Membuka situs Youtube hari ini, banyak sekali video baru yang dipajang di halaman muka. Rupanya banyak orang yang memperingati Hari Bumi--yang jatuh pada hari ini--dengan memasukkan berbagai video kampanye pentingnya menjaga kelestarian bumi. Salah satu contohnya adalah video berikut, yang mengingatkan kita semua untuk menjauhi penggunaan plastik sebagai tas belanja. Ada baiknya kita semua memperhatikan himbauan ini, mari selamatkan bumi dari plastik yang ratusan tahun baru bisa diurai oleh bumi, dan betapa berbahayanya bahan plastik bagi kehidupan.
Selamat hari bumi. Mari kita peduli.
Artikel terkait:
Pabrik kantong plastik terbesar di China
Beberapa solusi sampah plastik kita
Tas Belanja supermarket
Peristiwa ini terjadi sepekan yang lalu, Jumat malam, 11 April 2008. Saya pulang dari kantor setelah hujan reda. Naik Transjakarta dengan rute Halimun - Matraman - Kp Melayu - Kp Rambutan, dan turun di halte Cawang-UKI untuk meneruskan perjalanan menuju arah Cileungsi dengan berpindah ke minibus 56.
Naik Transjakarta (lebih diakrabi masyarakat dengan nama Busway) dari halte Halimun dengan penumpang cukup ramai. Maklum, akhir pekan. Sekitar pukul 20 waktu itu. Jadi penumpangnya cukup membludak. Suasana di dalam bis seperti biasa kalau sedang ramei, tangan diatas berpegang pada gantungan karena tidak kebagian tempat duduk. Sampai di Matraman, saya transit menuju Kampung Rambutan. Antrian cukup banyak. Transjakarta yang hendak saya naiki dinyatakan cukup menerima penumpang, harus menunggu kedatangan bis berikutnya.
Saya cukup tenang menunggu bis karena posisi saya tepat di bibir pintu halte yang dengan satu langkah sudah masuk ke dalam bis angkutan massal ini. Saya sama sekali tidak menduga kalau ternyata hendak masuk ke dalam bis, ada gelombang dorongan kuat sekali dari arah belakang. Bersama penumpang lain yang mengantri sejajar dan di belakang, saya terlempar dengan keras ke dalam. Sejumlah penumpang yang akan masuk dan juga yang di dalam bis berteriak "hoi sabar dong!!!". Dalam suasana yang begitu gemuruh dan kondisi di dalam begitu padat, saya mencoba meraih gantungan di atas kepala saya untuk menjaga keseimgangan tubuh. Saya berusaha mendekat ke pintu tengah di sisi kiri bis. Kondisi padat memaksa saya untuk mengangkat tangan ke atas, di gantungan itu. Tangan yang biasanya selalu siaga di kantong kanan menjaga ponsel akhirnya lalai juga pada tugasnya.
Saya merasakan keanehan pada paha sebelah kanan, tepatnya di kantong celana saya. Saya mencoba menggerakkannya, ternyata makin terasa tidak ada apapun di dalam kantong. Bis sudah berhenti di halte Tegalan, lalu menuju Halte selanjutnya. Saya berteriak, "yang mengambil hp saya, hayo kembalikan". Saya ulangi sekali lagi. Suara saya mengagetkan penumpang yang ada. Seorang yang berdiri persis di belakang saya menawarkan diri menghubungi nomor ponsel saya. Sebuah tas sandang hitam ada dipinggang sebelah kiri dengan tali melilit dibahu sebelah kanannya. Saya menyebutkan nomor saya. Tapi 4 digit angka di belakang selalu salah, ia ketik 8252 yang mestinya ...9252. Ia ulangi sampai empat kali, selagi tangan kanan memencet-mencet ponselnya, tangan kirinya terus saja merogoh tasnya. Seorang yang membawa tas yang sejenis, dengan perawakan yang menunjukkan usia yang lebih kurang sama, ikut berbicara, dan saya curiga keduanya sengaja mengalihkan perhatian semua penumpang. Saya mencurigai mereka sebagai pelaku pencurian ini.
Saya kesal, tetapi juga khawatir karena siapapun pelakunya, tentulah mereka mengenali wajah saya. Saya mendekati petugas keamanan bis yang berdiri di pintu tengah sebelah kanan. Saya katakan padanya, "lu periksa orang yang di belakang gue tadi". Lalu ia mengontak keamanan lainnya yang ada di halter terakhir "Kampung Melayu" dengan menggunakan alat komunikasi yang ada pada sopir. Bis menuju halte Pasar Jatinegara. Seorang yang berdiri di dekat pintu, di sebelah petugas keamanan bis, mengatakan kepada saya bahwa kemungkinan besar pencurinya telah keluar di halte sebelumnya. I menyebutkan perawakan pencuri menunjukkan mereka berasal dari Ambon. Lalu penumpang lain, seorang ibu, berbaik hati meminjamkan ponselnya supaya saya bisa menghubungi nomor ponsel saya yang hilang. Saya hubungi nomor ponsel saya. Ada sedikit nada sambung, tapi kemudian mati. Saya rasakan sekilas suara dari ponsel saya di sekitar tempat saya berdiri semula. Saya katakan pada petugas keamanan bahwa ponsel saya masih ada di bis ini. Pelakunya belum keluar.
Mengenai tuduhan seorang penumpang bahwa pelakunya dari salah satu suku bangsa di daerah timur Nusantara, terus terang saya tidak menghiraukannya. Saya anti rasisme. Saya tidak ingin menuduh kelompok tertentu gemar melakukan kejahatan karena perawakan mereka atau stigma pada kelompok mereka. Siapapun, dari suku bangsa manapun, ber-agama apapun, memiliki potensi yang sama untuk melakukan kejahatan. Ada banyak faktor yang menyebabkan seseorang nekad melakukan kejahatan. Saya tidak ingin hilangnya ponsel saya justru memupuk atau bahkan menyemaikan rasisme pada orang lain. "Adil sejak dalam pikiran", begitu kata Pramoedya Ananta Toer. "Berprasangka buruk adalah dosa", demikian Islam mengajarkan pada pemeluknya.
Bis Transjakarta yang saya tumpangi mendekati halte terakhir, Kampung Melayu. Petugas keamanan mengingatkan kepada semua penumpang untuk bersiap diperiksa satu persatu saat keluar dari bis. Petugas keamanan banyak sekali di halte Kampung Melayu. Mereka sudah siap memeriksa. Saya diminta keluar lebih dahulu melalui pintu depan, dan menyaksikan pemeriksaan. Saya tahu semua penumpang menjadi tidak nyaman dengan pemeriksaan ini. Saya sendiri sesungguhnya sudah mengikhlaskan ponsel yang hilang itu. Kepada beberapa penumpang saya sampaikan permintaan maaf atas ketidaknyamanan yang mereka alami.
Saat pemeriksaan, saya sendiri tidak hafal ponsel saya jenisnya apa, atau nomor serinya apa. Ketika ditanya petugas, saya hanya mengatakan bahwa ponsel saya mereknya "N" dan ada radionya. Saya tidak begitu peduli pada teknologi komunikasi ini selain hanya melihat fungsinya yang harus sesuai dengan kebutuhan saya berkomunikasi. Bahkan fasilitas radio pada ponsel saya karena sepupu saya yang memilih untuk membelinya, lalu tidak jadi, dan menukarnya dengan ponsel pilihan saya yang sederhana dan tidak berwarna pula, sementara si penjual di kios ponsel di PGC telah menerima uang pembelian. Sampai salah satu penumpang memperlihatkan ponselnya, saya baru mengetahui jenis ponsel saya. "hp saya seperti ini, tapi bukan ini" kata saya pada petugas.
Pemeriksaan selesai. Saya diajak bicara oleh seorang petugas berpakaian batik. Saya pikir ia adalah komandan petugas keamanan Transjakarta jalur ini. Ia, untuk kedua kalinya, meminjam KTP dan mencatat data pribadi serta nomor yang bisa ia gunakan untuk menghubungi saya kalau ada perkembangan kasus ini. Ia lalu menanyakan apakah saya memiliki kecurigaan pada penumpang yang ada di dekat saya. Saya jawab, ya. Saya curiga pada seorang penumpang yang berdiri persis di belakang saya, yang berpura-pura membantu melakukan panggilan ke ponsel saya namun empat digit terakhir selalu salah meski saya dan beberapa penumpang di sekitar saya mengulangi bahwa nomor yang ia ketikkan di ponselnya keliru. Saya pun menyadari, ternyata orang itu tidak terlihat saat pemeriksaan. Aneh sekali, saya baru menyadari ia tak nampak di antrian pemeriksaan. Saya ingat betul kalau ia tidak turun di halte Jatinegara, halte terakhir sebelum pemeriksaan.
Petugas berbaju batik itu mengingatkan, kalau ada orang yang dicurigai seharusnya saya beritahukan pada petugas. Saya jawab bahwa pelakunya tidak mungkin sendirian, ia pasti memiliki teman, dan tentunya mereka sudah mengenali wajah saya. Tentunya mereka akan mencari saya di hari-hari selanjutnya untuk melampiaskan rasa sakit hati karena tidak berhasil mencuri. Lain hal lagi, kalau seandainya orang yang saya curigai sampai diinterogasi sendirian, sementara ponsel saya tidak terdapat di tubuhnya atau bagian dari barang-barang bawaannya, bukan tidak mungkin ia sakit hati, merasa dipermalukan, dan bahkan menjadi dendam pada saya. Terus terang saya tidak ingin peristiwa ini berbuntut pada kekerasan pada diri saya di lain waktu. Petugas hanya mengatakan bahwa keamanan selama masih di jalur busway adalah tanggung jawab mereka.
Saya tanyakan apakah ponsel saya ada di lantai atau tidak, sambil melirik ke bibir halte dan berpikir bukan tidak mungkin ponsel saya dijatuhkan ke sana. "Tidak ada, petugas sudah memeriksa hingga ke bawah kursi penumpang". Lalu saya menyudahi percakapan dengan petugas yang baik itu. Saya sampaikan rasa terima kasih atas kesigapan petugas memeriksa semua penumpang. Setelah menjabat tangannya, saya pamit untuk mengantri Transjakarta jurusan Kampung Melayu - Kampung Rambutan untuk pulang. Pemeriksaan itu berlangsung sekitar 20 menit.
Kepada semua penumpang yang tidak bersalah namun ikut repot karena peristiwa ini, secara pribadi saya mohon maaf. Termasuk pada salah satu penumpang yang saya yakin merasa tidak nyaman ketika tasnya harus dibuka dan mengeluarkan buah-buahan yang dibeli di perjalanan untuk di bawa pulang. Saya juga suka belanja buah di pinggir jalan untuk anak dan istri di rumah kok mas. Maaf ya jadi repot begini.
Untuk semua penumpang Transjakarta, selalu berhati-hati ya. Dompet, ponsel dan barang berharga masukin ke dalam tas aja. Tasnya didekap di dada kayak ransel saya, taruh di depan. Untuk penumpang perempuan, hindari menyandang tas yang tidak ada restleting atau tanpa penutup yang rapat, juga taruh di dekapan. Semoga Anda tidak mengalami peristiwa yang seperti yang menimpa saya.
Catatan:
Foto pinjam dari ibu Lily

Sore ini, Syahrul "Gondrong" kembali mengantarkan saya ke kantor. Saya hendak mengambil laptop dan beberapa peralatan untuk dibawa ke lokasi lokakarya yang kantor saya adakan seharian esok hari. Dalam perjalanan dari Cawang Uki, ia bercerita temannya mati (baca: meninggal) kemarin pagi.
Namanya Sugeng. Ia salah seorang tukang ojek yang biasa mangkal di depan UKI-Cawang. Bersama-sama teman-temannya di sana, ia merupakan anggota perkumpulan tukang ojek Cawang. Sama seperti halnya gondrong, ia lahir pada tahun 1973. Usia yang masih termasuk muda, ia harus pergi ke alam barzah. Siapapun di dunia ini tidak pernah tahu pada usia berapa jatah hidup di dunia akan berakhir. Sugeng pun demikian.
Hari Sabtu, kemarin pagi, sekitar pukul 10.30 WIB jenazahnya ditemukan petugas keamanan di stasiun Jatinegara Jakarta. Tidak satupun orang di dalam stasiun itu mengaku mengetahui peristiwa apa yang menimpa Sugeng. Tubuhnya remuk semua. Kepalanya pecah. Entah jatuh dari kereta, tertabrak kereta dan mental di pinggiran rel di dalam stasiun, atau ada peristiwa lain, tak ada yang tahu. Petugas keamanan dan pegawai stasiun menemukan tubuh kaku itu. Dari alamat yang tertera pada KTP, petugas itu lalu mengetahui Sugeng tinggal di daerah belakang Kodam Jaya Cawang. Lalu membawa jenazah Sugeng ke Rumah Sakit UKi, sebab rumah sakit tidak seberapa jauh dari rumah tinggalnya.
Keluarga Sugeng baru mengetahui kematiannya pada Maghrib Sabtu itu. Petugas rumah sakit dan dari stasiun mengabari keluarga Sugeng. Pada pemeriksaan polisi. Sampai hari minggu sore ini belum diketahui apa penyebab kematian Sugeng.
Sepeda motor Sugeng terparkir di luar stasiun. Mungkin ia sedang mengantar pelanggan, atau memiliki satu keperluan sehingga ia harus ke stasiun itu. Sepeda motornya ditemukan oleh teman-temannya di sana.
Sugeng meninggalkan dua orang anak dan satu istri. Semuanya ada di Wonogiri, Jawa Tengah. Anak pertama duduk di bangku SD kelas dua. Anak terakhirnya masih berusia tiga tahun. Orang tua dan kerabat Sugeng lebih banyak tinggal di Jakarta. Keluarga istrinya ada di Wonogiri. Selain karena persoalan ekonomi, anak pertamanya yang perempuan mengalami pelecehan seksual sekitar 2 tahun lalu, menjadi penyebab anak-anak dan istrinya dipindahkan ke kampung halamann di Wonogiri. Sugeng meninggal jauh dari anak dan istrinya.
Rasa solidaritas sesama tukang ojek membuat Gondrong dan teman-temannya juga mencari tahu penyebab kematian Sugeng. Mereka pun ikut mengantarkan jenazah ke liang lahat pada pagi ini sekitar pukul 09.30 WIB. Semua mereka faham, hidup di Jakarta keras. Secara ekonomi, tukang ojek-tukang ojek ini hidupnya pas-pasan. Solidaritas sesama telah menguatkan semangat mereka untuk hidup "menantang" Jakarta. Selamat jalan Sugeng, semoga damai di alam sana.
Orang Bengkulu asli, terutama di kota Bengkulu, memiliki filosopi hidup yang unik. Sederhana tapi juga menarik, serta mengandung pandangan hidup yang dalam. Beginilah bunyinya:
Ikan sejerek
Bere secupak
Rokok Gudang Garam sebatang
Madar...
Ikan sejerekmaksudnya adalah ikan hasil tangkapan (biasanya memancing di sungai, rawa, atau di laut), diikat dengan tali wi (rotan) yang masih kecil (seukuran lidi kelapa). Ikan pertama diikat dengan salah satu ujung wi dari lubang insang dan keluar dari mulutnya. Ikan-ikan lainnya disusun dengan cara memasukkan ujung wi satu lagi dari lubang insang menembus ke mulutnya. Lalu sejerek ikan itu terlihat susunan ikan yang dibawa dengan seutas tali wi. Jerek ini sebenarnya tidak hanya menggunakan wi, namun bisa juga dengan sebuah lidinau (aren), dahan kecil semak-semak yang ditemui atau lainnya yang bisa menjerek ikan.
Bere adalah beras. Huruf epertama diucapkan seperti melafazkan kata "belajar" atau "senjata". Huruf ekedua berbunyi seperti kita mengucapkan kata "ekologi" atau "pepes".
Cupak adalah ukuran yang setara dengan satu setengah liter. Secupak berarti satu setengah liter.
Dahulu, Gudang Garam merupakan salah satu merek dagang rokok yang diakrabi oleh kelompok masyarakat yang perokok. Untuk itulah ia menjadi salah satu merek yang diinginkan untuk dinikmati oleh kelompok masyarakat itu.
Madarberarti istirahat. Dalam bahasa Kaur atau Bintuhan berarti tulik. Atau tidur. Tapi madarini memiliki makna beristirahat, melepas lelah, namun betul-betul melepaskan beban hidup setelah seharian menjalani dan menikmati.
Bagi saya, filosopi hidup ini menggambarkan kesederhanaan orang Bengkulu dalam menjalani hidup. Hidup selalu mengambil segala sesuatu dari alam secukupnya, tidak melebihi dari ukuran yang menjadi kebutuhan. Ikan sejerek menggambarkan orang mengambil kekayaan alam berupa ikan hanya sekedar untuk makan sekeluarga. Sejerek ikan jamak hanya sekitar lima sampai belasan ikan ukuran sedang (tak lebih besar dari telapak tangan orang dewasa).
Untuk ukuran keluarga batih, bere secupak cukup untuk makan dua tiga hari. Maka bere sebanyak itu cukuplah untuk menjalani hidup.
Bagi perokok, makna sebatang rokok bisa merupakan ungkapan bahwa dengan hanya merokok sebatang dalam sehari sudah terasa cukup. Tidak perlu menjadi perokok berat yang menghabiskan tidak kurang dari satu bungkus setiap harinya.
Setelah mendapatkan ikan sejerek, bere secupak, dan sebatang rokok, rasanya sudah cukup pencarian rezeki hari ini. Sehingga, selanjutnya adalah madar, beristirahat, atau memanfaatkan waktu untuk bercengkrama dengan orang di sekelilingnya.
Betapa sederhananya hidup. Tidak perlu ngotot bekerja membanting tulang mati-matian serta mengeksploitasi kekayaan alam tanpa henti dan tanpa hati nurani, namun demikian hidup ini bisa begitu indah dijalani. Apa yang diperoleh segera dinikmati. Jika memang ada lebihnya, maka itu bisa disimpan untuk beberapa hari kedepan. Dengan demikian pengelolaan penghasilan juga ada, memisahkan yang untuk dinikmati hari ini serta ada pula yang perlu disimpan (saving ). Tidak ada perilaku eksploitatif di dalamnya. Tidak pula ada keserakahan. Sangat sederhana bukan?
Mungkin sebagian besar orang akan menilai orang Bengkulu yang masih memegang filosofi hidup di atas adalah manusia-manusia primitif. Bertentangan dengan kehidupan orang moderen yang serba akumulatif dalam pencapaian (terutama dalam materi), selalu memacu percepatan, serta habiskan yang ada kalau perlu sampai tandas. Persaingan adalah satu sumber energi yang luar biasa dalam upaya memperoleh sebanyak-banyaknya. Tidak peduli kanan kiri, yang ada hanya memikirkan diri sendiri. Tak ada waktu untuk membangun relasi secara lebih intim, yang ada adalah relasi kepentingan dimana orang selalu politis dalam mengembangkan pergaulan terutama untuk kepentingan ekonomi.
Wajar saja ketika angka tekanan hidup (stres) masyarakat yang disebut moderen jauh lebih tinggi daripada mereka yang dinilai berada pada arah pendulum mendekati primitif. Masyarakat moderen terasosiasikan pada kota dan masyarakat primitif terasosiasikan pada masyarakat desa. Sayangnya,keserakahan orang kota dan moderen itu telah menimbulkan dampak buruk pula pada masyarakat primitif dan desa. Pembangunan vila-vila di pegunungan telah menyebabkan banjir dan longsor, kebijakan menekan harga beras di pasaran untuk orang kota telah menyebabkan petani tak mampu memetik keuntungan bertani karena harga produksi lebih tinggi daripada harga jual, ataupun gaya hidup orang kota yang dipaksa ditiru oleh orang-orang desa lewat tayangan-tayangan televisi yang menyerbu dari ruang-ruang keluarga.
Ah... filosofi hidup itu, masih adakah yang kukuh teguh menjalankannya?
Keterangan:
Orang Bengkulu kota, terutama di pesisir pantai, mengucapkan hurup r dengan sumber suara dari pangkal tenggorokan. Orang-orang di sini menyebutnya r berkarat. Untuk lebih jelasnya, silahkan unduh (download) file contoh lafalnya disini.
Saat ini, di Aya' Langkap, Kabupaten Kaur, masyarakat sedang memanen padi. Saya teringat orang Bengkulu memiliki satuan tersendiri dalam mengukur jumlah padi/gabah dan beras hasil panen. Sebenarnya tidak hanya itu, satuan ini juga dipakai untuk mengukur ketan, cengkeh, kacang hijau dan lainnya. Satuan itu adalah:
- Canting
- Cupak
- Kulak
- Kaleng
Cantingadalah ukuran yang dipakai dengan menggunakan alat berupa kaleng susu kental Indo***k atau susu B*nd**a yang paling kecil. Setelah susu kental di dalamnya habis, lalu kaleng dicuci bersih serta kertas yang menjadi kulit tempat merek dagang beserta keterangan lainnya itu dilepas. Akhirnya, ia menjadi sebuah canting, berupa kaleng kecil berwarna putih dimana salah satu tutup kaleng (berbentuk lingkaran) yang semula dilubangi untuk menuang susu telah dilepas bersih.
Satu Cupaksetara dengan satu setengah liter. Ukuran satu Kulak sama dengan dua Cupak. Alat yang digunakan untuk mengukur Cupak sama seperti Liter yang kita dapati di kios atau pasar yang menjual beras, ketan ataupun kacang hijau di berbagai daerah di Indonesia. Alat ukur Kulakdua kali lebih besar dengan liter. Kedua alat ukur ini biasanya terbuat dari logam besi.
Kalengmerupakan alat ukur yang menggunakan kaleng cat kapur. Di dusun-dusun beberapa daerah di Indonesia cat kapur merupakan cat murah untuk memutihkan pagar-pagar dari bilah bambu atau tembok-tembok. Kaleng ini menjadi alat ukur sendiri bagi orang Bengkulu.
Perbandingan dari alat-alat ukur itu adalah sebagai berikut:
1 canting
1 cupak = 6 canting
1 kulak = 2 cupak = 12 canting
1 kaleng = 5 kulak = 10 cupak = 60 canting
Kemarin saya mengonfirmasi ukuran-ukuran di atas pada saudara saya Amrul Hamidi di Bengkulu. Terus terang saya belum membuktikan sendiri ukuran-ukuran ini apakah sesuai dengan perbandingan di atas. Namun sejak kecil saya akrab dengan satuan-satuan ukur itu. Anda sedang di Bengkulu? Setelah membaca artikel ini, tidak ada salahnya Anda membuktikan sendiri kebenaran perbandingan ukuran-ukuran itu.
Read More......
Pagi ini saya membaca satu posting di milis Ida Arimurti and friends tentang daftar hitam (black list) taksi dari Polda Metro Jaya. Saya pikir teman-teman di Jakarta perlu memperhatikan informasi ini.
BLACK LISTED TAXI dari POLDA METRO JAYA
Modus Baru Penculikan dalam TAXI !
Rekan-rekan semua (terutama yg berada di Jakarta), perlu diketahui dan diwaspadai bahwa kejahatan dalam Taxi kambuh lagi. Untuk itu bagi anda kaum hawa yang sering pulang malam agar berhati-hatilah....
Cuplikan Berita :
Seorang perempuan (Business Centre Manager-nya Hotel Regent) baru saja diculik, ketika naik taksi QUEEN jam 5 sore dari depan Hotel Regent. Ternyata taksi tsb sudah diikuti oleh sebuah mobil berisi 4 orang lelaki.
Sampai di dekat tugu 66 (yang sedang macet pada saat itu) dua orang masuk dari pintu belakang kanan-kiri, satu orang dipintu depan, satunya lagi stay di mobil mengikuti taksi dari belakang. Sebelum sempat teriak, perempuan itu sudah direbahkan di bawah kursi belakang, meringkuk dan diinjak oleh 2 lelaki. Mereka mengancam akan membunuh bila berusaha cari pertolongan. Seluruh barang berharga diambil, lalu mereka berputar-putar 3-4 jam mencari lokasi ATM yang sepi agar dapat menguras isi tabungan dengan leluasa.
Setelah mendapatkan uang mereka pergi ke arah Pluit untuk membuang perempuan itu di jalan tol yang sepi dan menusuk kakinya sebelum dia dilemparkan ke jalan. Perempuan tsb merangkak beberapa ratus meter dikegelapan, berusaha menyetop kendaraan yang lewat dan mencapai gerbang tol. Sekarang dia sudah sehat lahir dan bathin, tapi saya yakin butuh waktu lama untuk mengobati trauma itu. Well girls... you have to be more careful from now on (especially in the evening).
BLACK LISTED TAXI (sumber data : Polda Metro Jaya) :
1. KOTAS (abis merampok sering masih suka memperkosa korbannya)
2. STEADY SAFE
3. PRESTASI
4. DIAN
5. ROYALCITY
6. QUEEN (yg baru saja terjadi).
7. GOLDEN TAXI (supirnya suka menipu & memeras penumpang)
Read More......
Apa yang Anda dapatkan ketika betul-betul telah memiliki apa yang selama ini Anda idam-idamkan? Buat saya pribadi, justru setelah saya memilikinya, saya malah merasa hal itu biasa-biasa saja. Saya merasa ingin memiliki sesuatu karena menganggapnya luar biasa dan saya belum mendapatkannya saat itu juga. Namun setelah saya memiliki, segala yang ada pada hal itu hanyalah biasa. Tidak lebih.
Secara ekonomi misalnya, Safir Senduk yang konsultan keuangan keluarga itu mengatakan, "belilah sesuatu itu karena kebutuhan, bukan karena keinginan." Dengan demikian, kita menjadi bijak secara ekonomi. Lain hal lagi, ada pula seorang laki-laki secara luar biasa mengagumi seorang perempuan. Ia terlanjur jatuh cinta, lalu mencintai dengan sepenuh hati, bahkan apapun akan ia lakukan untuk mendapatkan sang pujaan hati. Tapi pada akhirnya ia tahu bahwa perempuan yang terlanjur lekat dalam hati sanubari ternyata telah memiliki suami. Apa yang terjadi?
Wandi, teman saya di Yayasan Air Putih, dalam satu workshop ICT mengingatkan bahwa kita sebaiknya menggunakan teknologi sesuai dengan kebutuhan. Seorang teman lama yang sempat bekerja dalam satu lembaga dengan saya, suatu kali pernah menanyakan Laptop seperti apa yang bagus. Ia ingin membeli yang katanya "canggih". Saya menjawab sama seperti teman saya yang penjual komputer rakitan ketika menjawab pertanyaan yang sama dari orang lain: "untuk apa laptop itu kamu miliki?, Untuk pekerjaan apa saja? Desain grafis, game, olah video, atau sekedar mengetik pekerjaan-pekerjaan kantor?".
Banyak sekali cerita tentang orang-orang di Nusantara ini yang menghabiskan uang jutaan hingga milyaran rupiah hanya untuk pesta, entah pesta ulang tahun, perkawinan, atau sekedar pesta perpisahan. Sementara, nun jauh di pelosok sana, atau menyempil di sela-sela gedung pencakar lagit Jakarta masih banyak orang-orang lapar terpaksa makan nasi "sampah" atau bahkan mati kelaparan. Sungguh, keingian untuk dianggap luar biasa telah membutakan hati pada kehidupan lain di luar diri sendiri.
Jika orang-orang tidak terlalu berpikir tentang kejayaan diri yang bersumber pada akumulasi materi, niscaya kerusakan hutan-hutan, kekacauan tata ruang kota yang menyebabkan banjir, kehebohan mobil mewah yang surat-suratnya palsu, atau kelaparan nun di pelosok negeri tidak akan pernah terjadi.
Keinginan tanpa terkendali selalu berujung pada kezaliman pada sesama, baik langsung maupun tidak langsung. Keinginan seringkali tidak hanya merugikan diri sendiri, tetapi juga merugikan orang lain. Oh... benar nian kata orang-orang bijak yang dikutip Iwan Fals dalam lagunya: Keinginan adalah sumber penderitaan.

Tadi siang saya membaca salah satu posting di milis Jurnaslisme. Isinya mengenai Kapolda Jabar yang menertibkan aparat polisi di bawah jajaran Kepolisian Jawa Barat untuk tidak melakukan Korupsi. Saya tertarik untuk menanggapi hal ini dengan menceritkan pengalaman saya di kantor Polisi dan Samsat Kabupaten Bogor, tempat dimana saya bermukim saat ini.
Pada 8 Februari lalu saya ke Samsat Kabupaten Bogor di Cibinong untuk membayar pajak sepeda motor. Namun sebelumnya, pada hari yang sama, saya menemani seorang teman yang hendak membuat SIM di kantor polisi Cibinong.
Sepanjang perjalanan, teman saya ini menceritakan bahwa ia sudah menyiapkan uang sejumalh 250rb untuk SIM. Tarif dari polisi yang mengurus dan calonya memang segitu. Namun setibanya di kantor polisi, ternyata orang-orang mengantri untuk membuat SIM banyak sekali. Mereka dikejutkan oleh kebijakan baru bahwa harus mengikuti prosedur tes sampai selesai untuk memperoleh SIM. Tidak ada sogok menyogok dan tidak ada calo. Dari awal hingga akhir proses, kalau lulus, maka uang yang dikeluarkan sejumlah 75rb perak. Saya sangat puas mendengar berita ini dari salah seorang yang ada di kantor polisi itu.
Ada banyak yang tidak lulus tes praktik, termasuk teman saya. Mereka diminta untuk kembali lagi 1-2 minggu setelahnya. Namun karena telah mengikuti tes kesehatan, mereka sudah membayar uang sejumlah 15 ribu untuk tes itu. Tidak lebih.
Saya sendiri sedari awal memang tidak ingin membuat SIM karena memang tidak suka dengan percaloan serta urusan yang dipersulit yang selama ini saya dengar dan beberapa kerabat alami. Hingga sekarang saya tidak memiliki SIM. Ketika tahu ada ketegasan dari Polisi Jabar untuk tidak melakukan pungli, saya agak menyesal pula kenapa tidak sekalian ikut mendaftar ambil SIM. Antrian yang begitu panjang, serta harus membayar pajak motor di kantor Samsat yang berseberangan dengan kantor polisi itu, akhirnya saya memutuskan untuk membayar pajak dulu saja, sebab hari itu merupakan batas jatuh tempo saya harus membayar.
Setibanya di Samsat, antrian juga membludak. Namun saat di tempat parkir, ternyata di sana masih ada satu dua calo yang menawarkan jasanya. Masih ada pula orang yang menggunakan jasa mereka. Saya ikuti prosedur, hingga selesai. Sama-sama antri, dan sama-sama merasakan mengikuti "jalan yang benar".
Pada siang hari, usai shalat Jumat, saya kembali mengantri menunggu nama saya dipanggil untuk mengambil STNK karena pajak telah saya bayarkan. Di loket pengambilan STNK itu, ternyata polisi berseragam bergerombol sibuk melayani masyarakat yang tidak ikut prosedur. Polisi itu ternyata mengurusi pembayaran pajak baik dari calo maupun masyarakat yang datang pada mereka tanpa melalui loket-loket yang disediakan. Saya kesal luar biasa. Ternyata tetap saja ada praktik tidak menyenangkan ini. Karena polisi sibuk mengurusi pembayaran pajak secara liar, saya dan orang-orang yang menunggu panggilan tidak dilayani dengan alasan STNK yang mau diberikan belum ada. Lah, gimana mau ada kalau bagian loket pembayaran pajak dan polisi yang menyerahkan STNK yang sudah jadi itu malah sibuk melayani orderan liar masyarakat yang budaya disiplinnya sangat buruk itu.
Aparat polisi "nakal" dan masyarakat tak berkesadaran sama-sama merusak tatanan. Kebijakan Kapolda itu lambat laun akan seperti anget-anget tai ayam saja kalau masih ada aparat yang mau disuap dan masyarakat yang masih saja tidak memedulikan pentingnya prosedur yang harus ditaati oleh semua orang. Kekacauan-kekacauan itu merupakan tanggung jawab kita bersama, dan membutuhkan kedisiplinan dari diri kita sendiri untuk memperbaiki.
-----------------------------------
Jangan Pernah Setori Saya
Pikiran Rakyat, 10 Februari 2008
“RABU (30/1) lalu, Kapolda Jabar Irjen Pol. Drs. Susno Duadji, S.H., M.Sc., mengumpulkan seluruh perwira di Satuan Lalu Lintas mulai tingkat polres hingga polda. Para perwira Satlantas itu datang ke Mapolda Jabar sejak pagi karena diperintahkan demikian. Pertemuan itu baru dimulai pukul 16.00 WIB.
Dalam rapat itu, kapolda hanya berbicara tidak lebih dari 10 menit. Meski dilontarkan dengan santai, tetapi isi perintahnya "galak" dan "menyentak". Saking "galaknya", anggota Satlantas harus ditanya dua kali tentang kesiapan mereka menjalani perintah tersebut.
Isi perintah itu ialah tidak ada lagi pungli di Satlantas, baik di lapangan (tilang) maupun di kantor (pelayanan SIM, STNK, BPKB, dan lainnya). "Tidak perlu ada lagi setoran-setoran. Tidak perlu ingin kaya. Dari gaji sudah cukup. Kalau ingin kaya jangan jadi polisi, tetapi pengusaha. Ingat, kita ini pelayan masyarakat. Bukan sebaliknya, malah ingin dilayani," tutur pria kelahiran Pagaralam, Sumatera Selatan itu.
Pada akhir acara, seluruh perwira Satlantas yang hadir, mulai dari pangkat AKP hingga Kombespol, diminta menandatangani pakta kesepakatan bersama. Isi kesepakatan itu pada intinya ialah meningkatkan pelayanan kepada masyarakat yang tepat waktu, tepat mutu, dan tepat biaya. Susno memberi waktu tujuh hari bagi anggotanya untuk berbenah, menyiapkan, dan membersihkan diri dari pungli. "Kalau minggu depan masih ada yang nakal, saatnya main copot-copotan jabatan," kata suami dari Ny. Herawati itu.
Pernyataan Susno itu menyiratkan, selama ini ada praktik pungli di lingkungan kepolisian. Hasil pungli, secara terorganisasi, mengalir ke pimpinan teratas. Genderang perang melawan pungli yang ditabuh Susno tidak lepas dari perjalanan hidupnya sejak lahir hingga menjabat Wakil Kepala PPATK (Pusat Pelaporan Analisis dan Transaksi Keuangan). PPATK adalah sebuah lembaga yang bekerja sama dengan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) menggiring para koruptor ke jeruji besi.
Berikut petikan wawancara wartawan "PR" Satrya Graha dan Dedy Suhaeri dengan pria yang telah berkeliling ke-90 negara lebih untuk belajar menguak korupsi.
Apa yang membuat Anda begitu antusias memberantas pungli atau korupsi?
Saya anak ke-2 dari 8 bersaudara. Ayah saya, Pak Duadji, bekerja sebagai seorang supir. Ibu saya, Siti Amah pedagang kecil-kecilan. Terbayang kan betapa sulitnya membiayai 8 anak dengan penghasilan yang pas-pasan. Oleh karena itu, saat lulus SMA saya memilih ke Akpol karena gratis. Nah, waktu sekolah, kira-kira SMP, saya punya banyak teman. Beberapa di antaranya dari kalangan orang kaya, seperti anak pejabat. Sepertinya, enak sekali mereka ya, bisa beli ini-itu dari uang rakyat. Sejak itulah, terpatri di benak saya, ada yang tidak benar di negara ini dengan kemakmuran yang dimiliki oleh para pejabat. Maka, saya sangat bersyukur bisa berperan memberantas korupsi saat mengabdi di PPATK. Itulah tugas saya yang paling berkesan selama ini karena bisa menjebloskan menteri, mantan menteri, dan direktur BUMN, yang memakan uang rakyat. Ada kepuasan batin.
Pengalaman di PPATK itukah yang membuat Anda menabuh genderang perang melawan pungli saat masuk ke Polda Jabar?
Seperti itulah. Akan tetapi, harusnya diubah, bukan pungli. Kalau pungli, terkesan perbuatan itu ketercelaannya kecil. Yang benar adalah korupsi. Pungli adalah korupsi. Mengapa korupsi yang saya usung? Karena sejak zaman Majapahit dulu, korupsi itu salah. Apalagi, jika aparat hukum yang korup. Bagaimana kita, sebagai aparat hukum, bisa memberantas korupsi kalau kitanya sendiri korupsi.
Oleh karena itu, sebagai tahap awal, saya "bersihkan" dulu di dalam, baru membersihkan yang di luar. Bagaimana saya mau menangkap bupati, direktur, dan lain-lain kalau di dalamnya belum bersih dari korupsi. Kalau aparatnya korupsi, tamatlah republik ini. Tahap awalnya biasa saja. Umumkan, lalu periksa ke atasan tertingginya, yaitu saya, selanjutnya keluarga saya. Setelah itu pejabat-pejabat di Polda. Baru kemudian ke kapolwil, kapolres, dan seterusnya. Kenapa harus dimulai dari saya. Karena saya pimpinan tertinggi di Polda Jabar ini. Ingat, memberantas korupsi bukan dimulai dari polisi yang bertugas di jalan raya. Kalau di pemerintah, bukan dari tukang ketik, atau petugas kecamatan yang melayani pembuatan akte kelahiran. Akan tetapi, dimulai dari pimpinan tertinggi di kantor itu.
Artinya, saya sebagai pimpinan jangan korupsi. Bentuknya macam-macam, seperti mendapat setoran dari bawahan, setoran dari pengusaha-pengusaha, mengambil jatah bensin bawahan, atau mengambil anggaran anggota saya. Oleh karena itu, saya tidak akan minta duit dari dirlantas, direskrim, atau kapolwil. Tidak juga mengambil anggaran mereka, atau uang bensin mereka.
Jadi, kalau di provinsi, misalnya, ada korupsi, yang salah bukan karyawannya, tetapi gubernurnya. Memberantasnya bagaimana?
Mudah saja. Tinggal copot saja orang tertinggi di instansi itu.
Untuk program "bersih-bersih" itu, kira-kira Anda punya target sampai kapan?
Secepatnya. Ya, dua-tiga bulan. Kalau tidak segera, bagaimana kita menunjukkan kinerja kepada rakyat. Kita tidak perlu malu dan takut nama kita jatuh kalau bersih-bersih dari korupsi di dalam. Kita tidak akan jatuh merek dengan menangkap seorang kolonel polisi atau polisi berbintang yang korupsi. Kalau perlu, tulis gede-gede itu di koran. Dan, anggota saya yang ketahuan korupsi, akan saya pecat. Jika memang saya harus kehabisan anggota saya di Polda Jabar karena semuanya saya pecat gara-gara korupsi, kenapa tidak. Apa yang harus ditakutkan. Saya yakin, rakyat pasti senang kalau polisi bebas dari korupsi. Polisi itu bukan milik saya, tetapi milik rakyat. Saya justru merasa lebih tidak terhormat kalau memimpin kesatuan yang anggotanya banyak korupsi.
Berbicara soal penanganan kasus korupsi. Betulkah mengusut kasus korupsi bagaikan mengurai benang kusut. Pasalnya, para penyidik tipikor Polda Jabar mengaku kesulitan mengungkap kasus korupsi dengan alasan perlu kajian yang mendalam atas bukti-bukti sehingga memakan waktu lama?
Hahaha.... (Susno tertawa lepas). Mengusut kasus korupsi itu jauh lebih mudah ketimbang mengusut kasus pencurian jemuran. Mengungkap kasus pencurian jemuran perlu polisi yang pintar karena banyak kemungkinan pelakunya, seperti orang yang iseng, orang yang lewat, dan beberapa kemungkinan lainnya. Kalau kasus korupsi, tidak perlu polisi yang pintar-pintar amat. Misal, uang anggaran sebuah dinas ada yang tidak sesuai. Tinggal dicari ke mana uangnya lari. Orang-orang yang terlibat juga mudah ditebak. Korupsi itu paling melibatkan bosnya, bagian keuangan, kepala projek, dan rekanan. Itu saja. Jadi, kata siapa sulit? Sulit dari mananya. Tidak ada yang sulit dalam memberantas korupsi. Kuncinya hanya satu, kemauan yang kuat. Harus diakui, itu (memberantas korupsi) memang susah karena korupsi itu nikmat. Apalagi, saat memegang sebuah jabatan.
Contohnya saja posisi kapolda. Siapa sih yang tidak mau jadi kapolda. Ibaratnya, tinggal batuk, apa yang kita inginkan langsung datang. Pertanyaannya, mau atau tidak terjerumus di dalamnya (korupsi). Kalau saya, jelas tidak. Itu hanya kenikmatan duniawi sesaat saja. Untuk apa sih duit banyak-banyak hingga tidak habis tujuh turunan. Gaji saya saja sekarang sudah besar. Mobil dikasih. Bensin gratis. Ada uang tunjangan ini-itu. Sudah lebih dari cukup. Anak-anak saya juga sudah kerja semua. Bahkan, gajinya lebih besar dari saya.
Lalu, langkah apa yang akan Anda buat agar Polda Jabar giat mengungkap kasus
korupsi?
Seperti saya katakan tadi, bersih-bersih dulu di dalam. Jika sudah bersih di dalam, baru membersihkan di luar. Dan kasus korupsi akan menjadi salah satu target kami. Kami akan genjot pengungkapan kasus korupsi biar Jabar bergetar. Untuk itu, kami akan berkoordinasi dengan PPATK untuk mengusut kasus-kasus korupsi di Jabar yang melibatkan pejabat publik. PPATK pasti mau membantu asalkan anggota saya bersih dan bisa dipercaya. Kita juga bisa diberi kasus-kasus. Kalau tidak bersih dan tetap "bermain" bagaimana bisa dipercaya. Kalau orang sudah percaya sama kita, maka banyak kasus yang masuk.
Akan tetapi, bukan karena basic saya di korupsi sehingga korupsi digenjot. Kasus lainnya juga dikerjakan. Dan, untuk itu harus tertib administrasi,salah satunya dengan membuat sistem pelaporan perkara berbasis IT yang terintegrasi dari polsek hingga ke polda. Untuk apa? Agar kita tahu setiap ada perkara yang masuk. Jadi, alangkah bodohnya seorang kapolda jika tidak mengetahui jumlah perkara di jajarannya. Kalau jumlahnya saja tidak tahu, bagaimana tahu isi perkaranya. Dalam sistem pelaporan perkara tersebut, nantinya ada klasifikasi perkara. Perkara mana yang porsinya polda, polwil, polres, dan polsek. Untuk polda, misalnya kasus teror dan korupsi. Soal lapor boleh di mana saja.
Kita juga harus mempertanggungjawabkan hal itu ke pelapor dengan mengirim surat kepada pelapor bahwa kasusnya ditangani oleh penyidik ini, ini, dan ini. Kemajuannya dilaporkan secara berkala. Ini akan menjadi standar penilaian untuk penyidik. Dan kapolda mengetahui semua ini karena sistemnya ada sehingga tidak pabaliut. Saya paling tidak suka yang pabaliut-pabaliut.
Mungkin, bagi sebagian orang, pabaliut itu enak karena sesuatu yang tidak tertib administrasi itu paling enak untuk diselewengkan. Benar tidak?
Langkah Anda memberantas pungli dan korupsi di tubuh Polda Jabar kemungkinan akan memberi efek pada pengungkapan kasus dengan alasan anggaran yang minim. Menurut Anda?
Kalau kita pandang minim, pasti minim terus. Kapan cukupnya. Kalau anggaran sudah habis, jangan dipaksakan memeras orang untuk menyidik. Mencari klien yang kehilangan barang di sini, memeras di tempat lain. Siapa yang suruh? Bilang saja sama rakyat, anggaran kita sudah habis untuk menyidik. Kita tidak perlu sok pahlawan.
Perilaku memeras atau menerima setoran itu zaman jahiliah. Tidak perlu ada lagi anggota setor ke kasat lantas atau kasat serse, lalu kasat serse setor ke kapolres, dan kapolres setor ke kapolwil untuk melayani kapolda. Jangan pernah setori saya. Lingkaran setan itu saya putus agar tidak ada lagi sistem setoran.
Bukan zamannya lagi seorang kapolsek, kapolres atau kapolwil bangga karena mampu membangun kantornya dengan megah. Dari mana duitnya kalau bukan dari setoran orang-orang yang takut ditangkap, seperti pengusaha judi, dan penyelundupan. Tidak mungkin dari gaji, wong gajinya hanya Rp 5-6 juta. Menurut saya, anggota yang melakukan itu hanya satu alasannya, ingin kaya. Kalau ingin kaya, jangan jadi polisi, tetapi jadilah pengusaha.
Sikap Anda tersebut kemungkinan memunculkan pro dan kontra di lingkungan kepolisian?
Lho, kenapa harus jadi pro dan kontra. Peraturannya sudah jelas mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh. Korupsi jelas-jelas dilarang dan ancamannya bisa dipecat. Jadi, tidak perlu diperdebatkan. Titik.
Bagi saya, siapa yang menjadi pemimpin harus mau mengorbankan kenikmatan dan kepuasan semu. Nikmat dengan pelayanan, dengan sanjungan, serta nikmat dengan pujian palsu. Malu dong bintang dua jalan petantang-petenteng, tetapi anak buah yang dipimpinnya korupsi dan memberikan pelayanan tidak sesuai dengan standar. Malu juga dong kita lewat seenaknya pakai nguing-nguing (pengawalan), sementara rakyat macet. Itu juga korupsi.
Polisi yang korup sama saja dengan melacurkan diri. Jadi, kalau saya korup dengan menerima setoran-setoran tidak jelas, apa bedanya saya dengan pelacur.