Acara pesta blogger 2007, ajang berkumpul blogger Indonesia berlangsung juga kemarin. Saya salah satu pesertanya. Sejak mula saya sudah berharap dapat teman baru, jumpa blogger-blogger yang selama ini hanya bisa membaca tulisan-tulisan mereka, serta berbagi pengalaman. Semuanya jadi kenyataan.
Usai melakukan registrasi ulang di meja panitia, saya berkenalan dengan Dhan, blogger yang juga nge-blog di blogspot seperti saya. Ia bekerja di bagian IT Telkomsel dan berkantor di daerah Kuningan. Sejak sesi pertama hingga selesai, teman baru asal Malang ini dengan senang hati menyertai saya sepanjang acara. Tidak seperti blogger lain yang datang bersama dengan teman-teman dari satu komunitas blog atau blogger yang telah terlebih dahulu membuat janji ketemu di acara ini, saya dan Dhan adalah bagian dari blogger yang datang sendiri, hanya berbekal keyakinan bakal mendapat teman ngobrol setelah berada di tempat acara.
Saat menunggu acara dimulai, saya juga sempat berkenalan dengan Agung Firdaus dan beberapa lainnya. Begitu juga saat makan siang, saya dan Dhana makan bersama dengan Sukri Sulaiman dan Nawir dari Komunitas Blogger Makassar "Angingmammiri", juga dengan Abdul Kadir dari Bandung dan seorang wartawan majalah Trust yang sedang meliput acara. Perkenalan dengan mereka, juga beberapa lainnya yang saya lupa nama-namanya, berawal dari senyum dan sapa ramah sesama blogger Indonesia. Sungguh keramahan semacam ini yang saya rindukan dan jarang saya dapatkan setelah 3 tahun tinggal di Jakarta ini. Identitas sebagai blogger ternyata menumbuhkan rasa kebersamaan dan melahirkan sikap hangat pada siapa saja yang ditemui.
Saya bertemu dengan Andreas Harsono, seorang jurnalis yang sampai saat ini masih memimpin Pantau, dulu merupakan majalah Jurnalisme Sastrawi yang luar biasa bagus isinya. Saya menyukai tulisan-tulisan Andreas. Blog Andreas adalah salah satu blog yang sering saya kunjungi, bahkan mendapatkan penghargaan dari Maverick, sebuah perusahaan public relations di Jakarta, sebagai blogger-wartawan pilihan mereka tahun 2007. Andreas mengajukan satu pertanyaan bagus: Hal apa yang belum sempat terpikirkan para blogger yang hadir di pertemuan ini, yang akan menyadarkan mereka bahwa sesungguhnya kebebasan nge-blog bukanlah berarti bebas sebebasnya dalam berekspresi?
Saat acara diskusi penutup, saya melihat Satrio Arismunandar di layar besar karena tersorot kamera panitia. Sebenarnya saya ingin berkenalan dan ngobrol langsung dengannya. Dia adalah anggota yang aktif di milis Jurnalisme yang juga saya ikuti.
Usai makan siang, ada diskusi kelompok sesuai dengan kategori yang dibuat oleh panitia. Diskusi ini terbagai dalam Women's Issues, Blog Teknologi, Blog Personal, Blog Selebiti, Current Issues, dan Bridge Blogging. Setiap peserta bergabung pada kelompok diskusi yang mereka minati.
Saya bergabung dalam kelompok yang mendiskusikan blog personal. Blog yang saya miliki saya nilai sebagai blog pribadi yang berisi tulisan-tulisan mengenai hal-hal yang sedang melintas dalam pikiran saya. Pandangan saya ini ternyata sama dengan beberapa teman yang memutuskan untuk bergabung dalam kelompok diskusi ini. Pengalaman beberapa peserta begitu menarik untuk saya.
Anjar Priandoyo, salah satu pemandu diskusi kelompok bercerita tentang tulisanya yang bersifat pribadi namun ada yang sempat membuat heboh teman-teman sekerjanya. Pasalnya, Priandoyo yang seorang auditor ini bercerita tentang istrinya yang mengalami keguguran kandungan. Saat diskusi, istrinya juga hadir dalam kondisi hamil setelah keguguran itu. Semoga kandungan kali ini sehat dan buah hati mereka lahir dalam kondisi sehat.
Pemandu diskusi lainnya, Nila Tanzil. Ia bercerita bagaimana tulisan di blognya membuat berang Pemerintah Malaysia, hanya karena kritiknya pada kinerja lembaga di negeri tetangga itu dinilai membuat buruk wajah negara tetangga itu. Majalah the Star, salah satu leading media di sana memuat kritik Nila hingga ia kemudian dipecat dari status presenter salah satu stasiun TV di sana. Tak hanya itu, Menteri Pariwisata Malaysia mengatakan kebanyakan blogger adalah pembohong, dan blogger perempuan adalah mereka yang tidak bekerja. Nila mendapat banyak dukungan moril dari blogger-blogger Indonesia, bahkan dari Malaysia sendiri. Ia merasakan betul bagaimana dukungan itu begitu menguatkannya dan membuatnya merasa tidak perlu takut untuk menyuarakan kritik, asalkan itu merupakan kebenaran faktual. Tulisan-tulisannya di blog dilirik dan dinilai menarik oleh salah media luar negeri hingga ia mendapatkan pekerjaan baru sebagai kontributor media tersebut.
Dari Batam ada Meity. Kantor tempat ia bekerja mendapatkan pengalaman buruk dengan layanan Telkom. Keluhan-keluhan sudah ia sampaikan namun tidak mendapat tanggapan yang baik dari Telkom. Karena kesal, ia pun menulis di blognya. Di tulisan itu ia menceritakan pengalaman buruk dengan pelayanan Telkom. Dampaknya, Telkom lalu merespon dengan menindaklanjuti apa yang menjadi keluhan Meity. Di lain waktu, ketika ia menelepon ke Telkom dan pegawainya mengetahui itu Meity, makan respon yang diberikan begitu cepatnya. Tulisan Meity yang lain, berupa banyaknya jalan raya yang berlubang yang tidak juga diperbaiki juga ditanggapi oleh Pemerintah Daerah setempat. Hanya dalam hitungan hari, jalanan yang rusak diperbaiki.
Amril bercerita mengenai isi blognya menjadi sinetron dan buku. Tak hanya itu, tulisan mengenai pengalaman 13 tahun pernikahannya belum juga dikaruniai anak telah mendamaikan orang yang akan bercerai. Salah satu pembaca blognya membaca kisah Amril yang baru mendapatkan anak setelah 13 tahun. Si pembaca memberikan tulisan itu kepada saudaranya yang putus asa setelah 8 tahun usia pernikahan, mereka tidak kunjung dikarunia anak. Mereka akhirnya menyadari bahwa perihal satu ini adalah urusan Sang Maha Kuasa.
Kisoratun mengelola blog Peduli. Blog ini merupakan media yang dipakai untuk menumbuhkan kepedulian pembacanya pada korban musibah seperti gempa dan tsunami. Melalui media blog ini, berhasil terkumpul dana tidak kurang dari 1 Milyar. Ia senang bisa menyalurkan dana tersebut untuk mereka yang membutuhkan.
Sama dengan Amril, tulisan-tulisan Ira Lathief menarik penerbit dari Yogyakarta untuk menjadikannya sebuah buku. Ira pernah bekerja sebagai wartawan untuk acara infotainment.
Rovicky, yang mengkhususkan blognya untuk topik geologi serta kalau tidak salah ingat ia bekerja di Malaysia. Ia mengingatkan teman-teman blogger lainnya untuk memfokuskan isi blog, serta melengkapi tulisan dengan data-data yang akurat. Tulisan yang fokus pada topik tertentu menarik pembaca yang menyukai atau mencari informasi mengenai topik tersebut. Data-data diperlukan untuk menunjukkan apa yang ditulis merupakan fakta yang jelas-jelas ada dan seperti yang ditulis oleh Meity, hal tersebut bisa ditindaklanjuti oleh lembaga terkait.
Berkaitan dengan fokus isi blog, Ira dari Komunitas Blogger "Angingmammiri" Makassar bercerita tentang kesenangan travelling yang ia lakukan dan ia tulis di blog. Karena tulisan-tulisannya itu, ia pernah dikontak oleh pembaca blognya dan dimita untuk menjadi pemandu traveller yang ingin mengunjungi daerah atau negara tertentu.
Budi Putra dalam diskusi pembuka yang dipandu pemilik blog Perspektif Baru, Wimar Witoelar, mengatakan yang harus betul-betul diperhatikan pada blog adalah isinya (contents). Meski tampilan dibuat semenarik mungkin, namun tetaplah pembaca blog menginginkan membaca isi blognya. Kalau isinya menarik maka pembaca akan selalu mengunjungi blog tersebut.
Dari diskusi kelompok mengenai blog pribadi, ternyata suara-suara yang termuat di blog-blog itu tidak bisa dianggap remeh. Kritik atau masukan belum tentu dimuat di media massa konvensional. Di blog dan melalui blog, kritik itu bisa sangat berpengaruh dan menjadi didengarkan. Di masa mendatang, blog pastilah akan menjadi kontrol sosial yang tidak bisa dianggap remeh. Di situlah ada suara masyarakat, yang mau tidak mau memang harus didengar meski dari sebuah weblog.
Saat memberikan sambutan pada sesi pembukaan, Menkominfo, Mohammad Nuh, resmi mengumumkan tanggal berlangsungnya acara bertajuk "Suara Baru Indonesia" ini dijadikan sabagai Hari Blogger Nasional. Jadi, 27 Oktober 2007 adalah hari blogger Indonesia.
Masyarakat Kaur Tengah dan Kaur Selatan hampir 100 persennya beragama Islam. Orang-orang berpuasa di bulan suci Ramadhan sebagai pemenuhan rukun Islam yang ke-tiga. Pada bulan ini, ada satu tradisi yang berlangsung sejak nenek moyang orang Kaur menganut Islam. Namanya "Te'iak".
Dalam kosa kata bahasa Kaur bagian Tengah dan Selatan tidak terdapat pengucapan huruf "R" sebagaimana orang Batak yang bisa mengucapkan dengan jelas. Yanga ada adalah huruf 'ain dalam bahasa Arab, yakni huruf ke 18 dalam susunan huruf Hijaiyah. Jadi kata Te'iak tidaklah dilafazkan "Teriak" seperti dalam bahasa Indonesia. Meski secara harfiah keduanya memiliki arti yang sama, namun "te'iak" merupakan satu kata untuk menyebut tradisi yang hanya berlangsung di bulan puasa.
Te'iak adalah tradisi membangunkan orang-orang di dusun, yang bertujuan (semacam) meminta penduduk untuk segera bangun dan memasak keperluan makan sahur. Te'iak ini berlangsung dari pukul 02.00 - 03.00 WIB. Dengan memasak pada waktu-waktu itu, maka ketika masakan itu matang, seluruh penghuni rumah yang akan berpuasa bisa menikmatai makanan yang masih dalam kondisi hangat dan enak untuk dinikmati. Itulah kenapa membangunkan masyarakat harus di waktu-waktu itu. Perhitungan memasak makanan hingga menjadi matang sekitar satu jam, sehingga saat bersantap sahur tepat di akhir waktu atau sebelum imsyak (batas untuk menyelesaikan sahur, kira-kira 10 menit sebelum Azdan Subuh). Dalam ajaran Islam, sahur dianjurkan berlangsung menjelang atau mendekati subuh.
Te'iak dilakukan oleh pemuda-pemuda di dusun, yang semuanya belum beristri atau berkeluarga. Para pemuda tidak boleh tidur di rumah orang tua mereka pada bulan Ramadhan, tetapi berkumpul dan tidur di Masjid atau Surau (musholla). Sekitar pukul 02.00 WIB mereka bangun untuk mempersiapkan prosesi Te'iak. Sebenarnya, peralatan yang digunakan adalah gendang (seperti rebana namun dengan ukuran yang lebih besar), yang terdiri gendang yang besar dengan diameter sekitar setengah meter dan rebana kecil dengan diameter sekitar 25 cm. Rebana inilah yang ditabuh dengan irama tertentu yang diiringi oleh Hadra (semacam barzanji), yakni puji-pujian yang menagungkan Sang Maha Kuasa serta Shalawatan kepada baginda Rasullullah SAW. Kira-kira tahun 1980-an awal, peralatan ditambah dengan pelatan yang juga menghasilkan bebunyian seperti kelintang (semacam bonang pada peralatan gamelan Jawa) baik yang bentuknya batangan maupun bulat (seperti gong tapi ukuran yang kecil), serta kentungan dan besi.
Ada tiga tahapan Te'iak yakni melantunkan Hadra, lalu dilanjutkan dengan Nu'un Lagu atau beralih lagu dan diakhiri dengan dengan pantun yang balas berbalas, yang semuanya diiringi oleh gendang dan peralatan lainnya dengan irama tertentu yang khas. Dimulai dari Masjid atau surau, lalu rombongan Te'iak berjalan beriringan ke satu ujung dusun ke ujung dusun yang lain dengan tujuan membangunkan penduduk. Irama Te'iak melantun ke seluruh dusun yang dilalui. setelah sekitar satu jam membangunkan penduduk, maka rombongan Te'iak akan kembali lagi ke masjid atau surau.
Te'iak ini hanya berlangsung sampai pukul 03.00 WIB, tidak boleh melebihi waktu itu. Jika ada Te'iak yang melampaui waktu itu, maka penduduk akan menjadi marah, sebab para pemuda yang Te'iak berarti terlambat membangunkan orang-orang untuk menyiapkan santapan makan sahur.
Saat ini, Te'iak masih berlangsung. Namun, jumlah pemuda yang melaksakannya mulai berkurang. Banyak pemuda sudah merantau mencari nafkah di luar kaur sehingga yang tersisa hanya sedikit. Supaya tetap berlangsung dengan baik, anak-anak yang masih duduk di bangku SLTA dilibatkan dalam melakukan Te'iak. Ketika keliling dusun, masih ada tambahan anak-anak yang keluar dari rumahnya untuk mengikuti rombongan Te'iak yang saat itu sedang melewati rumahnya. Biasanya anak-anak ini adalah anak-anak yang sejak kecil jarang melihat Te'iak karena kebetulan orang tua mereka sendiri merantau bersama keluarga di luar Kaur, dan mudik ke Kaur menjelang hari raya Idul Fitri.
Kaur Selatan dan Kaur Utara terletak di daerah yang dekat dengan laut. Adat istiadat atau praktik budaya serta bahasa daerah adalah sama. Kalau pun ada perbedaan dari segi bahasa, hanya terletak dalam pengucapan suku kata untuk beberapa kosa kata saja. Kaur Tengah memiliki pusat pemerintahan kecamatan yang terletak di Tanjung Iman, serta Kaur Selatan sendiri berpusat di Bintuhan. Biasanya, orang Kaur Tengah dan Kaur Selatan mengenalkan diri kepada orang luar sebagai orang Bintuhan. Mungkin karena pusat aktifitas ekonomi dan pemerintahan sejak zaman dulu memang terletak di sana, sehingga nama Bintuhan lebih dikenal oleh khalayak di luar Kaur. Kedua Kecamatan ini memiliki perbedaan bahasa daerah dengan masyarakat yang berada di Kecamatan Kaur Utara, yang lebih dikenal dengan Padang Guci. Kaur Tengah, Kaur Selatan dan Kaur Utara sebelumnya adalah bagian dari Kabupaten Bengkulu Selatan. Sejak tahun 2005 lalu, Ketiga Kecamatan itu bergabung menjadi satu kabupaten dengan nama Kabupaten Kaur. Dari Ibukota Propinsi Bengkulu jaraknya hampir 200 kilometer ke arah selatan. Kabupaten ini berbatasan langsung dengan Provinsi Lampung di sebelah Selatannya.
Te'iak adalah salah satu tradisi yang ada di daerah Kaur Tengah dan Kaur Selatan yang perlu dilestarikan. Ia adalah kekayaan budaya masyarakat yang bisa jadi akan punah, sebagaimana generasi-generasi terdahulu menyesali anak keturunannya yang sudah tidak lagi bisa berbahasa daerah seperti mereka. Gempuran budaya luar yang masuk melalui proses globalisasi merupakan ancaman yang harus diwaspadai, sebab proses penghilangan budaya itu berlangsung secara perlahan-lahan, seperti proses evolusi yang alamiah saja.
Koran Tempo hari ini, Minggu, 30 September 2007, memberitakan mengenai 2 jenazah Tenaga Kerja Indonesia (TKI) Perempuan tiba di bandara Soekarno Hatta pada Sabtu kemarin. Mereka berdua adalah Susmiyati dan Siti Tarwiyah, korban tindak kekerasan yang dilakukan oleh majikan mereka di Arab Saudi. Foto kedatangan dua peti jenazah itu menghiasi halaman depan salah satu koran nasional tersebut.
Duka yang teramat dalam bagi bangsa Indonesia. Akhir-akhir ini begitu banyak TKI (mayoritas adalah perempuan) yang pulang dalam kondisi mengenaskan, dari luka-luka hingga kehilangan nyawa. Beberapa waktu lalu, yang cukup menghebohkan adalah kondisi Ceriyati, yang mendapat siksaan dari majikannya di negara jiran Malaysia. TKI sendiri kebanyakan bekerja di Timur Tengah (terutama Arab Saudi), Malaysia, Singapura, Hongkong, dan Korea.
Miris rasanya, saudara sebangsa pergi jauh-jauh menjadi pekerja, di sektor domestik yang jelas-jelas minim jaminan perlindungan di negara-negara tempat bekerja, sering pulang ke tanah air mengalami kondisi telah teraniaya. Jauh-jauh menggapai mimpi di negeri orang, sebab di negeri sendiri untuk bermimpi tentang masa depan nyaris tidak memungkinkan lagi. Berasal dari desa-desa miskin yang tidak mendapat perhatian di tengah gegap gempita pembangunan kota-kota. Sungguh tidak adil kehidupan masyarakat yang ada di tanah air Indonesia.
Pada tulisan ini saya membidik sisi lain dari persoalan kondisi yang dihadapi oleh TKI yang tersiksa. Beberapa teman saya yang pekerja kemanusiaan, serta mereka yang mengunyah begitu saja pemberitaan media massa, sepertinya lupa akan masalah yang sejatinya perlu mendapat perhatian yang lebih, yakni ketidakmampuan Pemerintah Indonesia untuk melindungi Warganya. Jangankan di Negeri orang, di negeri sendiri, kalau tidak memiliki uang yang banyak atau bukan dari kalangan Pejabat maka jangan harap akan mendapat layanan perlindungan yang memuaskan dari semua lembaga pemerintah. Inilah yang saya lihat pada persoalan TKI. Bukan berarti kelalaian Pemerintah Negara tempat bekerja TKI yang juga tidak memberikan perlindungan yang cukup harus diabaikan dari perhatian.
Kecenderungan untuk terus menyalahkan negara tempat bekerja, baik Pemerintah di sana, maupun majikan yang mempekerjakan orang Indonesia, justru membuat Pemerintah merasa lepas dari tanggung jawabnya pada warga negara. Kecenderungan media memfokuskan pemberitaan pada pelaku kekerasan, yakni majikan, serta Pemerintah negara dimana TKI bekerja, jangan-jangan merupakan suatu hal yang disengaja. Jangan-jangan merupakan satu strategi yang dijalankan Pemerintah Indonesia, dan juga media massa yang dipesan oleh Pemerintah, untuk mengarahkan opini masyarakat. Tujuannya, sekali lagi, untuk melepaskan tuntutan pertanggungjawaban Pemerintah Indonesia karena abai pada keselamatan warganya di negeri orang.
Tulisan menarik dengan judul "Politik Maaf" ditulis oleh budayawan Radhar Panca Dahana di Koran Tempo, Jumat, 7 September 2007. Dahana menulis bagaimana reaksi Pemerintah Indonesia yang tidak mau meminta Pemerintah Malaysia untuk meminta maaf atas insiden penganiayaan terhadap Donald Pieter Luther Colopita, ketua delegasi wasit Karate dari delegasi Indonesia (Koran Tempo, 29 Agustus 2007). Di media, tak kurang dari Anggota DPR, Menteri Pemuda dan Olahraga, bahkan tokoh-tokoh nasional meminta Pemerintah Malaysia meminta maaf kepada indonesia. Pemerintah Indonesia yang diwakili oleh Presiden Yudhoyono hanya mengatakan:Saya tidak bisa memaksa Pemerintah atau polisi Malaysia untuk minta maaf dalam hal seperti ini. Tapi waktu terjadi bencana asap tahun lalu, dengan jiwa besar saat itu saya minta maaf.
sungguh pernyataan Pemerintah negara besar yang berjiwa kerdil. Dilecehkan oleh negara tetangga kok rela.
Perhatian yang cukup besar yang diberikan oleh Pemerintah Indonesia (setelah mendapat tekanan dari masyarakat) pada masalah penganiayaan Colopita menyebabkan aktivis pembela HAM dan organisasi Perempuan yang lama menangani isu buruh migran (TKI), Solidaritas Perempuan, melayangkan surat terbuka untuk Pemerintah. Solidaritas Perempuan yang memiliki banyak jaringan yang tersebar di seluruh Indonesia menyayangkan perhatian yang tidak imbang dari Pemerintah antara penganiayaan Colopita dan kasus-kasus penganiayaan TKI yang selama ini terjadi. Apakah karena Colopita bukan seorang perempuan dan bukan TKI yang bekerja di sektor domestik seperti kebanyakan TKI Indonesia?
Saya sepakat dengan protes Solidaritas Perempuan yang membidik masalah dari sisi kemanusiaan. Toh Colopita dan TKI seperti Ceriyati atau Susmiyati dan Siti Tarwiyah adalah manusia yang kemanusiaan mereka telah diinjak-injak. Hanya saja bedanya, karena jenis kelamin dan status pekerjaan. Status pekerjaan TKI yang kebanyakan perempuan adalah Pekerja Rumah Tangga (PRT) yang bahkan di dalam negeri sendiri masih dinilai rendah oleh masyarakat. Lalu, di negara-negara tempat bekerja macam Arab Saudi, kebanyakan TKI laki-laki ditakuti oleh majikannya sendiri. Bisa jadi karena TKI laki-laki dinilai lebih kuat secara fisik sehingga bisa melawan ketika mendapat penganiayaan. Dan karena dinilai lemah dan tidak akan melawan itulah, maka permintaan akan TKI lebih banyak perempuan daripada laki-laki, selain tentu saja, pekerjaan domestik yang distereotipkan sebagai semata pekerjaan perempuan.
Pemberitaan yang begitu menekankan pada subjek Pemerintah dan majikan di negara tempat bekerja juga telah menyebabkan sesat pikir yang melahirkan rasialisme pikiran dan sikap rasis di masyarakat Indonesia. Sungguh sayang, sikap rasis yang bertentangan dengan kemanusiaan dan HAM itu justru tumbuh dan berkembang. Mulanya karena pulau Sipadan dan Ligitan yang resmi disahkan sebagai milik Malaysia oleh hukum internasional. Padahal sesungguhnya ketidakbecusan Pemerintah Indonesia dalam mengurusi wilayah kedaulatan tanah air, serta kelemahan negosiasi pemerintah yang merupakan faktor dominan yang menyebabkan kedua pulau itu lepas menjadi milik negara tetangga. Lalu berlanjut ke masalah penganiayaan majikan Ceriyati, yang warga negara Malaysia. Ceriyati adalah korban kesekian penyiksaan oleh majikan-majikan TKI yang ada di Malaysia. Lalu lahir rasa benci pada bangsa Malaysia. Ada romantisme semangat Dwikora masa Soekarno tahun 60-an, dimana saat itu ada usaha untuk mengganyang Malaysia. Sekali lagi, sungguh jauh dari inti persoalan sesungguhnya: ketidakberesan Pemerintah dalam menjalankan tugas dan fungsi melindungi warga dan wilayah negara.
Rasisme yang tumbuh di masyarakat belakangan ini tidak akan pernah menyebabkan harga diri bangsa menjadi terangkat di mata dunia. Bangsa yang rasis tidak akan pernah menjadi besar dan disegani karena memendam kebencian pada bangsa lain.
Bulan lalu, di sebuah hotel bintang lima di pusat perkantoran Jakarta, saya mengikuti sebuah workshop. Di sana, salah seorang peserta yang pejuang HAM Perempuan melontarkan pernyataan yang luar mengagetkan. "Ternyata di hotel ini aku menemui banyak orang dengan wajah Arab yang menginap. Aku pikir cuma di hotel ***** saja." Teman saya ini mengatakan, merasa jijik melihat wajah-wajah Arab. Yang terbayang di kepalanya, orang-orang Arab yang banyak melakukan kawin kontrak seperti terjadi di daerah Puncak. Mereka hanya memperbudak perempuan Indonesia untuk memenuhi nafsu birahinya.
Sungguh saya terkejut mendengar pernyataan rasis teman saya itu. Lalu pertanyaan saya ajukan, ketika melihat orang Arab kamu berpikir demikian. Lalu ketika melihat wajah-wajah orang Barat (bule) lalu kita merasa mereka adalah bangsa yang begitu mulia, begitu beradab. Tapi siapakah orang-orang yang gemar melakukan sodomi pada anak-anak di Bali, yang melampiaskan birahinya pada perempuan-perempuan Indonesia dan menyebarluaskan penyakit HIV/AIDS di tanah air? Tidak pernah kita berpikir negatif pada mereka yang berkulit terang dan berambut pirang. Sungguh tidak adil pikiran kita. Bahkan ini ada pada pikiran para aktivis dan pekerja HAM. Ketika ada wajah Arab, bahasa Arab, atau tulisan Arab, maka semuanya adalah pelanggaran HAM, harus dihapuskan. Namun, cuap-cuap berbahasa Inggris sembari melupakan kosakata bahasa Indonesia, membaca pemikiran ilmuan Barat, didikte oleh pemerintah Barat tentang cara hidup kita, serta kekayaan alam yang dikuras habis oleh bangsa Barat justru dianggap sebagai rahmat dan nikmat yang harus disyukuri. What a stupid thought.
Cara berpikir menganggap Barat serba terbaik sembari merendahkan bangsa lain bahkan bangsa sendiri tidak lebih dari penyakit inferiority complex yang sudah akut pada diri bangsa ini. Dan ini lebih mewujud di kalangan aktivis-aktivis HAM belakangan ini. Sungguh menyedihkan, kepicikan berpikir itu hadir dalam diri mereka yang mengenyam pendidikan tinggi, dan dengan semangat berkobar-kobar mengusung Demokratisasi dan HAM di tanah air. Lupa bahwa karena ulah mereka pula banyak kearifan lokal yang hilang karena proyek demokratisasi dan HAM itu. Seorang teman dari Makassar bercerita pada saya, sejak Ornop (jangan baca: LSM) membuat program yang melibatkan masyarakat lokal, dan memberikan 'amplop' pada warga setempat karena keterlibatan dalam program 'pemberdayaan' itu, masyarakat setempat menjadi malas untuk memajukan daerahnya kalau tidak ada 'amplopnya'.
Saya selalu berusaha mengenang jasa-jasa pahlawan devisa seperti Susmiyati dan Siti Tarwiyah yang jeazahnya tiba kemarin di tanah air. Mereka ini, juga TKI-TKI lain yang tersebar di berbagai negara, membutuhkan perhatian dari Pemerintah. Sistem perlindungan yang memadai menjadi kebutuhan sejak lama. Namun sejak lama pula kebutuhan itu tidak dipenuhi oleh Pemerintah. Alih-alih memenuhi, justru politik mengalihkan isu melalui media menjadi upaya melestarikan 'budaya lupa' yang idap bangsanya. Padahal, sungguh hal demikian tidak akan pernah meninggikan harga diri bangsa selagi Pemerintah tidak mau menghargai bangsanya sendiri.
Setiap tahun lebih dari 300 ribu orang TKI yang berangkat ke luar negeri untuk bekerja. Tidak kurang dari tujuh puluh persennya adalah perempuan, yang sebagian besar bekerja di dalam rumah tangga. Nyaris tidak ada jaminan perlindungan bagi keselamatan mereka karena bekerja di wilayah domestik. Tapi begitulah cara mereka memperbaiki nasib. Di tanah Indonesia, yang dulu merupakan negara agraris, sekarang tidak lagi memberikan harapan pada warganya. Pemerintah membuat kebijakan yang tidak peduli pada sektor pertanian, juga pada masyarakat desa. Pejuang Demokrasi dan HAM juga tak tahu upaya jitu memperbaiki nasib negeri ini selain berceramah sana sini dan memuliakan bangsa-bangsa kampiun demokrasi. Padahal bangsa-bangsa yang memaksakan penerapan demokrasi itu pula yang berperan besar dalam proyek pemiskinan dan pengerukan kekayaan alam Indonesia. Dari pada miskin di negeri sendiri, lebih baik berjuang di negeri orang. Sungguh perjuangan berat saudara-saudaraku...
Candra,
Makasih untuk kiriman artikel hasil penelitian violence against woman (VOW) lintas agama. Menurutku, dari dulu, memang kita seharusnya melihat kekerasan terhadap perempuan (KTP) itu sebagai kasus yang bisa terjadi di lingkungan agama apa saja, di kelas sosial apapun, dan juga di batas wilayah mana saja yang ada di muka bumi ini.
Terus terang, aku tidak senang dengan kenyataan bukan di kalangan umat Islam tingkat KTP itu tertinggi melainkan di kalangan Hindu. Buatku, meski sedikit pun di kalangan agamaku, tetap hal itu harus dihilangkan.
Secara pribadi aku sangat menyayangkan masalah KTP dan pelanggaran HAM dan HAM Perempuan, selalu Islam yang dianggap sebagai sumber persoalan. Aneh lo, ketika ngomongin KTP (misal, Perkosaan) dengan semangatnya orang-orang menyebut Kyai, Ustadz, atau pesantren. Sementara Karen, seorang Kristen Amerika yang dulu konsultan Gugus Kerja Aceh (GKA) dengan santainya menyebut "Gereja, Romo, dan kesusteran" sebagai pelaku dan ranah KTP, sesuatu yang sangat ditakuti oleh aktivis HAM dan HAM Perempuan untuk menyebutnya. Dari sini, sementara ini, aku berkesimpulan bahwa aktivis HAM dan HAM Perempuan di tanah air bermental picik. Kalau mengikuti perkataan Pramoedya Ananta Toer: tidak adil sejak dalam pikiran.
Entahlah, mungkin ini hanya kegelisahanku saja melihat fenomena sekelilingku yang memperjuangkan HAM dan HAM Perempuan. Tak hanya di KP, tapi banyak di mitra-mitra kita. Aku sendiri kok tetap melihat musuh bersama semua golongan (kelas sosial dan agama apapun) itu adalah KAPITALISME. Sebab, kemiskinan adalah masalah paling besar yang melahirkan banyak masalah sosial termasuk KTP. Dan kemiskinan itu terjadi karena proses pemiskinan secara sistematis yang pelakunya adalah KAPITALIS dukungan Pemerintah Amerika itu.
Beberapa hari lalu aku baca berita mengenai Pengakuan penasihat Bush yang mengatakan bahwa penyerangan Irak murni masalah minyak. Pengakuan semacam mungkin adalah John Perkins dalam bukunya The Confession of The Economic Hit Man. Gila gak tuh? Bahkan tewasnya banyak perempuan dan anak-anak yang merupakan pelanggaran HAM di Irak dan Afganistan) tidak mendapatkan respon yang cukup dari aktivis HAM di Indonesia. Jangan bilang kalo itu karena Funding kita kebanyakan dari Amerika loh... Basi kalo alasannya itu. Menurutku, lebih karena mental aktivis di sini aja.
Hanya Curhat ya,
Herman
-----------
Herman,
Wah kok aku setuju banget dengan pendapat dan pemikiranmu, soalnya aku juga memikirkan hal yang sama selama ini, itulah masalahnya kenapa aku begitu tertarik dengan masalah perda diskriminatif sebab aku yakin itu politisasi agama, bukan agamanya yang salah. Tetapi masalahnya temen2 dan banyak dari komisioner kita tuh udah phobia ama Islam apalagi Islam fundamentalis, tapi mereka gak lihat fundamentalis jadi begitu karena apa... ya gitu deh persis yang kamu bilang.
By the way artikel tersebut aku peroleh dari blognya suamiku (sahabatperempuan.wordpress.com) dia lagi coba ngumpulin segala hal yang terkait upaya perlindungan Hak Perempuan dalam kacamata yang lebih fair gitu...kalau Herman ada bahan boleh deh dikirim ke kita sebagai upaya campaign juga.
Salam
-----------
Study: domestic violence more common among Hindu families
By TwoCircles.net staff reporter
Bangalore: The incidence of domestic violence is higher for Hindu women than Muslim or Christian women, during pregnancy, according to a study published in the latest issue of Journal of Affective Disorders.
The study of 203 Bangalore women of different faiths was conducted by National Institute of Mental Health and Neuro Sciences. The study involved interviewing each woman to find out about violence against them when they were pregnant.
Physical, psychological and sexual coercion by force was identified as violence that is detrimental to the physical and mental health of pregnant women. Therefore a study into factors that lead to this violence can help in protecting women against domestic violence.
Various factors like age, education, income, religion, number of people in the household were considered in this study and except for religion, there were no significant differences in any of these sociodemographic variables among the abused and non-abused women. Study found that abuse was more common among Hindu families than Muslim or Christian families. 19% of Hindu women reported violence as opposed to 8% of other faith, a significant difference. No explanation was offered by the researchers which surprised them as well.
Alcohol use by husbands was also common in families where women were abused.
Memperhatikan papan iklan di pinggir jalan di Jakarta, saya jadi sedikit tertarik untuk menuliskan. Lupakan dulu masalah sampah visual yang sungguh sangat mengganggu psikologi massa yang matanya diserbu iklan di ruang-ruang publik itu. Entah benar, entah salah, saya tidak tahu. Iklan operator telepon seluler itu berbunyi sangat menarik. Salah satu iklan dari nomor "Jagung" mengatakan tarif telepon hanya Rp 1 perdetik. Atau, telepon ke 51 negara hanya Rp 16 perdetik. Lain lagi promosi nomor "Belimbing", tarif menelepon hanya Rp 10 perdetik selama 24 jam.
Inilah permainan bahasa. Kata teman saya yang seorang konsultan komunikasi, Hendri B Satrio, bahasa bisa memiliki efek luar biasa pada setiap orang. Tentu saja bahasa iklan harus betul-betul membuat orang mau memberikan perhatian padanya. Bayangkan kalau tarif telepon yang ditawarkan oleh si "Belimbing" di sebutkan "Rp 600 permenit", bukan "Rp 10 perdetik". Tentu orang yang membaca iklan itu akan menggerutu, "ah... mahal". Di sinilah letak permainan itu. Orang melihat atau membaca iklan tersebut dengan sekilas, makanya dibuat dengan kalimat-kalimat pendek namun mudah diingat. Iklan memanfaatkan psikologi masyarakat yang sekarang mulai instan, tidak mau berpikir lama. Pengiklan? Tentu saja ingin iklan mereka bisa mempengaruhi orang untuk mengikuti arahan mereka. Kalau iklannya komersial, jelas supaya orang mau membeli. Iklan layanan sosial, bisa jadi mengajak orang untuk ikut terlibat dalam satu aktifitas tertentu, semisal supaya orang tua mau membawa anaknya ke posyandu terdekat untuk mendapatkan imunisasi.
Dalam masyarakat konsumtif yang mulai massif, iklan adalah alat utama para pedagang. Dengan iklan, orang digiring untuk membutuhkan sesuatu yang sesungguhnya tidak menjadi kebutuhan. Bujuk rayu adalah rohnya iklan. Tapi tidak bagi pembeli yang rasional. Bagi saya, membeli sesuatu karena kebutuhan, bukan karena keinginan. Kalau sudah karena keinginan, lalu menjadi kebutuhan, sesungguhnya keinginan dan kebutuhan itu yang diciptakan oleh iklan. Dampak lebih lanjut bisa melahirkan persoalan sosial kalau sudah tidak terkendali, terutama pada masyarakat menengah ke bawah di negeri ini yang terus menerus kehilangan subsidi.
Kembali ke soal permainan bahasa. Adik saya yang 5 tahun lalu masih duduk di bangku SMU mengajak saya ngobrol tentang ini. Uang sejumlah 500 ribu rupiah itu terdengar biasa saja di telinga. Tapi kalau menyebutnya setengah juta rupiah akan terasa lain. Ini berlaku untuk 500 juta rupiah dengan setengah miliar rupiah. Ini tentang rasa. Iklan mengelolanya.
Satu kali, penjual makanan menjajakan dagangannya dengan menunggang "Kuda Jepang", dan membunyikan suara ajakan untuk membelinya. Dengan sasarannya anak-anak, suara itu keluar dari mikrofon kecil di atas motornya dengan khas suara anak-anak pula: "Cuma Gopek kok". Uang 500 rupiah dianggap terlalu kecil untuk membeli makanan itu.
Sekarang, mari menjadi pembeli yang rasional.
Tadi Pagi saya mencari informasi dan artikel tentang buku yang ditulis oleh John Perkins yang berjudul Confessions of an Economic Hit Man. Buku ini terbit pada tahun 2004 dan merupakan salah satu buku paling laris versi The New York Times. Tidak sengaja, saya menemukan tautan satu artikel yang membahas buku Perkins di The New York Times online. Setelah mengkliknya, ternyata mengharuskan untuk menjadi anggota.
Keanggotaan NYTimes.com bersifat gratis. Siapa saja boleh kalau mau. Menjadi anggota membuat kita bisa mengakses artikel-artikel di website ini secara instan. Menurut saya, website satu ini cukup layak untuk menjadi salah satu sumber berita, meski tentu saja, tidak bisa langsung diakses penuh seperti halnya The New Yorker yang menjadi rekomendasi Andreas Harsono pada blognya. Juga, ia bukanlah satu-satunya sumber informasi yang harus kita jadikan rujukan. Bagi saya pribadi, ini hanyalah faktor kebetulan, ketika saya mencari satu topik artikel dan menemukan media ini menyediakannya. Di samping itu, ada teman yang memasang tautan di blognya yang saya pikir tentulah ia begitu menarik sehingga layak untuk direkomendasikan bagi pembaca blognya.
Untuk mendaftar, masuklah ke alamat http://www.nytimes.com/gst/regi.html. Seperti halnya membuat akun imel, silahkan mengisi formulir yang tersedia di sana. Setelah formulir terisi dengan benar, maka Anda sudah bisa mengakses websitenya. Jangan lupa, gunakan selalu user ID dan Password yang Anda buat saat pendaftaran ketika hendak mengakses NYTimes.com ini.
Mengenai surat kabar atau jurnal online yang harus melalui proses pendaftaran anggota untuk bisa mengakses, jumlahnya tidak sedikit. Bahkan diantara mereka mengharuskan kita untuk membayar. Jadi, seperti kita membeli koran, majalah atau jurnal di toko buku, namun yang sedang kita hadapi ada dalam bentuk online. Kalau pun mau mencetaknya, kita harus mengunduh (download) atau mengkopi isinya dan memindahkan ke program pengolah kata kata semacam Openoffice.org.
Untuk di Indonesia, saya boleh berbagi informasi sedikit di sini. Kalau pernah membaca majalah Pantau yang terbit pada 1999 - 2002, tentu akan ingat dia sebagai satu majalah jurnalisme sastrawi pertama di Indonesia. Saya sangat menyukainya. Membaca majalah ini, yang isinya adalah berita panjang lebar namun dengan gaya penulisan khas seperti cerpen, saya menemukan satu majalah berita yang asyik untuk dibaca. Meski seperti cerpen, bukan berarti sumber berita atau realitas yang diberitakan menjadi rekaan. Kata Andreas Harsono, Jurnalisme Sastrawi ini bukan hanya permainan bahasa yang mendayu-dayu. Isinya tetap menggunakan standar penulisan jurnalisme. Majalah ini lalu tutup usia setelah kehabisan dana untuk menerbitkannya. Yayasan Pantau sendiri masih ada sampai sekarang. Anda dapat mengakses tulisan-tulisan yang pernah ada di majalah dan juga tulisan-tulisan baru dengan mengklik ini. Tentu saja, seperti The Newyork Times versi online, Anda harus mendaftar untuk mendapatkan sebuah akun. Gratis.
Peristiwa ini terjadi kemarin, sekitar pukul 5 sore. Saya keluar dari kantor, naik metromini 49 dari arah Manggarai menuju Kampus UI Salemba. Di perjalanan, di jalan Diponegoro, tepatnya di persimpangan depan bioskop Megaria, saya melihat seorang ibu menggendong bayinya sambil telapak tangan terbuka menadah berharap kepada para sopir mobil-mobil pribadi yang sibuk memperhatikan jalanan yang sedang tersendat karena kemacetan. Saya perhatikan secara mendalam dari dalam kendaraan umum yang melaju dengan lambat ini. Tenggorokan saya tecekat, mata saya tiba-tiba terasa panas. Pikiran saya lari kemana-mana. Perasaan saya kacau. Sungguh, saya merasakan sesuatu yang sangat dalam. Di gendongan seorang ibu itu, saya melihat bayi yang matanya masih sipit, kulitnya masih agak merah meskipun cenderung gelap (mungkin karena terpaan matahari), serta bayi itu tidak nampak bergerak-gerak, seolah tidak ada tanda-tanda kehidupan. Saya mengira-ngira, bayi mungil itu mungkin baru berusia 2 atau 3 bulan.
Saya lalu berpikir, saya akan menelepon Departemen Sosial, polisi atau layanan sosial masyarakat lainnya. Supaya perempuan dan bayinya itu ditangkap. Perempuan itu salah karena telah membahayakan bayinya di tempat penuh kepadatan lalu lintas dan juga membuat bayinya tidak bisa menolak untuk menghirup polusi kendaraan bermotor yang semakin berat. Lalu saya berpikir kembali: Tidak mungkin terjadi. Negeri ini bukanlah negara Finlandia atau negara-negara demokrasi sosial yang pernah berhasil menunjukkan betapa dahsyatnya tanggung jawab sosial pemerintah atas kondisi rakyatnya. Saya harus pasrah menerima kenyataan bahwa saya lahir, hidup dan tinggal di Indonesia.
Perempuan itu tidak bisa disalahkan. Ia melakukannya, belum tentu karena ia malas bekerja yang lain. Jangan-jangan karena memang tidak ada pilihan lain. Hidup adalah perjuangan. Namun selamanya tetap tidak bisa dipastikan apakah akan ada kejelasan ujung perjalanan. Yang jelas, hidup di Jakarta yang keras, ketidakjelasan itulah yang semakin lama semakin jelas. Kecuali, kalau kita tega untuk--seperti kata Thomas Hobbes--menjadi homo homini lupus. Manusia yang menjadi srigala bagi manusia lainnya.
Ketidakadilan di sini telah terstruktur dengan tegas yang menyebkan kesejahteraan bersama teramat sulit untuk diwujudkan. Warga negara berkompetisi mendapatkan fasilitas yang harus didapat dengan bersimbah air mata bahkan darah. Nyaris tidak terdapat pemerataan kesempatan bagi setiap orang untuk menuju kehidupan yang lebih layak. Yang berduit, apalagi ditambah dengan berpendidikan yang tinggi, akan menjadi modal yang cukup untuk menjaga kualitas hidup layak itu. Namun itu hanya dimiliki oleh segelintir orang dari 225 juta jiwa penduduk Indonesia. Selebihnya, hanya nasib baik yang menghampiri secara tiba-tiba membuat mereka mampu untuk berkompetisi di babak selanjutnya. Untuk menuju puncak, mungkin tidak sampai satu persen dari mereka yang mendapat kesempatan berkompetisi secara tidak terduga itu.
Saya merasa bersalah. Sangat mungkin saya telah memiliki andil melestarikan ketidakadilan ini. Saya membuat KTP sekitar lebih dari 2 tahun lalu. Saya datangi kantor kepala desa. Saya serahkan surat keterangan pindah domisili ke Bogor dari sebelumnya tercatat sebagai penduduk Kota Bengkulu. Saya ingin mengurus sendiri pembuatan KTP dan Kartu Keluarga itu sesuai dengan prosedur yang ada. Nyatanya saya harus menitipkan semua dokumen dan pengurusannya kepada petugas kantor kepala desa itu. Ia menyebutkan nominal uang yang harus saya bayar dan menjanjikan dalam beberapa hari semuanya selesai. Saya tidak berdaya sebab saya memang dipaksa untuk melakukannya. Kalau tidak mau, mereka ogah memedulikan saya. Saya memerlukan KTP dan Kartu keluarga sebab saat itu tinggal beberapa bulan menjelang kelahiran anak saya yang pertama. Kalau anak kami lahir, surat identitas orang tua dan kartu keluarga itu amat sangat dibutuhkan untuk mengurus akte kelahiran. Namun, cara pengurusan itu sangat keliru. Dengan membayar, berarti surat itu diurus dengan cepat. Kalaupun itu mengikuti antri, yang jelas pastilah menyerobot antrian dengan mengorbankan sekian orang yang sudah dengan susah payah mengantri namun tak mampu memberi lebih atau bahkan tidak mampu untuk membayar. Ada banyak orang menjadi korban tindakan saya.
Di jalanan, ketika lampu merah perempatan sedang menyala, pengendara tidak memedulikannya. Saat orang lain melakukannya, kita mengumpat, seolah diri suci tidak pernah melakukannya. Padahal, saat lampu merah di hadapan kita menyala, artinya lampu hijau pada sudut lain persimpangan itu menjadikan mereka di sana berhak memacu kendaraannya. Melanggar lampu merah adalah melanggar hak saudar-saudara kita yang juga membayar pajak untuk pembangunan jalan raya.
Saat membuat SIM, di kantor polisi sudah ada banyak calo dan bahkan polisi sendiri yang menghadang upaya kita untuk mengurus sendiri pembuatan SIM. Tapi mereka yang penegak hukum serta kurcacinya telah memaksa setiap orang untuk hanya menggunakan jasa mereka dalam mengurusnya. Akibatnya, mereka yang begitu jujur pada bangsanya dengan mengurus sendiri menjadi terhambat, dihambat, dibuat lambat pengurusannya. Bahkan saat mengikuti tes, dibuat gagal hasilnya sehingga mau tidak mau harus menggunakan kaki tangan "orang dalam" di kantor penegak kebenaran itu. Sampai sekarang saya tidak memiliki SIM meski memiliki satu sepeda motor keluaran lama. Tentu saja karena alasan yang kata orang "sok idealis".
Pernah satu ketika saya menghadapi operasi jalan raya oleh sekelompok polisi di Yogyakarta beberapa tahun lalu. Saya tidak bisa mengelak ketika diminta menunjukkan SIM. Saya katakan saya tidak punya, dan saya adalah seorang pengendara yang taat rambu-rambu dan peraturan lalu linta. Mana ada polisi yang mau menerima alasan saya. Yang mereka inginkan adalah saya bisa menunjukkan SIM dan STNK kendaraan yang saya pakai. Saya tanya pada polisi yang memeriksa saya, saya telah melanggar Undang Undan nomor berapa, pasal berapa serta apa sanksinya. Si polisi terdiam. Lalu ia meminta saya menanyakan pada temannya. Temannya tidak bisa menjawab. Lalu temannya ini mengajak saya menghadap komandannya. Ia laporkan pertanyaan saya. Si komandan terdiam sejenak, lalu menggiring saya ke ruangannya. Si komandan (saya lupa namanya), menatap saya dari kursinya, lalu membuka beberapa buku dan menunjukkan pasal-pasal yang saya langgar karena tidak memiliki SIM. "Apakah ada pertanyaan lagi?" katanya dengan tatapan penuh. Saya jawab "tidak". Lalu saya diserahkan kepada anak buahnya untuk diproses. Saya tidak mau bayar polisi. Saya minta slip pembayaran ke BRI, menyetor uang denda ke kas Negara, bukan ke kantong polisi-polisi itu.
Terlalu banyak jalur-jalur, prosedur-prosedur, hukum dan aturan yang harusnya memudahkan pemenuhan keadilan, namun nyatanya dilanggar. Belum lagi aturan, kebijakan, hukum, prosedur yang nyata-nyata jauh dari upaya mewujudkan keadilan, apalagi kesejahteraaan. Dua minggu terakhir, banyak pemberitaan di koran yang memuat keresahan masyarakat yang kehilangan minyak tanah karena kebijakan pemerintah yang memaksa warga menggunakan kompor gas dan meninggalkan minyak tanah. Pemerintah akan mencabut subsidi minyak tanah, meminta masyarakat menggunakan gas yang katanya disubsidi. Nalar saya mengatakan, kelak setelah orang sudah terbiasa menggunakan gas, subsidi gas itu pun akan dihapus. Lengkap sudah penderitaan kelas bawah (mungkin termasuk saya). Pemerintah telah mengabaikan nasib industri kecil yang membutuhkan minyak tanah sebagai bahan bakar. Sebut saja pembuat tempe, makanan kecil, atau pabrik kerupuk. Padahal, industri kecil semacam inilah yang justru ikut menyelamatkan perekonomian bangsa saat mengalami krisis. Kelak dengan semakin banyaknya biaya produksi industri ini, akan naik pulalah harga-harga barang kebutuhan. Sementara, pendapatan orang-orang kecil tidak ikut naik, lalu semakin jelaslah Pemerintahan yang tidak peduli pada rakyatnya ini.
Kembali ke ibu yang membawa bayinya. Sungguh saya pun bersalah. Saya tidak membawanya pulang, memberikan perawatan pada bayinya, lalu membantu penghidupan pula pada ibunya, ayahnya, saudara-saudaranya, saudara-saudara ayahnya, saudara-saudara ibunya, lalu entah siapa. Sedih, sebab masalah yang ada saling berkaitan, karena memang persoalan yang ada adalah persoalan yang sesungguhnya memang sistematis. Ini adalah pemiskinan. Yang menciptakan adalah kekuatan global yang ingin menguasai dunia, dan mengeruk keuntungan yang berlipat ganda dari usaha mereka menjajah dan merampas sumber-sumber ekonomi negara-negara dunia ketiga. Indonesia adalah salah satu negera yang menjadi korbannya. Pemerintahnya adalah wayang golek atau wayang kulit atau boneka. Dalangnya, adalah pemerintah Amerika atau IMF atau Bank Dunia. Dan si pembuat alur skenario sekaligus penguasa dunia baru adalah neolib-neolib itu. Kapitalis.
Saya sungguh bersedih. Ketidakberdayaan. Kesendirian. Kesepian. Ah... banyak orang yang berpikir seperti ini. Banyak yang berjuang untuk mewujudkan keadilan. Karena kemuliaan dan kerendahhatian, mereka menjadi tidak terlihat keberadaannya. Saya yakin, masih ada kekuatan untuk mewujudkannya. Keadilan itu pasti ada.
Zaman internet seperti sekarang, hampir semua pengguna internet tahu fasilitas ngobrol (chatting) online. Komunikasi dua arah. Sebut saja Yahoo Messenger, AIM, atau Skype yang umum dipakai oleh orang-orang di sekeliling saya. Fasilitas ini saya manfaatkan juga untuk belajar jarak jauh. Salah satu sumber belajar saya adalah mas Ferry. Mas Ferry ini adalah teman lama waktu kuliah dulu. Kami sama-sama menimba ilmu di Bulaksumur, menekuni kajian sosial-politik, namun belakangan terjebak mendalami teknologi komunikasi dan informasi (ICT). Mas Ferry adalah senior saya, baik di kampus maupun di organisasi. Bahkan dalam hal ICT, dia sudah jauh meninggalkan saya. Karena itulah, meski dia di Yogya, tetap saja ia adalah teman belajar yang banyak membantu. Yahoo Messenger adalah saluran komunikasi kami.
Beberapa hal yang masih harus saya dalami, saya tanyakan pada mas Ferry. Berikut adalah perbincangan kami hari ini:
(11:23:14) ferrybm: avaxhome.org
(11:23:19) Herman: ASsalaamkm
(11:23:22) ferrybm: http://avaxhome.org
(11:23:26) ferrybm: waalaikum salam
(11:23:41) Herman: kamu menulis ini?
(11:23:45) Herman: : http://avaxhome.org
(11:23:50) ferrybm: iyo
(11:23:54) Herman: ataukah virus yang menginterupsi
(11:24:01) ferrybm: banyak warez bagus
(11:24:03) ferrybm: bukan
(11:24:06) ferrybm: bukan virus
(11:24:09) ferrybm: klik aja
(11:24:11) ferrybm: aman kok
(11:24:59) Herman: kamu dah dipanggil k****s belum? AKu ga tahu proses rekruitmennya. Posisi2 lowong belum terisi juga.
(11:25:09) ferrybm: belum je
(11:25:32) ferrybm: mungkin masih mikir kali
(11:26:01) Herman: ya... berpikir positif aja. kita kan cuma berusaha.
(11:26:10) ferrybm: iya lah
(11:26:10) Herman: aku sih berharap kamu keterima, biar ada teman
(11:26:23) ferrybm: siip lah
(11:26:52) Herman: kabar LaBDa? Ngerjain apa lagi?
(11:27:10) ferrybm: inilagibikin faxsheet sama CD interaktif lagi
(11:27:27) ferrybm: sekarang kayaknya bakal lebihsimpel karena aku pake CMSimple
(11:27:33) ferrybm: cepet banget nggarap situs
(11:27:44) ferrybm: situsku itukukerjakan hanya dalam tempo 2 hari
(11:29:14) Herman: busyet...
(11:29:18) Herman: CMS nya apa?
(11:29:25) ferrybm: cmsimple
(11:29:35) Herman: free?
(11:29:49) ferrybm: lihat aja di www.pintusorga
(11:29:53) ferrybm: sik
(11:29:58) ferrybm: www.pintusorga.co.nr
(11:30:07) ferrybm: cmsimple itu free
(11:30:47) ferrybm: ngajari orang bodo aja pengalamanku cuma 2 jam
(11:31:17) Herman: :)) ga termasuk aku kan?
(11:31:30) ferrybm: kamuitu menurutku paling 3o menit udah bisa
(11:31:35) ferrybm: serius lho
(11:31:47) ferrybm: simpel banget
(11:31:56) ferrybm: apalagi kamuudah tau CSS sama php dikit
(11:32:11) ferrybm: yang bodo itu bukak internet aja gak patio dong
(11:32:29) Herman: :)
(11:35:40) Herman: itu title di feriawan. tdk kepanjangan? Mbok yang simpel. Kalau mau panjang lebar di taruh di meta tag bukan?
(11:35:48) Herman: sorry masih belajar nih?
(11:35:51) ferrybm: itu mau kuhapus
(11:36:06) ferrybm: soale gak menarik juga
(11:36:07) ferrybm: lama
(11:36:21) Herman: maksudnya domain itu mau dihapus?
(11:36:29) ferrybm: ho-oh
(11:41:21) Herman: headernya hanya kelihatan separoh
(11:41:58) ferrybm: masa sih?
(11:42:08) ferrybm: resolusi komputermu piro?
(11:42:53) Herman: 1024*768
(11:43:34) ferrybm: pantes
(11:43:49) ferrybm: kelemahane di resolusi segitu
(11:43:54) Herman: kenapa?
(11:45:45) ferrybm: eh..coba deh kamu fres
(11:45:57) ferrybm: di komputerku resolusinya juga segitu tapi oke
(11:46:10) ferrybm: separonya ke bawah atau ke samping?
(11:46:51) Herman: tetap separoh ke bawah ga terlihat. Dah kurefresh tetap aja. Aku pake firefox loh...
(11:47:34) ferrybm: oke, info bagus
(11:47:42) ferrybm: soalnya di komputer lain gak masalah
(11:48:22) Herman: fa tahu juga apakah bisa begini juga kalao pake safari. Coba aja melihat di berbagai browser. Kata temanku itu utk melihat hasil tampilan.
(11:49:02) ferrybm: aku juga pake firefox, opera dan safari (buatan apple itu)
(11:49:05) ferrybm: gak masalah je
(11:49:54) Herman: aneh kalo begitu. coba di kompi l ain. benar2 terpotong kok. Atau kau buat separoh begitu kotak bunganya?
(11:50:06) ferrybm: nggak !
(11:50:09) ferrybm: full
(11:50:55) Herman: nah itu masalahnya. ga muncul full
(11:51:13) ferrybm: aneh
(11:51:23) ferrybm: oke, thx anyway
(11:51:52) ferrybm: coba bagian gambar kamu klik kanan> view image
(11:52:40) Herman: tetap separoh
(11:53:16) ferrybm: wah
(11:53:23) ferrybm: memang gak jogo sama komputermu kali
(11:53:36) ferrybm: aseli, aku dah dapat email ttg situsku gak ada masalah
(11:53:42) Herman: mudah2an cuma sama komputerku mas
(11:53:57) ferrybm: iya ya
(11:54:08) ferrybm: ya itu tadi, gak jodo
(11:54:23) ferrybm: nggak tau mana yang eror, nanti kucoba detect lagi
(11:54:25) Herman: o:-)
(11:54:52) Herman: eh mas. mau tanya flash nih. sama sekali aku belum bisa dan belum sempat belajar.
(11:55:22) ferrybm: yoo
(11:55:51) Herman: itu hadist dan kutipan Quran kalo di beberapa web kan bisa dibuat bergerak ke atas. jadi kayakan kalo di TV ada berita yang bergerak di bawah layar. gimana bikinnya?
(11:56:16) ferrybm: itu nggak pakai flash
(11:56:19) ferrybm: tapi pakai script
(11:57:25) ferrybm: biasanya ada penyedia layanan gratis tampilan itu, tapi biasanya juga, yang support cuma dengan tag yanga ada di frontpage
(11:57:25) Herman: maskudnya?
(11:57:55) Herman: aku punya flash effect maker. bisakah pake itu?
(11:58:15) Herman: atau punya referensi utk donlot scriptnya?
(11:58:40) ferrybm: bisa aja sih, tapi kelemahannya kan input datanya terbatas
(11:58:50) ferrybm: itu kalo pakai flash effect maker
(11:59:34) ferrybm: sementara kalo nge-link ke penyedia layanan hadist, kan bisa secara random dan relatif nggak terbatas
(11:59:42) ferrybm: kalo referensi...
(12:00:46) Herman: minta linknya boleh? atau keyword?
(12:01:03) ferrybm: coba running text script
(12:04:35) ferrybm: kalo gak salah namanya marquee
(12:04:38) ferrybm: itu efeknya'
(12:04:58) Herman: baiklah. sedang proses
(12:06:05) Herman: nanya lagi. coba buka http://edittag.blogspot.com/ disebelah kanannya ada tag utk banner. kalo mau pasang tinggal ambil kodenya kan. Kalo aku mau bikin begituan, ada ruang naruh tag banner seperti itu, gimana caranya atau apa namanya?
(12:07:21) Herman: aku shalat dulu. nanti kita sambung ya...
(12:07:30) ferrybm: oke
(12:07:33) ferrybm: sama-sama
(12:34:33) ferrybm has gone away.
(12:34:33) ferrybm has become idle.
(12:45:50) ferrybm is no longer away.
(12:45:50) ferrybm is no longer idle.
(14:21:29) Herman: ini salah satu cara cari uang kreatif mas. Mas tidak kalah dalam hal ini. menarik ya. lihatlah http://katalogdigital.blogspot.com/
(14:21:46) ferrybm: hmm
(14:21:53) Herman: mereka mengiklankan diri di milis yang kau kasih tahu itu. ebook-maniak. dan milis lainnya.
(14:23:19) ferrybm: oh iya ya
(14:23:45) Herman: kembali ke laptop.
(14:24:08) Herman: ke pertanyaanku sebelumnya ttg banner edittag
(14:24:16) Herman: http://edittag.blogspot.com/
(14:24:19) ferrybm: ho oh
(14:24:55) Herman: masang linknya aku tahu. tapi bagaimana bisa menaruh kodenya dalam sebuah ruang yang ada scrool bar begitu di dalam sebuah blog/website
(14:25:40) ferrybm: syaratnya, blogmu support untuk dikasih kode tag atau tidak?
(14:25:46) ferrybm: wordpress kayaknya support
(14:26:50) ferrybm: jadi, tag itu sebenarnya hanyalah kode html yang nantinya bisa disisipkan ke source html situs/blogmu
(14:27:08) Herman: loh? edittag kan di blogspot. sama denganku
(14:27:31) ferrybm: lha iya
(14:27:50) Herman: nah, gimana caranya mas.
(14:28:04) ferrybm: eh sik.kamu paham gak
(14:28:06) ferrybm: ********
(14:28:12) ferrybm: itu kan isinya?
(14:28:27) ferrybm: mari kita terjemahkanke dalam bahasa manusia::
(14:28:53) Herman: he he he . kamu ambil dari page source-nya ya?
(14:29:13) ferrybm: ahref = tujuan (ketika di-kik logo/lambang ybs)
(14:29:27) Herman: cobalah beri penjelasan padaku ini. lagi nyambi kerjaan malah ga konsen aku
(14:29:42) Herman: betul. ia akan nyambung. aku faham
(14:29:45) ferrybm: target="blank" artinya: bukak internet/mozzila halaman baru
(14:30:05) Herman: tapi bagimana bikin kotaknya itu lo mas. biar tag yang ingin kubagi ke orang lain muncul kayak gitu
(14:30:15) ferrybm: img border=0 artinya: gambarnya nggak usah pakai border
(14:30:33) Herman: sip. terus...
(14:30:35) ferrybm: kotak yang mana sih?
(14:31:00) Herman: itu loh. kotaknya itu. ada scrool bar segala, tempat dimana tag ditaruh.
(14:31:35) ferrybm: ooh, lha itu kan gampang. kamu bisa buka fitur itu di macromedia dreamweaver
(14:31:46) ferrybm: atau kamu curi sourcode-nya
(14:34:36) Herman: eh benar lu mas. he he he. lagi mentok nih. berpikirnya ga berkembang.
(14:35:24) ferrybm: lha iya. coba blog itu disave
(14:35:31) ferrybm: lalu kamu buka pakai dreamweaver
(14:35:46) ferrybm: kemudian arsir bagian kotak itu dan liat di bagian tag htmlnya
(14:35:49) ferrybm: selesai
(14:35:51) ferrybm: tinggal ngerubah isinya
(14:35:57) Herman: betul sekali.
(14:35:59) ferrybm: diisi alamat blogmu
(14:37:38) ferrybm: coba, akukirim kan source-nya sama kamu
(14:37:53) ferrybm: wah, ternyata opsi send file tempatmu kok mati
(14:38:01) ferrybm: ?
(14:38:09) Herman: aku pake gaim mas.
(14:38:18) ferrybm: wooo
(14:38:25) Herman: kalau kamu pake skype, bisa kirim ke Hermankoe
(14:38:28) ferrybm: nah iki aku berhasil curi source-nya
(14:38:42) Herman: atau imelku heningjakarta@gmail.com
(14:38:50) ferrybm: oke
(14:39:23) Herman: aku juga suka curi2 source kalo belajar he he he... kamu lebih rajin ya.
(14:39:50) ferrybm: :-))
(14:41:28) ferrybm: lha terus kayak kita ini mau apa? kursus? susah karena mbayar
(14:42:51) Herman: temanku mbayar 4 juta. ujung-ujungnya aku pinjam materi yang ia punya. ternyata sama dengan yang di http://www.w3schools.com/
(14:43:34) Herman: ketiadaan dukungan ekonomi bisa digantikan dengan keberadaan fasilitas belajar mandiri ya
(14:44:04) Herman: itulah yang kusukai dari kantorku ini. mau internet 24 jam juga bisa.
(14:44:16) ferrybm: sama
(14:44:43) ferrybm: lucu kalo di jaman internet ini kita menggantungkan sekolah/kursus konvensional
(14:45:10) Herman: betul. kursus juga kalau jarang dipake ga berguna.
(14:45:29) ferrybm: ya tapi menang sertifikat :-P
(14:45:53) Herman: hanya saja bagiku, mungkin org2 di Jkt, waktu itu yang jadi kendala. kalo kursus terpaksa datang karena mbayar mahal
(14:46:05) Herman: dan sertifikat bisa punya nilai jual lebih ya
(14:46:19) ferrybm: itulah
(14:46:42) ferrybm: padahal aku bisa bikin kursus dan sertifikat
(14:46:56) Herman: :))
(14:47:09) Herman: itu kayak yg punya Primagama ya
(14:47:14) ferrybm: suruh aja orangnya bukak situs e-learning dan ngedonlot template sertifikat
(14:47:22) ferrybm: :-)
(14:47:41) ferrybm: ya memang jaman itu aneh
(14:47:58) ferrybm: atau aku yang dibilang aneh oleh jaman
(14:48:05) ferrybm: ?
(14:48:28) Herman: kita mau dikendalikan zaman atau kita yang kokoh melawan kehendak zaman?
(14:49:09) ferrybm: embuh, aku dewe ya rada bingung..kemarin aku disuruh ngetik oleh guru di SD kampungku..
(14:49:15) ferrybm: masalah dana BOSS
(14:49:15) ferrybm: BOS
(14:49:37) ferrybm: ngetik form untuk kemudian dikasihkan ke Pusat untuk nurunin dana
(14:49:58) ferrybm: padahal kalau saja dari pusat ngasih disket form, beres dan murah
(14:50:08) ferrybm: rentalnya aja udah habis Rp 25 ribu
(14:50:18) ferrybm: nah belum lain-lain,
(14:50:33) ferrybm: ujung-ujungnya motong yang sampai ke murid miskin
(14:50:34) Herman: oalahhh... memang begitulah cara Pemerintah ngurusin rakyatnya. Rumit...
(14:50:37) ferrybm: aneh....
(14:53:16) Herman: Enak di kampung mas. Udara segar... pikiran tenang. ga banyak keinginan. Aku sekarang aja udah banyak keinginan: nyekolahin anak, beli rumah, punya usaha ekonomi sendiri, pokoknya Jkt banget deh.
(14:53:54) Herman: Alhamdulillah ga ngoyo kalo kata orang Jawa. Apa yang ada disyukuri. yang ga dapat ga sah terlalu dipikiri
(14:54:30) Herman: Mudah2an 5 tahun lagi dah hidup di daerah. Istri sih minta ke Magelang. gimana di Magelang menurutmu?
(14:54:42) ferrybm: wah , bagus
(14:54:56) ferrybm: dekat jogja
(14:55:06) Herman: dan dekat Semarang juga ya
(14:55:17) ferrybm: betul
(14:55:39) Herman: kalo mau usaha di kota, istirahatnya di kaki gunung apa itu aku kok lupa
(14:56:05) ferrybm: Tidar
(14:56:55) Herman: Yup. Gunung Tidar. Masih ada bau sawah dan kicau burung bernyanyi. Trilili lili lili lili...
(14:57:41) ferrybm: :-@
(14:58:57) Herman: dah kirim file sourcenya belum?
(14:59:40) ferrybm: udah
(14:59:46) ferrybm: dari tadi
(14:59:56) Herman: terima kasih ya.
(15:00:33) Herman: kamu tahu gak, temanku bikin CD interaktif belajar photoshop. ia iklankan di PC Plus dan beberapa media lokal.
(15:01:07) Herman: Sekarang, ada anak dari Palembang dikirim bosnya utk belajar di rumah temanku ini. Bayang pun ke Cibubur utk belajar. Temanku ya terima aja di rumahnya.
(15:01:50) Herman: Pernah ada yang telepon dari Papua, mau belajar. Akhirnya beli CD interaktif itu. Bukan main ya orang2 itu kalau mau belajar.
(15:02:20) ferrybm: waaaahhh
(15:02:40) Herman: Tapi kan ga hanya bekerja keras, tapi juga bekerja cerdas. Begitupun belajar. nah kayaknya dirimu ni termasuk kategori terakhir, belajar cerdas.