Niken dan PRT-nya

Menerima PRT mulanya dari tetanggannya yang mencari pekerjaan dengan mendatangi bapaknya di Purworejo. Akhirnya PRT ini dibawa ke tempat tinggalnya di Batam sejak tahun 2007. Lalu kemudian berlanjut ketika ia dan keluarganya pindah ke Jakarta dan terakhir di Yogyakarta setahun terakhir.

Pekerjaan yang diberikan kepada PRT berupa bersih-bersih rumah, mencuci, dan memasak dan mengantarkan anak ke sekolah. Saat pertama kali di tahun 2007 ia menggaji PRT sejumlah 600 ribu rupiah. Lalu dinaikan hingga menjadi 800 ribu rupiah. Sebenarnya tidak ada pekerjaan yang diwajibkan untuk diselesaikan oleh PRT. Niken juga biasanya menyapu halaman serta membersihkan rumah. Jadi ia memberikan pekerjaan kerumahtanggaan secara fleksibel kepada PRTnya. Suasana kekeluargaan terus dijaga oleh Niken selaku orang tua tunggal dalam keluarga.

Sejak berpisah dengan suaminya kira-kira 6 bulan lalu, Niken bernegosiasi dengan PRT mengenai gaji. Niken menurunkan gaji PRTnya kerena ia merasa tidak mampu untuk membayar sebesar 800rb seperti sebelumnya. Ia menyanggupi 600 rb setiap bulannya. Lalu sejak 4 bulan lalu akhirnya ia kembali bernegosiasi tentang gaji PRTnya ini, sebab ia hanya mampu membayar 400 rb. Untuk ekonomi keluarga, sejak bercerai dengan suaminya Niken menghidupi 2 orang anaknya dari berjualan buku serta menulis cerpen dan novel serta tulisan-tulisan non fiksi yang ia cetak dan distribusikan sendiri maupun bekerjasama dengan pihak ketiga. Meski kesepekatan dengan PRT ia akan menggaji hanya 400rb, namun Niken biasanya membayarkan 500rb.

Semua kebutuhan PRT dipenenuhi oleh Niken. Tak ada perbedaan makan antara keluarga Niken dan PRTnya. Rumah kontrakan yang mereka tempati memiliki 3 kamar tidur. PRTnya sekamar dengan anak-anak Niken. Meski ada kamar sendiri, PRT biasa tidur dengan anak-anak karena akrabnya mereka. Pekerjaan rumah tangga seperti menyapu dan bersih-bersih rumah, Niken ikut melakukan, sehingga sebenarnya PRT lebih ringan pekerjaannya.

PRT Niken biasanya mengantar dan menjemput anak-anak ke sekolah sekitar 7km dari kediaman mereka. Ada sepeda motor yang biasa digunakan oleh PRTnya.

Satu hal yang pernah mengganggu Niken, PRTnya pernah dianggap membahayakan keselamatan mereka. Satu saat, ketika memboncengkan Niken dengan sepeda motor, di traffic light PRTnya asyik mengirimkan SMS. Ini mengganggu Niken. Karena sering terjadi, akhirnya Niken menegur. Bagi Niken, hal semacam itu lebih baik dikomunikasikan. Ia akan menegur PRT kalau ada hal yang dinilainya tidak baik. Mengenai SMS, di rumah tinggal pun PRT sering SMSan dan berpacaran menggunakan HP. Tapi Niken membiarkan saja karena masih dianggap wajar. Masih bisa ditoleransi. Lagi pula ia memaklumi masa lalu PRTnya pernah ditinggal oleh suaminya, dan sekarang bertemu lagi dengan teman masa kecil melalui facebok. Niken sendiri yang mengenalkan facebook (dan internet) kepada PRTnya ini.

Niken seorang penjual buku serta penulis cerpen dan masuk dalam komunitas sastrawan muda yang lahir dari kalangan mahasiswa tahun 2000 awal. Ia memiliki perpustakaan untuk keluarganya. Ia pun ingin perpustakaan tersebut menjadi sumber ilmu buat PRTnya, tak hanya bagi diri dan anak-anaknya.

Yogyakarta, 20 Oktober 2010

Read More......

Anda pernah naik pesawar Lion Air? "Pesawat ini memang suka Lie on air," kata teman lama masa kuliah dulu menanggapi sebuah foto kericuhan yang terjadi pada 2 Juni 2011 malam di terminal 1B bandara Soekarno Hatta. Foto itu saya ambil saat orang-orang ramai berkerumun mengelilingi petugas Lion Air di salah satu Gate di terminal itu. Saya mengunggahnya di facebook beberapa menit setelah kejadian memalukan tersebut. Orang-orang minta bertemu dengan pihak managerial Lion Air karena merasa kasihan juga kalau bawahan-bawahan yang langsung menghadapi para calon penumpang. Kata-kata kasar meluncur. Makian kian tak terkendali. Tapi nyatanya, Lion Air memang sudah terkenal suka ingkar jadwal penerbangan yang mereka buat sendiri.


Saya kebetulan hendak pulang ke Bengkulu hari itu. Kami semua berjumlah 14 orang termasuk anak saya yang belum lagi berusia 2 tahun. Jadwal penerbangan ke Bengkulu sebenarnya pukul 17.04 WIB. Ketika kami datang pada sekitar pukul 16, sampai dengan pukul 17, ruang tunggu sudah tak mampu menampung calon penumpang. Calon penumpang tumpah ruah menunggu di koridor menuju ruang tunggu. Lalu tiba-tiba suasana jadi bertambah ramai oleh kegaduhan para calon penumpang yang penerbangannya ditunda. Yang saya ingat, mereka hendak menuju Medan. Mereka kecewa karena, bisa jadi, jadwal rapat mereka akhirnya harus terganggu dengan penundaan ini. Juga ada janji keluarga atau urusan bisnis lain yang pada akhirnya jadi berantakan karena penundaan ini.

Kegaduhan yang terjadi sore itu berlanjut hingga malam. Penerbangan kami ke Bengkulu juga diumumkan mengalami penundaan 3 jam dan itu pun menimbulkan teriakan "huuu....." dari para calong penumpang. Itu artinya paling cepat kami baru bisa berangkat pada pukul 20.04 WIB. Entah kenapa kok penundaan bisa selama itu. Lalu sekitar sejam dua jam kemudian kegaduhan terjadi lagi dan kali ini merupakan bentuk kemarahan dari penumpang menuju Palembang. Disusul kembali dengan kemarahan dari mereka yang hendak ke Pekanbaru. Menjelang pukul 20 lalu terjadi keributan. Ternyata kembali calon penumpang yang akan menuju Medan. Penumpang yang satu rombongan dengan kami pun mulai berteriak-teriak seperti penumpang-penumpang dengan tujuan kota-kota di Sumatera itu.

Saya merasa capek dengan semua keributan. Sebenarnya sangat marah dan kesal pada pelayanan macam ini. Saya sudah menebak sejak semula bahwa tidak mungkin hanya sekedar persoalan terknis penerbangan. Sangat mungkin karena keinginan maskapai untuk membuat semua kursi di pesawat penuh semua hingga baru akan diberangkatkan. Lagi pula, ini saatnya libur panjang di akhir pekan. Tanggal 2 Juni merupakan hari libur nasional karena peringatan Kenaikan Isa Almasih. Otomatis hari Jumat keesokan harinya menjadi libur bersama yang akan berlanjut hingga hari Ahad. Tiket dengan harga mahal tentu bak musim panen bagi maskapai angkutan udara. Sayangnya, hal ini tidak diimbangi dengan peningkatan kualitas pelayanan. Saya hanya peduli dengan anak-anak saya yang mulai tak bisa diam karena jemu menunggu. Mereka berlarian kesana kemari. Saya khawatir mereka akan kecapean dan juga hilang ditengah kerumunan orang yang sedang emosi tinggi. Tentu saya tak ingin mereka sampai celaka karena terinjak atau malah terbanting di salah satu sudut karena ketidaksengajaan orang-orang yang sedang kecewa.

Menunggu selama 3 jam ternyata membuat hati saya penat. Sejak selepas lebaran Idul Fitri tahun lalu saya menjalankan tugas penelitian lapangan di berbagai daerah di Indonesia bagian Timur dan Tengah. Eloknya, penerbangan kami selalu menggunakan pesawat Garuda Indonesia. Saya bangga dengan maskapai ini yang merupakan simbol transportasi udara Nusantara milik pemerintah. Pelayanan baik, meski pernah satu kali kami harus marah pada petugas bandara Sultan Hasanuddin Makassar karena ketidakjelasan Gate untuk keberangkatan. Itupun kami sadari kemudian disebabkan karena ketidakberesan dalam pengelolaan bandara hingga tak ada kepastian tempat parkir pesawat. Hal semacam ini tak hanya terjadi di Makassar, di bandara Soekarno Hatta pun sudah menjadi biasa penumpang harus berpindah dari Gate yang tertera di Boarding Pass ke Gate dimana pesawat yang akan digunakan mendapat tempat parkir. Hal ini merupakan gambaran pengelolaan yang belum sempurna--untuk tidak mengatakan buruk--bandara-bandara yang katanya kelas internasional. Tak hanya itu, saya pikir ini semua cermin pemimpin-pemimpin negeri ini yang juga bisa jadi lebih buruk dalam mengurus Negara.

Hal yang lebih baik saya dapatkan dari layanan Garuda adalah keterlambatan dibayar dengan Executive Lounge yang membuat saya dan teman-teman satu tim yang akan ke Ambon November lalu harus rehat dan menikmati hidangan di ruang tuggu itu. Setidaknya, kami merasa mendapatkan kepastian bahwa pesawat memang tertunda karena keterlambatan pesawat yang datang dari daerah. Kenyamanan ruang tunggu dan hidangan itu sedikit mengobati. Dan yang pasti, meski kursi penumpang tidak semuanya terisi, pesawat dari maskapai ini tetap melakukan penerbangan.

Maskapai lain yang pernah saya dan keluarga tumpangi kadangkala juga mengalami penundaan penerbangan. Hanya saja tidak separah yang dilakukan oleh Lion Air. Kalau Lion Air terkenal suka menunda penerbangan, itu tandanya sudah telalu sering penumpang mengalami ini serta frekuensinya terlalu tinggi. Syukurnya, maskapai ini tidak menguasai penerbangan semua rute dan dengan ongkos relatif murah. Kalau tidak, tentunya kita hanya bisa menggerutu.



Saya teringat kecelakaan Lion Air di bandara Adi Sumarmo pada 30 November 2004 lalu. Peristiwa naas yang menewaskan puluhan orang termasuk pilotnya tersebut dibantah oleh pihak Lion Air sebagai satu kecerobohan dan mengabaikan standar keselamatan. Peristiwa itu membuat saya ngeri. Sebuah koran nasional memuat karikatur di pojok kiri bawah halaman muka dengan tulisan We make people cry. Tulisan tersebut merupakan plesetan dari semboyan We make people fly yang dijual maskapai ini.

Manajemen di darat yang kacau balau bukan tidak mungkin bisa menyebabkan kekacauan dalam penerbangan di udara. Dan jika fatal, sangat mungkin nyawa bisa jadi taruhannya.

Jika Mandala Air, yang menurut seorang teman memiliki layanan terbaik kedua setelah Garuda, telah mengalami tutup buku, saya berharap maskapai-maskapai lain dapat memberikan layanan tak kalah memuaskan bagi para pengguna jasa angkutan udara di Indonesia. Ungkapan teman lama saya pada awal tulisan ini "Lie on air" yang mungkin maksudnya Lion Air suka bohong tentu harus mendapatkan perhatian dari pihak manajemen maskapai ini jika tak mau terus menerus mengalami kemerosotan kepercayaan. Saya kecewa, tapi saya masih berharap Lion Air mau belajar dari kekecewaan penumpang-penumpangnya.

Tambahan informasi, 11 Juli 2011:
Lion Air juga dilaporkan ke Komnas HAM oleh DPP Persatuan Tunanetra Indonesia terkait diskriminasi yang sering mereka terima saat ingin melakukan penerbangan menggunakan maskapai itu. Lihat beritanya di sini.

Read More......

Namanya Surti. Itu bukanlah nama aslinya. Ia mahasiswa asal Sumatera saat itu. Kuliah di Jogja memberikan pengalaman tersendiri untuknya. Mengikuti kegiatan kampus dan organisasi bersama teman-temannya di Jogja, melakukan bakti sosial pada masyarakat di sekeliling kampus, membuat dirinya mengalami perubahan cukup signifikan. Semula ia adalah gadis pendiam. Susah untuk melihatnya mau bicara kalau orang tak mengajaknya bercakap-cakap secara pribadi. Jadilah ia gadis rantau yang mulai mengenal dunia.

Masa kuliah, sebagai muslimah yang baik, ia tak begitu terpengaruh oleh teman-temannya yang mulai menjalin hubungan khusus dengan teman mahasiwa laki-laki. Ia tahu, sebagai orang yang berlatar belakang keluarga yang cukup agamis, hal semacam ini harus ia hindari.

Memasuki tahun ketiga ia kuliah di Jogja, Surti mulai berkenalan dengan salah satu kelompok kajian mahasiswa. Kelompok ini mencoba mencari pemahaman baru tentang keislaman mereka. Mereka kritis pada teman-teman di kampus yang mulai seperti garis keras, gampang menganggap teman-teman lain sebagai kelompok sesat, tidak syari'ah, atau menilai bahwa pemahaman teman-teman lain terhadap agama Islam banyak yang salah. Surti merasa tidak mendapatkan tempat untuk memiliki pemahaman yang lain di komunitas mahasiswa muslimah kampusnya. Karena itulah, kelompok kajian tempat ia baru bergabung ini memberikan kesan yang cukup dalam untuknya. Ia boleh menggali keagamaan dan keingintahuannya secara lebih leluasa. Ia bisa mendiskusikan apa saja untuk mendalami pemahamannya. Teman-teman barunya ini kemudian ia ketahui sebagai kelompok yang mengidentifikasi diri sebagai Syiah. Kelompok ini terkenal suka melakukan kajian kritis Keislaman dan isu-isu sosial politik. Murtada Mutahhari dan Ali Syariati merupakan dua tokoh Islam asal Iran yang menjadi idola mereka dalam memahami Islam dan dunia. Dua tokoh merupakan tokoh kritis pada masa revolusi di negeri Timur Tengah tersebut.

Di komunitas baru ini Surti kemudian mengenal seorang pemuda. Satu kampus dengannya, hanya beda fakultas. Pemuda ini terlihat cerdas, kritis dan senang berpolitik di kampus. Pemuda itu pernah pula mencalonkan diri pada satu kesempatan pemilihan Ketua BEM di tingkat universitas. Kebetulan mereka sama-sama berlatar belakang suku Sunda. Meski berasal dari Sumatera, orang tua Surti sebenarnya berasal dari tanah Sunda. Mereka pun akrab. Akhirnya kedekatan mereka cepat diketahui oleh teman-teman sekitarnya. Mungkin karena mereka sudah mulai terlihat bersama ke mana-mana. Penampilan Surti yang mengenakan pakaian muslimah seperti jubah, dengan kerudung yang cukup besar, menimbulkan tanda tanya besar pada teman-temannya tentang terlihatnya mereka berjalan bersama.

Berceritalah Surti pada salah teman dekatnya dulu yang juga sama-sama merantau dari Sumatera untuk melanjutkan pendidikan di Jogja. Surti pun membuka cerita perjalanannya hidupnya.

Surti dan pemuda pujaannya meyakini ajaran syiah yang mereka pelajari belakangan ini. Mereka juga tak ingin menjalani kehidupan sebagaimana mahasiswa lain yang melakukan pacaran. Buat mereka, tak boleh ada hubungan semacam pacaran. Ajaran Islam yang mereka yakini memberikan jalan kemudahan supaya mereka dapat hidup bersama namun tidak berdosa. Mereka sudah menikah menurut keyakinan mereka. Pernikahan ini yang dinamakan Pernikahan Muth'ah.

Pernikahan muth'ah yang mereka jalani, menurut Surti, adalah pernikahan yang mereka lakukan sendiri. Prosesnya, mereka bersepakat menjadi suami istri. Lalu meniatkan diri untuk menjadi pasangan suami istri. Dalam pernikahan ini mereka terikat perjanjian atau kontrak yang mereka sepekati berkaitan dengan sebatas mana hubungan ini mereka jalani. Misalnya, apakah mereka hanya boleh berjalan berudua-duaan saja, atau sampai pada tinggal serumah, melakukan hubungan badan sebagaimana layaknya hubungan suami istri yang dipahami khalayak banyak, beban ekonomi ditanggung ataukah tidak oleh salah satu pihak atau menjadi tanggungan kedua belah pihak, apakah status suami istri ini akan berlangsung dalam jangka waktu tertentu ataukah akan tetap selamanya, dan lain sebagainya. Semua itu harus disepakati bersama.

Surti dan "suaminya" menikah pada satu waktu di tempat kos Surti. Tempat ini adalah sebuah rumah tinggal. Ada beberapa mahasiswi yang tinggal di sini. Mereka tinggal bersama dengan keluarga pemilik rumah. Mereka menyewa kamar-kamar yang seperti paviliun di rumah itu. Di teras rumah ini terdapat beberap kursi dan meja yang memang dijadikan tempat menerima tamu baik tamu keluarga pemilik rumah maupun tamu mahasiswi yang mondok di situ. Di situlah Surti dan pemuda pujaannya itu menikah. Ketika temannya bertanya apakah ada saksi, Surti hanya menjawab: "Allah Maha Tahu segalanya. Ia adalah Tuhan. Tuhan menjadi saksi pernikahan kami..."

Beberapa tahun kemudian pemuda yang menjadi suami Surti lulus dari studinya. Ia kembali ke kampung halamannya di Jawa Barat. Sebagai pemuda yang mulai berpolitik sejak mahasiswa, laki-laki pujaan Surti ini kemudian melanjutkan karir politiknya di sebuah partai politik Islam yang sempat jaya di masa Orde Baru. Di partai ini, demi karir politiknya yang kinclong, ia rela meninggalkan Surti. Pemuda ini lalu memilih menikahi putri salah seorang petinggi partai politik tempatnya bergelut, hingga ia tak lagi merasa memiliki tanggung jawab untuk hidup bersama dengan Surti.

Surti kecewa ditinggal pemudanya. Ia sedih, sakit hati, tapi tak bisa berbuat lain selain menangisi diri. Surti memang tak pernah bercerita batasan hubungan dari pernikahan muth'ah mereka. Tetapi, status sebagai istri muth'ah pun membuatnya tak memiliki hak sama sekali untuk menuntut suaminya supaya tidak meninggalkannya. Ia kecewa selamanya....


Catatan:
1. Tulisan ini merupakan satu dari beberapa tulisan tentang kasus perkawinan untuk masukan revisi UU Perkawinan No.1 tahun 1974
2. Gambar ilustrasi diambil dari sini.

Read More......

Oktober lalu, seorang teman aktivis perempuan yang mendampingi petani di pedesaan Yogyakarta dan Jawa Tengah bercerita kalau ada perempuan yang tidak dapat mengakses secara penuh bantuan pertanian dari Pemerintah. Petani pedesaan di sana mengalami diskriminasi karena mereka adalah janda.

Bantuan pertanian berupa pupuk dari pemerintah pusat (Kementerian Pertanian) turun hingga ke masyarakat melalui pemerintah desa. Dalam hal pembangunan pertanian di desa, masyarakat membuat kelompok tani-kelompok tani untuk mendapatkan bantuan. Di dalam kelompok petani, setiap keluarga hanya diwakili oleh satu orang kepala keluarga. Di beberapa desa, perempuan janda yang menjadi pencari nafkah untuk keluarganya tidak dapat dianggap sebagai kepala keluarga. Masyarakat masih menilai bahwa yang boleh menjadi kepala keluarga hanyalah seorang lelaki, seorang suami sekaligus ayah dalam keluarganya. Ini menjadi masalah krusial bagi keluarga yang tidak memiliki suami atau ayah.


Menurut informasi yang disampaikan oleh Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga (Pekka), sebuah NGO yang mendampingi dan memberdayakan perempuan kepala keluarga, ada sekitar 13 - 17 persen rumah tangga di Indonesia dikepalai oleh perempuan (Pekka, 2009). Mereka yang terhitung sebagai perempuan kepala keluarga adalah perempuan yang ditinggal cerai, suaminya sakit hingga tak bisa mencari nafkah, janda ditinggal meninggal, perempuan lajang namun pencari nafkah untuk keluarganya, serta perempuan yang ditinggal suaminya untuk merantau atau hal lain namun lama tak jelas keberadaannya.

Ketika menghadapi kondisi di atas, seorang perempuan mau tak mau harus berjuang menghidupi keluarganya. Mereka bekerja sebagai pencari nafkah untuk kelangsungan hidup diri dan anak-anak yang menjadi tanggung jawabnya. Undang-Undang Perkawinan No. 1 tahun 1974 masih menilai kepala keluarga adalah laki-laki. Budaya masyarakat di Indonesia yang masih bias patriarkhi juga mengabaikan entitas perempuan yang mengambil alih fungsi seorang laki-laki (kepala keluarga) untuk mencari nafkah dan menghidupi keluarganya. Akibatnya, perempuan kepala keluarga seringkali mendapatkan diskriminasi dan kekerasan dalam keluarga bahkan di dalam masyarakatnya. Tidak diperhitungkan keberadaannya dalam kelompok tani seperti terjadi di salah satu desa di Yogyakarta adalah contohnya.

Di tempat tinggal saya, di pinggiran Jakarta, gang tempat kami tinggal dikenal sebagai gang janda. Sebabnya, dibandingkan dengan gang-gang lain di komplek perumahan ini, gang kami memiliki paling banyak janda (ditinggal mati suami). Mereka harus mencari nafkah untuk biaya sekolah anak-anaknya antara lain dengan berjualan atau membuka warung nasi kecil-kecilan di pagi hari. Pada satu rapat rukun tetangga (RT) tahun lalu, keputusan rapat yang dihadiri oleh kepala keluarga menyatakan kalau perempuan tidak boleh ikut mewakili keluarganya dalam rapat rutin RT setiap bulannya. Padahal, rapat RT seringkali membuat keputusan-keputusan yang menyangkut semua warga. Dengan demikian, jika keluarga janda ini tidak ada yang mewakili dalam rapat, berarti mereka harus menerima begitu saja semua keputusan rapat RT, dan  mereka pun wajib menjalankan keputusan-keputusannya. Terlihat jelas kalau perempuan janda tidak diakui sebagai kepala keluarga serta suaranya tidak dihargai. Padahal, tempat tinggal kami masih terhitung daerah perkotaan.

Tujuan pembangunan milenium yang dirumuskan oleh pemimpin-pemimpin dunia dan diupayakan untuk tercapa pada tahun 2015, pada tujuan pertama memuat "pengentasan kemiskinan dan kelaparan ekstrem" (Eradicate extreme poverty and hunger). Pada tujuan ketiganya disebutkan "mendukung kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan" (Promote gender equality and empower women). Kasus sulitnya perempuan kepala rumah tangga mengakses bantuan pertanian di pedesaan menunjukan dengan jelas rentannya perempuan pada kemiskinan. Sangat mungkin mereka akan menjadi petani miskin karena kebijakan pemerintah di sektor pertanian sendiri selama ini sudah membuat bertani bukan pekerjaan yang membuat sejahtera. Impor beras saat petani di dalam negeri sedang panen dan harga pupuk membubung tinggi saat musim bercocok tanam merupakan dua dari sekian kebijakan pertanian yang memiskinkan. Di tambah lagi, saat adanya program bantuan  untuk para petani, ternyata perempuan tidak dapat mengaksesnya dengan baik karena mereka tidak diakui sebagai kepala keluarga. Sementara, perempuan di wilayah kota (urban) tidak memiliki suara dalam pertemuan di lingkungan mereka. Kondisi ini jelas menunjukan ketimpangan relasi gender yang masih melekat dalam nilai-nilai sosial di masyarakat.

Delapan tujuan pembangunan millenium yang disepakati dan dirumuskan pada Millennium Summit tahun 2000 agaknya akan sulit dicapai Indonesia pada 2015 nanti jika pemerintah masih belum berhasil membuat kebijakan yang baik. Undang-undang perkawinan No. 1 tahun 1974 perlu direvisi untuk memungkinkan pengakuan perempuan sebagai kepala keluarga. Demikian pula dengan pendidikan bagi masyarakat luas (baik formal dan informal) serta upaya-upaya menyadarkan masyarakat tentang kesetaraan lelaki dan perempuan mutlak harus dilakukan oleh pemerintah selain yang sudah dilakukan oleh NGO perempuan. Kemiskinan di negeri ini lebih banyak dialami dan diderita kaum perempuan, dari pedesaan hingga perkotaan. Menghargai perempuan sebagai kepala keluarga dan pencari nafkah serta menghormati kesetaraan perempuan dan laki-laki hanyalah sebagian kecil upaya untuk mengentaskan kemiskinan sebagaimana menjadi tujuan dari pembangunan millenium.

Read More......

Apakah ada sumbangsih Pembantu Pekerja Rumah Tangga (PRT) terhadap ekonomi nasional? Pertanyaan ini terus muncul dan membutuhkan jawaban di tengah-tengah upaya mengadvokasi Rancangan Undang-Undang Perlindungan PRT (RUU PPRT).

Setiap keluarga yang suami istri bekerja di luar rumah, baik sebagai pegawai sebuah instansi atau perusahaan, maupun memiliki usaha sendiri, pekerjaan di wilayah domestik diserahkan pada PRT. Mulai dari menyapu rumah, merawat anak serta mengantar ke sekolah, mencuci pakaian, memasak dan urusan-urusan rumah lainnya. Pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan oleh PRT ini telah membuat pekerjaan-pekerjaan pencari nafkah keluarga (suami, istri atau suami dan istri) menjadi lancar karena urusan domestik mereka telah ditangani oleh PRT.

PRT telah turut berperan dalam memungkinkan suami-istri dalam sebuah keluarga bisa bekerja dengan leluasa. Suami-istri yang yang bekerja ini akan meningkatkan konsumsi dan investasi yang pada gilirannya akan menambah pendapatan nasional.[1] Demikian pula dengan PRT yang dengan profesi yang ia tekuni, ia memiliki penghasilan dan dengan demikian mampu mengkonsumsi dan investasi yang tentunya memiliki pengaruh dalam pendapatan nasional.[2]

Data pendapatan nasional merupakan alat untuk mendapatkan angka pertumbuhan ekonomi masyarakat dan ekonomi nasional. Data Pendapatan nasional dapat digunakan untuk melihat berbagai sektor perekonomian suatu negara, apakah ia merupakan negara industri, pertaninan, atau negara jasa. Data itu juga dapat dipakai untuk membandingkan kemajua perekonomian dari waktu ke waktu, membandingakn perkonomian antarnegara atau antar daerah, serta sebagai landasan perumusan kebijakan pembangunan oleh pemerintah.

Disamping itu, data pendapatan nasional juga dapat digunakan untuk menentukan besarnya kontribusi berbagai sektor perekomian terhadap pendapatan nasional, misalnya sektor pertanian, pertambangan, industri, perdagangan, jasa, dan sebagainya. Data tersebut juga digunakan untuk membandingkan kemajuan perekonomian dari waktu ke waktu, membandingkan perekonomian antarnegara atau antardaerah, dan sebagai landasan perumusan kebijakan pemerintah.

PRT adalah pekerjaan dalam sektor jasa. Sama halnya dengan TKI yang bekerja di beberapa negara tetangga, mereka berprofesi sebagai PRT yang merupakan sektor jasa juga. Jika sumbangsih TKI terhadap ekonomi nasional dapat dihitung besarnya devisa yang dihasilkan (dilihat dari remitansi). Pada tahun 2008 saja, TKI memberikan devisa 130) trilyun rupiah.[3] Angka sumbangan devisa kedua setelah Migas (180 trilyun rupiah). PRT dalam negeri tentunya memiliki sumbangan ekonomi yang tak kalah signifikan karena peran mereka yang memberikan peningkatan produktifitas angkatan kerja karena urusan domestik telah dialihkan ke PRT. Angka-angka tersebut memang belum pernah disebutkan dalam sensus atau pendataan yang serius oleh lembaga yang kridibel seperti BPS. Tentunya pendataan secara lebih cermat menjadi rekomendasi penting untuk melihat peran strategis PRT dalam ekonomi nasional.

Baik TKI (yang kebanyakan berprofesi PRT di luar negeri) maupun PRT di dalam negeri belum mendapatkan perlindungan yang memadai untuk pemenuhan hak-hak mereka sebagai pekerja maupun perlindungan atas pelanggaran hak-hak mereka sebagai manusia. Pelecehan seksual, penganiayaan, upah di bawah standar, penganiayaan dan bentuk kekerasan lainnya tidak sedikit dialami oleh PRT. Perlindungan yang sistematis dan menyulurh sangat dibutuhkan untuk mengantisipasi semua itu. Memahami kontribusi PRT terhadap ekonomi nasional merupakan satu langkah untuk meyakinkan pemerintah bahwa keberadaan PRT harus diakui dan tanggung jawab pemerintah untuk melindungi. Bagi masyarakat luas yang mempekerjakan PRT juga perlu mengetahui peran penting PRT ini terhadap ekonomi keluarga mereka.



Catatan Akhir:

* Tulisan ini merupakan kerangka acuan diskusi dengan tema yang sama, yang diselenggarakan oleh Jaringan Nasional Advokasi Pekerja Rumah Tangga (Jala PRT) bekerjasama dengan Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) di Jakarta pada 14 Desember 2010.

[1] Lihat tiga pendekatan untuk mengetahui pendapatan negara di http://id.wikipedia.org/wiki/Pendapatan_nasional (diakses pada tanggal 6 September 2010 pukul 11.20 wib)

[2] Lihat juga Rumus Menghitung PDB, PNB, PNN, Pendapatan Nasional, Individu Dan Pendapatan Dapat Dibelanjakan di http://organisasi.org/rumus-menghitung-pdb-pnb-pnn-pendapatan-nasional-individu-dan-pendapatan-dapat-dibelanjakan (diakses pada tanggal 6 September 2010 pkl.11.35 wib)

[3] KompasTv.com, 15 Desember 2008

Read More......

Kantong Plastik

Pagi hingga siang tadi saya ke Jakarta Eye Center, memeriksakan mata kiri yang perih sejak tertusuk garpu. Semalam sehabis mengantarkan putra kedua imunisasi dan konsultasi ke dokter di rumah sakit Permata Cibubur, saya bermain dengan si kecil yang baru berusia 1,5 tahun. Selain itu ada pakdenya dari Cimanggis yang kebetulan mengantar pulang kami, hingga semalam bermain dengan anak-anak jadi agak lebih lama.

Usai makan malam bersama dan ngobrol-ngobrol, si kecil yang masih memegang garpu kakanya saya pangku dengan harapan bisa mengambil garpu itu. Meski sudah seringkali diingatkan bahwa garpu merupakan benda berbahaya untuk anak kecil, namun keingintahuan tak pernah urung anak saya untuk menggenggamnya. Saat di pangkuan itulah garpu secara tak sengaja menusuk mata sebelah kiri. Saya rasakan perih. Karena yakin tak akan apa-apa pada mata, saya tak langsung ke dokter meski mas Adi (pakdenya anak-anak) sudah bersedia mengantarkan. Lagi pula, waktu sudah menunjukan pukul 21.30-an saat itu.

Pagi tadi, setibanya di tempat kerja saya teringat ada Jakarta Eye Center, sebuah rumah sakit mata yang tak jauh dari tempat saya bekerja di bilangan Menteng. Usai mengisi daftar hadir dan bertegur sapa dengan beberapa teman, saya putuskan pergi ke dokter mata. Mata sebelah kiri masih terasa perih dan terlihat merah.

Usai menjalani pemeriksaan saya membayar ke kasir untuk jasa konsultasi ke dokter. Lalu beranjak ke apotek yang berada ruangan berbeda. Setelah obat siap, petugas memanggil dan membungkus obat dengan kantong plastik. Saya katakan saya tidak membutuhkan plastik itu. Saya punya kantong sendiri di dalam tas. Petugas apotek itu terheran-heran. Saya pun membuka tas punggung/ransel mengeluarkan kantong plastik yang sama, sebab sebelum mendapatkan obat saya sudah membeli vitamin yang disarankan oleh dokter selain obat yang diresepkan. Petugas itu masih terheran saat saya memasukkan obat ke dalam kantong itu. Saya hanya ingin menunjukkan bahwa penggunaan plastik bisa dikurangi dengan menyatukan barang dalam satu kantong (tentu tidak untuk barang-barang yang memiliki pengaruh kimia satu sama lainnya). Sudah terlalu banyak plastik yang membebani bumi ini karena penggunaan yang terlalu berlebihan. Sepertinya di dalam keterperangahan petugas bernama Nurul itu, ia tak banyak mendapati pasien seperti ini.

Kawan-kawan, seorang teman baik saya di Yogyakarta sedang melakukan survei tentang penggunaan kantong plastik. Saya tahu betul, sejak saya mengenalnya saat masa kuliah dulu, ia peduli nian pada issue lingkungan hidup. Sudilah kawan-kawan ikut mengisi survei tentang penggunaan kantong plastik yang ia lakukan lewat jaringan internet ini. Silahkan kunjungi alamat berikut:

www.surveymonkey.com/s/surveikresek1

Terima kasih.

Read More......

Joran Pancing Lidi Nau

Inilah alat mengail (memancing) ikan penduduk di dusun Air Langkap, Kaur Tengah, kabupaten Kaur, Propinsi Bengkulu. Jorannya terbuat dari lidi Nau (lidi dari pohon aren). Lidi sepanjang lebih kurang 1,5 meter ini disambung dengan buluh (bambu) sebesar ibu jari orang dewasa. Panjang buluh disesuaikan dengan kebutuhan panjang joran untuk mengail. Seperti joran pancing umumnya, tentu ada tali atum (tali pancing) dan mata kail (mata pancing/hook) untuk mengait ikan yang memakan umpannya. Ujung tali atum yang memiliki mata kail di salah satu ujung lainnya diikatkan pada ujung lidi nau.

Buluh yang digunakan untuk mengail ini adalah buluh Temiang atau buluh Kapal. Buluh ini dianggap paling pas untuk disambung dengan lidi Nau.

Lidi Nau yang dipilih mengail adalah lidi yang sudah tua, dari daun Nau (yang mirip dengan daun kelapa) yang sudah tua sehingga merupakan lidi yang kuat. Lidi yang dipilih lalu diletakkan di atas Lantai. Lantai dalam bahasa Air Langkap adalah tempat meletakkan bumbu-bumbu masak, panci dan lainnya di atas tungku perapian memasak. Dengan demikian, lidi yang disimpan di atasnya mengalami pengasapan setiap hari. Proses ini dinilai membuat lidi nau menjadi lebih kuat namun tetap lentur.

Meski menggunakan lidi nau, joran pancing ini bisa dipakai untuk menangkap ikan dengan berat hingga 2 kilogram. Joran ini pun bisa dipakai untuk mengail di sungai, pinggir laut/pantai, air payau, kolam atau sawah.

Umpan yang dipakai untuk mengail adalah umang-umang. Hewan sejenis siput ini hidup di pinggir laut atau pasir pantai. Ukuran umang-umang ini kecil hingga sekitar kelingking orang dewasa. Umang-umang ini biasa dipakai untuk memancing di pantai Air Langkap.

Ada satu cerita menarik mengenai cara memancing orang Air Langkap ini. Pada tahun 2003 lalu, dalam rangka ulang tahun Tentara Nasional Indonesia (TNI), Koramil Kaur Selatan menyelenggarakan lomba memancing. Peserta memancing jumlahnya puluhan dan berasal dari seluruh propinsi Bengkulu. Pemenang lomba memancing adalah ia yang paling banyak mendapatkan ikan. Setelah lomba selesai, ikan tersebut ditimbang oleh panitia.

Lomba memancing berlangsung di dermaga Linau Kaur Selatan, sebuah pelabuhan alam dengan banyak karang di pantai-pantai dekat pelabuhan itu. Waktu memancing ditentukan lamanya dan dalam rentang waktu itu semua peserta harus berlomba mendapatkan ikan sebanyak-banyaknya supaya bisa menjadi pemenang.

Tamsir (38 tahun) berasal dari dusun Air Langkap berhasil mengumpulkan ikan terbanyak diantara peserta yang lainnya. Dengan joran khas Air Langkap dan umpan umang-umang ia memenangkan lomba memancing tersebut.

Menurut cerita Tamsir, ada peserta lainnya yang ia tegur saat lomba berlangsung. Peserta tersebut membawa ikan di dalam kantong plastik hitam. Ikan laut dari membeli di pasar itu hendak ia serahkan ke panitia untuk ditimbang sebagai hasil tangkapan mata kailnya. Tamsir sudah mengingatkan kalau panitia tidak sebodoh yang ia bayangkan. Panitia memeriksa ikan-ikan hasil tangkapan. Mungkin karena hasil perlombaan jauh lebih segar hingga berbeda dengan ikan dari pasar, panitia akhirnya mengetahui ada peserta yang berbuat curang. Ikan yang bukan hasil tangkapan perlombaan itu diserahkan panitia kepada peserta yang curang tesebut. "Ikan ini kau bawa ke ibumu untuk dimasak!" kata panitia.

Sebagai pemenang, Tamsir mendapatkan piala dan sejumlah hadiah lainnya. Alat mengailnya yang terbuat dari buluh Temiang/Kapal yang disambung dengan lidi Nau diminta panitia sebagai kenang-kenangan penyelenggara lomba. Alat memancing itu menyedot perhatian banyak orang karena tidak lumrah dan unik.

Orang Air Langkap sudah sejak lama menggunakannya. Dengan joran pancing lidi Nau Tamsir berhasil mengalahkan peserta lainnya yang menggunakan joran pancing yang bagus-bagus, mahal dan katanya alat pancing yang lebih modern.

Read More......

Resolusi untuk Perubahan

Saya membaca majalah Respect edisi 02 (Des 09 - Jan 10), yang saya dapatkan dari seorang teman di kantor. Majalah berukuran separoh kertas cetak ini menawarkan diri sebagai Panduan Gaya Hidup Ramah Sosial dan Lingkungan.

Sebagai edisi di awal tahun 2010, majalah respect memberikan suplemen kalender menarik berukuran kertas cetak dilipat-lipat hingga muat di kantong baju. Tak hanya warna-warnanya yang seru, kalender ini juga disisipi 12 resolusi ide untuk perubahan di 2010. Meski tawarannya di tahun 2010, namun sebagai sebuah gerakan perubahan tentunya ia harus kita lakukan terus menerus. Tak ada perubahan yang tak bisa terjadi kalau kita gigih melakukannya sehari-hari tanpa henti. Berikut ini resolusi yang dimaksud:

Makan produk organik
Lebih sehat, lebih ramah lingkungan dan sosial, dan lebih renyah. Respect food bisa dipesan melalui no 021-78831383

Konsumsi buah lokal
Jamblang, sawo, delima atau kecapi? Ini buah-buahan lokal yang yummy, fresh, dan eksotis lho. Coba deh...

Pake batik saat hang out
Batik Indonesia sudah diresmikan menjadi warisan budaya dunia oleh UNESCO.

Belanja di pasar tradisional
Jarang berbelanja di pasar tradisional? Sekali sekali belanja di sini yuk. Dengan berbelanja di pasar, kita sudah turut mendukung pedagang lokal.

Minum kopi lokal
Nikmat & aroma kopi Indonesia sudah mendunia. Sebut saja kopi Gayo, Toraja, Robusta, Arabika, dan Sumba. Minum kopi yuk, di gerai lokal lebih asyik lagi.

Say NO to styrofoam!
Styrofoam tidak dapat terurai. Proses pembuatannya pun tidak ramah lingkungan. Menyebabkan kanker pula...

Mendukung kampanye Desa Sejahtera di facebook dan twitter
Suka facebook-an dan twitter-an? Jadilah fans desa sejahter di facebook dan twitter. Mau tahu lebih banyak? Silahkan akses desasejahtera.org

Daur ulang kertas
Sisa kertas yang asih bisa ditulis bisa menjadi scrapbook. Lalu kita jual menjadi produk kerajinan. Kalau kreatif, makin banyak yang mau beli.

Membeli pruduk pakaian lokal
FYI, produk fesyen banyak yang bua di Indonesia dan banyak yang diekspor dan jadi banah dsar brand terkenal. Artinya kualitas kita juga internasional...


Makan beras hitam atau merah
Indonesia memiliki sekitar 8.000 jenis padi, kini hanya 10-15% yang masih ada. Saat kita makan beras hitam dan merah, spesies padi lokal yang terancam punah akan ditanam lagi.

Sweat shop? no more...
Gaya tapi bikin orang menderita? Ah gak cool banget ya... Sweat shop! Perusahaan yang membayar buruhnya dengan sangat murah. Contohnya banyak di produk pakaian dan sepatu.

Menjelajahi Indonesia
Kita bisa menemukan banyak tempat-tempat keren yang justru lebih banyak diketahui orang bule...

Read More......