
Pertemuan rutin bulanan RT kami, kali ini, berlangsung pada Sabtu malam, 2 Februari lalu. Pertemuan rutin ini memang berlangsung setiap minggu pertama dan waktunya pada malam minggu. Hanya sebulan sekali, untuk bertemu dengan sesama warga se-RT, sekaligus arisan. Demikian pula dengan ibu-ibu penghuni RT ini. Hanya saja, kalau ibu-ibu biasa melaksanakannya pada sore hari. Bapak-bapak arisan, ibu-ibu pun demikian.
Salah satu pembicaraan pertemuan Sabtu lalu adalah tentang pemberian nama jalan di RT kami. Perumahan tempat dimana kami tinggal memang merupakan satu komplek yang jalan utamanya mengitari pinggiran komplek. Ada pula jalan-jalan yang membelah kawasan tempat tinggal kami. Jadi, seperti sebuah persegi empat dimana di tengah-tengahnya terdapat garis-garis yang membentuk persegi empat kecil-kecil. Satu RT biasanya merupakan rumah-rumah tinggal yang saling berhadapan di sebuah jalan yang membelah itu. Untuk rumah-rumah yang berada di pinggir, yang merupakan jalan utama dan dilalui oleh angkot, biasanya satu RT terdiri dari rumah-rumah yang ada di sepanjang ruas jalan itu. Posisi rumah sejajar menghadap ke jalan, dan tidak berhadap-hadapan seperti rumah-rumah yang berada di tengah komplek.
Pada pertemuan beberapa malam lalu itu, kami membicarakan kemungkinan pemberian nama untuk setiap jalan-jalan di tempat tinggal kami. Pemberian nama ini tidak cukup ditentukan oleh satu RT (yang memiliki satu jalan) namun perlu juga dimusyawarahkan dengan RT-RT lainnya. Hal ini agar dalam satu kelompok perumahan ini memiliki konsistensi dalam pemberian nama jalan. Misalnya, kalau memang nama itu mengambil dari jenis burung, maka jalan-jalan yang berdekatan dengannya dan bisa dikelompokkan, hendaknya menggunakan nama-nama burung pula. Dampaknya akan terasa pada orang-orang yang mencari alamat rumah warga di komplek, sehingga ketika bertanya pada salah satu warga jalan yang ingin dicarinya, maka warga yang ditanya akan faham di mana letak jalan-jalan yang menggunakan nama burung, misalnya. Untuk membicarakan hal ini dengan RT-RT lain, maka kami mengusulkan ini menjadi agenda pembahasan pada pertemuan rutin di tingkat RW yang dihadiri oleh masing-masing Ketua RT.
Di bagian tengah arah ke utara komplek, jalan-jalannya sudah menggunakan nama yang konsisten yang mengelompokkan mereka dalam satu kawasan menggunakan nama-nama teluk yang ada di lautan Indonesia. Misalnya saja ada Teluk Tomini dan Teluk Bone. Juga ada yang menggunakan nama-nama ikan. Namun berbeda dengan tempat tinggal di RT kami dan sekitarnya, sampai saat ini masih menggunakan nama berupa blok rumah. Rumah tinggal saya menggunakan nama blok CC.10, dan rumah di hadapannya menggunakan nama blok CC.11. Demikianlah blok CC itu adanya, dari blok CC.1 hingga sampai blok CC.14 dan CC.15 yang saling berhadapan. Sampai sekarang, saya sendiri belum mengetahui CC itu singkatan dari apa.
Jika kelak nama jalan itu diberikan, maka blok yang diberi nama CC itu tidak akan dihilangkan. Selama komplek perumahan ada, hingga sekarang, blok itu telah lebih dulu dikenal, bahkan oleh sopir angkot atau petugas pos dan jasa pengiriman barang yang sering lewat di sana. Jadi, pada penamaan alamat akan tertera Jalan bla bla bla, Blok CC.X, No.X.
Memusyawahkan pemberian nama jalan pada pertemuan RT itu, mengingatkan saya pada penunjuk jalan di kasongan yang unik. Jika umumnya di sudut-sudut persimpangan jalan tertulis nama jalan bla bla bla, maka di Kasongan, desa wisata pengrajin tembikar dan keramik di Kabupaten Bantul, Yogyakarta, justru yang tertulis adalah nama pemilik rumah. Di papan yang mengarahkan tanda panah ke jalan tertentu tertulis nama-nama pemilik rumah di sana. Mungkin untuk menunjukkan bahwa rumah Pak Satijo ada di sebelah sana, rumah Pak Marjo di sebelah situ dan seterusnya. Juga, mungkin setiap nama-nama itu memiliki pelanggannya sendiri-sendiri yang mencari hasil kerajinan khas buatan orang tertentu. Lagi pula menurut saya, ini bisa diterapkan kalau rumah penduduk tidak banyak. Kalau penduduknya di satu jalan mencapai jumlah 50 rumah atau lebih seperti di kota-kota, akan susah untuk menuliskan nama-nama penduduknya di penunjuk jalan tersebut.
Foto di atas saya ambil ketika sedang berlibur ke Yogyakarta akhir tahun lalu.
Sembari menyelesaikan pekerjaan kantor, tadi siang saya sempatkan mendengarkan acara Indonesia Siesta di radio Delta FM Jakarta dari ponsel. Kali ini acara Siesta mendiskusikan tentang pengelolaan sampah yang dilakukan oleh Sudarno, seorang penerima penghargaan Kalpataru 2007. Diskusi pengalaman Pak Darno sangat menarik bagi saya. Ia berjuang untuk mengatasi masalah sampah-sampah di kota. Kalau tentang pengelolaan sampah sudah sering kita dengar, tapi bapak satu ini juga melakukan penelitian untuk mengambil sebanyak mungkin manfaat dari sampah yang ada, serta mengajak masyarakat untuk melakukannya.
Sudarno yang seorang PNS, gemar melakuan eksperimen pemanfaatan sampah. Pada saat mengawali upaya untuk mengolah sampah, ia dianggap gila oleh tetangganya. "Saya dianggap gila," begitu kenangnya tadi siang. Tapi dari kegilaannya itulah ia mampu menunjukkan kepada masyarakat bahwa sampah bisa memberikan manfaat. Mulai dari membuat cairan penghilang bau sampah dan bangkai, Batem (sejenis batako dan batu bata yang tengahnya diisi bermacam sampah), Air Lindi (air sampah yang sangat tidak sedap baunya) yang diolah dengan lumpur ajaib, dan lain sebagainya. Untuk mengetahui lebih lanjut, silahkan klik daftar link di bagian akhir tulisan ini.
Kata SAMPAH pun dijadikan akronim menarik oleh Sudarmo, yakni: Supaya Ada Manfaatnya Perlu Ada lima H. Lima H yang ia maksudkan adalah:
Secara ekonomi, hasil pengelolaan sampah bisa dalam bentuk uang. Untuk cairan MBS misalnya, Sudarno dikontrak oleh salah satu pabrik printer terkenal karena cairan hasil eksperimennya ini bisa dipakai untuk membersihkan catridge. Belum lagi hasil-hasil penemuan yang lain. Jadi, dari upayanya selama sekian waktu itu tak hanya menjadikan lingkungan bersih dari sampah-sampah, namun juga bisa menjadi sumber penghasilan bagi siapa saja yang mau melakukanya.
Sudarno mewanti-wanti masyarakat untuk tidak menggunakan kantong plastik sebagai wadah makanan. Selain memakan waktu ratusan tahun untuk bisa diurai oleh tanah, bahan plastik sangat berbahaya bagi tubuh kita. Saat terkena panas, plastik melepaskan gas dioksida yang dikandungnya. Untuk itu, air minum dalam kemasan yang sudah terkena sinar matahari langsung, bakso panas yang dibungkus plastik, atau makanan apapun akan menjadi tidak layak lagi untuk dikonsumsi.
Stereofoam baru bisa diurai oleh tanah setelah 400 tahun. Alumunium foil baru terurai setelah 200 tahun. Itu semua merupakan contoh betapa di sekeliling kita banyak bahan berbahaya bagi tubuh maupun alam yang sesungguhnya harus kita hindari.
Di sebuah pusat belanja di dekat tempat tinggal saya di kawasan Cibubur sekarang sudah ada himbauan untuk tidak menggunakan kantong plastik. Tinggal satu langkah lagi, saya menunggu pusat-pusat belanja yang ada tidak lagi menyediakan kantong plastik secara serentak, dan pembeli akan lebih menyukai membawa kantong kain dari rumah untuk menenteng barang belanjaannya.
Langkah Pak Sudarno bukanlah langkah yang sama sekali baru. Sudah banyak yang melakukannya. Tetapi melakukan eksperimentasi dan membagi hasil temuannya merupakan hal langka dilakukan oleh pendahulu-pendahulunya. Ia bahkan memulai langkahnya dengan menyisihkan sebagian gaji PNS yang ia terima setiap bulan untuk melakukan eksperimentasi pengelolaan sampah. Sekarang, dari hasil penemuannya, ia bisa memperoleh uang untuk terus menemukan hal-hal baru, sementara gaji dari kantor ia serahkan sepenuhnya pada sang istri tercinta.
Pak Sudarno senang berbagi pengalaman dan pengetahuannya, hingga ia tidak keberatan untuk memberikan nomor ponselnya kepada pendengar diskusi tadi siang. Bagi yang ingin, silahkan menghubunginya di nomor +62 812 173 6377.
Tulisan lain mengenai Pak Sudarno dan pengelolaan sampah yang ia lakukan, silahkan kunjungi (diantaranya) link berikut ini:
Inovasi Tiada Henti
Pengabdi Lingkungan 2007
Tak Lelah Bereksperimen Sampah
Rumah Bau Sampah
Beberapa hari terakhir ini saya sedang rajin mengunduh video dari Youtube dengan menggunakan program pengunduh Orbit. Saya mencari video klip untuk beberapa lagu kesukaan saya. Pagi ini saya berhasil mengunduh video klip lagu Free dari Lighthouse Family. Selama ini saya hanya mendengarkan lagu itu. Tetapi kali ini, setelah melihat video klipnya, rasanya di hati begitu terenyuh, mirisss...
Lagu ini mengingatkan saya pada lagu lama tahun 1991 yang dinyanyikan oleh Michael Jackson Heal the World. Keduanya sama-sama menyerukan perdamaian di dunia. Pada akhir video klip lagu Free terdapat satu kalimat yang masih lekat dalam ingatan ini: STOP KILLING AND START HELPING. Semoga saja kebebasan untuk menjalani kehidupan yang damai itu bisa dirasakan oleh semua orang di seluruh penjuru dunia.
Lirik lagu Free:
I wish I knew how it would feel to be free
I wish I could break all the chains holding me
I wish I could say all the things that I should say
Say 'em loud say 'em clear
For the whole wide world to hear
I wish I could share
All the love that's in my heart
Remove all the bars that keep us apart
And I wish you could know how feels to be me
Then you'd see and agree that every man should be free
I wish I could be like a bird in the sky
How sweet it would be if I found I could fly
Well I'd soar to the sun and look down at the sea
And I'd sing cos I know how it feels to be free
I wish I knew how it would feel to be free
I wish I could break all the chains holding me
And I wish I could say all the things that I wanna say
Say 'em loud say 'em clear
For the whole wide world to hear
Say 'em loud say 'em clear
For the whole wide world to hear
Say 'em loud say 'em clear
For the whole wide world to hear
One love one blood
One life you've got to do what you should
One life with each other
Sisters, brothers
One love but we're not the same
We got to carry each other Carry each other
One One One One One...
I wish I knew how it would feel to be free
I wish I knew how it would feel to be free
Read More......
Ketika mendaftar untuk membuat akun beberapa imel dan layanan online lainnya, saya selalu direpotkan oleh kewajiban menuliskan last name pada formulir pendaftaran. Nama saya hanya satu kata: Saherman. Pembuat formulir berasumsi bahwa nama seseorang selalu terdiri dari dua kata, dimana kata kedua biasanya adalah nama keluarga. Tidak ada nama keluarga setelah nama saya. Akibatnya, saya seringkali harus menuliskan kata lain supaya nama saya terdiri dari dua kata. Kata "lain" itu bisa dari nama panggilan, Herman, yang saya tuliskan sebagai first name. Akibatnya, nama lengkap saya menjadi Herman Saherman.
Kebiasaan untuk memanggil seseorang dengan nama belakang rupanya bukan hanya milik orang Batak yang biasanya adalah nama marga, tetapi juga menjadi kebiasaan bangsa-bangsa yang bahasa ibunya adalah bahasa Inggris. Dengan menggunakan nama panggilan sebagai nama depan dan nama lengkap yang asli satu kata itu menjadi nama belakang, akhirnya nama panggilan saya di layar komputer yang sedang online adalah nama asli.
Kadang ketika mengisi satu formulir online, saya mengisi nama depan dengan nama asli, dan menuliskan nama belakang dengan kata Bengkulu, Jakarta, atau apalah. Akibatnya nama panggilan saya yang muncul di layar adalah nama-nama daerah itu. Saya suka geli membacanya. Bayangkan, setelah memasukkan username dan password untuk login, lalu muncul tulisan "Welcome Bengkulu" atau "Welcome Jakata".
Sebagai pemeluk Islam yang baik, orang tua saya memberikan nama pada anak-anaknya sesuai dengan tuntunan agama ini. "Nama adalah juga doa", demikian tuntunan dalam memberikan nama pada anak. Begitu pun nama saya, Saherman, yang menurut keterangan orang tua saya yang semasa sekolahnya dulu pernah belajar Islam dan bahasa Arab, nama saya mengandung arti "benar-benar manusia". Maksudnya adalah supaya kelak saya menjadi orang yang benar-benar manusia sesuai dengan tujuan penciptaan Sang Khalik: Supaya bertakwa kepada-Nya.
Demikian pula cara memberikan nama untuk anak kami, Zahid. Kata Zahid berarti orang yang Zuhud, dan Zuhud itu adalah "sikap hidup yang tidak rakus atau terlalu cinta pada kehidupan dunia".Orang yang zuhud berarti adalah orang yang menjalani kehidupan dengan seimbang dalam pencapaian kebahagiaan di dunia dan di akhirat (kehidupan abadi setelah kehidupan di dunia ini).
Tidak hanya nama dengan satu kata yang membuat repot pemiliknya. Nama yang lebih dari dua kata pun turut kewalahan ketika mengisi formulir tertentu. Bisa dibayangkan bagaimana mengisi nama-nama yang kadang disertai gelar kebangsawanan sekaligus. Bayangkan seseorang ketika hendak menuliskan namanya secara lengkap, "Raden Mas Arya Panangsang Suryo Prayogo" (maaf kalau contoh ini memiliki kesamaan dengan nama Anda atau kerabat Anda). Contoh lainnya adalah nama anak saya sendiri yang terdiri dari empat kata. Maunya supaya kata-kata pada nama merupakan doa yang semoga dikabulkan oleh-Nya, ternyata malah bikin repot.
Hal lain menyangkut penulisan. Nama saya memiliki kemiripan dengan nama-nama yang kebanyakan dimiliki orang lain. Akibatnya nama saya pun sering kali salah dituliskan oleh orang lain. Di KTP, STNK, amplop surat, data di sebuah lembaga atau organisasi, adalah beberapa tempat penulisan nama saya yang keliru. Nama saya Saherman, namun sering ditulis Suherman. Sependek pengetahuan saya (halah... ini meniru cara bicara Patra Zein, direktur YLBHI, kalau di forum diskusi), di Indonesia nama orang lain yang sama persis dengan nama saya terdapat di database pasien Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta. Ini saya ketahui ketika berobat untuk kedua kalinya di rumah sakit itu sekitar empat tahun lalu. Ketika mengecek di google, ternyata nama saya keluar begitu banyaknya. Banyaknya nama saya yang muncul dari hasil pencarian google itu bukanlah karena saya orang terkenal di seantero dunia maya, tetapi karena nama itu juga dimiliki oleh orang lain di daratan benua Eropa sana.
Kembali ke topik awal. Kesulitan mengisi formulir yang mewajibkan menulis last name bagi pemilik nama dengan satu kata atau lebih dari dua kata harusnya difasilitasi oleh pemilik atau penyedia formulir. Ada baiknya membuat formulir seperti yang kebanyakan terdapat di tanah air, yang menyediakan dua isian untuk nama, yakni nama lengkap dan nama panggilan. Dengan demikian, orang seperti saya yang memiliki nama yang hanya satu kata tidak akan menglami kerepotan semacam ini.

Alhamdulillah, akhirnya bisa juga saya mengambil liburan bersama keluarga. Biasanya, karena kesibukan bekerja, harapan saya dan istri saya Naning untuk bisa berlibur sekeluarga belum terwujud. Akhir tahun 2007, saya masih memiliki sisa cuti tahunan sebanyak 4 hari dan Naning juga sedang libur bekerja setelah penerimaan raport siswa sekolah dimana ia merupakan salah satu tenaga pendidiknya. Jadilah Saya, Naning, dan anak kami Zahid berlibur di akhir tahun ini.
Sabtu, 22 Desember 2007
Jadwal berangkat kereta api Senja Utama Solo sebenarnya pada pukul 20.30 WIB dari stasiun Pasar Senen. Namun kereta baru mulai bergerak ke arah Timur hampir pukul 21.00. Pun demikian dengan jadwal tiba kereta di stasiun Balapan Solo, terlambat juga. Seperti sudah menjadi salah satu budaya sehari-hari jadwal apapun di negeri ini kebanyakan selalu tidak ditepati. Sebuah etos kerja yang susah untuk mengubahnya.
Ahad, 23 Desember 2007
Di Stasiun Balapan kami tiba sekitar pukul 08.30 Wib. Semalam, seorang teman kantor menghubungi saya, mengatakan bahwa nama saya belum masuk ke dalam daftar yang mengajukan diri untuk mengikuti Pelatihan HAM Tahunan yang diselenggarakan di Indonesia oleh Equitas dan ELSAM. Ia menyarankan untuk mengirim ulang formulir dan kelengkapannya dalam bentuk file elektronik. Hafid, adik ipar saya yang menjemput kami di Balapan lalu mengantar saya ke sebuah warnet di tengah-tengah kota Solo setelah mengantar Naning dan Zahidke rumah Pakde di Laweyan, tak seberapa jauh dari Balapan. Di warnet itulah saya mengirim imel dan memposting satu berita di weblog Simpang Limo.
Selepas dzuhur,saya bertemu dengan Rezi yang memang jauh-jauh hari sudah saya beritahu bahwa saya akan ke Solo pada akhir tahun. Rezi adalah teman SMA di Bengkulu. Selepas kuliah di Fakultas Hukum UNS, Rezi sempat selama tiga tahun menjalani profesi sebagai pengacara sebelum bekerja di bagian hukum harian Solo Pos hampir 2 tahun terakhir ini. Banyak cerita dan pengalaman yang kami bagi satu sama lain di sebuah kedai es di depan lapangan Kota Barat, jalan DR. Muwardi.
Lewat pukul 16 sore, kami menuju Ngaglik, Kabupaten Boyolali, rumah tinggal mertua saya. Letaknya, dari solo menuju ke Timur lalu ke arah Utara dan kembali ke arah Timur. Posisinya ada di sebelah Timur Gunung Merapi. Hafid telah membawa barang-barang bawaan kami dari Jakarta menuju Boyolali dengan sepeda motornya, sehingga kami tidak begitu kerepotan dalam perjalanan dengan menggunakan bis. Setelah tiba di rumah, seperti biasa, kangen-kangenan dengan keluarga dan sanak saudara di desa. Suasana desa berikut kesegaran udaranya begitu jelas terasa, sungguh bertolak belakang dengan kondisi di kota besar macam Jakarta.
Senin, 24 Desember 2007
Hingga malam hari, kami hanya di desa dan berkunjung ke beberapa saudara. Mendung hitam, hujan merata di mana-mana, bahkan sampai menyebabkan bencana. Dari TV kabar Bengawan Solo meluap dan menyebabkan banjir di daerah sekitarnya. Di Karanganyar lalu terjadi tanah longsor yang menewaskan banyak penduduk, beberapa diantara korban adalah kerabat teman-teman saya dulu.
Selasa, 25 Desember 2007
Sudah menjelang tengah hari kami baru berangkat dari Solo menuju Yogyakarta dengan menggunakan KRD Prambanan Ekspres (Prameks). Tujuan pertama ke rumah Isma, teman dekat Naning, tinggal di Moyudan, Sleman, Yogyakarta. Letaknya lumayan jauh dari Pusat Kota Gudeg ini. Di rumah Isma sudah menunggu mas Syaikhul dan istri serta anak mereka. Rupanya mereka menunggu sejak pagi hari. Pukul 13.15 kami tiba di stasiun Tugu. Di sana sudah menunggu suami Isma, Pak Rahmat dan juga adiknya, Teti. Dua sepeda motor sudah siap, salah satunya untuk saya dan istri.
Tiba di rumah tinggal Isma, kami berkumpul dan mengobrol. Mas Syaikhul dan Istrinya, Isma beserta Pak Rahmat suaminya, merupakan sudah saling mengenal sejak masa kuliah di IAIN (sekarang UIN) Sunan Kalijaga. Pertemuan ini semacam reuni dengan teman-teman yang sekian tahun tidak berjumpa.
Dengan mas Syaikhul, yang sekarang memiliki satu percetakan (sekaligus penerbitan?) saya bertanya-tanya tentang beberapa hal mengenai penerbitan buku di tempatnya. Ia bercerita kalau masih harus berhati-hati dan cenderung enggan untuk menerbitkan buku-buku yang bersifat 'diktat' untuk kuliah mahasiswa. Ia dan teman-temannya lebih cenderung menerbitkan buku-buku dengan isi yang populis. Mungkin lebih tepatnya--seperti kebanyakan penerbit--yang laku di pasaran. Pernah ada orang yang ingin menerbitkan desertasinya. Dengan tersenyum mas Syaikhul berkomentar, "disertasi kok lebih dari separuhnya adalah catatan kaki". Dalam hati saya pun menyeletuk, "inilah cerminan pendidikan di negeri kita, dan yang salah bukan hanya si mahasiswa pasca sarjana yang cenderung sekedar dapat gelar akademik, tapi orientasi kampus yang hanya mengakumulasi keuntungan finansial."
Rabu, 26 Desember 2007
Sesungguhnya, kami ingin mengunjungi seorang teman satu pondokan Naning yang baru saja melangsungkan pernikahan. Naning biasa memanggilnya mbak Yawik. Tinggalnya di Magelang dan tidak begitu jauh dari Candi Borobudur. Maksud hati, di samping bersilaturrahim ke teman lama juga mengajak Zahid mengunjungi peninggalan kuna bangsa kita, candi Borobudur. Karena hujan sejak semalaman dan hingga pagi hari, serta mendung masih terus menyelimuti Yogyakarta dan juga dari sebelah utara, kami akhirnya memutuskan tidak jadi ke Magelang. Juga, ternyata Isma dan Pak Rahmat juga belum tidak libur dari kerja. Padahal sangat ingin mengajak mereka berjalan-jalan bersama.
Sekitar pukul 9 lewat, kami ke Bantul. Kami mengunjungi Fatimah, teman Naning sewaktu nyantri di Pondok Al-Mukmin Surakarta. Sunu, suami Fatimah, adalah juga teman kuliah Naning di IAIN Sunan Kalijaga. Juga, ia bersama Isma aktif di lembaga pers kampus mereka. Sekarang Fatimah berprofesi sebagai Bidan di puskesmas di dekat tempat tinggalnya, serta membuka ruang praktik di rumah.
Dari rumah Fatimah, lalu kami mengunjungi Ida. Saya mengenal Ida dalam satu pelatihan untuk memasuki sebuah organisasi mahasiswa di Yogya waktu itu. Ida adalah teman satu pondokan dengan Naning saat mahasiswa. Pak Amir, orang tua Ida, merupakan dosen di IAIN. Naning ngekos di rumah Pak Amir beserta mbak Yawik dan beberapa teman mereka lainnya dari satu kampus. Sekarang Ida tinggal di perumahan Puri Gading, Bantul, beberapa kilometer dari rumah Fatimah. Naning, Fatimah, dan Ida kelihatan sangat senang bisa berkumpul kembali. Mereka sama-sama lulusan Pondok Pesantren Al-Mukmin. Saya lihat mereka mengobrolkan beberapa hal di ruang keluarga, sementara saya bersama Sunu memperhatikan anak kami masing-masing di ruang tamu. Ida sudah memiliki satu anak laki-laki berusia hampir 2 tahun. Suami Ida sedang tidak di rumah saat kami ke rumahnya.
Usai mengunjungi Ida, kami melanjutkan perjalanan menuju Notoprajan, hendak mengunjungi Ibu Tuti. Dalam perjalanan, kami baru mengetahui dari Sunu bahwa kami akan melewati desa Kasongan. Kasongan adalah desa pengrajin Guci dan perabot hiasan rumah tangga dari tanah, dan sudah merupakan satu desa wisata di Kabupaten Bantul. Sekitar 5 tahun lalu saya sering mengunjungi kasongan karena seorang teman lama tinggal di daerah sana. Kasongan merupakan gambaran desa yang sukses mensejahterakan masyarakatnya dengan kerajinan tembikar. Kesuksesan ini tidak terlepas dari jasa Sapto Hudoyo, senimana terkenal Yogyakarta. Lalu Sapto Hudoyo ini mengajarkan seni membuat guci yang lebih menarik. Lalu guci dari desa ini akhirnya menjadi terkenal hingga hasil karya masyarakat banyak pula yang dijual ke luar negeri.
Adzan Maghrib berkumandang saat kami tiba di rumah bu Tuti. Bu Tuti adalah akivis 'Aisyiyah, sebuah organisasi perempuan di bawah payung Muhammadiyah. Saya mengenalnya saat bekerja di Lembaga Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Pusat 'Aisyiyah (LPPA). Orangnya baik, ramah pada siapa saja, bahkan memberikan banyak masukan saat saya akan menikah dengan Naning pada tahun 2004 lalu. Suaminya, Pak Taufik, kebetulan mengenal baik Hafid, yang merupakan mahasiswanya di UNDIP. Pak Taufik juga ramah, murah senyum dan suka bercanda. Zahid sangat senang diajak bergurau oleh pak Taufik hingga hampir tak ada jeda untuk berhenti ceria.
Hampir pukul 20.00 mas Feri menjemput kami. Saya memang membuat janji dengan mas Feri untuk bertemu. Karena mendung hitam di langit, kami putuskan tidak pulang ke rumah Isma di Moyudan (kabupaten Sleman yang berada di sebelah Barat kota Yogya). Kami khawatir akan hujan serta masalah keamanan di perjalanan. Kami menginap di Guest House Pondok Pesantren Budi Mulia. Letaknya di perumahan Banteng 3, jalan kaliurang km 8. Teman saya Adib mengurusi Guest House milik Yayasan Shalahuddin yang mengelola pesantren Budi Mulia.
Setelah Zahid dan Naning beristirahat di kamar, sekitar pukul 22.00 saya menemui mas Feri untuk belajar beberapa hal tentang ICT.
Kamis, 27 Desember 2007
Sekitar pukul 10, kami ke kampus UIN Sunan Kalijaga. Naning mau melegalisir fotokopi ijazahnya. Sayang sekali, kampus ini tidak menerima permintaan legalisir tanpa melihat Ijazah asli pemiliknya. Saya pribadi heran dengan kebijakan ini. Bukankah kantor administrasi memiliki data mengenai ijazah para alumninya, dan bisa mengecek keaslian ijazah dari sana? Kalaupun tidak ada file ijazah yang sudah mereka keluarkan, apakah tidak ada data mengenai alumninya untuk memastikan bahwa pemilik fotokopi ijazah benar-benar alumni dari sana?
Naning tidak membawa ijazah asli karena ini kali pertama ia hendak melegalisir fotokopi ijazah setelah lulus kuliah. Saya juga menyarankan untuk tidak membawa serta ijazah asli karena khawatir hilang di perjalanan atau malah rusak sebab kondisi barang bawaan dari dan ke Jakarta juga banyak. Dari pengalaman, saya tidak memerlukan ijazah asli untuk melegalisir fotokopinya. Yah... lain padang lain ilalang, lain lubuk lain pula ikannya. Ahkhirnya, seberapa pun ngototnya Naning mengatakan bahwa fotokopi yang di tangan adalah sama isinya dengan yang asli tidak juga dihargai.
Hampir pukul 12 kami ke rumah mas Munir, saudara sepupu yang tinggalnya tidak jauh dari kampus UIN. Sebelah Timur kampus itu. Karena mas Munir belum kembali dari tempat bekerja, saya mengajak Zahid yang sedang 'rewel' minta teh botol ke arah jalan raya Adi Sucipto. Di depan rumah mas Munir saya berpapasan dengan seorang teman lama. Saya nyaris lupa karena tubuhnya sedikit lebih gemuk dari beberapa tahun lalu. Ia pun ternyata masih mengingat saya. Namanya mas Yanto, salah satu pegawai Social Agency, toko buku terkenal di Yogya.
Mas Yanto, juga satu lagi temannya yang bertubuh agak kurus, pertama kali saya kenal sekitar tahun 1998. Saat itu, Social Agency membuka kios buku di depan Koperasai Mahasiswa kampus saya. Kopma sendiri menghadap ke arah Gelanggang Mahasiswa dimana saya nyaris setiap hari nongkrong bersama teman-teman di sana. Sejak kios buku itu dibuka saya dan teman-teman sering mampir dan ngobrol di sana. Hingga Social Agency membuka toko terbesar mereka di jalan Adi Sucipto (sebelah Timur kampus UIN), mas Yanto dan temannya itu pun pindah ke toko baru ini. Saya masih sering melihat-lihat buku baru dan membeli beberapa di sana. Mas Yanto dan temannya yang saya lupa namanya selalu ramah menyambut kedatangan saya.
Mengajak Zahid mencari teh kesukaannya, membuat kami berdua sampai ke Social Agency. Di sana terdapat minuman yang diminta Zahid. Setelah mengeluarkan satu botol dari dalam kulkas dan memberikannya, saya berkeliling mengitari seisi ruang toko itu. Terasa sekali kalau sudah sekian lama saya tidak melakukan aktifitas mencari buku baru seperti di Yogya dulu. Di Jakarta, untuk mendapatkan buku dengan diskon 20 hingga 30 persen seperti di sini hanya bisa dilakukan di kios-kios buku pinggir jalan di daerah Kwitang dan Pasar Senen. Itu pun hanya buka sampai sore. Kalau hendak ke sana, tentunya pada hari Senin atau Ahad, yang jelas bukan hari kerja. Di Yogya, Social Agency memberikan diskon itu dan buka hingga pukul 21 setiap hari. Masih ada pula kios-kios buku di sekitar kampus dan Shopping Center yang merupakan surga belanja buku berdiskon di Yogyakarta. Saya tidak sempat mampir ke semua tempat-tempat itu. Melihat Zahid berlari-larian di antar rak-rak buku dan mengamati beberapa buku dan mainan dengan gambar-gambar unik baginya, sudah memberikan kebahagiaan sendiri bagi saya. Saya lihat mas Yanto sedang asik dengan pengunjung di salah satu pojok ruang dan memperhatikan rak-rak yang penuh dengan buku.
Setelah mengobrol dengan mas Munir di rumahnya, juga setelah melihat mendung yang begitu hitam petanda hujan kembali akan mengguyur bumi, kami kembali ke Moyudan, ke rumah tinggal Pak Rahmat dan Isma beserta Shinfa anak mereka. Setelah tiba di Moyudan, hujan benar-benar turun lebat.
Jumat, 28 Desember 2008
Sekitar pukul 08.00 kami berangkat menuju Stasiun Tugu dengan 2 sepeda motor, satu ditunggangi Pak Rahmat dan Isma, lainnya oleh saya, Naning dan Zahid. Kami akan kembali ke Boyolali karena. Setelah menyampaikan rasa terima kasih atas kesediaan menerima kami yang berlibur ke kota ini dan mengucapkan salam perpisahan, kami pun berpamitan. Kereta Prameks yang menuju Solo ternyata berangkat pada pukul 10.05 Wib. Masih ada waktu sekitar satu jam untuk menunggu. Kami manfaatkan waktu itu dengan melihat-lihat Malioboro dengan naik sebuah becak. Tidak ada perubahan menonjol dari beberapa tahun lalu kecuali terlihat satu halte bis yang berada di depan kantor DPRD. Semula saya mengira halte dengan bentuk seperti itu hanya untuk bis kampus seperti terlihat di jalan Kaliurang (Kampus UGM) dan Jalan Sapen (Kampus UIN). Waktu yang mepet banget menyebabkan kami hanya mampir ke sebuah toko pakaian Muslim di sana. Naning membeli beberapa barang kebutuhannya. Saya sempat mengobrol beberapa saat dengan tukang becak yang kami tumpangi dan tukang parkir yang mendapat lahan di depan toko itu.
Pukul 10 kami tiba kembali di stasiun. Ternyata Prameks sudah ada dan petugas di stasiun--melalui pengeras suara--meminta semua penumpang naik karena kereta akan segera berangkat. "Nyaris saja" kata Naning. Kami tiba di stasiun Purwosari Solo satu jam setelahnya. Setelah shalat Jum'at, kami melanjutkan perjalanan menuju Boyolali, rumah orang tua kami.
Ada adik-adik kami yang sudah berada di rumah. Mereka telah menunggu sejak sehari sebelumnya, ingin bertemu dengan Zahid, keponakan mereka. Kondisi cuaca tidak memungkinkan kami untuk kembali dari Yogya sehari sebelumnya. Amir nyantri di salah satu pesantren di Boyolali dan Nidhom nyantri di pesantren Al Mukmin. Mereka memiliki hari libur dan diizinkan pulang ke rumah pada Kamis petang hingga Jumat sore. Mereka senang bermain dengan Zahid. Sudah setahun lebih mereka tidak bertemu anak kami.
Sabtu, 29 Desember 2008
Hujan gerimis dan langit hitam oleh awan tebal. Rencana untuk ke Pesantren Al Mukmin mengunjungi beberapa guru Naning dahulu urung kami laksanakan. Sedari pukul 06.00 kami beriga mengundang mbah Mariyam ke rumah untuk memijit. Maklum, di tempat tinggal kami di seputar Cibubur belum ada tukang pijit yang 'seampuh' mbah Mariyam. Rasa capai seperti hilang semua setelah dipijiti. Ini adalah pijit penutup sebelum kembali ke perantauan. Sehari setelah tiba di Boyolali kami meminta mbah Mariyam untuk memijiti.
Hingga sore dan malam tiba, kami hanya berdiam di rumah. Saya menikmati buku yang baru saya beli dari Social Agency. Naning asik menonton TV. Zahid masih dengan mainannya yang ia bawa dari rumah. Sesekali kami memperhatikan tayangan TV. Maklum, di rumah tinggal kami hingga saat ini belum ada TV.
Minggu, 27 Desember 2007
Hingga siang hari kami mempersiapkan kepulangan. Liburan telah selesai. Kami memang harus segera kembali. Ada banyak teman yang ingin kami kunjungi, ada banyak tempat yang ingin kami ziarahi, namun karena waktu yang singkat dan cuaca yang kurang kondusif, tidak semua rencana bisa kami wujudkan. Orang tua, Pakde, Bude, Saudara sepupu, mbah melepas keberangkatan kami. Hafid dan saudara sepupu kami Nurdin mengantar hingga ke Stasiun Balapan. Pukul 18.00 kami berangkat menuju Jakarta. Masih dengan kereta yang sama, Senja Utama Solo.
Bermula dari satu postingan di blog Budi Rahardjo, saya menemukan cara untuk mencari jejak-jejak teman lama yang tertinggal di dunia maya. Pak BR ini memprediksi, kelak suatu saat, perusahaan yang akan menyeleksi pegawai baru yang mereka butuhkan dengan mudah melacak siapa si calon pegawainya. Caranya? Dengan mencari informasi di internet. Istilah kerennya sekarang "di-google aja!".
Saya membuktikannya dengan mencari teman satu pondokan ketika masih mukim di Yogya beberapa tahun lalu. Nugraha Firdaus, teman saya ini, pada saat saya mencarinya di internet beberapa bulan lalu, sedang berada di Jambi. Nugraha bekerja untuk salah satu Organisasi Non Pemerintah (Ornop) yang menangani masalah kehutanan di Jambi. Nama Nugraha ada di website Ornop (jangan baca: LSM) itu. Dari sanalah saya menemukan akun imelnya yang merupakan fasilitas dari website tersebut. Saya menghubungi lewat imel, lalu kemudian ia membalas imel saya. Selanjutnya kami kembali bisa berkomunikasi kembali setelah sekitar hampir 3 tahun. Pernah Nugraha menghubungi saya melalui nomor ponsel saya yang ia punya. Sayangnya, hampir dua tahun ini nomor itu sudah berganti, hingga ia tak berhasil mengabari bahwa ia hendak melangsungkan pernikahannya beberapa bulan lalu.
Kali lain, saya mencari informasi tentang Dwi Satya Ardyanto. Dwi adalah teman lama pula ketika sama-sama berkegiatan dalam satu organisasi mahasiswa di kampus Bulaksumur Yogyakarta. Sebenarnya kami berbeda fakultas dan juga jurusan, juga angkatan. Aktifitas dalam satu organisasi telah membuat kami sempat beberapa saat berinteraksi dengan intens. Anak pejabat tinggi Bank Indonesia, namun berkelakuan seperti orang kebanyakan, bahkan cenderung kelihatan lugu saat itu. Mungkin inilah yang membuat teman-teman di sepergaulan menyukainya. Setahun lalu saya sempat bertemu dengannya di bilangan Menteng, tepatnya di jalan Teuku Umar. Rupanya tempat kerja kami tidak begitu berjauhan. Hanya saja kesibukan masing-masing serta pengalaman berbeda selama beberapa tahun tidak berinteraksi, membuat suasana pertemuan kami terasa lain. Setelah saling memberikan nomor seluler, melontarkan kata-kata tak seberapa, hanya sekitar lima menit saja, lalu kami pun berpisah. Sempat sekali berkomunikasi lewat telepon setelah pertemuan itu, lalu kamipun tak pernah bertemu lagi.
Pada pertemuan itu, saya mengetahui kalau Dwi baru pulang dari Swedia. Ia baru menyelesaikan pendidikan strata dua di fakultas hukum University of Lund. Sekitar 3 bulan lalu saya melacak jejak Dwi di dunia maya setelah tidak berhasil menghubungi nomor ponselnya. Saya menemukan satu website yang memajang fotonya serta menuliskan keterangan foto di situ. Rupanya, selama di Swedia Dwi aktif mempelajari ilmu beladiri Kempo Karate. Website resmi olahraga ini memajang Foto Dwi di sana. Dari upaya mencari jejak maya itu pula, saya pun mendapatkan file Thesis Dwi di University of Lund. Ada beberapa blog yang memasang nama Dwi di blogroll-nya. Blogger yang memasang nama itu merupakan teman-teman Dwi ketika masih sekolah di Jakarta. Akhirnya saya temukan juga blog Dwi. Saya mengisi komentar di blognya, sempat pula menulis imel ke alamat imel yang tercantum pada blog itu. Komentar tidak dijawab. Pun imel tidak dibalas. Hingga sekarang saya belum berhasil berkomunikasi kembali dengannya. Saya perhatikan, Dwi memposting tulisan di blognya untuk terakhir kali pada 3 April 2007.
Iseng-iseng, saya pun mencoba melacak informasi salah satu teman sekolah dulu. Irawan Kusuma, teman saya, sedari kecil senang bermain musik. Seingat saya, masa sekolah dulu Irawan sudah menunjukkan kepandaiannya memainkan alat musik Organ. Di rumah tinggal orang tuanya pun, Irawan sudah memiliki kelompok musik yang biasa mengisi acara-acara hiburan di Kota Bengkulu.
Saya ketikkan nama Irawan Kusuma di mesin pencari dunia maya. Akhirnya, saya menemukan satu website kelompok musik. Dari sana saya ketahui Irawan bersama teman-teman lintas negara membentuk sebuah kelompok musik Evolution. Saat ini mereka sedang aktif "ngamen" di negeri tirai bambu. Sebenarnya Irawan masih kerap memposting imel di mailing list alumni sekolah kami dulu. Saya salah satu moderator di situ. Keingintahuan saya tentang aktifitas Irawan membuat saya mencoba melacak jejaknya di dunia maya.
Dari pengalaman saya melacak jejak beberapa teman lama, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan jika hendak melacak seseorang di dunia maya, antara lain:
Pertama, orang yang kita cari aktif menggunakan fasilitas internet. Minimal ia memiliki imel dan bergabung dalam di sebuah mailing list. Kadang kala sebuah mailing list menyimpan arsip imel dari anggotanya yang dinilai bagus untuk di buka (dipublikasikan) sehingga mesin pencari berhasil menemukannya.
Kedua, di era teknologi jejaring sosial seperti blog dan mailing list sekarang ini, biasanya orang yang terlibat di dalamnya mau tidak mau membuka dirinya (entah sengaja atau tidak) untuk diketahui oleh setiap orang melalui mesin pencari. Blog atau weblog sendiri sekarang sedang menjadi tren, yang merupakan teknologi untuk memiliki sebuah website pribadi dan sebagai wadah untuk berekspresi. Dengan memiliki blog, sebenarnya seseorang telah membuat dirinya dikenal oleh banyak orang.
Ketiga, intensitas seseorang menggunakan internet semakin menjadikan jejaknya lebih mudah untuk diketahui. Entah itu berupa blogging, berkirim imel, ataupun mengisi formulir-formulir tertentu secara online.
Hal-hal tersebut di atas mempengaruhi seberapa banyak jejak akan terlihat. Dan itu mempengaruhi sejauh mana kemungkinan kita bisa menghubungi atau sebanyak apa informasi yang berhasil kita dapatkan.
Dari pengalaman ini, saya yakin ada banyak orang yang telah menggunakan cara seperti yang saya lakukan untuk kepentingannya masing-masing. Kalau Anda belum pernah, tidak ada salahnya untuk mencoba. Sekedar untuk tahap awal, silahkan ketik nama lengkap saya SAHERMAN. Setelah memerintahkan mesin pencari untuk bekerja, kelak Anda akan mengetahui, jejak saya yang banyak muncul ada pada weblog Serunai yang saya miliki ini. Selamat mencoba.
Satu dari sekian prinsip penulisan berita media massa yang harus dipegang: cover both side. Saya memahaminya begini, kalau memberitakan satu hal yang berkaitan dengan pihak tertentu, maka tidak hanya satu pihak saja yang dimuat pendapatnya, tapi juga pendapat pihak-pihak yang terkait juga harus ikut disertakan pandangannya. Meski demikian, dalam pemberitaan ini pun ada pembingkaian, sehingga meski sudah mememenuhi syarat cover both side itu pun sebuah berita masih bisa mengarahkan pembaca untuk menyimpulkan setelah menerima berita itu dari media.
Satu contoh mengenai pemberitaan ini ada pada diri Yusril Ihza Mahendra. Dari blog mantan Menteri di tiga kabinet ini, Yusril menjelaskan panjang lebar mengenai tuduhan banyak pihak terhadapnya dalam kasus "uang milik Tomy Soeharto". Dia diopinikan, diberitakan, digambarkan sebagai terdakwa yang harus mendapat hukuman yang berat berkaitan kebijakannya membantu menampung kiriman uang miliki Tomy dan teman-temannya dari Bank Paribas di London. Karena kasus ini menyangkut orang Cendana, maka Yusril pun menjadi bulan-bulanan media tanpa ia mendapat kesempatan untuk menjelaskan dengan cukup duduk persoalan yang sebenarnya.
Hal semacam ini juga terjadi pada kasus lain. Media begitu kuasa dalam membentuk opini masyarakat. Media itu sendiri tak luput dari kepentingan penguasa, entah pemilik modal media massa itu sendiri, orang kuat yang begitu kuasa dalam mengendalikan si pemilik media, atau orang-orang yang selama ini memang berupaya menjadikan media sebagai alat untuk memojokkan pihak-pihak tertentu.
Kebijakan George W. Bush yang memaksa semua orang di seluruh dunia ikut serta dalam upaya memerangi terorisme adalah contoh lainnya. Media massa begitu mudahnya memojokkan satu pihak dan mengangkat pihak lain. Akibatnya, pihak yang menjadi korban tidak memiliki porsi yang cukup untuk diberitakan dari sisi lain. Dalam hal pembingkaiannya, seolah-olah si "korban" adalah pihak yang tidak lain dan tidak bukan adalah kelompok teroris. Semua berita yang berkaitan dengan si "korban" selalu berkait dengan masalah teroris. Lalu berita-berita yang dikonsumsi masyarakat menjadi tidak imbang.
Saya ingin mengatakan, betapa tidak adilnya hal tersebut di atas. Lalu bagaimana sikap kita selaku masyarakat yang harusnya menyadari tentang kemungkinan tidak berimbangnya berita-berita yang kita konsumsi? Saya pribadi selama ini selalu berusaha untuk mencari alternatif sumber berita yang lain yang materi beritanya sama. Untuk itulah, saya berusaha untuk membaca lebih banyak media, entah cetak (koran dan majalah) maupun elektronik (mailing list, website berita online, dan juga radio). Medianya pun tidak hanya dari kelompok yang dinilai pro namun juga kontra. Untuk media massa cetak misalnya, saya berusaha untuk membaca Tempo, Koran Tempo, Republika, Kompas, Media Indonesia, Koran Sindo, bahkan majalah Sabili. Saya memiliki akses ke media-media itu, baik di rumah maupun di kantor.
Pengelompokan media karena kecenderungan dalam pemberitaan suatu hal tertentu memang tidak bisa dihindarkan. Namun alangkah malangnya kalau kita hanya memamah biak informasi dari sumber yang hanya pro atau kontra saja dalam pemberitaanya. Bukankah untuk bisa memahami satu hal itu kita perlu melihatnya dari banyak sisi?
SEBUAH imel mampir ke akun saya di yahoo, kemarin, 22 November 2007. Isinya menceritakan tentang iklan perayaan Buy Nothing Day (BND) tidak jadi ditayangkan di MTV. Saya jadi berpikir, "jelas tidak mungkin mengkampanyekan satu gerakan isinya bertentangan dengan misi media yang memang bertolak belakang dengan misi kampanye itu sendiri". Tapi... namanya juga usaha. Toh informasi mengenai bahaya merokok tertera pada bungkus rokok itu sendiri. Kalau pun BND berhasil dikampanyekan di media mainstream budaya konsumerisme macam MTV, tentulah sesuatu yang juga bukan luar biasa. Toh kalaupun itu terjadi, jelas dua hal yang paradoks hadir dalam satu wadah, dan keduanya saling menegasikan. Sungguh ajaib kalau itu sampai terjadi. Berikut ini isi imel itu:------------------------------------
WWW.ADBUSTERS.ORG
------------------------------------
Jammers and Cultural Creatives,
The station that markets itself as the voice of hip youth has censored the burping pig. Their advertising standards representative, Elisa Billis, said that "the spot goes further than we are willing to accept on our channels". Too radical for MTV?
You can let the executives at MTV know how you feel about this kind of censorship by sending them an email from our website. To view the spot go to our Buy Nothing Day page.
Buy Nothing Day is tomorrow. It's still not too late for you to get involved. On the Buy Nothing Day Forum you will find dozens of postings for events happening in cities around the world. Go there now and join in the action.
At this ominous moment when the scientists of the world are warning us of an abrupt and irreversible tipping point on climate change, join us in making this year's Buy Nothing Day the biggest ever.
See you out there tomorrow,
The Adbusters Team
SAYA mendukung gerakan BND ini sejak sekitar 6 tahun lalu. Kunci Cultural Studies merupakan jaringan Adbuster di Indonesia yang ikut mengkampanyekannya melalui media (saat itu) buletin yang menyebar di kota-kota besar di Indonesia. BND yang dimulai Adbuster sejak 1993 ini, adalah sebuah gerakan untuk, antara lain, menyadarkan kita semua bahwa berbelanja bukan semata urusan personal pembeli. Belanja adalah salah satu rantai proses kehidupan yang saling berkait dengan persoalan-persoalan yang ada di kehidupan manusia. Ada banyak pertanyaan kritis yang bisa kita renungkan mengenai "ritual belanja" yang biasa kita lakukan sehari-hari. Sebagai pemantik saja, silahkan baca di website Kunci.
Hari ini, 23 November 2007, adalah BND yang diperingati di seluruh dunia. Di Indonesia akan dirayakan pada tanggal 26 November 2007. Semangat yang ada di balik peringatannya, adalah kesadaran konsumen kritis dalam berbelanja. Sebuah bentuk perlawan pada budaya konsumerisme. Semangat itu tidak boleh hanya hadir pada diri kita pada tanggal 23 November atau 26 november saja, tapi setiap hari. Bagaimana dengan Anda sendiri? Gabung yuk...
Artikel terkait dengan Buy Nothing Day:
Buy Nothing Day and the Really Really Free Market
A Fresh Advertising Pitch: Buy Nothing
Vancouver's Adbusters says: buy nothing tomorrow
Not all buy into Black Friday - some make point of sitting it out
Holiday Consumerism Targeted by Humor
Buy Nothing Day, November 23rd/24th 07
Black Friday? TRY BUY NOTHING DAY
Consumer Conscience: Buy Nothing Day Friday
DOES BUYING NOTHING DO ANYTHING?
Coming this week: Buy Nothing Day! (and Boycott MTV)
Buy Nothing Day and the Really Really Free Market