terlaksana. Mudah-mudahan bisa terwujud segera.
Saat ini, seperti tulisan Hikmat Budiman berikut, zaman berubah. Dan yang mungkin lupa dituliskannya adalah, orang lebih senang menghabiskan waktu luangnya ke pusat-pusat belanja sebagai bentuk prestise kelas menengah Indonesia. Perpustakaan? Jauh rasanya dari ingin berkunjung. Apalagi untuk menyisihkan uangnya untuk membantu biaya operasional bagi perpustakaan-perpustakaan publik yang sekarat namun kaya akan dokumentasi masa lalu yang amat penting untuk dipelajari demi "menyelamatkan" masa depan.
Mengamati imel teman saya Site, saya jadi tercenung:
"... jarak antara kantor lama dan tempat tinggalku sekarang cuma 5 menit, bisa jalan kaki pula.. sementara dengan kantor sekarang jaraknya 1,5 jam.."
Saya jadi ingat satu software bernama "unit converter" yang dulu sering saya pakai. Misalnya, 1 Knot jarak tempuh sebuah kapal laut yang dikonversi ke Kilometer akan menjadi 1,852 km. Atau, 1 jam jika dikonversi ke menit menjadi 60 menit, dan jika dikonversi ke detik maka hasilnya adalah 3.600 detik.
Lah, gimana kalau konversinya ke satuan waktu? Di tengah kemacetan yang nyaris tak bisa diprediksi setiap hari di Jakarta ini, susah untuk mengatakan jarak antara kantor kami di bilangan Menteng dan Ciputat adalah 60 menit. Untuk kasus Site, bisa jadi kalau pengaturan lalu lintas tetap tidak tuntas sampai 3 tahun kedepan, maka jarak kantor dan tempat tinggalnya akan bertambah menjadi 2,5 jam. Lebih enak mengukur jarak dengan satuan meter atau kilometer. Lebih jelas, asalkan disebut jalan mana saja yang dilalui :) . Read More......
Berbalut baju ketat berbahan kaos, dan celana panjang yang semuanya melekat ke kulit menyelimut seluruh badan. Semuanya berwarna merah jambu. Badannya dibungkus lagi dengan rompi berwarna biru gelap serta rok mengembang setengah paha, semuanya berbahan jeans. Dikepala, terikat slayer segitiga berwarna krem membuat rambut panjang sebahu lebih itu terarah lurus ke belakang. Sepatunya hak tinggi berwarna putih. Usianya saya terka sekira antara lima hingga tujuh tahun. Lincah nian ia menyanyi di atas panggung itu.
Masih ada 4 orang anak lagi yang menyanyi di panggung khusus pertunjukan di Istana anak, Taman Mini Indonesia Indah. Tempat ini pula yang menjadi pusat perayaan Hari Anak Nasional yang berlangsung pada 23 Juli lalu. Kebetulan saya bersama anak dan istri sedang menikmati miniatur kawasan Nusantara yang diberi nama Taman Mini Indonesia Indah. Anak dan istri menikmati fasilitas bermain di Istana Anak, besama tetangga sekaligus kawan yang juga pasangan muda Didin-Siti yang membawa serta anak mereka Aqila, yang baru setahun usianya. Menunggu mereka manaiki kereta mini, saya membaca-baca sambil termangu-mangu melihat anak-anak dengan suara merdu menyanyikan lagu-lagu yang mereka hafal lengkap dengan performance di atas panggung begitu sempurna.
Anak-anak itu, penyanyi cilik yang mungkin sekali jebolan Idola Cilik yang ditayangkan di sebuah statisiun TV nasional, satu persatu menyanyi. Kalau tidak salah, di hari Ahad lalu masing-masing mereka membawakan 3 lagu. Terus terang, suara mereka bagus, penampilan mereka betul-betul bak penyanyi profesional. Saya berpiikir, entah berapa biaya yang orang tua mereka keluarkan untuk mencetak anak-anak itu menjadi penyanyi. Saya mengaguminya sekaligus termangu pada apa yang saya lihat. Mereka ini, semuanya menyanyikan lagu-lagu dewasa. Kata kuncinya antara lain cinta, rindu, mesra, dan sejumlah kata-kata sejenisnya.
Saya ketinggalan dalam mengamati lagu-lagu anak muda saat ini. Satu dua nama penyanyi dan judul lagu saya pernah dengar. Tapi kalau dicocokkan antara penyanyi dan lagunya, mungkin delapan puluh persen pastilah akan saya sebutkan dengan tidak cocok. Pertama, karena saya tidak memiliki TV di rumah, jadi kurang informasi yang sifatnya audio visual. Di rumah ada koran dan di kantor saya mendapat pasokan berita melalui teknologi RSS feed beberapa situs berita lewat Thunderbird di komputer. Kedua, saya tidak begitu suka mengamati kehidupan para artis yang menjadi idola masyarakat lewat jejalan-jejalan infotainment yang menjamur nyaris di setiap stasiun TV di tanah air. Praktis, untuk hal penyanyi, mungkin saya hanya menghafal dengan baik beberapa lagu generasi Kla Project atau Iwan Fals.
Tapi anak-anak yang menyanyi di panggung di Taman Mini itu, saya perhatikan, begitu hafal lagu yang lagi tren saat ini. Salah satu yang saya ingat, Mahluk Tuhan yang Paling Seksi yang dinyanyikan oleh Mulan Jameela. Juga beberapa--kalau saya tidak salah menghafal--lagu kelompok musik Ungu.
Kelihaian dan kepiawaian menyanyikan lagu-lagu itu membuat saya tertarik untuk mengamati. Di kiri kanan, di belakang dan depan saya, bahkan beberapa balita yang mengitari panggung dengan ditemani ayah dan ibu mereka, begitu fasihnya mengiringi sang penyanyi. Mereka melantunkan lagu yang sama. Gaya bernyanyi yang sama dengan penyanyi yang sama, entah Mulan Jameela ataupun Ungu. Inikah potret dunia anak saat ini? Itukah lagu-lagu yang menggambarkan kehidupan mereka?
Saya tidak tahu apakah masih ada anak-anak yang asyik bermain kelereng sepulang sekolah bersama teman-teman mereka. Saya juga tidak melihat apakah putri-putri kecil itu mampu bermain lompat tali sambil bernyanyi tentang matahari pagi. Kenapakah tak ada lagu tentang si anak gembala, naik-naik ke puncak gunung, pelangi-pelangi? Apakah anak-anak sudah tidak bisa lagi menikmati dunia seperti itu saat ini?
Sepuluh tahun lalu, saya memperhatikan tayangan sinetron di rumah paman di Bekasi. Saat itu, saya merasa bahwa akan segera dimulai babak baru sinetron kita: Eksploitasi dunia anak-anak sekolah. Isinya mengenai cinta monyet mereka, kehidupan gelamor yang orang tua mereka sediakan, serta remeh temeh relasi kuasa sosial-ekonomi diantara anak-anak seusianya. Saat itu memang masih gambaran cerita anak-anak SMA. Saya memperkirakan, tentulah tema ini akan merembet ke dunia anak SMP setelah sebelumnya berhasil dengan pencitraan dunia kampus. Ternyata analisa saya malah kurang lengkap. Justru saat ini sinetron itu telah memperkosa logika berpikir anak-anak SD. Ah... rupanya dunia anak saat ini sudah terbentuk oleh tayangan-tayangan TV.
Di kota-kota besar macam Jakarta, orang tua sibuk bekerja. Berangkat pagi dan pulang nyaris di tengah malam. Seorang anak bimbingan istri saya menjalani hidup seperti ini. Pagi hari, saat ia masih lelap diselimuti embun pagi, dan matahari belum lagi meninggi, Papa dan Mamanya telah berangkat bekerja. Di saat ia tengah lelap ditemani sang rembulan yang terang, Papa dan Mamanya baru pulang. Semua kebutuhan telah lengkap tersedia. Di kamarnya tersedia TV kabel. Kaset-kaset yang ia miliki juga lengkap lagu-lagu yang lagi tren saat ini. Tentu saja, lagunya bertemakan cinta sepasang manusia, bukan cinta dari Papa-Mama terhadap anak-anaknya.
Dalam keributan RUU Pornografi yang berlangsung sejak 2006 lalu, bagi saya tetap ada kebutuhan untuk mengatur segala kepornoan yang berlangsung di Indonesia. Di negeri sekuler macam Amerika hal semacam itu diatur dengan tegas. Seorang perempuan asal Indonesia memasuki sebuah toko. Di salah satu sudut toko itu ada tempat khusus menjual Sex Toys dan majalah-majalah porno. Sekian lama ia bersama suami dan anak-anak tinggal di negeri sekuler ini, baru kali ini ia mencoba memasuki wilayah khusus dewasa itu. Setelah meminta izin suaminya, menggendong bayinya, ia mencoba memasuki ruang itu. Si penjaga ruangan langsung mencegahnya masuk. "Anda boleh masuk jika anak itu telah berusia 18 tahun," kata si penjaga. Begitulah, ranah porno yang untuk orang dewasa dengan tegas dibedakan dengan ranah khusus untuk anak-anak.
Berbeda dengan di Indonesia. Majalah-majalah dalam kategori untuk orang dewasa, serta tabloid dan koran yang menjual hasrat selangkangan dengan mudah didapat di pinggir-pinggir jalan sampai toko-toko buku. Jika suasana porno itu dirasakan oleh semua usia, entah bagaimana pula cara membedakan antara dewasa dan anak-anak selain fisiknya. Birahi anak dan orang dewasa tak jelas lagi batasnya.
Anak-anak yang saya lihat di panggung pertunjukan di Taman Mini hari Ahad yang lalu, adakah mereka tahu bahwa kehidupan mereka telah diperkosa tren gaya hidup yang disajikan televisi, yang dirancang sang penguasa modal untuk selalu menghadirkan segala hal "terkini", dan membuat mereka selalu merasa bangga dielu-elukan banyak temannya? Berlomba seperti banyaknya ilmuan di tanah air yang tetap ingin terlihat pintar dan intelek namun harus juga terkenal seperti artis yang banyak muncul di TV atau lembar opini berita hari ini?
Maafkan, saya lupa saya sudah bukan lagi anak-anak. Mungkin saja saya salah tidak merancang anak saya seperti anak-anak yang begitu ceria bernyanyi tentang kisah cinta sepasang anak manusia. Sudahlah, saya salah. Mohon pencerahannya Bapak, Ibu, Om, Tante...
Pernah nonton film Friday the 13th? Film ini saya tonton sekitar tahun 80-an awal di TVRI. Setiap malam Jum'at pula. Lumayan mengerikan bagi saya yang masih masa kanak-kanak saat itu. Sebagai contoh, salah satu satu film menggambarkan sebuah mug kecil yang bergambar tumbuhan merambat dengan daun yang cukup lebat. Mug ini berusia tua dan keramat. Ia berpindah dari satu tangan ke tangan yang lain. Mug ini ternyata memakan korban dalam perpindahan dari tangan ke tangan itu. Konon di setiap hari Jum'at di tanggal 13, di tengah malam pula, tumbuhan di mug itu hidup dan melilit mencekik leher si pemegang mug hingga mati mengenaskan.
Demikianlah tahayul terhadap hari Jum'at tanggal 13. Menurut informasi di Wikipedia, tahayul ini berkembang di negara-negara berbahasa Inggris, Prancis, Portugis dan beberapa negara Eropa lainnya. Hari Jum'at di tanggal ini adalah hari sial bagi setiap orang. Demkianlah, tahayul ini berkembang hingga membuat khawatir siapa saja yang percaya. Di Amerika, rutinitas terjadi secara berbeda pada hari itu disebabkan rasa khawatir akan mengalami sesuatu yang sial. British Medical Journal penah memuat hasil penelitian yang mengungkapkan bahwa angka kecelakaan lalu lintas meningkat secara signifikan di hari itu.
Saya teringat pada Antropolog asal Prancis, Claude Lévi-Strauss
Dalam hal tahayul semacam Friday th 13th, di tanah air kita lebih lebih mengenal sebutan kejawen bagi mereka yang memercayai. Tahayul-tahayul ini diteliti oleh Antropolog Clifford Geertz. Penelitiannya terhadap keyakinan masyarakat Kejawen di Kediri menjadi karya monumental dengan judul The Religion of Java. Hari yang menakutkan dan (mungkin) membawa sial adalah malam Selasa Kliwon dan Jum'at Kliwon. Di masyarakat Jawa penghitungan hari-hari pasaran (Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon) menjadi sesuatu yang penting karena dengan itulah laku yang mereka lakukan disesuaikan. Ada banyak larangan yang tak boleh dilakukan serta hal-hal yang sebaiknya dilakoni. Tentu bagi siapa yang meyakini. Tak pelak ini membuat repot orang yang berasal dari luar Jawa yang akan menikahi seseorang yang asli Jawa, yang keluarganya menganut kepercayaan akan hari baik dan hari buruk dalam perhitungan kalender mereka. Hari pernikahan harus dicocokkan dengan tanggal lahir, hari lahir, dan dicermati betul pada diri masing-masing pasangan. Ah, kalau tak cocok, maka keduanya bisa jadi tidak menikah. :)
Hari ini adalah hari dimana tanggal, bulan, dan tahun memiliki angka yang sama. Delapan Agustus 2008 yang kalau dituliskan menjadi 080808. Beberapa hari lalu catatan sipil DKI Jakarta menyebutkan terdapat penambahan jumlah pendaftar yang akan menikah di hari ini. Tahun-tahun lalu juga demikian. Tanggal, bulan, dan tahun dengan angka yang sama, bahkan waktu yang sama (pukul 08 pagi atau 08 malam) dinilai sebagai hari dan waktu yang baik untuk menikah. Teman saya menikah tahun lalu, mengundang semua teman-temannya untuk menghadiri pada tanggal 07 Juli 2007 pada pukul 07 malam hari. Rupanya itulah hari baik mereka untuk menikah.
Bagi saya, angka-angka yang menyimbolkan hari baik itu hanyalah semacam nomor cantik telepon seluler. Perhitungan nomor yang sama antara tanggal, bulan dan tahun setahu saya tidak dikenal sekitar sepuluh tahun lalu. Juga sebelumnya. Entah dari mana ide ini muncul. Lalu menyebar luas, dan akhirnya menjadi satu konsep keyakinan. Hari baik bagi keyakinan saya dan keluarga ada dalam semua hari. Itu pulalah yang disindir calon mertua saat empat tahun lalu kami membicarakan hari pernikahan saya dan anak gadisnya. "Mas Herman, bagi bapak semua hari adalah hari baik." Saya tahu keluarga istri saya adalah keluarga yang begitu dalam meyakini ajaran agama. Sebuah keluarga sederhana yang lepas dari kebudayaan Jawa umumnya. Itu pulalah yang membuat membuat proses pernikahan saya berjalan begitu mudah.
Setiap hari adalah hari baik. Setiap hari, setiap saat, adalah kesempatan bagi kita untuk berbuat kebaikan di muka bumi ini. Karena itulah yang dikehendaki-Nya atas manusia yang Ia ciptakan.
Bagaimana menurut Anda, hari apa yang merupakan hari baik bagi Anda pribadi?



