Saat kecil, di Bengkulu sana, Idul Fitri adalah hari raya yang sangat membuat bahagia. Dunia anak macam-macam saja pikirannya. Idul fitri berarti di malam sebelum hari H akan ada gunung api dan makan malam dari rumah ke rumah sedusun Aya'Langkap di Kaur Tengah tempat kelahiran saya. Gunung api adalah sayak (tempurung kelapa) yang disusun di sebatang kayu di depan rumah. Sayak itu terkumpul sepanjang beberapa bulan sebelumnya, lalu dibakar dari sayak paling atas dan akan menyala sepanjang malam hingga sayak paling bawah. Di terangnya gunung api di tengah laman itu kami, anak-anak masa itu akan ramai beramain. Di malam lebaran itu, ada undangan makan secara bergiliran dari satu rumah ke rumah lainnya sedusun. Haduh, kalau ini memang harus menyiasati jangan sampai makan terlalu kenyang, supaya tidak sakit perut karena harus makan terus sepanjang malam :)
Juga, di hari lebaran ada paman-paman, bibi atau kerabat yang lebih tua yang biasanya akan memberikan uang beberapa lembar setelah bersalaman dan meminta maaf lahir dan batin pada mereka, persis dengan yang digambarkan di film animasi Upin & Ipin yang diproduksi orang Malaysia yang selama Ramadhan ini ditonton anak saya nyaris setiap hari. Juga tak lupa, jalan-jalan sekeluarga ke pantai Way Hawang di Kaur Selatan. Atau, kalau sedang di Bengkulu biasa main ke keluarga yang dituakan orang tua kami di Rawa Makmur, serta berjalan-jalan bersama kawan-kawan di Pantai panjang yang biasanya ada keramaian di akhir pekan setelah lebaran.
Ada satu hal lucu yang masih saya ingat masa kecil itu. Saat menjelang lebaran biasanya rasa suka cita itu dijadikan gurauan oleh paman atau kerabat yang lebih tua, "De jadi ye'aye, ye'aye de ndak singgah di 'umahmu" (tidak jadi lebaran kok, lebaran tidak mau mampir ke rumahmu). Sebagai anak kecil yang masih lugu, tentunya ada perasaan kecewa kalau tidak jadi lebaran. Sekarang, saya menyadari bahwa perasaan anak-anak memang bermacam-macam saat menghadapi lebaran. Mungkin karena masih belajar untuk berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadhan.
Hari raya Idul Fitri kali ini akan saya rayakan di kabupaten Boyolali, di sebuah desa di sebelah timur Gunung Merapi. Untuk Anda yang merayakan, saya mengucapkan selamat berlebaran Idul Fitri 1429H. Maaf lahir dan batin. Semoga amal ibadah kita selama Ramadhan ini diterima oleh Allah SWT. Juga, semoga "latihan" mengendalikan hawa nafsu guna menuju Takwa benar-benar berhasil dan berlanjut hingga di luar Ramadhan. Amin.
catatan: foto pinjam dari sini
Sering saat melaksanakan shalat di satu masjid tak jauh dari tempat tinggal, saya menemukan satu dua orang jamaah yang shalatnya dengan cara duduk atau di atas kursi. Saya memahami mereka sudah dalam kondisi tidak memungkinkan untuk shalat seperti jamaah lain yang masih bugar. Yang Maha Kuasa telah mengurangi kenikmatan dan kesempurnaan tubuh atas mereka karena termakan usia. Namun, justru usia yang mendekati liang lahat itu pulalah yang sering membuat manusia menjadi sadar bahwa ia adalah manusia: lahir, kecil, remaja, dewasa dan berlanjut menjadi senja. Alhamdulillah, orang seperti ini masih juga mau mengingat mati.
Selain karena usia senja, ada pula jamaah yang shalat di atas kursi roda karena memang kondisi tubuh yang ia dapati memang membuatnya berbeda dengan yang lain. Namun ia sadar, bahwa Tuhan tidak membedakan hamba-hambaNya selain Takwa. Karena itu pulalah rasa syukur yang ia miliki sering lebih tinggi daripada orang-orang yang lengkap kenikmatan fisiknya.
Siang itu, di hari ahad yang berlalu, saya mengalami satu kecelakaan. Usai membeli flashDisk untuk adik saya yang baru datang dari Bengkulu, anak saya Zahid meminta untuk jalan-jalan. Dari kawasan niaga Citra Gran, akhirnya saya coba menjalankan sepeda motor, memasuki kawasan perumahan elit Citra Gran. Zahid sangat senang karena di boulevard kawasan itu terdapat bola-bola besar yang berwarna-warni. Lalu kami pun menuju ke kiri, menuju kolam renang dimana kami pernah menikmati kesenangan berendam di dalamnya.
Hujan yang turun cukup lebat beberapa jam sebelumnya menyisakan tanah liat di pinggiran jalan. Dalam kondisi sepeda motor yang berjalan santai, tiba-tiba saja kami terbanting. Sepeda motor yang kami tunggangi meleset dan terbanting ke arah kanan. Tak ada siapapun yang lewat di jalan itu kecuali kami. Saya yang merasa cemas, segera mematikan sepeda motor dan mencoba menenangkan Zahid yang menangis histeris. Celana sebelah kanan sobek, lutut berdarah, punggung telapak tangan kanan juga membengkak dan terkelupas. Rasa cemas luar biasa menghinggapi sebab saya pikir anak saya yang masih tiga tahun itu tertindih sepeda motor. Alhamdulillah tidak. Hanya pelipis kanan yang terlihat lecet.
Sepanjang perjalanan pulang, saya memohon ampun pada Sang Khalik tak henti-henti di dalam hati. Mungkin Ia telah mengingatkan saya untuk bertobat. Kejadian yang saya alami persis saat saya memaki-maki para koruptor. Juga mencoba menghubungkan mereka dengan pemilik rumah-rumah mewah milyaran rupiah namun kosong tak berpenghuni, atau hanya ditempati oleh PRT. Memang bukan hak saya untuk mengurusi kehidupan mereka. Dosa saya terlalu banyak dan tobat saya belum tentu diterima. Juga, diri saya jauh dari sempurna.
Malamnya Zahid demam tinggi. Ibunya cemas.
Sore hari esoknya kami mengundang tukang urut. Ternyata otot paha sebelah kanan Zahid sedikit cidera. Semula ia menangis menolak diurut. Namun setelah selesai menjalani terapi ini, ia malah tidak mau diam, kembali lincah seperti semula. Badan sayapun diurut, oleh orang yang berbeda. Lelaki yang berbadan cukup liat itu pun bersimbah keringat mengurut, memijit-mijit badan saya sekitar satu jam lamanya.
Karena kecelakaan itu, hari Senin dan Selasa saya beristirahat di rumah. Badan masih terasa sakit-sakit rasanya.
Akhirnya shalat tarawih pun saya lakukan di rumah. Sakit sekali rasanya lutut ini. Dan saya merasa tidak kuat shalat 11 rakaat dengan hanya bertumpu pada lutut kiri ketika sujud. Shalat ini saya laksanakan di rumah. Sama seperti jamaah di masjid tak jauh dari tempat tinggal saya itu, saya shalat di atas kursi.
Terima kasih ya Allah, Engkau beri kesempatan padaku untuk bertobat.
Hari ini saya mendapat informasi dari satu posting di mailing list salah seorang penyiar radio Ibukota, yang memuat hasil survei biaya hidup di kota-kota di tanah air. Biaya hidup termahal ternyata diraih oleh kota Balikpapan. Agak terkejut saya mendengarnya, meski seorang teman yang pernah bermukim di sana menyatakan biaya hidup di Balikpapan memang lebih mahal daripada Jakarta.
Mumu, teman saya itu, beberapa waktu lalu saya tanyai mengenai kehidupan di Balikpapan, sebab ada beberapa orang teman lama saya yang tinggal di sana. Juga setelah mengetahui kalau orang yang pernah dekat di hati juga ternyata telah berdomisili di bagian timur Borneo.
Di Balikpapan banyak terdapat perusahaan besar serta merupakan perusahaan asing yang melakukan eksplorasi kekayaan alam, seperti minyak bumi dan batubara. Juga hasil kekayaan hutan merupakan aset tersendiri bagi daerah ini. Mungkin karena daerah kaya, maka daerah ini menjadi begitu mahal biaya hidupnya. Namun, seperti daerah-daerah kaya bahan tambang di Nusantara, penduduk asli tetap mengalami kondisi miskin.
Penduduk asli daerah hanya segelintir saja yang bisa dilibatkan dalam proses pengerukan kekayaan alam oleh perusahaan asing. Sebabnya karena sumber daya manusia yang dibutuhkan adalah mereka yang terampil dan melek teknologi terkini. Sudahlah tidak bisa menjadi pekerja perusahaan yang beroperasi di daerahnya, penduduk setempat juga harus menanggung dampak buruknya. Limbah tambang yang mencemarkan harus dinikmati, bisnis esek-esek juga meluaskan penyakit kelamin, serta lunturnya nilai-nilai budaya setempat oleh kebiasaan baru para pendatang merupakan kerugian yang biasa dialami masyarakat lokal.
Kembali ke hasil survei. Jakarta, kota dimana sehari-hari saya bekerja, ternyata menempati urutan ke dua dalam tingkat kemahalan biaya hidup. Saya sendiri sebenarnya tinggal di daerah yang sudah masuk kabupaten Bogor. Orang bilang Jakarta coret. Namun biaya hidupnya bisa dibilang sama mahalnya dengan Jakarta. Kategori biaya hidup yang disurvei mencakup biaya kebutuhan makanan, kebutuhan pokok,transportasi, utilitas, perumahan, pendidikan, kesehatan serta hiburan dan olah raga.
Daftar tingkat kemahalan biaya hidup di beberapa kota menurut hasil survei yang saya ceritakan ini dapat Anda baca disini.
Saudara-saudaraku semua,
Saya ingin mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan untuk Anda yang menjalaninya. Semoga puasa kali ini menjadi masa penggemblengan diri bagi kita untuk bisa menjadi manusia yang selalu lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Semoga Ramadhan kali ini benar-benar membuat kita menjadi lebih manusiawi, yang menyadari hakikat diri sebagai manusia ciptaan-Nya di dunia. Semoga Allah memudahkan dan menerima segala amal ibadah kita selama bulan Ramadhan kali ini. Amin.
Saya meminta maaf lahir dan batin untuk semua kesalahan yang pernah saya lakukan pada diri Anda yang sangat mungkin menorehkan luka.
Kemarin saya membaca berita di Kompas dan okezone yang menginformasikan bahwa pemesanan tiket sudah dapat dilakukan sejak kemarin. Pagi ini saya mendatangi stasiun Jatinegara yang searah dengan perjalanan menuju tempat kerja untuk memesan tiket kereta. Menjelang pukul sembilan antrian tidak begitu ramai. Satu spanduk terbentang di dekat loket pemesanan yang menyatakan bahwa pemesanan tiket 30 hari sebelum hari keberangkatan. Setelah menghadapi petugas di loket, saya ketahui ternyata untuk keberangkatan tanggal 27 September 20008 baru bisa memesan tiket pada 28 Agustus esok lusa.Saya dan istri bersepakat untuk merayakan lebaran kali ini di tanah Jawa. Lebaran lalu kami merayakannya di Bengkulu. Ongkos berlebaran yang harus kami tanggung akan lebih ringan dibanding jika kami kembali mudik ke Sumatera. Juga, anak kami Zahid telah besar dan dia harus sudah membayar tiket sendiri untuk bisa naik pesawat. Selain itu, tentu saja bergantian, setelah tahun lalu di Bengkulu, maka tahun ini di Boyolali.
Mengenai tiket yang belum bisa saya dapatkan tadi pagi, saya pikir kalau kebijakan ini betul-betul diterapkan sepertinya akan lebih tertib dan relatif mengurangi calo yang dapat memborong tiket-tiket itu untuk semua hari perjalanan. Hanya saja saya berpikir tentang kendala yang mungkin tidak bisa dihindari. Pertama, keberangkatan ke arah timur Jawa akan mulai memadat pada tanggal 27 September, sebab sehari sebelumnya adalah hari terkahir masuk kantor bagi mereka yang ingin pulang kampung. Tentunya semua orang akan memesan tiket untuk keberangkatan hari itu hingga sehari sebelum hari raya Idul Fitri yang menurut kalender akan jatuh pada tanggal 1 Oktober 2008. Kedua, tetap ada kemungkinan petugas stasiun ikut bermain dalam percaloan tiket. Sejak dulu kala calo tiket sudah bekerjasama dengan petugas internal yang ingin memanfaatkan keuntunga.
Ongkos sejak hari H-7 lebaran akan naik sebesar 60 persen. Tiket kereta kelas bisnis Senja Utama Solo dijual dengan harga 160 ribu rupiah yang sebelumnya dengan harga normal hanya senilai 100 ribu rupiah. Saya masih optimis akan mendapatkan tiket pada pemesanan esok lusa, meski ada kemungkinan dibilang calo karena akan membeli 5 tiket sekaligus untuk kami bertiga dan dua orang saudara sepupu yang ingin mudik bareng. Ada beberapa agenda pada lebaran nanti, bersilaturrahim dengan saudara-saudara di Boyolali dan Solo, juga, jika sempat akan ke Karanganyar dan Jogja menemui teman-teman lama.
SOETARDJO adalah pedjoeang kemerdekaan. Ia, bersama para pedjoeang lainnya, berusaha mengusir dan membebaskan Indonesia dari cengkaraman penjajah. Di masa perdjoeangan itu, banyak terdapat pengkhianat-pengkhiatan bangsa sendiri. Jenderal Soedirman memerintahkan Soetardjo turun ke kota untuk menyelidiki pengkhianat-pengkhianat itu di sana. Soetardjo pun "turun gunung", keluar dari persembunyian gerilya.
Di kota, Soetardjo menyamar sebagai penjual air tapai singkong. Kesana kemari ia menjajakan dagangannya. Kemudian ia pun tahu siapa saja para pengkhianat itu. Oleh temannya, ia diajari meracik racun yang dapat ia campurkan ke dalam air tapai singkong yang ia jual. Akhirnya, air tapai singkong pun bercampur racun, dijual pada pengkhianat-pengkhianat itu, dan matilah mereka.
Orang-orang mencoba menjelaskan sebab kematian para pengkhianat. Ada yang menyebutkan mereka mati karena kualat. Dukun-dukun mengatakan mereka mati disantet. Para kyai mengatakan kematian mereka merupakan adzab sebab telah berkhianat pada bangsa. Dokter menjelaskan hasil pemeriksaan bahwasannya mereka mati karena terkena serangan jantung.
Saat ini Soetardjo telah berusia 89 tahun. Dengan sekian banyak anak dan cucunya, ia akhirnya tinggal bersama salah satu cucunya, dan merupakan cucu yang paling kaya yang ia miliki. Cucunya ini ternyata seorang yang hidup kaya dari hasil membantu para cukong pembalakan liar hutan-hutan di Indonesia.
Suatu hari, polisi menciduk sang cucu dan memenjarakannya atas kejahatan yang telah ia lakukan. Soetardjo tenang saja. Ia pergi mengunjungi cucunya di sel tahanan polisi. Ia lihat cucunya merasa kedinginan tinggal di dalam ruang penjara. Cucunya berpesan pada Soetardjo untuk datang lagi keesokan hari dan membawakan air yang hangat-hangat. Esoknya, Soetardjo datang dengan menenteng sebotol air tapai singkong. Ia berpesan pada cucunya, "minumlah air ini pada tengah malam."
Keesokan harinya polisi datang kepada Soetardjo. Mereka mengabari bahwa cucunya telah mati terkena serangan jantung.
KISAH di atas adalah cerita yang saya dapatkan dari Indonesia Siesta di Delta FM. Indonesia Siesta adalah acara favorite saya. Kemarin, sehari setelah perayaan 63 tahun kemerdekaan Indonesia, acara ini masih mengangkat topik seputar hari kemerdekaan. Saya tidak tahu apakah kisah itu nyata adanya ataukah sebuah cerita fiksi belaka.
Pengkhianat-pengkhianat bangsa tidak hanya di zaman revolusi (fisik). Di zaman sekarang pun pengkhianat itu malah lebih banyak dan lebih jelas kelihatan. Koruptor, aktvis NGO yang seolah membela rakyat dan kemanusiaan namun ternyata menjual Indonesia pada dan pendukung Neolib, para pejabat yang menjual kekayaan alam Indonesia kepada pihak asing, adalah sebagian dari sekian banyak pengkhianat bangsa.
Proklamasi kemerdekaan telah 63 tahun berlalu. Kemiskinan ternyata belum juga berlalu menyelimuti negeri ini. Inikah kemerdekaan?
Para pengkhianat saat ini masih terus bernyanyi dan seolah berbakti pada negeri. Saya berharap, semoga Soetardjo tetap mau bergerilya menjamu mereka dengan air tapai singkong buatannya.
Catatan: gambar bendera pinjam dari sini.
Kita pernah melukis bersama
indah sekali rasanya lukisan-lukisan yang ada
tak dinyana Tuhan berkehendak beda
kuminta kau tetap menjaga supaya lukisan itu tetap ada
biarlah ia tetap indah dalam ingatan bersama
Berbalut baju ketat berbahan kaos, dan celana panjang yang semuanya melekat ke kulit menyelimut seluruh badan. Semuanya berwarna merah jambu. Badannya dibungkus lagi dengan rompi berwarna biru gelap serta rok mengembang setengah paha, semuanya berbahan jeans. Dikepala, terikat slayer segitiga berwarna krem membuat rambut panjang sebahu lebih itu terarah lurus ke belakang. Sepatunya hak tinggi berwarna putih. Usianya saya terka sekira antara lima hingga tujuh tahun. Lincah nian ia menyanyi di atas panggung itu.
Masih ada 4 orang anak lagi yang menyanyi di panggung khusus pertunjukan di Istana anak, Taman Mini Indonesia Indah. Tempat ini pula yang menjadi pusat perayaan Hari Anak Nasional yang berlangsung pada 23 Juli lalu. Kebetulan saya bersama anak dan istri sedang menikmati miniatur kawasan Nusantara yang diberi nama Taman Mini Indonesia Indah. Anak dan istri menikmati fasilitas bermain di Istana Anak, besama tetangga sekaligus kawan yang juga pasangan muda Didin-Siti yang membawa serta anak mereka Aqila, yang baru setahun usianya. Menunggu mereka manaiki kereta mini, saya membaca-baca sambil termangu-mangu melihat anak-anak dengan suara merdu menyanyikan lagu-lagu yang mereka hafal lengkap dengan performance di atas panggung begitu sempurna.
Anak-anak itu, penyanyi cilik yang mungkin sekali jebolan Idola Cilik yang ditayangkan di sebuah statisiun TV nasional, satu persatu menyanyi. Kalau tidak salah, di hari Ahad lalu masing-masing mereka membawakan 3 lagu. Terus terang, suara mereka bagus, penampilan mereka betul-betul bak penyanyi profesional. Saya berpiikir, entah berapa biaya yang orang tua mereka keluarkan untuk mencetak anak-anak itu menjadi penyanyi. Saya mengaguminya sekaligus termangu pada apa yang saya lihat. Mereka ini, semuanya menyanyikan lagu-lagu dewasa. Kata kuncinya antara lain cinta, rindu, mesra, dan sejumlah kata-kata sejenisnya.
Saya ketinggalan dalam mengamati lagu-lagu anak muda saat ini. Satu dua nama penyanyi dan judul lagu saya pernah dengar. Tapi kalau dicocokkan antara penyanyi dan lagunya, mungkin delapan puluh persen pastilah akan saya sebutkan dengan tidak cocok. Pertama, karena saya tidak memiliki TV di rumah, jadi kurang informasi yang sifatnya audio visual. Di rumah ada koran dan di kantor saya mendapat pasokan berita melalui teknologi RSS feed beberapa situs berita lewat Thunderbird di komputer. Kedua, saya tidak begitu suka mengamati kehidupan para artis yang menjadi idola masyarakat lewat jejalan-jejalan infotainment yang menjamur nyaris di setiap stasiun TV di tanah air. Praktis, untuk hal penyanyi, mungkin saya hanya menghafal dengan baik beberapa lagu generasi Kla Project atau Iwan Fals.
Tapi anak-anak yang menyanyi di panggung di Taman Mini itu, saya perhatikan, begitu hafal lagu yang lagi tren saat ini. Salah satu yang saya ingat, Mahluk Tuhan yang Paling Seksi yang dinyanyikan oleh Mulan Jameela. Juga beberapa--kalau saya tidak salah menghafal--lagu kelompok musik Ungu.
Kelihaian dan kepiawaian menyanyikan lagu-lagu itu membuat saya tertarik untuk mengamati. Di kiri kanan, di belakang dan depan saya, bahkan beberapa balita yang mengitari panggung dengan ditemani ayah dan ibu mereka, begitu fasihnya mengiringi sang penyanyi. Mereka melantunkan lagu yang sama. Gaya bernyanyi yang sama dengan penyanyi yang sama, entah Mulan Jameela ataupun Ungu. Inikah potret dunia anak saat ini? Itukah lagu-lagu yang menggambarkan kehidupan mereka?
Saya tidak tahu apakah masih ada anak-anak yang asyik bermain kelereng sepulang sekolah bersama teman-teman mereka. Saya juga tidak melihat apakah putri-putri kecil itu mampu bermain lompat tali sambil bernyanyi tentang matahari pagi. Kenapakah tak ada lagu tentang si anak gembala, naik-naik ke puncak gunung, pelangi-pelangi? Apakah anak-anak sudah tidak bisa lagi menikmati dunia seperti itu saat ini?
Sepuluh tahun lalu, saya memperhatikan tayangan sinetron di rumah paman di Bekasi. Saat itu, saya merasa bahwa akan segera dimulai babak baru sinetron kita: Eksploitasi dunia anak-anak sekolah. Isinya mengenai cinta monyet mereka, kehidupan gelamor yang orang tua mereka sediakan, serta remeh temeh relasi kuasa sosial-ekonomi diantara anak-anak seusianya. Saat itu memang masih gambaran cerita anak-anak SMA. Saya memperkirakan, tentulah tema ini akan merembet ke dunia anak SMP setelah sebelumnya berhasil dengan pencitraan dunia kampus. Ternyata analisa saya malah kurang lengkap. Justru saat ini sinetron itu telah memperkosa logika berpikir anak-anak SD. Ah... rupanya dunia anak saat ini sudah terbentuk oleh tayangan-tayangan TV.
Di kota-kota besar macam Jakarta, orang tua sibuk bekerja. Berangkat pagi dan pulang nyaris di tengah malam. Seorang anak bimbingan istri saya menjalani hidup seperti ini. Pagi hari, saat ia masih lelap diselimuti embun pagi, dan matahari belum lagi meninggi, Papa dan Mamanya telah berangkat bekerja. Di saat ia tengah lelap ditemani sang rembulan yang terang, Papa dan Mamanya baru pulang. Semua kebutuhan telah lengkap tersedia. Di kamarnya tersedia TV kabel. Kaset-kaset yang ia miliki juga lengkap lagu-lagu yang lagi tren saat ini. Tentu saja, lagunya bertemakan cinta sepasang manusia, bukan cinta dari Papa-Mama terhadap anak-anaknya.
Dalam keributan RUU Pornografi yang berlangsung sejak 2006 lalu, bagi saya tetap ada kebutuhan untuk mengatur segala kepornoan yang berlangsung di Indonesia. Di negeri sekuler macam Amerika hal semacam itu diatur dengan tegas. Seorang perempuan asal Indonesia memasuki sebuah toko. Di salah satu sudut toko itu ada tempat khusus menjual Sex Toys dan majalah-majalah porno. Sekian lama ia bersama suami dan anak-anak tinggal di negeri sekuler ini, baru kali ini ia mencoba memasuki wilayah khusus dewasa itu. Setelah meminta izin suaminya, menggendong bayinya, ia mencoba memasuki ruang itu. Si penjaga ruangan langsung mencegahnya masuk. "Anda boleh masuk jika anak itu telah berusia 18 tahun," kata si penjaga. Begitulah, ranah porno yang untuk orang dewasa dengan tegas dibedakan dengan ranah khusus untuk anak-anak.
Berbeda dengan di Indonesia. Majalah-majalah dalam kategori untuk orang dewasa, serta tabloid dan koran yang menjual hasrat selangkangan dengan mudah didapat di pinggir-pinggir jalan sampai toko-toko buku. Jika suasana porno itu dirasakan oleh semua usia, entah bagaimana pula cara membedakan antara dewasa dan anak-anak selain fisiknya. Birahi anak dan orang dewasa tak jelas lagi batasnya.
Anak-anak yang saya lihat di panggung pertunjukan di Taman Mini hari Ahad yang lalu, adakah mereka tahu bahwa kehidupan mereka telah diperkosa tren gaya hidup yang disajikan televisi, yang dirancang sang penguasa modal untuk selalu menghadirkan segala hal "terkini", dan membuat mereka selalu merasa bangga dielu-elukan banyak temannya? Berlomba seperti banyaknya ilmuan di tanah air yang tetap ingin terlihat pintar dan intelek namun harus juga terkenal seperti artis yang banyak muncul di TV atau lembar opini berita hari ini?
Maafkan, saya lupa saya sudah bukan lagi anak-anak. Mungkin saja saya salah tidak merancang anak saya seperti anak-anak yang begitu ceria bernyanyi tentang kisah cinta sepasang anak manusia. Sudahlah, saya salah. Mohon pencerahannya Bapak, Ibu, Om, Tante...