Serbet Cinta untuk PRT

Mereka berbaris, terbagi dalam 4 kelompok dengan namanya masing-masing: Ember, pel, setrika dan panci. Mengenakan serbet yang diikatkan di kepala, dengan semangat yang tinggi mereka menjahit serbet-serbet yang berjumlah 900 lembar menjadi sebuah serbet raksasa. Di atas serbet raksasa itu tertulis tuntutan PRT seluruh Indonesia: Wujudkan Undang-Undang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga.

Kegiatan menjahit serbet raksasa ini merupakan salah satu isi acara peringatan Hari Pekerja Rumah Tangga (PRT) Nasional yang berlangsung pada Ahad lalu, 14 Februari 2010. Tak kurang dari 300 orang hadir pada acara yang berlangsung di Monumen Proklamator Kemerdekaan, Jakarta Pusat. Mereka mewakili kalangan masyarakat, serikat buruh, majikan, pegawai pemerintah, anggota DPR, aktivis, dan semua pihak yang mendukung perlindungan bagi PRT dari segala tindak kekerasan dan eksploitasi.

Mr Peter van ROOIJ dari ILO Jakarta, Syafrudin dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Sri Nurherwati dari Komnas Perempuan dan Sri Rahayu dari Komisi IX DPR-RI tampak turut menghadiri perayaan Hari PRT Nasional tahun ini.

Hari PRT Nasional lahir untuk mengingat Sunarsih, seorang PRT yang yang tewas karena disiksa majikannya di Surabaya antara tanggal 12 - 15 Februari 2001. Peristiwa ini menegaskan betapa pentingnya perlindungan bagi PRT serta adanya pengakuan bagi mereka sebagai pekerja. Tanggal 15 Februari akhirnya disepakati oleh Jaringan Nasional Advokasi Pekerja Rumah Tangga (Jala PRT) sebagai hari PRT.

Jala PRT adalah jaringan organisasi - organisasi yang gigih memperjuangkan hadirnya kebijakan perlindungan bagi PRT serta membangun kesadaran masyarakat bahwa mereka adalah juga pekerja yang harus mendapatkan hak-hak sebagaimana mestinya. Sekarang jaringan ini memiliki anggota tak kurang dari 36 organisasi se-Indonesia.

Menurut lembar informasi yang dibagikan oleh Jala PRT, tak kurang dari 4 juta orang PRT yang ada di Indonesia. Jumlah ini merupakan bagian dari sekitar 100-an juta orang yang memilih profesi sebagai PRT di seluruh dunia. PRT memiliki hubungan kerja dengan majikannya sehingga mereka layak untuk diakui profesinya:

  1. Ada pekerjaan yang lakukan oleh PRT
  2. Ada pihak yang mempekerjakan, yaitu majikan
  3. Ada pihak yang mengerjakan pekerjaan yang diberikan padanya, yakni PRT itu sendiri
  4. Ada upah yang diberikan sebagai imbalan atas pekerjaan yang dilakukan

Kehadiran PRT di dalam rumah majikan telah membuat pekerjaan-pekerjaan domestik seperti memasak, membersihkan rumah, memasak, menyetrika, merawat anak dan anggota keluarga yang lanjut usia terselesaikan, hingga memungkinkan para majikan dapat menjalankan aktivitas di luar rumahnya dengan baik. Karena itulah kehadiran PRT menjadi sebuah kebutuhan banyak keluarga.

PRT juga membutuhkan satu perlindungan dari segala bentuk eksploitasi, pelecehan dan kekerasan, serta kebebasan untuk beraktualisasi seperti bersosialisasi dengan sesama termasuk untuk berserikat dan berkumpul sebagaimana pekerja-pekerja di sektor formal. Sebagai pekerja, PRT berhak atas hak mereka sebagai pekerja seperti upah yang layak, libur mingguan, jaminan sosial dan kesehatan, bantuan hukum, dan segala bentuk perlakuan manusiawi lainnya dari keluarga majikan serta masyarakat sekitar.

Pada perayaan Hari PRT Ahad lalu, beberapa orang perwakilan PRT menyampaikan pernyataannya di hadapan semua yang hadir:
  1. Mendesak Pemerintah, khususnya Dewan Perwakilan Rakyat RI, Presiden, Menteri Tenaga Kerja & Transmigrasi untuk segera mewujudkan Undang-Undang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (PRT) di tahun 2010 ini (Presiden, Menteri Tenaga Kerja & Transmigrasi harus penuh bertanggung jawab dan bekerjasama dengan DPR - RI yang telah berinisiatif membahas dan mewujudkan UU Perlindungan PRT di tahun 2010)
  2. Wujudkan hari Pekerja Rumah Tangga (PRT) 15 Februari sebagai Hari PRT & Hari Libur Nasional Pekerja Rumah Tangga.
Pernyataan tersebut merupakan bagian dari tuntutan terhadap komitmen Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat untuk melindungi warga negaranya yang bekerja sebagai PRT dan juga ajakan kepada masyarakat mewujudkan pengakuan, penghargaan dan perlindungan terhadap mereka.

Pada acara itu pula, Komisioner Komnas Perempuan Sri Nurherwati melihat fakta bahwa UU 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (PKDRT) dan UU No. 21 tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (PTPPO) pun belum mampu membuka dan menjangkau pencegahan, perlindungan dan penanganan yang komprehensif terhadap persoalan PRT dari kekerasan dan eksploitasi. Selain itu, ia juga melihat sisi pemenuhan hak ekonomi, sosial dan budaya ekosobnya sebagaimana telah dijamin dalam Kovenan Internasional tentang Hak-Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya yang telah diratifikasi melalui UU No. 11 Tahun 2005. Dalam hal ini, seperti disampaikan Nur, Komnas Perempuan merekomendasikan :
  1. Percepatan dalam hal pembahasan dan pengesahan RUU Perlindungan PRT yang mengakui dan menjamin hak-hak ekonomi, sosial dan budaya PRT, khususnya dalam hal menjalankan pekerjaan yang layak.
  2. RUU Perlindungan PRT yang disahkan wajib memuat standar perlindungan, bebas dari kekerasan dan eksploitasi, khususnya bagi PRT perempuan dan anak.

Serbet raksasa yang dijahit bersama oleh semua elemen masyarakat itu merupakan "Serbet Cinta" untuk PRT. Selamat Hari PRT!

Read More......

Bekenalan dengan Pilot

Sepanjang perjalanan dari bandara Soekarno-Hatta hingga ke Bengkulu, anak pertamaku ini tidak bisa berhenti bicara. Banyak tanya dan banyak komentar. Hal semacam ini sering membuatku kelabakan kalau tak siap untuk meladeni semua muntahan pertanyaan dan komentarnya tentang apapun. Ibarat senapan serbu tentara a la film Rambo di tahun 80-an: tak henti-henti. Ia ingin tahu, di tengah hujan lebat kenapa pesawat yang meluncur cepat untuk take off seperti mengeluarkan asap yang begitu banyak di belakangnya. Atau, kenapa kami harus naik bis menuju pesawat yang sedang parkir agak jauh dari tempat boarding? Dan seterusnya, dan seterusnya.

Zahid memang aktif nogoceh sejak ia mulai bisa bicara pada usia setahun. Aku ingat, pada saat baru pindah kontrakan yang kami tempati sekarang, tetangga se-RT banyak yang memperhatikan kami berdialog. Mungkin aneh bagi mereka ada anak setahunan sudah banyak berdialog seperti orang dewasa. Pernah saat baru beberapa hari menempati rumah tinggal ini, seorang tetangga memperhatikan dari loteng rumahnya. Kami yang sedang jalan-jalan pagi tak menyadari kalau ada yang memperhatikan.

Di pesawat sepanjang penerbangan menuju Bengkulu, pertanyaan-pertanyaan dan komentar Zahid menarik perhatian pramugari. Aku sendiri harus menjelaskan banyak hal untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ia ajukan. Sebenarnya, Zahid sudah dua kali pulang ke Bengkulu. Pertama saat ia masih berusia setahun pada Agustus 2006. Kedua, saat lebaran tahun 2007 ketika usianya menginjak dua tahun. Ia tidur saat di pesawat hingga ia pun belum pernah mengamati awan, langit dan segala hal di pesawat saat sedang terbang. Mudik kali ini membuatnya memiliki kesempatan untuk mengetahui banyak hal saat berada di langit.

Saat landing di bandara Fatmawati Bengkulu, aku sengaja mengajak Zahid beranjak dari tempat duduk kami supaya bisa menjelaskan tentang tempat pilot bekerja serta menyapa pramugari yang bertugas di pewasat. Mendekati pintu keluar di bagian depan, kusampaikan ke salah satu pramugari kalau Zahid ingin tahu tempat pilot 'menyetir' pesawat. Tak dinyana, pramugari justru langsung menghubungi pilot dan mengenalkan Zahid padanya. Zahid masuk ke kokpit di mana pilot berada. Pilotnya yang bernama Kapten Agus justru senang berkenalan dengan Zahid.

"Mau foto gak?" tanya pilot itu sambil membuat gerakan seperti sedang memotret ke arahku. Dengan nada sedikit menyesal kusampaikan kalau sedang tak membawa kamera.

"Sayang banget, belum tentu loh pilotnya mau berbaik hati begini...." kata pramugarinya.

Yup, aku memahami bagaimana pilot tentunya akan menghindari hal semacam perkenalan dengan anak kecil yang banyak ingin tahu macam Zahid ini. Tentunya langka pilot yang mau meluangkan waktu kerjanya. Kesempatan langka yang diperoleh Zahid ini sangat mungkin karena si pramugari mengamati Zahid yang terus bicara sejak awal naik pesawat. Karena keingintahuan Zahid untuk tahu kokpit yang jadi tempat pilot bekerja, maka pramugari langsung mengenalkannya kepada pilotnya.

Aku memahami cerita pramugari itu kalau jarang sekali pilot mau berkenalan, berdialog, dan mau berfoto dengan anak kecil seperti Zahid. Tapi, apa boleh buat, perkenalan Zahid dan pilot Mandala Air itu tak dapat diabadikan dengan foto. Demi kepraktisan barang bawaan, kamera digital tak kubawa.

"Ada kamera Bucik Neng, jadi kamera kita tak pelu dibawa" kata istriku saat menyiapkan segala sesuatu sebelum berangkat menuju bandara.

Setibanya di rumah Nenek dan Datuk, aku ceritakan pada Bucik Neng tentang pengalaman Zahid tadi. Juga menelpon ibunya di rumah di Bogor. Semuanya merasa 'eman' kenapa perkenalan Zahid dengan pilot serta kesempatan masuk ke kokpit tidak difoto. Ya... jadi pelajaran saja, lain kali mesti bawa kamera untuk mengabadikan pengalaman anak.

Sangat mungkin, pengalaman masa kecil memiliki arti yang luar biasa bagi anak kita pada masa mereka telah dewasa. Tak terkecuali pengalaman Zahid saat ikut aku pulang ke Bengkulu pada 24 - 26 Januari 2010 lalu.

Read More......

AutoCorrect Sesuai Kebutuhan

Menggunakan teknologi sebagai alat bantu memang harus sesuai dengan kebutuhan. Jika tidak, maka sia-sia saja. Bahkan mungkin bisa merugikan. Teknologi komputer, misalnya.

Inilah pengalaman saya di awal pekan ini. Saya mengisi formulir pengajuan beasiswa. Tanpa saya sadari, AutoCorrect pada pengolah kata OpenOffice.org (OOo) secara otomatis mengubah semua kata "my" yang saya ketik menjadi Malaysia, dan baru menyadarinya setelah menyelesaikan beberapa lembar tambahan formulir yang saya ketik. Bayangkan, ada kalimat yang seharusnya saya tulis "my experiences...." secara otomatis berubah menjadi "Malaysia experiences...." yang jelas-jelas memiliki makna yang berbeda.

Fasilitas AutoCorrect yang ada pada program pengolah kata OOo ataupun Ms Word memang sangat membantu untuk mempercepat pengetikan. Tidak perlu mengetik terlalu panjang namun cukup singkatannya saja, seperti contoh berikut:

yg = yang
dg = dengan
id = Indonesia
shg = sehingga
yk = Yogyakarta
jtk = Jakarta
dst = dan seterusnya

Dengan cara menyetel singkatan itu, maka waktu untuk mengetik bisa dihemat sekian detik untuk setiap kata dan sekian menit bahkan jam untuk sebuah pekerjaan yang lebih banyak. Bagi Anda yang belum tahu, beginilah cara menyetel AutoCorrect itu (Untuk pengguna OOo Writer) :

1. Buka menu "Format" yang ada pada sisi kiri atas layar
2. Pilih "AutoCorrect"
3. Lalu pilih "AutoCorrect Option..."
4. Ada dua kolom isian, yakni "Replace" dan "With" yang harus diisi sesuai dengan kebutuhan kita

Masukkan kata atau singkatan yang memudahkan Anda mengetik pada kolom "Replace" dan kata yang menjadi kepanjangan singkatan atau kata yang diinginkan berubah otomatis pada kolom "With". (lihat gambar)

Sebenarnya, fasilitas AutoCorrect ini berguna untuk mengubah atau memperbaiki secara otomatis kata-kata yang kemungkinan sering mengalami salah ketik. Dengan logika yang sama ia dapat pula untuk menyingkat kata saat mengentik dan kemudian akan berubah menjadi kepanjangan kata yang sesuai dengan keinginan si pengetik.

Untuk mengatasi kasus yang menimpa saya di atas, kita dapat membuang kata dalam daftar AutoCorrect, sehingga yang ada hanyalah kata-kata yang berubah otomatis sesuai dengan kebutuhan saja.

Langkah-langkah untuk menyetel AutoCorrect pada Ms Word lebih kurang sama. Jika Anda belum tahu atau belum pernah menggunakan, serta tertarik untuk menggunakan, tak ada ada salahnya untuk mencoba. Selamat bekerja...!

Read More......

Pembatasan Akses Internet

Sudah hampir setengah tahun ini lembaga tempat saya bekerja membatasi akses ke situs-situs pertemanan dan blogging seperti twitter, multiply, friendster, facebook. Tak hanya itu, aplikasi instant messanger pun seperti Skype, Digsby, YM, dan Pidgin dibuat tak berfungsi.

Saya mendapati beberapa kesulitan atas kebijakan yang diambil kantor tempat saya bekerja ini, berupa akses imel menggunakan mail client (saya biasa menggunakan Mozilla Thunderbird). Sudah sebulan terakhir saya ikut mempersiapkan satu kegiatan besar yang akan berlangsung pada 29 - 30 Nopember 2009 ini. Semua imel hanya bisa diakses melalui webmail. Kami kebetulan menggunakan google application yang disediakan raksasa online saat ini, google.com. Bayangkan ada sekitar 50 imel yang masuk setiap hari ke akun saya, termasuk imel-imel untuk kepentingan kegiatan yang akan kami selenggarakan. Imel-imel yang sifatnya group, sudah dibatasi hanya beberapa mailing list yang berhubungan dengan pekerjaan dari tak kurang 40 mailing list yang saya ikuti. Untuk mengaksesnya harus mengunjungi situs penyedia layanan secara langsung seperti yahoogroups.com dan googlegroups.com dan mbacanya dari sana.

Mereka yang sudah terbiasa memanfaatkan mail client seperti halnya Thunderbird dan Ms Outlook tentunya sangat faham aplikasi ini akan sangat memudahkan dalam mengatur imelnya dengan menggunakan filter yang tersedia. Sebut saja misalnya mailing list Pembaca Kompas, Ebook Maniak, atau the Jakarta Process yang saya ikuti. Tak perlu lagi mencari imel tertentu di tengah belantara imel yang masuk ke akun kita seperti yang saya alami.

Beberapa jam lalu saya baru menyadari situs penyimpanan file (semacam file server) googledocs dan box.net tak dapat saya gunakan untuk mengunggah (upload) file. Padahal, saya merasakan manfaat menyimpan file di sana untuk bisa diakses dari mana saja asal terhubung ke internet. Beda dengan file server di kantor yang hanya bisa diakses dari jaringan LAN saja. Artinya, kalau saya tak membawa file di dalam media penyimpanan (External HDD dan flashDisk) atau tak ada di dalam akun imel, maka ketika membutuhkannya saya pun harus mendatangi komputer di kantor untuk mengaksesnya.

Masalah mail client yang tak bisa berfungsi telah saya sampaikan pada admin jaringan sekaligus penanggung jawab IT. Sayangnya, ia pun tak begitu memahami persoalan ini. Katanya, persoalan blokir memblokir jaringan ini dibantu oleh pihak ketiga (out sourcing). Sekarang, hingga seminggu setelah pengaduan tak ada penyelesaian masalah ini.

Membatasi akses internet karyawan memang ada bagusnya. Pemimpin Redaksi PortalHR.com menuliskannya dengan baik di sini. Pembatasan akses internet yang bertujuan untuk meningkatkan produktifitas (atau kinerja?) karyawan harusnya dilakukan dengan cara yang tepat. Misalnya mengidentifikasi aplikasi dan situs apa saja yang perlu dibatasi atau diblokir. Sehingga, bukan yang bermanfaat untuk memudahkan pekerjaan justru yang dibatasi.

Catatan:

  1. Gambar ilustrasi saya dapatkan dari sini.
  2. Meski pernah belajar, saya tak begitu memahami secara baik teknologi jaringan, sehingga tulisan di atas mencoba menghindari istilah-istilah teknis dalam ilmu jaringan (computer network).

Read More......

12 Tahun Pasca Putih Abu-abu

Kemacetan jalan-jalan di Jakarta, pekerjaan yang menumpuk, suasana relasi yang cenderung saling tidak peduli pada orang di kanan-kiri, rasanya merupakan salah satu kepenatan sendiri untuk aku. Tinggal di Bogor dan bekerja di Jakarta bukan hal yang mudah. Ditambah lagi secara ekonomi masih terhitung pas-pasan dan terus bepikir bagaimana caranya untuk hidup tenang dan bahagia dalam kondisi apa pun. Kalau perlu menertawakan diri sendiri menjadi satu cara menuju ke sana.

Hari-hari belakangan ini aku merasa bahagia. Di tengah-tengah kepenatan menghadapi situasi tersebut, ternyata berkumpul dengan teman-teman lama merupakan satu jeda untuk refreshing. Bulan Ramadhan lalu, aku mengikuti reuni sekaligus berbuka puasa bersama dengan teman-teman semasa SMA. Lalu hari Ahad lalu, 11 Oktober, teman-teman seangkatan dari JIP Fisipol UGM mengajak berkumpul bagi semua alumni 1997 di Jakarta. Tadi malam ngobrol dengan Wahid Arsyad, teman dekat masa-masa kuliah yang kebetulan sedang berada di Jakarta serta tak sempat ikut reunian di blok M dengan teman-teman kuliah pada Ahad lalu. Sebelumnya, 8 Oktober, aku bertemu dengan Ochy teman masa kecil di Bengkulu. Insya Allah akhir pekan ini aku pun akan bertemu Rendi, sama seperti Ochy, teman dekat masa-masa sekolah di SDN 66 desa Tanjung Jaya, Bengkulu.

Reuni dengan teman-teman SMA menarik perhatian aku. Undangan dikirim oleh Fitri Herlita, teman waktu di kelas 2C, lewat pesan di facebook. Meminjam istilah anak-anak sekarang, judulnya menggigit banget: 12 Tahun Pasca Abu-abu. Belasan yang hadir, baik mereka yang pernah sekelas (dalam arti dalam satu ruang kelas), maupun tidak. Bahkan lucunya, Henny Perwitasari yang tidak pernah sekelas denganku tidak tahu nama sehingga harus bertanya pada teman lainnya. Demikian pun dengan aku sendiri, hanya ingat wajahnya namun tak tahu siapa namanya. Di SMAN 4 (sekarang SMUN 5) Bengkulu, ada 6 ruang kelas secara paralel, untuk semua level kelas 1 hingga kelas 2. Selanjutnya, di kelas 3 kami dibagi menjadi 2 jurusan, jurusan IPS terdapat 3 kelas dan demikian pula untuk jurusan IPA. Tak seperti sebelumnya, jurusan Budaya atau Bahasa ditiadakan pada periode kami. Reunian ini mempertemukan kami setelah 12 tahun terpisah karena melanjutkan pendidikan di berbagai kota dan seterusnya memasuki dunia kerja di Jakarta dan sekitarnya. Buka puasa bersama berlangsung di restoran Tawan, Pacific Place jalan Sudirman pada 3 September lalu.


Ahad lalu, 11 Oktober adalah pertemuan dengan teman-teman kuliah. Tidak tahu pasti ada berapa alumni seangkatan yang ada di Jakarta. Yang jelas, juga melalui facebook Makhrus telah menghubungi beberapa teman sepekan sebelumnya untuk melakukan pertemuan ini. Yang hadir hanya 6 orang. Ada Desianto yang masih betah jadi PNS di Gedung DPR/MPR Senayan, juga Pramaarta yang tempat kerjanya sama dengan Desianto namun berstatus staf ahli, Sari yang bekerja di Bank DKI, Ayu yang bekerja di BNI, Harunti di Depdagri, Makhrus yang bekerja di perusahaan IT dan aku sendiri yang menjadi "pekerja sosial". Bertemu teman-teman Yogya memberikan kesan sendiri. Entahlah, aku merasa sepertinya kami bertemu dengan penuh bahagia, bercerita tentang masa-masa kuliah, tentang Yogya, tentang teman-teman yang tak dapat ikut serta, serta hal-hal lainnya. Berbeda dengan reunian lain yang pernah aku ikuti, suasana bertemu dengan teman-teman kali ini terasa sederhana tapi menyenangkan. Barangkali karena kami produk Yogya :))

Wahid Arsyad adalah salah satu teman dekatku semasa di Yogya. Saat ini ia tinggal di Lampung sebagai PNS guru di sekolah Depag, serta juga nyambi memelihara Muhammadiyah di sana dengan menjadi kepala sekolah, ketua Pemuda Muhammadiyah, dan beberapa hari terakhir ini berada di Jakarta untuk mengikuti pembekalan sebelum melakukan survey sebuah proyek lembaga internasional yang banyak memberikan hutang untuk Indonesia. Arsyad dikenal sebagai mahasiswa Musholla (katanya Sari loh...) sama seperti Saleh yang sekarang kembali ke kampung halamannya di Surakarta. Ia menempuah pendidikan di fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga selain di Fisipol UGM. Itu pula yang menyebabkan ia dapat menjadi pegawai di Departemen Agama. Tadi malam kami bercerita tentang banyak hal hingga larut malam di hotel Sahid Jaya Jakarta. Sama seperti dulu, ia masih tetap kritis namun mengakui kalau kekurangan banyak informasi setelah berpindah ke daerah. Tapi aku masih suka berdiskusi dengan teman satu ini.

Ochy adalah salah satu temanku masa-masa di SD. Saat ini bekerja untuk sebuah perusahaan pertambangan di Bengkulu. Kami bercerita tentang kawan-kawan lama serta tentang diri kami masing-masing. Miris juga mendengar kisah teman-teman kecil dulu yang ternyata menghadapi kesulitan ekonomi sehingga pendidikan tinggi mereka harus putus di tengah jalan karena memilih bekerja sebab tak ada biaya. Ada juga cerita tentang cita-cita ingin melanjutkan studi di luar Bengkulu namun terpaksa menerima kehendak orang tua untuk memilih pendidikan keguruan dan di UNIB supaya kelak menjadi PNS sebagaimana kehendak kebanyakan orang tua di Bengkulu. Entahlah, aku pikir tak hanya di daerah kelahiran aku itu, banyak orang menjadikan PNS sebagai cita-cita final dan rela mengeluarkan uang puluhan juta rupiah untuk status PNS.

Ochy, menurut cerita Yeni Yunidarti yang kutelepon sehari setelah mendapatkan nomor kontaknya, berpenampilan sedikit tomboy. Cerita itu sedikit berbeda jika kubandingkan dengan foto-foto Ochy yang banyak terdapat di facebook. Saat kami bertemu ia memang terlihat penuh keberanian serta percaya diri tinggi. Ochy bekerja untuk sebuah perusahaan asing yang cukup menjamin kebutuhan hidupnya sehari-hari. Karena kepercayaan dan kedekatan dengan Bos (yang juga perempuan sukses seperti terkesan dari cerita yang kutangkap), Ochy memiliki kebebasan untuk bertamasya ke seluruh Indonesia jika sudah penat dengan pekerjaan. Dari Ochy pula aku memahami Bengkulu saat ini dari konstelasi politik elit-elit di daerah.

Insya Allah akhir pekan ini aku akan bertemu Rendi. Sesuai dengan janji aku pada Ochy, aku ingin mengajak Rendi untuk merencanakan berkumpul dengan teman-teman kami dulu. Mungkin akhir tahun ini, atau bisa jadi lebaran idul fitri tahun depan. aku dan rendi cukup dekat dan berpisah kira-kira 5 tahun lalu. Rendi menamatkan kuliah di jurusan Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Kakak dan saudara-saudara sepupunya menempuh pendidikan di UGM. Mereka menyewa sebuah rumah di sebelah utara kampus biru itu. Rumah itu pula yang setelah gempa hebat di Bengkulu tahun 2000 menjadi sekretariat Forum Silaturrahmi Mahasiswa Muslim Bengkulu di Yogyakarta. Aku sering main ke sekretariat itu. Aku dan Rendi sudah berjanji bertemu akhir pekan ini.

Bertemu dengan teman lama, bercerita tentang masa-masa lampau serta berbagi kabar masing-masing pada saat ini merupakan satu cara untuk melepaskan beban. Mengenang masa lalu betul-betul menyenangkan. Untuk aku, ini merupakan cara mengisi jeda untuk melanjutkan perjalanan ke masa depan. Mungkin itu pula yang menyebabkan orang rela mengeluarkan uang jutaan rupiah hanya untuk bersama-sama mengikut konser kelompok musik yang tenar di masa mereka muda. Atau, yang sekarang lagi tren ada komunitas 80-an, yang membuat blog untuk berbagi cerita, serta mengikuti secara rutin acara di salah satu televisi swasta bertajuk "Zona 80". Sebenarnya, sekitar 6 tahun lalu aku pun senang mendengarkan acara the seventies hits yang diasuh oleh Helmi Yahya di sebuah jaringan stasiun radio ibukota setiap pekannya. Meski masuk dalam kategori generasi 90-an, lagu-lagu itu cukup akrab menemaniku belajar saat itu.

Bagi beberapa orang, reuni bisa jadi merupakan saat dimana orang yang "sukses" ingin menunjukkan kesuksesannya pada teman-teman lama. Ini yang sempat diungkap seorang seniorku yang menjadi Anggota DPR-RI mewakili propinsi DI Yogyakarta beberapa tahun silam, ketika aku mengabari ada reunian alumni organisasi tempat kami pernah memupuk aktivisme mahasiswa. Ia ogah untuk ikutan karena ia anggap sebagai sesuatu yang sia-sia dan hanya memunculkan rasa sombong. Buat aku sendiri, perjumpaan dengan teman-teman lama ibarat berkaca diri sudah berbuat apa saja dalam hidup ini sejak perpisahan dengan mereka. Juga, upaya mengobati rasa kangen yang bisa menjadi sumber energi baru.

Membangun dan memelihara relasi bisa jadi memang merupakan langkah seorang politisi untuk membangun dan memelihara kekuatan dukungan. Buatku, cukuplah ini sebagai upaya mengeratkan tali silaturrahmi. Dan, sungguh ini bukanlah sesuatu yang "sia-sia"....

Read More......

Dunia boleh modern, teknologi semakin canggih, dan pergaulan makin meng-global, tapi ternyata tetap saja masih ada yang menggunakan pikiran dan cara primitif untuk mengatasi satu keadaan di masa ini.

Sekitar Juli tahun 2006 lalu. Kami mengadakan dialog inter-regional dalam upaya mencari terobosan penyelesaian masalah kekerasan yang dialami pekerja migran (TKI) di Timur Tengah. Kegiatan kami lakukan selama sepekan, mengundang aktifis HAM dan ilmuan dari Timur Tengah yang memiliki perhatian pada issue ini ke Indonesia. Selain dialog di Jakarta, mereka diajak mengunjungi daerah-daerah (asal) yang menjadi kantong pekerja migran yang mengadu nasib di Timur Tengah dan berdialog dengan aktifis pemerhati dan juga keluarga pekerja migran, tokoh adat dan tokoh agama, serta pemerintah daerah setempat. Dengan demikian, mereka yang dari Timur Tengah ini dapat melihat secara langsung, tak hanya dari laporan aktifis HAM di Indonesia, kondisi yang dihadapi oleh pekerja migran dan keluarganya.

Timur Tengah adalah tujuan yang cukup mengundang ketertarikan calon TKI. Selain harapan bekerja sekaligus dapat menunaikan ibadah haji, calon-calon TKI di daerah yang mayoritas muslim menilai bahwa orang-orang di sana yang menjadi majikan berperilaku baik karena seiman dengan mereka. Kenyataannya seringkali bertolak belakang. Mereka yang bekerja kebanyakan sebagai PRT justru mendapatkan perlakuan yang tidak manusiawi: gaji tak dibayarkan, mendapat kekerasan baik fisik maupun mental, bahkan perkosaan oleh majikan maupun anggota keluarganya. Kondisi rumah tangga yang tertutup juga mempengaruhi keselamatan mereka yang sulit untuk mendapatkan perlindungan dari luar rumah majikan. Cerita-cerita mengenai hal ini dapat diperoleh dari catatan laporan penelitian yang dilakukan Human Rights Watch, yang dapat Anda baca di sini.

Sebagai peneyelenggara, kami berharap dapat membangun jaringan dengan para aktifis dari Timur Tengah yang menjadi peserta dialog inter-regional dalam mengupayakan perlindungan TKI di sana. Ilmuan di sana dapat melakukan penelitian mengenai TKI dan membuat rekomendasi kepada pemerintahnya atau mempublikasi tulisan sehingga didengar oleh pihak berwenang di sana. Aktifis HAM dapat melakukan advokasi secara serius untuk TKI, melakuan kampanye bersama, dan bentuk-bentuk kerjasama lainnya.

Apa yang hendak saya sampaikan berkaitan dengan kalimat pertama tulisan ini adalah, cerita lain dari proses kegiatan kami itu. Kegiatannya diawali dengan malam ramah tamah serta pementasan seni yang menunjukkan sejarah hubungan masyarakat Indonesia dengan masyarakat di Timur Tengah. Kesenian saat itu antara lain berupa Marawis dari Betawi serta tari Saman dari Aceh yang semuanya mengandung nilai-nilai atau simbol Islam. Bahkan nuansa Timur Tengah lebih kental pada Marawis.

Acara dilangsungkan di kediaman Ibu Kamala Chandrakirana atau rumah almarhum Soedjamoko di Menteng. Persisnya acara berupa penyambutan sekaligus ramah tamah dengan juga mengundang anggota DPR, Pejabat Deplu, Kedubes negara-negara Timur Tengah, beberapa lembaga donor dan mitra-mitra kerja, dilangsungkan di halaman rumah supaya terkesan santai. Untuk mengantisipasi kemungkinan turunnya hujan pada saat acara, ternyata teman saya yang merupakan aktifis feminis senior di tanah air menggunakan jasa pawang hujan. Ini supaya acara malam itu dapat berjalan dengan lancar.

Saya mengetahui langkah yang diambil teman saya ini ketika tiba di kantor pada pagi hari. Kami sibuk mempersiapkan segala kebutuhan untuk kegiatan malamnya. Saya terkejut ketika melihat sebuah celana dalam bekas yang masih basah terhampar di atas salah satu kursi kerja. Celana dalam itu benar-benar bekas yang sudah buruk rupa serta bolong-bolong pula. Seorang teman kemudian menjelaskan kalau itu adalah cara yang diminta pawang hujan untuk mencegah hujan turun di malam itu. Sejak itu, saya tahu kalau pawang hujan mencegah datangnya hujan dengan menjadikan celana dalam bekas sebagai salah satu alatnya. Entah apa maknanya, tetapi bagi saya ini sungguh mengejutkan. Pertama, karena teman saya yang menggunakan jasa pawang itu adalah orang yang sudah berkeliling dunia, mengenal banyak peradaban, serta berinteraksi dengan beraneka ragam orang "modern", serta semua hal yang semuanya dijelaskan dengan rasionalitas. Dan, celana dalam itu betul-betul di luar nalar, jauh dari rasionalitas yang dapat saya terima.

Ketika SBY baru menjabat Pesinden Presiden pada akhir 2004 lalu, terjadi musibah tsunami di Aceh, kecelakaan di jalan tol Jagorawi yang menewaskan satu bis kota, serta beberapa bencana lainnya. Saat itu terdengar kabar sampai ke telinga saya bahwa Presiden kita ini akan memotong 1.000 ekor kambing untuk prosesi selamatan supaya segala bencana di negeri ini berhenti terjadi. Rencana ini urung terlaksana, konon, karena teguran dari pihak Muhammadiyah dan salah satu partai pendukungnya (PKS). Untuk orang yang mencoba menggali penjelasan melalui ilmu pengetahuan, sungguh tindakan semacam itu termasuk dalam kategori "primitif". Bahkan keberadaan paranormal yang begitu banyak di Nusantara tidak mampu mempersingkat kurun waktu penjajahan bangsa Eropa selama 350 tahun.

Pada 12 Oktober nanti, kami bersama teater Garasi akan menyelenggarakan pentas teater, masih dalam upaya kampanye perlindungan pekerja migran (TKI) di luar negeri. Segala persiapan sudah mulai kami lakukan. Kemarin, kami melakukan rapat serta melihat area pelataran Komnas HAM yang akan menjadi tempat pementasan. Ada rencana untuk menyewa tenda untuk mengantisipasi turunnya hujan ketika pementasan berlangsung. Salah seorang teman yang ikut rapat mengusulkan untuk menggunakan jasa pawang hujan. Kembali celana dalam disebut-sebut.

Orang boleh pergi ke luar angkasa, nuklir dikembangkan sebagai sumber energi, teknologi kloning diperdebatkan, tetapi di sini, meski orang berpendidikan tinggi, masih tetap saja mangandalkan jasa paranormal. Apakah kemiskinan, kekayaan alam dan Pemerintah dikendalikan oleh asing, serta mental korup akan segera hilang dari daftar penyakit yang diderita bangsa ini karena kehadiran paranormal?


Catatan:
tulisan yang sama dimuat di Politikana.com

Read More......

Narto Mudik Lagi

SALAH satu tukang ojek langganan saya yang mangkal di depan kampus UKI, Cawang, begitu bahagia pagi ini. Sambil menyiapkan motornya untuk mengantar saya ke jalan Latuharhari Menteng, ia bercerita kalau besok pagi selepas sahur (dan selepas subuh tentunya), ia akan berangkat menunggangi kuda besi bersama tujuh teman lainnya. Ia akan mudik ke Boyolali.

Narto bertubuh kurus dengan kulit terbakar matahari sebagaimana tukang ojek kebanyakan di Jakarta. Matanya sering tampak sayu seperti aktor Herman Ngantuk di masa kejayaan TVRI tahun 80-an. Ia sering dipanggil Gus Dur oleh teman-temannya di pangkalan ojek di depan kampus UKI itu.

Saya tak ingat kapan pertama kali menggunakan jasanya untuk berangkat ke tempat kerja. Yang pasti, sejak 3 tahun lalu ada 3 tukang ojek langganan saya. Pertama, adalah Budi, yang sempat mengalami kecelakaan lalu lintas dan harus istirahat total beberapa bulan. Kedua, Syahrul Gondrong, yang panjang rambutnya melampaui bahu. Ketiga, ya si Narto "Gus Dur" ini. Jika mereka semua ada di Cawang, maka sebagai tukang ojek pertama yang berkenalan dengan saya, kesempatan pertama jatuh pada Budi. Demikian seterusnya. Mereka saling memahami untuk masalah ini.

Budi sudah hampir setahun tak kelihatan. Setelah mengalami kecelakaan, ia muncul dengan sepeda motor baru. Lalu menghilang dan muncul dengan sepeda motor berbeda. Setelah lama tak tampak, Gondrong bercerita kalau Budi tak sanggup membayar cicilan kredit hingga sepeda motornya harus diambil kembali oleh dealer penjualnya. Sudah sekitar dua bulan ini Gondrong juga hilang dari peredaran tukang ojek Cawang. Narto yang tinggal satu-satunya pengantar saya, bercerita kalau Gondrong memutuskan tinggal di rumah menemani anak-anaknya serta menjaga warung, sebab istrinya setiap hari berdagang di pasar.

Sebenarnya, beberapa pekan sebelum menghilang, Gondrong bercerita tentang pendapatannya sebagai tukang ojek semakin menurun. Pertama karena penumpang yang semakin berkurang dan lebih memilih naik bisa kota atau Transjakarta setelah krisis keuangan tahun lalu. Kedua, tukang ojek di Cawang telah semakin bertambah tanpa dapat dikendalikan oleh paguyuban tukang ojek yang mereka buat sendiri. "Dapat 30 ribu sehari sudah mending," katanya suatu kali mengantar saya. "Ini juga baru narik meski sudah nunggu dari pagi," tambahnya lagi. Kadang seharian hanya mengantar penumpang satu, ya saya ini.

Narto masih bisa bertahan dengan profesinya. Dulu ia menggunakan Honda Astrea Grand tahun 90-an yang sudah terlihat payah. Dua bulan terakhir ia sudah menggunakan sepeda motor bebek yang sama keluaran terbaru. Ia terlihat lebih percaya diri dengan kendaraan kredit yang saya sendiri merasa belum mampu untuk mengangsurnya. Tapi itulah pilihan perjuangan hidup di kota Jakarta.

Semua tukang ojek langganan saya memiliki sifat pendiam. Tak banyak bicara kecuali kalau ditanya, atau bercerita seadanya kalau ada hal yang mereka pikir akan menarik perhatian saya. Narto lahir di Boyolali, Jawa Tengah. Tidak disangka, ternyata ia berasal dari dusun yang bersebelahan dengan tempat kelahiran istri saya di kecamatan Ngaglik, kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Itu sebabnya meski tak banyak bicara namun bahasa tubuhnya memperlihatkan keakraban tak sekedar hubungan antara penjual dan pembeli.

Menjelang lebaran idul fitri tahun lalu Narto bercerita kalau mau mudik menggunakan bis yang disediakan Pemerintah Daerah Jawa Tengah. Dari ceritanya tadi pagi, saya ketahui kalau Pemda di sana sudah menyelenggarakan mudik bareng sejak sekitar 5 tahun terakhir. Kali ini Narto terlihat sangat bahagia. "Dapat 5 tiket," ceritanya. Masing-masing untuk istri dan dua anaknya, satu untuk kak ipar dan satu lagi saudaranya.

Saya berpikir tentunya program ini cukup baik, sekaligus politis. Masyarakat asli Jawa Tengah yang tinggal di Jabodetabek tentunya memiliki rasa bangga memiliki pemerintahan Jawa Tengah, dan tentu akan meningkatkan dukungan politik baik dari mereka yang di perantauan maupun dari keluarga mereka yang masih tinggal di Jawa Tengah.

Persyaratannya cukup mudah: hanya membuktikan memiliki KTP atau Kartu Keluarga Jawa Tengah. Lalu mereka mendaftar di tempat-tempat yang sudah ditentukan sebagaimana tersebut dalam pengumuman di beberapa koran dan radio. Hal ini memunculkan pertanyaan dari dalam diri saya. Bagaimana mungkin orang yang tinggal di Jakarta bisa memiliki KTP Jakarta dan juga KTP Jawa Tengah? Bukankah untuk mendapatkan KTP dan KK Jakarta harus menggunakan surat pindah dari pemerintah daerah tempat domisili sebelumnya? Inilah masalah kronis dari Departemen Dalam Negeri Indonesia dan jajarannya hingga tingkat paling bawah. Seingat saya, surat keterangan pindah domisili dikeluarkan oleh kantor kecamatan untuk diserahkan ke kantor kecataman tujuan sehingga kita bisa mendapatkan KTP dan KK baru.

Sudah umum untuk mendapatkan KTP dan KK di Jakarta, para pendatang harus membayarnya dengan mahal. Seorang teman beberapa bulan lalu harus membayar sejumlah 600 ribu untuk mendapatkan satu KTP dan KK. Sulit untuk menghindari proses mahal ini, sebaba jika ingin mengurus sendiri pun seringkali menjadi mustahil. Di sini, semua pakai uang kalau mau lancar. Akibatnya, sangat mungkin orang yang mendapatkan KTP baru di Jakarta juga masih memegang KTP daerah asalnya. Macam Narto ini. Di sinilah ketidakberesan dalam pencatatan kependudukan yang diselenggarakan oleh Depdagri.

Tahun 1997, saya mendapatkan KTP Bengkulu yang katanya merupakan KTP nasional dan berlaku di seluruh Indonesia. Nomor penduduk yang tercatat di sana bersifat tunggal sehingga tak mungkin status kependudukan saya tercatat dua kali atau lebih di daerah yang berbeda. Nyatanya, KTP itu tidak berlaku di Yogyakarta saat saya ke sana, juga tak berlaku di Kabupaten Bogor tempat saya tinggal sekarang.

SETIAP pemegang tiket mudik bareng ke Jawa Tengah diberi paket lebaran. Ada sarung cap Gajah Duduk, minuman dalam kemasan beserta roti, serta paket dari Air Mancur, sebuah perusahaan jamu yang terletak di daerah itu. Tentu semuanya adalah sponsor kegiatan. Ada 120 bus pariwisata yang disediakan oleh Pemda Jawa Tengah. Bagi pendaftar yang lebih awal, 30 bis diantaranya merupakan bisa kelas VIP untuk mereka. Selebihnya bis yang juga cukup nyaman untuk pulang ke kampung halaman. Mereka semua, termasuk keluarga Narto, telah berangkat kemarin sore dari Taman Mini Indonesia Indah.

Kalau pun Narto masih mencari penumpang hari ini, itu karena ia masih ingin mendapatkan uang beberapa puluh ribu lagi. Paling tidak untuk tambahan beli bensin pada keberangkatannya besok pagi menuju Boyolali. Cukup jauh. "Sekitar 600 kilometer," katanya bercerita tadi pagi. Sesampainya di kantor, saya beri ongkos seperti biasanya, ditambah dengan beberapa untuk sekedar uang saku bagi anaknya. "Minal Aidin walfaidzin, maaf lahri dan batin. Hati-hati di jalan ya," pesan saya.

Lebaran tahun lalu Narto sangat ingin ketemu saya yang juga mudik ke kampung istri. Demikian pula sebaliknya. Sayang, sebelumnya kami tak sempat bertukar nomor ponsel. Tahun ini, saya dan istri tak bisa mudik. Fatih, anak kedua kami belum genap berusia 3 bulan. Agak repot ke mana-mana dengan satu anak yang baru mulai ceria di masa TK serta satu anak yang mulai berusaha membalik-balik badannya. Apalagi belum memiliki kendaraan roda empat pula.

Selamat Berlebaran, kawan-kawan. Semoga amal ibadah kita selama bulan Ramadhan ini diterima oleh Allah SWT, serta memiliki pengaruh luar biasa untuk perbaikan bangsa ini di masa yang akan datang.

Mohon maaf lahir dan batin untuk semua kesalahan yang sangat mungkin tidak berkenan di hati Anda.

Read More......

World Bank Report 2009

Saya menemukan laporan World Bank 2009 di scribd. com. Seperti biasanya, saya mengunduh dokumen-dokumen menarik dari situs ini. Namun, ternyata sudah tidak bisa melakukannya dari jaringan internet di kantor kali ini. Pesan yang muncul saat beberapa kali mencoba mengunduh: All download limits exceeded from your IP (202.152.XX.XXX).

Laporan tahuan ini cukup menarik karena ia menunjukkan perkembangan dunia "versi" lembaga keuangan bentukan kalangan neoliberal. Paling tidak, kita bisa mengetahui bagaimana perkembangan dunia saat ini, dan tentu saja kita harus tetap kritis terhadap semua isinya. Tidak ada yang netral dalam hal ini. Termasuk isi sebuah laporan.

Di situs Scribd.com terurai deskripsi laporan ini:

The World Bank Annual Report 2009, Year in Review, explores the impact of the global financial and economic crisis in developing countries, and fast-track funding and programs that can help member countries withstand the debacle. In addition, new and ongoing programs and projects in health, climate change, infrastructure, and several other areas are highlighted. A new feature this year is personal-impact stories for each region, relaying the positive effects of World Bank assistance on individuals.


The World Bank Annual Report 2009: Year in Review

Bagi Anda yang tertarik, silahkan mengunduhnya sendiri dari Scribd.com melalui jaringan internet yang Anda miliki. Atau, silahkan unduh dari website WB langsung di sini. Selamat membaca dan mempelajari.

Read More......